NovelToon NovelToon
Kegilaan Sang Immortal

Kegilaan Sang Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Ruang Ajaib
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Chizella

Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.

Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.

Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Bisakah kalian memakai pakaian yang lebih tertutup di rumah ini?

Wang Chan dan Qing Yi akhirnya pulang ke rumah mereka.

Rumah itu terlihat biasa saja, dinding kayu yang tidak terlalu tinggi, atap genteng merah yang mulai ditumbuhi lumut di beberapa sudut, serta halaman kecil tanpa pagar yang hanya ditanami beberapa rumpun bambu hias.

Tidak istimewa. Tapi cukup untuk ditinggali.

Setelah sebulan tidur di penginapan sempit dan kadang di pinggir hutan, rumah ini terasa seperti istana.

Qing Yi langsung membuka pintu dan masuk dengan santainya, tanpa mengetuk, tanpa membersihkan debu dari sepatunya.

Ia memang sudah merasa seperti di rumah sendiri.

"Aku pulang!" serunya riang, suaranya menggema di ruang tamu yang sempit.

Wang Chan hanya mengikutinya dari belakang sambil menggeleng-gelengkan kepala. Lalu ia menyusul masuk dengan langkah lebih lambat.

Di ruang tamu, sesosok wanita duduk dengan anggun di kursi panjang anyaman bambu.

Kaki jenjangnya disilangkan, satu tangan bertumpu pada sandaran, tangan lainnya memegang cangkir teh kecil yang sudah setengah kosong.

Itu adalah Liu Chiyang.

Wanita itu seperti biasa.

Pakaian yang ia kenakan hari ini tidak berbeda jauh dari biasanya, terbuka di bagian bahu, dengan belahan di sisi kanan yang memperlihatkan pahanya yang putih mulus hingga hampir sepertiga paha.

Setiap kali ia bergerak, kain tipis itu bergeser, sesekali memperlihatkan lebih dari yang seharusnya.

Rambut hitamnya yang panjang terurai bebas, hanya dijepit sedikit di bagian belakang dengan tusuk kayu sederhana.

Wang Chan menghela napas dalam hati.

Ini sudah keterlaluan.

Dia tinggal dengan dua wanita yang suka pamer keindahan tubuh di rumah ini.

Setiap pagi ia harus menyaksikan Qing Yi turun dari lantai atas dengan pakaian tidur yang tipis dan melorot di bahu.

Setiap sore ia harus melihat Liu Chiyang duduk di ruang tamu dengan jubah yang terbuka di bagian paha.

Laki-laki mana yang akan tahan?

"Oh! Xiao Yi! Xiao Chanchan! Kalian sudah pulang?"

Liu Chiyang meletakkan cangkir tehnya di atas meja kayu rendah di depannya.

Ia bangkit dengan gerakan yang anggun, paha putihnya tersibak sesaat saat ia berdiri, memperlihatkan selutut ke atas sebelum kain jubah itu jatuh kembali menutupi.

Ia kemudian menepuk-nepuk pakaiannya yang sedikit berantakan karena terlalu lama duduk, lalu membuka kedua lengannya lebar-lebar.

"Kemarilah, kuberi kalian pelukan selamat datang."

Qing Yi langsung melompat ke dalam pelukan itu seperti anak kecil.

Tubuhnya yang mungil menyusup di antara lengan Liu Chiyang, kepalanya menempel di dada guru yang montok itu.

"Eii!" seru Qing Yi sambil tertawa kecil, wajahnya mengubur di kelembutan Liu Chiyang.

Sementara itu, Wang Chan hanya mengalihkan pandangannya.

Matanya menatap dinding kayu di sebelah kanan yang dihiasi lukisan pemandangan gunung, lukisan murahan, tapi setidaknya memberi sesuatu untuk dilihat selain dua wanita yang sedang berpelukan di depannya.

"Xiao Chanchan?" Liu Chiyang menoleh, masih dengan satu tangan melingkar di punggung Qing Yi. "Tidak ikut?"

"Tidak perlu."

Suara Wang Chan datar, mungkin sedikit terlalu datar.

Liu Chiyang mengernyit.

Qing Yi melepaskan pelukan dan menatap Wang Chan dengan curiga.

Matanya yang bulat itu menyipit seperti kucing yang baru mencium bau ikan.

Duh.

Wang Chan menyadari mungkin ia tidak cukup pandai menyembunyikan perasaannya.

Tapi bagaimana tidak? Sepulang dari membantai iblis di hutan yang lembab dan berbau busuk, ia disambut oleh dua wanita cantik dengan pakaian minim yang siap memeluknya.

Perang antara logika dan naluri sedang terjadi di dalam kepalanya saat ini.

Dan sepertinya, naluri hampir menang.

Liu Chiyang melangkah mendekati Wang Chan, satu langkah, dua langkah, hingga jarak mereka hanya selebar lengan.

Wang Chan bisa mencium wangi melati dari tubuh Liu Chiyang, bau yang selalu melekat di pakaian wanita itu. Wangi yang membuat kepalanya sedikit pusing.

Wajah Liu Chiyang mendekat.

Matanya yang jernih mengamati Wang Chan dari ujung rambut hingga ujung dagu.

"Ada apa denganmu?" tanyanya, suaranya pelan, tidak seperti nada bercandanya yang biasa. "Tingkahmu aneh hari ini."

Liu Chiyang adalah kultivator Ranah Transformasi Roh.

Ia akan menyadari perubahan sekecil apa pun pada seseorang, apalagi pada Wang Chan yang sudah ia anggap seperti adik sendiri selama sebulan terakhir.

Dari raut wajah, dari suara, dari cara ia berdiri, semuanya sedikit berbeda.

Wang Chan menghela napas lagi. Kali ini lebih panjang.

"Tidak, bukan begitu. Aku hanya... sedikit..."

"Ahh! Aku tahu!"

Qing Yi langsung mendekat, nyaris menyenggol bahu Wang Chan dengan bahunya yang mungil.

Matanya berbinar-binar seperti baru saja memecahkan teka-teki besar.

"Wang Chan pasti iri karena aku jauh lebih kuat darinya berkat latihan dari Kak Liu!"

Ia membusungkan dadanya dengan bangga. Pakaiannya yang tipis menegang di bagian dada, memperlihatkan bentuknya yang montok.

Wang Chan memalingkan muka.

Liu Chiyang menatap Wang Chan dengan alis terangkat.

Bibirnya yang merah sedikit mengerucut, tanda ia sedang berpikir.

"Benarkah?" Ia mendekat lagi.

Wang Chan mundur setengah langkah, tapi punggungnya sudah menyentuh tiang kayu di samping pintu. Tidak ada ruang untuk mundur lagi.

Liu Chiyang mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua tangannya disilangkan di bawah dadanya, yang justru membuat puncak kembarnya terangkat dan terlihat lebih menonjol dari biasanya.

"Bukankah sudah kubilang, Xiao Chanchan?" ucapnya. "Aku tidak bisa mengajarimu teknik milikku. Teknik Teratai Biru hanya bisa dipelajari oleh wanita. Bukan karena aku pelit, tapi karena energi yin dalam tubuh wanita berbeda dengan pria. Kalau kau paksakan, tubuhmu bisa rusak."

Wang Chan menggeleng.

"Kalian salah paham. Yang kumaksud bukan itu."

Ia menepuk dahinya sendiri, pelan, tapi cukup keras untuk membuatnya sadar bahwa ia sedang dikepung oleh dua wanita yang sama-sama tidak mengerti maksudnya. Atau mungkin pura-pura tidak mengerti.

Pandangan Wang Chan beralih ke Qing Yi, lalu ke Liu Chiyang.

Kedua wanita itu menatapnya dengan ekspresi berbeda, Qing Yi dengan rasa ingin tahu polos khasnya, Liu Chiyang dengan senyum kecil yang entah mengapa terasa seperti ejekan halus.

Wang Chan menarik napas panjang.

"Kalian berdua... bisakah memakai pakaian yang lebih tertutup di rumah ini?"

Sunyi.

Keduanya saling bertatapan. Qing Yi mengerjap, Liu Chiyang mengangkat satu alis.

Sebuah dialog tanpa suara terjadi di antara mereka, tatapan yang Wang Chan tidak bisa mengartikannya.

Kemudian, serempak, mereka menggeleng.

"Tentu saja tidak mau," kata Liu Chiyang santai. Ia melipat tangannya di bawah puncak kembarnya, lagi-lagi gerakan yang justru menonjolkan apa yang seharusnya ia tutupi. "Aku nyaman dengan pakaianku. Di rumah sendiri, kenapa harus repot-repot?"

"Benar!" Qing Yi mengangguk-angguk dengan semangat. "Kau tidak berhak menentukan pakaian kami, Wang Chan! Lagipula ini hanya di rumah! Bukan di luar!"

Wang Chan membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Tidak ada gunanya berdebat dengan dua wanita keras kepala yang sama-sama merasa benar.

Ia sudah tahu sejak awal akan seperti ini.

Ia menghela napas, entah yang keberapa kalinya hari ini, lalu berbalik.

"Sudahlah. Murid dan guru sama saja."

Ia melangkah menuju kamarnya di ujung lorong, meninggalkan Qing Yi dan Liu Chiyang yang masih berdiri di ruang tamu.

Di belakangnya, ia mendengar tawa kecil Liu Chiyang dan cekikikan Qing Yi.

"Xiao Chanchan marah!" seru Liu Chiyang dengan nada menggoda.

"Awas nanti malam dia tidak mau makan!" sahut Qing Yi.

Wang Chan mempercepat langkahnya.

Pintu kamarnya tertutup dengan bunyi krek yang sedikit keras.

Tapi di balik pintu itu, di sudut bibirnya, ada senyum tipis yang tidak bisa ia bendung.

Rumah memang bukan hanya tempat, pikirnya, mengingat kata-kata Qing Yi sebulan lalu. Rumah juga orang.

Dan di rumah ini, ada dua orang yang, meskipun membuatnya hampir gila, tetap membuatnya merasa... pulang.

Ia melemparkan tubuhnya ke ranjang kayu di pojok ruangan. Di atas langit-langit, terdengar langkah kaki kecil, Qing Yi naik ke lantai dua.

Kemudian suara Liu Chiyang yang memanggil-manggil dari ruang tamu.

"Malam ini masak apa, ya? Xiao Chanchan suka tumis kangkung, kan?"

"Beli ayam goreng, Kak! Wang Chan suka ayam goreng!"

Wang Chan menutup matanya.

Senyumnya melebar.

Bodoh-bodoh.

Tapi bodoh yang baik.

...---...

...[ Ilustrasi: Liu Chiyang ]...

1
yayat
wah2 baru belajar sebntr tp sudah nunjukin perubhn besar berarti harus swring kultivasi ganda ni sama ketiga wanitanya biar cept ningkt lg ahaaay
Cecilia: kalau kultivasi ganda nanti di alam atas lebih sering wkwk
total 2 replies
syarif ibrahim
kayaknya bakalan kalah wang Chan nih.... /Frown//Grimace//Cry/
syarif ibrahim
terlalu cepat ya... /Determined/🤭🙏
yayat
akan kn wang chen menang n menjadi musuh keluarga wen
Cecilia: ehehe, ikuti terus kisahnya kak
total 1 replies
yayat
wah adenya mlh belain wang chen ni suka sepeetinya
yayat
ada yg cemburu ni kayanya
Windhana Binar
Awal yg bagus Thor 👍👍👍👍
Cecilia: iyeyy
total 1 replies
yayat
yg 3 blm diberesin dah nambh lg ja ni penjhat kelamin ahaaay
yayat
wang chen jdi golongn hitam donk nantinya karna belajar ilmu iblis langit
yayat: boleh kita liat apa makin seru or mlh jauh dari expetasi
total 4 replies
yayat
jadi golongn hitam donk wang chen
Swushe
suka bangett mcnya, lagi males? ya kabur. ditantangin ya serius. asik banget lagi cara ngomongnya yang kadang ngawur wkwk
Swushe
Liu Chiyang >>>>>>> semua cewek. Mana ada guru sekelas dia? Cantik, anggun, strong, trus ketahuan coly sama muridnya sendiri 🤣🤣🤣 aku ngakak campur malu bacanya. Tapi justru itu bikin karakternya hidup.
yayat
wah wah 3 wanita ni sepeetinyw
yayat
pilnya campur obat perangsang ni
yayat
wah rada beda ya penyebutan ranahnya dengn yg lain2 lanjut
Cecilia: ehehe, nyoba ngambil dari TOHG sama my senior brother
total 1 replies
yayat
tingkatkn terus kekuatannya biar bisa melindungi yg disayang
yayat
lanjutlah sampai tamat ya
yayat
lari bersama susah bersama latihan bersama n hidup bersama asal jngn salh 1nya peegi jd ga seru nanti kurang greget
yayat
baru diawal alurnya dah alus mengalir ga ribet ga bikin mikir bacanya moga konsisten n terus jd lbh baik n bikin pembaca betah
Cecilia: siappp kak
total 1 replies
Mommy Chen Xi
Suka banget sama tipe MC gini. Bukan sok suci, bukan pahlawan yang rela mati buat orang lain. Pas desanya diserang, dia milih ninggalin yang lain. Brutal sih, tapi logis. Dia sadar diri lemah, makanya lari dulu, hidup dulu. Utama kan diri sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!