Kesempurnaan seorang wanita adalah ketika bisa hamil dan melahirkan. Tapi, bagaimana jika bagian terpentingnya harus di relakan karena sebuah takdir. Apa yang harus kita lakukan? Sementara hidup terus berjalan.
Berdamai dengan sebuah takdir dan menjalani kehidupan seperti biasa adalah hal yang harus di lakukan. Itulah yang di lakukan seorang gadis belia yang harus menyerah pada takdir yang di miliknya.
"Kenapa Tuhan takdirkan aku seperti ini? Apa salah aku?".....
......
Cerita ini hanya hayalan penulis ya... Jadi, maaf jika ada kesamaan karakter atau apapun...
Semoga suka dengan cerita baru nya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semangat Untuk Dita
Seperti sedia kala hanya ada Pak Wirawan, Ibu jelita dan Dita di meja makan saat makan malam. Karena dua abang Dita telah berumah tangga sedang Kakak perempuan Dita berkuliah di kota J. Setelah makan mereka bertiga akan bercengkrama bersama di ruang keluarga sambil menunggu makanan turun.
"Adek, nanti yakin ngga akan tinggal sama Kakak aja?" Pak Wirawan.
"Jaraknya terlalu jauh Pa." Dita.
"Terus adek kos sendiri nak?" Ibu Jelita.
"Iya. Boleh kan?" Dita.
"Boleh saja. Papa percaya anak Papa." Pak Wirawan.
"Nanti surat keterangan abis operasinya di bawa Nak jangan lupa." Ibu Jelita.
"Mama, masih lama. Masih 4 bulan lagi. Adek udah sembuh nanti." Dita.
"Iya Nak. Tapi berjaga-jaga ngga ada salahnya kan." Ibu Jelita.
"Iya Nak. Papa setuju sama Mama. Biar ngga perlu bolak-balik juga. Kan cuma kertas bisa di lipat dan di simpan di dalam tas." Pak Wirawan.
"Iya... Iya siap tuan nyonya." Canda Dita.
"Kamu itu."
Dita berjalan perlahan di bantu Ibu Jelita menuju kamarnya. Dita berusaha untuk tidak mengeluh di hadapan keluarganya. Walau terkadang dirinya masih tidak terima dengan takdir yang Tuhan berikan padanya. Dita tau orang tua dan keluarga nya bersedih untuk itu Dita tak ingin menambah kesedihan dengan segala keluhannya.
"Selamat malam sayang. Mimpi yang indah." Ucap Ibu Jelita.
"Malam Ma. Terima kasih untuk hari ini Mama.." Dita.
Setelah mematikan saklar lampu Ibu Jelita pun meninggalkan Dita di kamarnya. Dita kembali termenung dengan apa yang terjadi padanya. Apa yang salah dengan hidupnya, apa saja yang telah ia lewati selama ini hingga takdir seperti ini ia dapatkan.
Di kamar lain Ibu Jelita kembali murung dalam dekapan Pak Wirawan. Dirinya masih saja menyalahkan diri sendiri atas apa yang Dita alami sekarang.
"Ma, semua garisan takdir kita sudah tertulis sebelum kita lahir. Jadi, stop menyalahkan diri Mama. Bukan Papa tidak bersedih Papa sama sedih dan kecewa tapi hidup terus berjalan. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah memberi Dita semangat." Pak Wirawan.
"Melihat Dita tersenyum bukannya bahagia tapi rasanya sakit Pa." Ibu Jelita.
"Mama harus semangat. Bukan hanya Mama tapi kita semua. Kita berusaha memberi rasa utuh pada Dita walau tetap tak akan sama." Pak Wirawan.
"Apa nanti ada laki-laki yang mau Pa sama anak kita? Kalau pun ada pasti keluarganya tidak akan terima ya Pa." Ibu Jelita.
"Papa yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk anak kita Ma. Jangan pesimis, kita doakan saja anak kita." Pak Wirawan.
"Maafin Mama ya Pa." Ibu Jelita.
"Tidak ada yang perlu di maafkan Ma. Kita sama-sama belajar. Benar salah itu hal wajar. Kita hadapi bersama ya." Pak Wirawan.
"Terima kasih Pa. Jangan pernah lepas genggaman Papa ya. Mama masih sangat membutuhkan Papa sampai selama-lamanya." Ibu Jelita.
"Iya. Sudah ayo tidur. Mama juga butuh istirahat." Ajak Pak Wirawan.
Pagi hari Dita sudah berada di halaman belakang menikmati sejuknya udara pagi. Bahkan Bi Mimin pin terkejut ketika melihat Dita di halaman. Tak seperti biasanya Dita sudah keluar sepagi ini.
"Pagi Bi Min, Kok sendiri?" Sapa Dita.
"Kan biasanya begitu neng. Suami Bibi belakangan antar anak sekolah dulu." Bi Mimin.
"Oh, gitu ya. Berarti anak Bibi sekolah pagi banget dong?" Dita.
"Ngga. Deket sekolahan kan ada adik suami Bibi jadi mereka ke sana dulu terus berangkat sama-sama." Bi Mimin.
"Enak ya Bi. Kalo ada saudara deket." Dita.
"Kan Neng juga ada Bude deket." Bi Mimin.
"Ya kan anak bude ngga ada yang seumuran aku Bi. Aku ngga ada temen jadinya." Dita.
"Iya juga ya."
"Ya udah Bibi kebelakang dulu ya. Kasian Bi Idah udah nungguin." Pamit Bi Mimin.
"Iya silahkan Bi."
Setelah berjalan-jalan di halaman Dita pun masuk ke dalam rumah bersamaan dengan Ibu Jelita yang baru saja ke dapur.
"Eh, anak Mama udah di sini aja." Ibu Jelita.
"Pagi Ma."
"Pagi sayang. Mau sarapan sekarang?" Ibu Jelita.
"Nanti sama-sama aja Ma. Dita mau mandi dulu." Dita.
"Hati-hati naik tangganya ya." Ibu Jelita.
"Siap Nyonya." Canda Dita.
"Ish... Anak ini."