NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma

Beberapa menit yang lalu saat Hana pingsan, Luca segera memanggil dokter pribadinya.

"Apa yang terjadi?"

"Dia kelaparan."

Luca terkejut mendengar penuturan dokternya.

"Beri dia makanan, itu obatnya." Dokter tersebut pergi setelah memeriksa Hana.

Usai mendengar saran dari dokter, Luca menyuruh sekretarisnya untuk membeli beberapa makanan dan menyimpannya di atas meja.

Wajah Hana tampak berseri usai pulang bekerja. Di tangannya menenteng beberapa plastik berisi sisa makanan yang masih utuh.

Ia berharap, makanan itu bisa bertahan di suhu ruang, sebab ia tak mempunyai kulkas.

Di perjalanan, ia melihat gelandangan yang sedang tertidur. Ia melirik makanan yang ia bawa.

Hana mendekati gelandangan tersebut dan meletakkan satu bungkus makanan di dekatnya.

Hana pun berniat untuk membagikannya saja pada orang yang membutuhkan dan menyisakan satu bungkus untuk besok pagi.

Pemandangan tersebut tak luput dari manik tajam yang berada di dalam mobil.

"Kita ke mansion." Perintah tersebut mendapat anggukan dari seorang sopir yang kemudian menginjak gas menuju mansion tuannya.

Hana kembali pergi ke luar setelah pulang ke kos dan mengambil beberapa lembar uang yang berada di tas lusuh.

Ia berencana membeli parfum sesuai yang diperintahkan oleh Tuan Luca.

Hana mengendus beberapa botol parfum untuk mencari wangi yang cocok dengan seleranya. Ia juga membeli deodorant dan peralatan mandi.

 Penampilannya yang kumal membuat SPG toko membuntutinya.

Hana tak keberatan, namun ia kasihan melihat SPG yang mengikutinya akan lelah, karena Hana terus berkeliling mencari-cari barang yang ia perlukan.

Menghabiskan waktu dua jam, Hana akhirnya mendapatkan semua barang yang ia cari. Segera ia membawanya ke kasir untuk membayar.

Ia menyerahkan beberapa lembar uang kepada kasir dan keluar membawa barang belanjaan.

Dirinya juga membeli sepatu yang sudah koyak, lalu t-shirt dan jaket baru.

Hana baru sadar, dirinya hanya diminta membeli parfum namun di tangannya banyak sekali barang yang ia beli. Ingin dikembalikan pun tidak bisa.

Hana hanya berharap, semoga bosnya tak meminta kembali uang tersebut.

Malam itu, Hana sampai ke kosnya dan membongkar semua barang belanjaan dan menyimpannya di tempat masing-masing.

Hana tak sabar untuk mencoba lulur dan sabun mandi, sudah lama ia tak merasakan tubuhnya dibersihkan. Ia menjalani ritual mandi pada malam itu dan berakhir dini hari.

Tubuhnya lelah namun terasa ringan dan puas.

Ia melihat dirinya melalui cermin, wajahnya yang terlihat bersih dan segar, rambutnya yang halus  dan lembut, serta kulitnya terasa mulus dan wangi. Hana tersenyum bahagia menutup malam itu.

Pagi harinya, ia bekerja satu hari lagi sesuai jadwalnya. Hana bekerja di perusahaan A pada hari senin- rabu, dan di perusahaan B ia bekerja di hari kamis-sabtu.

Beberapa karyawan yang mengenalnya menatap lekat ke arahnya.

Gadis berusia 21tahun tersebut hari ini terlihat segar dan cerah, rambutnya diikat oleh ikat rambut yang terlihat baru, rambut yang biasanya kusut dan bau, kini terlihat rapi dan wangi.

Wajahnya yang kusam pun terlihat segar, memancarkan kecantikan alami yang telah lama terpendam.

Hana seperti biasa tersenyum ramah menyapa para karyawan yang berpapasan olehnya.

"Heh, dekil. Kau pake susuk, ya?" Suara cempreng dari karyawan perempuan yang sering membully-nya merusak paginya yang indah.

Hana berdiri diam menatap wajah garang itu.

Kedua tangannya dilipat di depan dada dengan gaya angkuh, tanda pengenal yang tergantung di lehernya menampakkan sebuah foto dan nama "Chintya Isabel"

"Kenapa diam? Takut kesaing ya?" Bibir yang dipoles lipstick merah menyala itu bergerak miring.

"Siapa yang mau kau rayu, hah?"

"Ups, mana ada yang tertarik sama si dekil!"

Tawa cempreng itu terdengar sumbang di telinga Hana.

"Jangan ngimpi jadi cantik, deh! Kau sudah ditakdirkan jadi gembel!" Jari telunjuk itu mendorong kening Hana.

"Bisu, ya?! Ngomong!"

"Ngapain sih ladenin si kutu ini pagi-pagi. Liat wajahnya aja udah bikin badmood."

Ucap karyawan perempuan yang berpenampilan elegan namun mulutnya tak selaras itu.

Ia hanya berlalu melewati Chintya dan Hana.

Chintya mendengkus kasar dan berlalu meninggalkan Hana.

Seperti biasa, Hana hanya diam mendengarkan cemoohan para karyawan yang tak menyukai dirinya.

Awalnya ia tersiksa, namun ia menanamkan dalam kepalanya untuk bertahan agar semua hutang ayahnya lunas.

"Nona, Anda diminta ke ruangan Tuan Luca sekarang." Hana yang sedang membersihkan di lantai 6 begitu terkejut ketika seorang pria muda berdiri di depannya.

Hana ingin bertanya, tetapi pria tersebut sudah beranjak pergi. Ia bergegas menyimpan peralatan kebersihannya lalu menuju ruangan bosnya tersebut.

Hana melangkahkan kaki menuju pintu besar usai keluar dari lift yang membawanya ke lantai 20.

Ia mengetuk pintu dan mendengar perintah masuk.

"Anda memanggil saya, tuan?"

Samar-samar Luca mencium aroma wangi bunga yang terkesan murahan. Ia berpikir mengapa gadis ini membeli parfum murah, sedangkan ia memberikan uang yang cukup banyak untuk membeli parfum yang sedikit mahal.

Hana mendekat dan berdiri di depan meja kerja Luca.

Pria itu melirik gadis yang berdiri di depannya sembari menunduk. Sudut bibirnya sedikit terangkat melihat penampilan Hana yang rapi dan bersih dibanding kemarin.

"Siapa yang menyuruhmu berdiri di situ?" Ucapan tegas itu membuat Hana sedikit berjingkat kaget. Ia menatap takut Luca yang memandang tajam ke arahnya.

Jari telunjuk pria itu mengisyaratkan agar ia berdiri di sisinya. Hana yang langsung paham segera menuruti perintah bosnya.

Luca menarik kembali ucapannya saat menyebut parfum Hana murahan.

Dari dekat, ia menyukai wangi bunga yang membuatnya rileks. Hana seperti memilih parfum sesuai dengan kepribadiannya.

"Kau tahu alasanmu dipanggil kemari?"

Hana menggeleng.

"Tidak, tuan."

Hana menunggu perintah apa yang akan diminta oleh bosnya itu.

Detik berganti menit, Hana berdiri dengan pegal. Ia belum mendapat perintah apapun dari tuan muda yang tengah sibuk mengurus beberapa berkas di meja kerjanya.

Ingin membuka suara tetapi ia takut mengganggu tuan Luca yang sedang fokus bekerja.

Hampir satu jam lamanya ia menunggu, akhirnya Luca memberi perintah usai merenggangkan otot-ototnya.

Pria itu memutar kursi kerjanya menghadap Hana sembari menyilangkan kakinya.

Hana menunduk tak berani menatap manik tajam itu.

"Kau sudah sarapan?" Luca duduk bersandar menopangkan pipi kanannya di tangan.

Hana mengangguk, ia masih menunduk tak berani beradu pandang dengan atasannya.

"Sudah, tuan."

Luca diam masih menatap gadis yang bekerja sebagai tukang kebersihan di perusahaannya.

"Tuan, maaf. Apa ada perintah untuk saya dipanggil kemari?" Hana melirik ke arah Luca ia memilih tetap menunduk.

"Tentu. Buatkan saya kopi seperti kemarin."

"Baik, tuan." Hana akhirnya bisa menggerakkan kakinya yang sudah terasa seperti dipaku di lantai ruangan.

"Siapa yang menyuruhmu pergi sekarang?" Langkah Hana terhenti, ia berbalik.

"Ya? Apa ada lagi, tuan?" Tubuh Hana sedikit gemetar, bukan karena lapar namun takut jika ia melakukan kesalahan.

"Apakah ada uang di lantai?"

"Ya?" Hana menengadahkan wajahnya menatap Luca yang menatapnya dengan lekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!