Kayla dan Arka terjebak dalam hubungan friends with benefits yang nggak pernah punya arah. Buat Arka, Kayla cuma tempat pulang saat lagi kesepian. Tapi buat Kayla, Arka adalah orang yang diam ia cintai selama bertahun tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahendra Andhika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4.
Suara deru motor memecah sunyinya malam, Arka melaju seperti orang kehilangan akal, tangannya mencengkram setang dengan kuat sementara matanya fokus lurus ke depan.
"Bangun... Kay, bangun..." gumam Arka panik, ia menoleh ke belakang memastikan Kayla masih sadar.
Tubuh Kayla yang memeluknya sudah terlalu lemas, kepalanya terkulai di punggung Arka tanpa tenaga.
"Anj*ng... jangan sekarang, please..." ucap Arka dengan suara serak, ia mempercepat laju motornya tanpa peduli jalanan.
Arka segera membawa Kayla ke rumah sakit dengan kecepatan motor yang tak kira-kira. Angin malam menghantam tubuhnya, namun ia tidak peduli. Beberapa menit kemudian, akhirnya bangunan rumah sakit terlihat di depan matanya. Lampu rumah sakit akhirnya terlihat di depan, Arka langsung membelokkan motornya dengan kasar hingga hampir tergelincir.
Ciittt.
Motor berhenti mendadak, Arka langsung turun dan menggendong tubuh Kayla dengan panik, tangannya menopang tubuh Kayla yang lunglai.
"Dokter! Tolong!" teriak Arka keras, ia berlari memasuki IGD tanpa memperdulikan orang sekitar.
Beberapa perawat langsung menghampiri, mereka melihat kondisi Kayla yang berlumuran darah.
"Taruh disini!" ucap perawat tegas sambil mendorong ranjang ke arah Arka.
Arka segera menurunkan Kayla ke atas ranjang, namun tangannya masih menggenggam tangan Kayla dengan erat seolah tidak mau melepas.
"Luka tusuk... di leher... dia pingsan" ucap Arka terburu-buru, napasnya tidak beraturan, matanya tidak lepas dari wajah Kayla.
"Baik Mas, untuk informasi lebih lanjut, siapa nama pasien ya?" tanya perawat itu sambil mulai membuka balutan di leher Kayla.
"Kayla... Kayla Anindya" jawab Arka cepat, suaranya masih terengah, tangannya sedikit gemetar.
"Silahkan urus bagian administrasi dulu ya Mas" ucap perawat itu lagi sambil memberi isyarat ke arah meja pendaftaran.
"Mas tunggu di luar ya" lanjutnya, kini fokus pada penanganan Kayla.
"Gue ikut..." ucap Arka menolak, ia melangkah maju, matanya penuh kekhawatiran.
"Mas, kami tangani dulu" ucap perawat lebih tegas, tangannya menahan dada Arka agar tidak masuk.
Arka terdiam, rahangnya mengeras, ia menatap Kayla yang dibawa masuk sebelum akhirnya mundur perlahan.
Pintu IGD tertutup, meninggalkan Arka sendirian di luar.
Arka berjalan mondar-mandir di depan ruangan, tangannya mengacak rambutnya sendiri dengan frustasi, langkahnya tidak tenang.
"Sh*t..." gumam Arka pelan, ia menendang kursi kosong di dekatnya dengan kesal.
Bayangan Kayla yang berdarah terus terulang di kepalanya, membuat dadanya terasa sesak dan napasnya berat.
"Gue telat..." ucap Arka lirih, ia menundukkan kepalanya dan mengepalkan tangan kuat.
Arka mengingat beberapa jam yang lalu, ia yang malah duduk santai di cl*b, membuang waktu, sementara Kayla berjuang sendirian. Penyesalan itu menampar keras pikirannya.
"Harusnya gue jemput lo..." gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar.
...---...
Pintu IGD terbuka, seorang perawat keluar sambil mencari seseorang.
"Pasien atas nama Kayla Anindya?" panggil perawat tersebut, ia menatap sekitar hingga menemukan Arka.
"Iya gue!" jawab Arka cepat, ia langsung menghampiri dengan wajah tegang.
"Lukanya tidak terlalu dalam, jadi masih bisa ditangani" ucap perawat itu tenang, mencoba menenangkan.
Arka terdiam sejenak, matanya melebar sedikit mendengar kabar itu.
"...Serius?" tanya Arka pelan, ia menatap perawat itu memastikan.
"Iya, kondisinya stabil, hanya perlu perawatan" jawab perawat itu sambil mengangguk.
Arka menghembuskan napas panjang, tangannya mengusap wajahnya kasar, bahunya sedikit turun.
"Thanks god.." gumam Arka pelan.
...---...
Arka berjalan cepat ke meja administrasi, ia langsung berdiri di depan petugas dengan wajah masih tegang.
"Pasien IGD, atas nama Kayla Anindya" ucap Arka singkat, ia meletakkan dompet di meja.
Petugas itu mulai mengetik sesuatu di komputer.
"Hubungan dengan pasien?" tanya petugas itu tanpa menoleh.
Arka terdiam sepersekian detik.
"...Orang dekat" jawabnya akhirnya, rahangnya mengeras.
"Baik, untuk perawatan selanjutnya mau kelas apa, Mas?" tanya petugas lagi.
"VVIP" jawab Arka tanpa ragu, ia langsung mengeluarkan kartu dan menyodorkannya.
Petugas itu sedikit menoleh, mungkin kaget, tapi tetap melanjutkan proses.
"Baik Mas, mohon tanda tangan disini" ucapnya sambil menggeser berkas.
Arka langsung mengambil pena dan menandatangani tanpa membaca lama, tangannya bergerak cepat.
"Semua ditanggung gue" ucap Arka datar, ia menatap petugas itu sebentar.
"Iya Mas, ini kartu identitas pasien ada?" tanya petugas lagi.
Arka yang dari tadi memegang tas Kayla langsung saja ia membuka tas Kayla dengan cepat, mencari dompet kecil di dalamnya.
"Dapet" gumamnya, ia menyerahkan KTP Kayla.
Petugas mengangguk dan kembali mengetik.
"Sudah selesai Mas, pasien akan dipindahkan ke ruangan" ucap petugas itu.
Arka tidak menjawab, ia langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan meja.
...---...
Di lorong rumah sakit, Kayla didorong menggunakan ranjang, tubuhnya sudah dibersihkan, lehernya terbalut rapi.
Arka langsung menghampiri, tangannya meraih tangan Kayla tanpa pikir panjang.
"Kay..." ucap Arka pelan, ia berjalan di samping ranjang itu.
Tangan Kayla terasa dingin di genggamannya, membuat Arka tanpa sadar menggenggam lebih erat.
Ia terus mengikuti hingga masuk ke ruangan VVIP, tak berhenti ia tetap menggegam tangan Kayla
Sesampainya diruangan kamar bernomor 210, Kayla langsung dipindahkan kesana, masih dalam keadaan belum menyadarkan diri. Di dalam kamar, perawat merapikan posisi Kayla dan memasang alat infus.
"Kalau ada apa-apa panggil saya ya, Mas" ucap perawat sebelum keluar.
Arka hanya mengangguk singkat, matanya tidak lepas dari Kayla.
Pintu tertutup, menyisakan suasana sunyi.
Arka menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur, tangannya kembali menggenggam tangan Kayla.
"Lo bikin gue panik tau nggak sih..." ucap Arka pelan, ia menunduk mendekatkan wajahnya ke arah Kayla.
Dengan pelan, Arka mengecup kening Kayla singkat, nafasnya masih terasa berat. Jarinya mengusap punggung tangan Kayla perlahan.
Cup Arka menempelkan bibirnya ke kening Kayla, Arka menjauhkan wajahnya dan memandang Kayla yang tadinya terluka sudah diobati.
Arka menatap sendu, jarinya mengusap bibir yang selama ini menjadi candunya, perlahan Arka mendekatkan kembali wajahnya ke Kayla, ia mencium bibir Kayla.
Arka menghiraukan Kayla yang masih pingsan, ia tak peduli, semakin lama ia memperdalam ciumannya, bukan sekedar ciuman. Arka mulai melumat bibir Kayla, lidahnya bermain didalam sana.
Terdengar bunyi kecipak dalam ruangan tersebut, namun Arka cuek, ia tetap melanjutkan kegiatannya.
Sementara itu tangan kanannya menarik rambut Kayla untuk menyatukan mereka semakin dalam, semakin lama Arka belum menghentikan. Arka menggigit bibir bawah Kayla, terlihat tidak ada respon dari Kayla, ya karna Kayla masih pingsan, sabar atuh Arka.
Merasa puas Arka menyudahkan kegiatannya, ia menjauhkan wajahnya, saliva yang menetes membuat Arka mengelap dengan lengannya. Terlihat bibir Kayla sedikit bengkak, membuat Arka menyeringai.
"Cantik." Arka mengelus bibir bawah Kayla yang bengkak akibat ulahnya
"Nggak usah sok kuat deh lo..." lanjut Arka lirih, ia menghela napas panjang.
Malam terus berjalan, Arka tetap duduk di sana tanpa berpindah. Matanya mulai berat, tubuhnya lelah, tapi tangannya tidak pernah lepas dari Kayla, tangan kanannya mengusap lembut rambut Kayla sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan Kayla, semakin lama matanya memberat.
Hingga akhirnya, kepalanya perlahan jatuh ke tepian kasur, tetap dalam posisi menggenggam tangan Kayla.
Arka tertidur.
...---...
Cahaya pagi masuk melalui celah tirai, menyinari wajah Kayla. Kelopak matanya bergerak pelan, napasnya mulai teratur.
Kayla membuka matanya perlahan, pandangannya kosong beberapa detik.
"...Hah?" gumam Kayla pelan, ia mengernyit bingung melihat langit-langit putih.
Ia mencoba bergerak sedikit, wajahnya langsung meringis karena rasa sakit di lehernya.
"Akh..." lirih Kayla, tangannya refleks ingin menyentuh lehernya namun tertahan.
Tak hanya sakit dibagian leher, Kayla merasa bibirnya sakit.
Kayla menoleh ke samping
Dan langsung terkejut.
Arka tertidur di sampingnya, kepalanya berada di tepian kasur, rambutnya berantakan dengan gaya urakan.
Tangan mereka masih saling menggenggam. Kayla terdiam, matanya menatap Arka cukup lama.
"...Ka?" panggil Kayla pelan, ia sedikit menggerakkan tangannya.
Arka tidak merespon, napasnya terdengar pelan menandakan ia masih tertidur.
Kayla menelan ludah, ia memperhatikan wajah Arka yang terlihat lelah. Biasanya laki-laki itu terlihat cuek dan sembarangan, tapi sekarang dia ada disini, menemaninya, dan tidak pergi.
Kayla menggigit bibir bawahnya pelan, dadanya terasa hangat.
Tangannya perlahan membalas genggaman Arka, ia menggenggam lebih erat, Kayla merasa sangat aman, Kayla sedikit bergerak tapi berusaha agar Arka tidak terganggu, Kini Kayla sudah duduk diranjang, ia mengecup rambut harum Arka.
"Morning." Suara Kayla lembut dipagi hari ini.
...---...
TO BE CONTINUE