NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 4

****

"Aku bukan harapan, Lisa," bisik Lilianne pada dirinya sendiri, suaranya dingin seolah tertiup angin Utara. "Aku hanyalah pion yang sedang mencoba sekuat tenaga agar tidak dimakan oleh sang raja pada langkah pertama permainan ini."

"Yang Mulia, haruskah saya membantu Anda berjalan menuju balkon?" tanya Lisa dengan nada khawatir melihat wajah Lilianne yang pucat pasi.

Lilianne mencoba berdiri. Namun, begitu ia menggerakkan kakinya, rasa perih yang menusuk membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Ia mencengkeram pinggiran meja rias dari gading itu dengan kuat.

"Ugh..." rintihnya tertahan.

"Yang Mulia!" Lisa segera memegangi lengan Lilianne. "Jangan dipaksakan. Tubuh Anda... Anda membutuhkan istirahat lebih banyak. Yang Mulia Putra Mahkota benar-benar tidak memiliki belas kasihan..."

Lilianne menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, Lisa. Jika aku tetap di tempat tidur, aku akan terlihat seperti korban yang sudah menyerah. Aku adalah putri dari Duke Kaelric von Eisenhardt. Di Utara, kami tidak mengenal kata menyerah pada rasa sakit."

Dengan susah payah, Lilianne menyeret kakinya. Setiap langkah adalah perjuangan melawan denyut nyeri di area kewanitaannya yang masih meradang akibat penyatuan brutal semalam. Ia berdiri dengan punggung tegak, meskipun keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

"Bawakan aku teh hangat dan sedikit roti," perintah Lilianne dengan nada yang lebih tegas dari sebelumnya. "Dan Lisa, carikan aku salep terbaik dari gudang penyimpanan medis. Aku harus sembuh lebih cepat."

"Baik, Yang Mulia. Tapi... apakah Anda akan menemui Yang Mulia Putra Mahkota saat makan siang nanti?"

Lilianne terdiam sejenak. Bayangan wajah Arthur yang penuh gairah gelap semalam melintas di benaknya, membuatnya bergidik. "Jika protokol istana mengharuskan, maka aku akan datang. Aku tidak akan memberinya kepuasan dengan melihatku bersembunyi di balik selimut."

Lilianne menatap pintu keluar kamar pengantin itu pintu yang semalam dibuka dengan paksa oleh suaminya yang haus darah. Hari pertamanya sebagai Putri Mahkota Valerieth baru saja dimulai dengan cara yang paling tragis. Namun, di balik rasa sakit dan trauma itu, sesuatu yang baru mulai tumbuh di dalam hati Lilianne. Bukan cinta, melainkan keinginan untuk berkuasa.

"Lisa," panggil Lilianne saat pelayan itu hendak melangkah pergi.

"Ya, Yang Mulia?"

"Ceritakan padaku tentang rapat dewan yang dihadiri Arthur. Apa yang biasanya mereka bahas di sana? Dan siapa saja musuh-musuh politiknya di dalam istana ini?"

Lisa tampak terkejut. Ia tidak menyangka seorang lady muda yang baru saja melewati malam yang mengerikan akan menanyakan urusan politik kekaisaran. "Itu... itu adalah hal yang berat, Yang Mulia. Biasanya para lady hanya memikirkan pesta teh atau pemilihan kain gaun."

Lilianne menatap Lisa dengan sorot mata yang tajam, menghilangkan kesan polos di wajah remajanya sejenak. "Lady yang hanya memikirkan gaun tidak akan bertahan hidup di samping pria seperti Arthur Valerius de Valerieth. Jika aku ingin tetap bernapas, aku harus tahu di mana letak pedangnya diletakkan."

Lilianne bersumpah dalam hati. Meskipun ia memulai perannya di istana ini dengan darah dan air mata, ia tidak akan membiarkan dirinya berakhir sebagai korban yang terlupakan. Jika Arthur adalah badai yang menghancurkan, maka ia harus menjadi satu-satunya tempat bagi badai itu untuk tenang—atau justru menjadi badai yang lebih besar yang akan menelan sang singa Valerieth.

Ia menatap pintu keluar sekali lagi, menahan denyut nyeri yang belum hilang, dan melangkah maju dengan keanggunan seorang calon ratu. Perang sesungguhnya baru saja dimulai.

**

Koridor istana sayap timur yang megah terasa begitu panjang bagi Lilianne. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti menginjak pecahan kaca. Gesekan kain sutra gaunnya pada kulit paha bagian dalam yang lecet dan masih meradang akibat keganasan Arthur semalam membuatnya harus menggigit bibir bawahnya berulang kali agar tidak mengerang.

Tangan mungilnya mencengkeram lengan Lisa dengan sangat kuat, hingga jarinya memutih. Keringat dingin merembes di balik kerah tinggi gaunnya, namun wajahnya tetap tenang, sedingin salju di wilayah Eisenhardt.

"Yang Mulia, kita bisa kembali ke kamar jika Anda sudah tidak kuat," bisik Lisa dengan nada penuh kekhawatiran. Ia bisa merasakan tubuh Lilianne yang gemetar halus di balik gaun indahnya.

"Tidak, Lisa. Jika aku bersembunyi hari ini, besok mereka akan menganggapku pengecut. Lanjutkan jalannya," jawab Lilianne tegas, meskipun suaranya sedikit bergetar.

Saat mereka melewati taman mawar tengah yang menjadi penghubung antara istana Putri Mahkota dan istana utama, sebuah tawa yang bernada merendahkan memecah keheningan. Di sana, di tengah jalan setapak marmer, berdirilah seorang wanita dengan gaun sutra berwarna zamrud yang mencolok. Ia adalah Lady Isolde, putri dari Sekretaris Kerajaan yang dikenal haus kekuasaan.

Isolde tidak melakukan salam hormat yang seharusnya diberikan kepada seorang Putri Mahkota. Ia hanya menekuk sedikit lututnya dengan sangat malas, hampir tidak terlihat, sementara matanya yang tajam memindai Lilianne dari ujung kaki hingga ujung kepala.

"Ah, jadi ini bunga musim dingin yang baru saja dipetik oleh Yang Mulia Putra Mahkota?" Isolde membuka kipas bulunya, menutup setengah wajahnya dengan gaya angkuh. "Kelihatannya bunga ini sedikit... layu setelah semalam berada di tangan Yang Mulia Arthur."

Lilianne berhenti melangkah. Ia menahan napas sejenak, membiarkan denyut nyeri di area kewanitaannya mereda sebelum ia berbicara. Ia menatap Isolde dengan tatapan datar, seolah-olah wanita di depannya hanyalah kerikil kecil yang mengganggu jalan.

"Siapa wanita ini, Lisa? Aku tidak ingat ada pelayan istana yang memakai gaun berwarna hijau mencolok seperti ini di area pribadiku," tanya Lilianne tanpa mengalihkan pandangan dari Isolde.

Wajah Isolde memerah seketika. "Pelayan? Saya adalah Lady Isolde, putri dari Sekretaris Kerajaan! Ayah saya adalah tangan kanan kaisar dalam urusan birokrasi, bukan pelayan rendahan!"

Lilianne memberikan senyuman tipis yang sangat dingin. "Oh, putri Sekretaris Kerajaan. Mengingat kau berdiri di jalanku tanpa melakukan salam hormat yang benar, aku berasumsi kau adalah pelayan baru yang belum mendapatkan pelatihan etiket protokol istana. Karena setahuku, putri seorang bangsawan seharusnya tahu bagaimana cara memperlakukan Putri Mahkota dari Kekaisaran Valerieth."

Isolde mendengus, ia melangkah maju satu tindak, mencoba mengintimidasi Lilianne dengan postur tubuhnya yang lebih dewasa.

"Putri Mahkota? Kau hanyalah anak kecil berusia lima belas tahun yang dikirim ayahmu karena ia takut wilayah Utara akan dibantai jika tidak memberikan upeti. Dan kulihat... Yang Mulia Arthur memberikan sambutan yang sangat kasar padamu."

Mata Isolde tertuju pada lebam samar yang mengintip di balik kerah renda Lilianne. "Kasihan sekali. Diperkosa oleh suamimu sendiri di malam pertama hingga kau bahkan tidak bisa berjalan lurus hari ini. Apakah kau yakin bisa bertahan lebih dari sebulan di istana ini, Lady mungil?"

Lisa menegang, ia hendak membalas ucapan kurang ajar itu, namun tangan Lilianne menahannya. Lilianne justru tertawa kecil suara tawa yang tenang namun sangat berwibawa.

"Kau benar, Lady Isolde. Aku baru berusia lima belas tahun," Lilianne melangkah selangkah maju, mengabaikan rasa perih yang menjalar. "Tapi di usiaku yang semuda ini, aku sudah memiliki sesuatu yang tidak akan pernah kau miliki meski kau menunggu hingga rambutmu memutih."

Lilianne mendekatkan wajahnya ke telinga Isolde, membisikkan kata-kata yang tajam seperti belati. "Aku memiliki nama Valerius de Valerieth di belakang namaku. Semalam, Putra Mahkota mungkin bertindak kasar karena ia menginginkan pewaris dariku secepat mungkin. Itu adalah bukti bahwa keberadaanku sangat mendesak bagi kekaisaran ini. Sedangkan kau?"

Lilianne mundur selangkah, menatap Isolde dengan tatapan menghina. "Kau hanyalah putri seorang sekertaris yang sudah bertahun-tahun mencoba menggoda Arthur namun bahkan tidak pernah diizinkan menyentuh ujung jubahnya. Jika kau sangat mengkhawatirkan caraku berjalan, mungkin itu karena kau iri? Iri karena kau tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi milik satu-satunya pria paling berkuasa di kekaisaran ini?"

"Kau... kau lancang!" Isolde mengangkat tangannya, hendak menampar Lilianne.

"Coba saja," tantang Lilianne, suaranya tetap rendah namun penuh otoritas. "Tamparlah wajah Putri Mahkota di depan para pelayan ini. Biarkan ayahmu kehilangan jabatannya dan kepalamu dipenggal sebelum matahari terbenam. Apakah kau pikir Arthur akan membelamu? Pria yang menghabiskan malamnya denganku semalam?"

Tangan Isolde gemetar di udara. Ia menyadari posisinya. Lilianne, meskipun tampak rapuh dan kesakitan, memiliki status hukum yang tak tergoyahkan.

"Lisa, catat nama Lady ini," ujar Lilianne sambil kembali bertumpu pada lengan pelayannya. "Sampaikan pada Kepala Protokol Istana bahwa Lady Isolde membutuhkan pelatihan etiket selama tiga bulan di ruang bawah tanah istana karena lupa cara memberikan penghormatan kepada keluarga kekaisaran."

"Baik, Yang Mulia," sahut Lisa dengan senyum kemenangan.

Lilianne melangkah melewati Isolde yang kini hanya bisa mematung dengan wajah pucat dan penuh kemarahan yang tertahan. Saat mereka menjauh, Lilianne menarik napas panjang, menahan air mata yang hampir jatuh karena rasa sakit di tubuhnya kembali memuncak.

"Anda luar biasa, Yang Mulia," bisik Lisa kagum.

"Jangan puji aku dulu, Lisa," bisik Lilianne parau. "Bawa aku ke kursi taman terdekat. Aku... aku merasa luka di bawah sana kembali berdarah."

Meskipun fisiknya hancur, hari itu Lilianne memenangkan perang pertamanya. Ia bukan lagi sekadar gadis kecil dari Utara; ia adalah mawar yang meski dicabik semalam, tetap memiliki duri yang mematikan.

***

Bersambung...

1
Mei TResna Rahmatika
kasian banget arthur😭
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
Erni Wati
cerita nya keren tp kok sepi ya?
Lilia_safira: kurang update author nya
total 2 replies
Erni Wati
semangat thor,,,💪💪💪
Heresnanaa_: maaciw kaka🥹🫂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!