NovelToon NovelToon
FROZEN DAWN

FROZEN DAWN

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:529
Nilai: 5
Nama Author: Noulmi

Krystal, reinkarnasi Naga Es yang melupakan 98 kehidupan lamanya, tumbuh menjadi putri terbuang Kekaisaran Aethermoor. Dibuang ke Istana Aquamarine sejak usia tiga tahun oleh ibu yang dimanipulasi sihir, ia ditemani Mira dan dilindungi Eros—Dewa Nafsu yang menjadikannya calon istrinya. Kecantikannya memikat, namun hatinya rapuh akibat trauma penolakan. Ia membangun Proyek LadyBug untuk menghancurkan Ratu Seraphina dari dalam, merekrut para jenius terbuang sebagai senjata rahasia. Ketika Eros menolaknya demi kesucian, egonya hancur; ia nekat memeluk Hyal hingga batuk darah, menyadari racun berkat sang kakaklah yang menyiksanya. Kini di tanah Herkimer, Krystal bangkit—lebih dingin, lebih licik, dan bertekad menggulingkan takhta dengan tangannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noulmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Hyal tidak menjawab, ia hanya menatap sang dewi dengan pandangan sedingin es, mendesak wanita abadi itu untuk bertindak dengan cepat.

Astraia dengan panik berbalik menuju altar sucinya. Ia mengambil sebuah botol ramuan kaca berisi cairan pendar perak murni yang memancarkan aroma herbal yang teramat pekat. Dengan tangan bergoyang, ia mendekati Hyal dan perlahan meminumkan cairan tersebut ke bibir Krystal yang terkatup rapat.

"Ini... memang tidak instan," ucap Astraia dengan suara parau setelah memastikan cairan itu tertelan sepenuhnya oleh Krystal. "Racun berkatnya sudah menyatu dengan aliran mana miliknya. Cairan ini akan mencabut dan memulihkannya secara bertahap."

Astraia kemudian menyerahkan sebuah kotak beludru hitam berukuran besar yang penuh berisi botol-botol ramuan serupa kepada Hyal. "Minum itu setiap hari hingga purnama berikutnya datang. Pada saat itu, jiwanya akan benar-benar bersih dari pengaruh berkatku."

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang mencekam. Perlahan, kelopak mata Krystal bergerak. Dengan sisa tenaga yang ada, ia membuka sepasang mata birunya yang kini tampak layu dan sayu. Rasa sakit yang semula membakar hebat di dalam dadanya perlahan menyurut, menyisakan denyut linu yang tumpul namun tidak semenyakitkan tadi.

Ia mendapati dirinya masih berada di dalam dekapan erat Hyal, yang kini sedang menatapnya dengan pandangan hancur dan dipenuhi penyesalan terdalam.

"Rys! Maafkan aku... Maafkan Kakak..." Hyal memohon, suaranya tercekat di tenggorokan saat melihat noda darah mengering di sudut bibir adiknya.

Krystal tidak menangis. Ia tidak juga membalas pelukan kakaknya. Gadis itu hanya menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah seringai tipis yang teramat dingin, hampa, dan sarat akan keletihan batin yang mendalam.

"Aku benar-benar lelah," bisik Krystal, suaranya nyaris tak terdengar, bergaung menyedihkan di aula suci sang dewi. Ia menatap bergantian antara Hyal dan Astraia yang berdiri tak jauh di sana. "Apa kalian... memang begitu senang menyiksaku seperti ini?"

Pertanyaan retoris itu bagai belati tak kasat mata yang menghujam tepat di jantung Hyal, meninggalkan rasa bersalah yang teramat pekat yang akan menghantuinya sepanjang sisa hidupnya. Di bawah langit sanctuary yang palsu, Krystal memejamkan matanya kembali, membiarkan tubuhnya beristirahat di tengah jaring takdir yang kian rumit.

"Dia hanya tertidur, Hyal. Baringkan tubuhnya di sana dan aku akan membersihkan tubuhnya."

Suara Astraia terdengar lirih, memecah keheningan yang mencekam di dalam aula suci. Sang dewi menunjuk ke arah sebuah ranjang marmer putih yang dilapisi awan yang empuk dan kain sutra lembut di sudut ruangan—sebuah tempat yang biasanya digunakan untuk ritual penyucian energi suci.

Hyal menurut tanpa sepatah kata pun. Amarahnya yang meluap-luap tadi kini menyusut, digantikan oleh kehampaan dan rasa bersalah yang teramat pekat setelah mendengar ucapan ketus adiknya sebelum pingsan. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah Krystal adalah patung kaca yang bisa hancur kapan saja, Hyal merebahkan tubuh mungil itu di atas ranjang marmer.

Ia memandangi wajah pucat Krystal untuk terakhir kalinya malam itu, mengusap pelan sisa darah di sudut bibir sang adik dengan jemarinya yang bergetar. Setelah itu, Hyal membalikkan badan dan melangkah lemas keluar menuju area pembatas—sebuah ruangan luar yang dibatasi oleh dinding kaca transparan yang tebal.

Dari balik dinding kaca itu, Hyal hanya bisa berdiri terpaku. Ia bersandar pada salah satu pilar cahaya, menjaga jarak sementara matanya tetap terkunci pada sosok Krystal.

Di dalam ruangan suci, Astraia menghela napas panjang. Ketakutan akan kehilangan Hyal membuatnya bergerak tanpa cela. Sang dewi merentangkan kedua tangannya di atas tubuh Krystal, merapalkan mantra kuno dalam bahasa langit yang terdengar seperti senandung pengantar tidur.

*Syuuuuut*...

Kelopak bunga abadi yang bertebaran di sekitar mereka perlahan terangkat, berputar membentuk pusaran angin lembut di atas tubuh Krystal. Sihir penyucian itu mulai bekerja, melunturkan sisa-sisa energi berkat yang sempat berbenturan hebat dengan esensi naga es di dalam aliran darah sang putri. Semburan darah yang mengotori pakaian Krystal perlahan memudar, dibersihkan oleh pendar cahaya keemasan hingga tak berbekas.

Warna kulit Krystal yang semula pucat pasi akibat syok perlahan-lahan mulai membaik, kembali memancarkan rona kehidupan yang hangat. Deru napasnya yang tadi tersengal kini terdengar jauh lebih teratur dan damai. Cairan perak yang diminumkannya tadi benar-benar sedang bekerja merajut kembali jalinan mana Krystal yang sempat koyak.

Astraia menatap wajah tidur Krystal dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa bersalah, namun ada juga rasa iri yang mendalam melihat bagaimana dua sosok pelindung terkuat—Eros sang Dewa Agung dan Hyal sang Naga Air—begitu siap menantang maut dan takdir langit demi keselamatan seorang gadis mungil ini.

Sementara itu, di balik dinding transparan, Hyal mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan abadi baginya.

Ia tahu, setelah racun ini sepenuhnya bersih dari tubuh Krystal pada purnama berikutnya, ia harus menepati janjinya pada sang adik: **meninggalkan Astraia**. Namun, di sisi lain, sumpah magis dan keterikatan masa lalu dengan sang dewi bukanlah hal yang mudah untuk diputus begitu saja tanpa memicu amarah langit yang bisa melenyapkan esensi jiwa mereka.

Hyal memejamkan matanya, membiarkan dahinya bersandar pada dinginnya dinding kaca. Di dalam benaknya, ia hanya bisa berharap bahwa Eros tidak akan mengetahui kecerobohan Krystal malam ini, atau seisi Ibu Kota Alexandrite benar-benar akan berubah menjadi abu sebelum matahari terbit esok hari.

1
Jasa Curhat
waktu antara hyal memohon dan bulan purnama pertama tidak sinkron
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!