Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.
Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Ujian Terakhir
# Bab 18 — Ujian Terakhir
**POV: Bergantian**
---
## BAGIAN 1: HUBBLE
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa sampai di sini.
Satu menit aku berdiri di depan gerbang, menunggu. Menit berikutnya, dunia berputar, dan aku berada di tengah ruangan hitam yang luas. Di depanku, ada bayangan—bukan bayangan biasa, tapi bayangan yang berbentuk manusia.
Dan ia berbicara.
*"Hubble."*
Aku mengenali suara itu. Suara yang tidak pernah bisa kulupakan.
*"Nak."*
Bayangan itu berubah menjadi sosok yang lebih jelas. Seorang pria tinggi dengan janggut tipis, mengenakan pakaian yang sama seperti malam itu—malam 36 tahun lalu.
"Ayah?"
Bayangan itu tersenyum. Tapi senyum yang pahit.
*"Kau sudah tumbuh besar\, Nak. Maafkan aku karena pergi begitu cepat."*
Aku mundur selangkah. "Ini tidak nyata. Ini hanya ilusi."
*"Mungkin. Tapi perasaan ini nyata."*
Aku mengepalkan tinjuku. "Kenapa kau muncul sekarang? Setelah 36 tahun?"
*"Karena kau perlu mendengar ini. Aku tidak ingin kau terus hidup dalam dendam."*
"Dendam? Kau dibunuh! Seluruh keluarga kita dibunuh! Dan kau bilang aku harus melupakan dendam?"
*"Aku tidak bilang melupakan. Tapi jangan biarkan dendam itu menghancurkanmu."*
Aku diam. Air mata mulai menggenang di mataku.
*"Reiki bukanlah Dewa yang dulu. Ia adalah anak yang tidak bersalah. Jika kau terus membencinya\, kau hanya akan menghancurkan dirimu sendiri."*
"Aku tahu," bisikku. "Tapi sulit."
*"Aku tahu\, Nak. Tapi kau harus mencoba."*
Bayangan itu mulai memudar.
*"Aku bangga padamu\, Hubble. Jadilah pemimpin yang baik."*
Dan ia menghilang.
Aku jatuh berlutut, menangis. Untuk pertama kalinya dalam 36 tahun, aku menangis.
---
## BAGIAN 2: KSAN
Aku berdiri di tengah ruangan yang sama. Tapi di depanku, bukan bayangan—melainkan diriku sendiri. Atau lebih tepatnya, versi diriku yang lebih tua, lebih lelah, dengan mata yang penuh penyesalan.
*"Kau tahu kenapa kau di sini?"* tanya versi diriku itu.
"Karena aku takut."
*"Takut apa?"*
"Takut bahwa aku tidak cukup kuat. Takut bahwa aku akan mengecewakan mereka."
Versi diriku itu tersenyum. *"Kau sudah melakukan lebih dari yang kau kira. Kau menemukan rahasia keluargamu. Kau bergabung dengan tim. Kau membantu mereka."*
"Tapi apakah itu cukup?"
*"Tidak ada yang namanya cukup. Yang ada hanyalah terus berusaha."*
Aku diam. Lalu aku bertanya, "Apa yang harus aku lakukan?"
*"Teruslah maju. Jangan berhenti. Dan jangan pernah menyerah pada mereka yang percaya padamu."*
Versi diriku itu menghilang. Aku berdiri sendirian di ruangan itu, tapi untuk pertama kalinya, aku merasa tidak sendirian.
---
## BAGIAN 3: DILA
Aku berdiri di tengah kegelapan. Di depanku, ada bayangan—bukan manusia, tapi pemandangan. Rumah besar yang terbakar. Mayat-mayat bergelimpangan. Dan di tengahnya, seorang gadis kecil bersembunyi di balik lemari.
Diriku. 36 tahun lalu.
*"Kau masih ingat?"* suara itu datang dari mana-mana.
"Setiap hari."
*"Kau masih takut?"*
"Ya."
*"Tapi kau di sini. Kau memilih untuk bertarung."*
Aku mengepalkan tanganku. "Aku lelah bersembunyi."
*"Maka jangan bersembunyi lagi."*
Bayangan itu menghilang. Aku berdiri di tengah ruangan, merasakan keberanian yang selama ini hilang.
Untuk pertama kalinya dalam 36 tahun, aku siap bertarung.
---
## BAGIAN 4: HIME
Aku berlari melalui lorong-lorong kristal, mencari Reiki. Aku bisa merasakan kehadirannya—tapi semakin jauh aku berlari, semakin jauh ia terasa.
Lalu aku sampai di sebuah ruangan. Di tengahnya, ada sebuah kursi. Dan di kursi itu, duduk seorang pria dengan mata ungu.
Dewa Psikis.
Bukan Reiki. Tapi Dewa yang dulu.
*"Hime."* Suaranya dalam\, tua\, penuh kebijaksanaan. *"Kau sudah mencariku lama."*
Aku berdiri di tempat, tidak bisa bergerak. "Kau... kau nyata?"
*"Aku adalah sisa dari dirinya. Ingatan yang tertinggal."*
Aku mendekat, perlahan. "Kenapa kau memanggilku ke sini?"
*"Karena kau perlu mendengar ini dariku langsung."* Ia berdiri dan berjalan mendekat. Wajahnya—wajah yang sama seperti 38 tahun lalu—menatapku dengan penuh kasih. *"Maafkan aku."*
"Maafkan? Untuk apa?"
*"Untuk meninggalkanmu. Untuk membuatmu menunggu selama ini. Untuk membuatmu menderita."*
Air mata mengalir di pipiku. "Aku tidak pernah menyalahkanmu."
*"Tapi aku menyalahkan diriku sendiri."* Ia meraih tanganku. Sentuhannya hangat—sama seperti dulu. *"Kau telah mencariku selama 38 tahun. Dan sekarang kau menemukanku—bukan dalam bentuk yang dulu\, tapi dalam bentuk yang baru."*
"Aku tahu."
*"Reiki bukanlah aku. Ia adalah dirinya sendiri. Tapi ia memiliki hatiku—hati yang mencintaimu."*
Aku tersenyum, meskipun air mata terus mengalir. "Aku tahu."
*"Jaga dia. Dan biarkan dia menjagamu."*
Ia melepaskan tanganku dan mulai memudar.
*"Selamat tinggal\, Hime. Terima kasih telah menungguku."*
Dan ia menghilang.
---
## BAGIAN 5: REIKI
Aku berdiri di depan mahkota itu. Hime ada di sampingku, memegang tanganku.
"Aku sudah membuat keputusan," kataku.
"Apa?"
Aku menatap mahkota itu. Lalu aku berkata, "Aku tidak akan mengambilnya."
Hime menatapku dengan mata terbelalak. "Kau yakin?"
"Ya. Karena jika aku mengambilnya, aku akan kehilangan diriku sendiri. Dan aku tidak ingin kehilangan apa yang membuatku manusiawi."
Mahkota itu mulai bergetar. Cahaya merahnya semakin terang.
*"Kau menolakku?"* Suara itu bergema di seluruh ruangan. *"Setelah semua yang kau lalui?"*
"Aku tidak butuh kekuatanmu. Aku punya sesuatu yang lebih berharga."
*"Apa?"*
Aku menatap Hime. "Aku punya dia."
Mahkota itu berteriak—bukan suara, tapi gelombang energi yang menghantamku. Tapi aku tidak jatuh. Aku berdiri tegak, memegang tangan Hime.
"Ini adalah pilihanku," kataku. "Aku memilih menjadi manusia."
Mahkota itu mulai retak. Cahaya merahnya meredup. Dan perlahan, ia hancur menjadi ribuan kepingan yang melayang di udara.
Gerbang di belakang kami mulai tertutup.
"Kau berhasil," bisik Hime.
Aku tersenyum. "Kita berhasil."
---
## BAGIAN 6: KEMBALI
Cahaya biru memudar. Aku membuka mata dan mendapati diriku berbaring di lantai batu, di bawah balai desa. Gerbang di depanku tertutup rapat—tidak ada celah, tidak ada cahaya. Hanya batu dingin yang diam.
"Reiki!" Hime berlutut di sampingku, wajahnya penuh kekhawatiran. "Kau sadar!"
Aku mencoba duduk, tapi tubuhku terasa sangat lemah. "Aku... aku baik-baik saja."
"Kau pucat sekali."
"Aku hanya lelah."
KSAN, Dila, dan Hubble mendekat. Wajah mereka lega.
"Kau berhasil menutupnya," kata Hubble. "Gerbangnya benar-benar tertutup."
Aku menatap gerbang itu. Diam. Mati. Tidak ada lagi denyut energi.
"Penjaga Gerbang sudah pergi," lanjut Hubble. "Mereka bilang kau melakukan hal yang benar."
Aku menghela napas lega. Tapi kemudian aku merasakan kehampaan di dadaku—kekuatan yang dulu mengalir kini hanya tinggal kenangan.
"Aku kehilangan kekuatanku," kataku.
Hubble menatapku. "Aku tahu. Tapi kau masih hidup. Itu yang penting."
Aku tersenyum lemah. "Ya. Aku masih hidup."
---
## BAGIAN 7: PESTA KECIL
Malam itu, meskipun keadaanku masih lemah, kami mengadakan pesta kecil di laboratorium. KSAN membawa makanan dari rumah. Dila membuat kue. Hubble—yang biasanya dingin—bahkan tersenyum beberapa kali.
"Untuk Reiki," kata KSAN, mengangkat gelasnya. "Anak SMA yang berhasil menutup gerbang antar-dimensi."
"Dan masih harus mengerjakan PR," tambahku, membuat semua orang tertawa.
Hime duduk di sampingku, tangannya selalu menggenggam tanganku. Aku bisa merasakan kebahagiaan di sekelilingku—sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
"Selamat," bisik Hime di telingaku.
Aku menatapnya. "Terima kasih. Karena tidak pernah menyerah padaku."
Ia tersenyum. "Aku tidak akan pernah menyerah padamu."
Kami berpelukan di tengah pesta kecil itu, dikelilingi oleh teman-teman yang telah menjadi keluarga.
---
## BAGIAN 8: PERPISAHAN
Keesokan paginya, Hubble dan timnya bersiap untuk pergi. Markas memanggil mereka kembali untuk laporan.
Aku berdiri di depan pesawat, bersama Reiki, KSAN, dan Dila. Hubble berdiri di tangga pesawat, menatap kami.
"Kalian akan baik-baik saja? " tanyanya.
"Kami akan baik-baik saja, " jawabku.
Hubble mengangguk. Lalu ia menatap Reiki.
"Kau anak yang kuat, Reiki. Jangan pernah lupa itu. "
"Terima kasih, Hubble. "
"Dan kau, Hime. " Ia menatapku. "Jaga dia. "
"Aku akan menjaganya. "
Hubble tersenyum—untuk pertama kalinya, senyum yang tulus. Lalu ia naik ke pesawat. Pintu tertutup. Mesin menyala.
Kami melambaikan tangan saat pesawat itu melesat ke langit, meninggalkan desa kecil kami.
"Ia berubah, " kata KSAN.
"Ya. Kita semua berubah. "
---
## BAGIAN 9: HIDUP BARU
Seminggu setelah kepergian Hubble, aku mulai merasakan ritme kehidupan baru. Bangun pagi. Sarapan. Berjalan ke laboratorium. Bekerja dengan data. Bertemu Reiki sepulang sekolah. Makan malam bersama. Tidur.
Sederhana. Tapi indah.
Suatu sore, saat aku dan Reiki duduk di beranda laboratorium, ia bertanya, "Kau tidak bosan? " "
"Bosankah? "
"Hidup di desa kecil ini. Setelah semua petualangan yang kau lalui. "
Aku menatapnya. "Aku sudah cukup dengan petualangan. Yang aku butuhkan sekarang adalah ketenangan. "
"Dan kau mendapatkannya? "
Aku tersenyum. "Ya. Aku mendapatkannya. "
Ia meraih tanganku. "Bagus. "
Kami duduk di beranda, menatap matahari terbenam, tanpa perlu bicara. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa aku tidak perlu mencari lagi.
Karena yang kucari sudah ada di sampingku.
---
## BAGIAN 10: KEPUTUSAN HIME
Malam itu, setelah semua orang tidur, aku duduk sendirian di laboratorium. Di depanku, ada mesin waktuku—perangkat perak yang telah menemaniku selama 38 tahun perjalanan.
Aku menatapnya lama. Mesin ini adalah satu-satunya jembatanku ke masa lalu. Tapi juga belenggu yang mencegahku untuk maju.
Aku mengambil alat dan mulai membongkarnya. Satu per satu, komponennya kulepaskan. Kabel-kabel kupotong. Sirkuit-sirkuit kucabut.
Ketika Reiki bangun keesokan paginya dan melihat mesin itu hancur, ia bertanya, "Kenapa kau lakukan itu? "
"Karena aku tidak membutuhkannya lagi. "
"Tapi mesin itu adalah satu-satunya cara kau untuk— "
"Untuk melompat ke masa depan? Mencari sesuatu? " Aku tersenyum. "Aku sudah menemukan apa yang kucari. Aku tidak perlu melompat lagi. "
Ia menatapku lama. Lalu ia tersenyum. "Aku senang. "
"Aku juga. "
Dan untuk pertama kalinya dalam 38 tahun, aku merasa bebas.
---
## BAGIAN 11: HIDUP BARU
Seminggu setelah kepergian Hubble, aku mulai merasakan ritme kehidupan baru. Bangun pagi. Sarapan. Berjalan ke laboratorium. Bekerja dengan data. Bertemu Reiki sepulang sekolah. Makan malam bersama. Tidur.
Sederhana. Tapi indah.
Suatu sore, saat aku dan Reiki duduk di beranda laboratorium, ia bertanya, "Kau tidak bosan? "
"Bosankah? "
"Hidup di desa kecil ini. Setelah semua petualangan yang kau lalui. "
Aku menatapnya. "Aku sudah cukup dengan petualangan. Yang aku butuhkan sekarang adalah ketenangan. "
"Dan kau mendapatkannya? "
Aku tersenyum. "Ya. Aku mendapatkannya. "
Ia meraih tanganku. "Bagus. "
Kami duduk di beranda, menatap matahari terbenam, tanpa perlu bicara. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa aku tidak perlu mencari lagi.
Karena yang kucari sudah ada di sampingku.
Malam itu, setelah semua orang tidur, aku duduk sendirian di laboratorium. Di depanku, ada mesin waktuku—perangkat perak yang telah menemaniku selama 38 tahun perjalanan.
Aku menatapnya lama. Mesin ini adalah satu-satunya jembatanku ke masa lalu. Tapi juga belenggu yang mencegahku untuk maju.
Aku mengambil alat dan mulai membongkarnya. Satu per satu, komponennya kulepaskan. Kabel-kabel kupotong. Sirkuit-sirkuit kucabut.
Ketika Reiki bangun keesokan paginya dan melihat mesin itu hancur, ia bertanya, "Kenapa kau lakukan itu? "
"Karena aku tidak membutuhkannya lagi. "
"Tapi mesin itu adalah satu-satunya cara kau untuk— "
"Untuk melompat ke masa depan? Mencari sesuatu? " Aku tersenyum. "Aku sudah menemukan apa yang kucari. Aku tidak perlu melompat lagi. "
Ia menatapku lama. Lalu ia tersenyum. "Aku senang. "
"Aku juga. "
Dan untuk pertama kalinya dalam 38 tahun, aku merasa bebas.
---
## BAGIAN 13: KUNJUNGAN HUBBLE
Dua bulan setelah kepergiannya, Hubble kembali mengunjungi desa. Ia datang sendirian, tanpa Karmas atau Tigap 1. Wajahnya lebih santai—beban yang dulu ia pikul kini tampak berkurang.
"Markas puas dengan laporanku, " katanya. "Mereka memutuskan untuk tidak ikut campur dengan desa ini. "
"Itu kabar baik, " kataku.
"Ya. Tapi ada satu hal lagi. "
"Apa? "
Hubble menatapku. "Mereka ingin menawari mu posisi di Markas. Sebagai penasihat. "
Aku terkejut. "Aku? Tapi aku sudah tidak punya kekuatan. "
"Bukan karena kekuatanmu. Tapi karena pengalamanmu. Kau tahu lebih banyak tentang psikis daripada kebanyakan orang. "
Aku diam, mempertimbangkan tawaran itu. Tapi kemudian aku menatap Reiki, yang berdiri di sampingku.
"Maaf, Hubble. Aku menolak. "
Hubble tersenyum, seperti ia sudah menduga jawabanku. "Aku pikir kau akan berkata begitu. "
"Aku punya kehidupan di sini. Aku tidak ingin meninggalkannya. "
"Aku mengerti. " Ia menepuk pundakku. "Kau membuat pilihan yang tepat, Hime. "
Setelah Hubble pergi, Reiki bertanya, "Kenapa kau menolak? "
Aku menatapnya. "Karena aku sudah menemukan apa yang aku cari. Dan itu ada di sini, bersamamu. "
Ia tersenyum. "Aku juga. "
---
## BAGIAN 14: HIDUP BARU HIME
Seminggu setelah kunjungan Hubble, aku mulai merasakan ritme kehidupan baru. Bangun pagi. Sarapan. Berjalan ke laboratorium. Bekerja dengan data. Bertemu Reiki sepulang sekolah. Makan malam bersama. Tidur.
Sederhana. Tapi indah.
Suatu sore, saat aku dan Reiki duduk di beranda laboratorium, ia bertanya, "Kau tidak bosan? "
"Bosankah? "
"Hidup di desa kecil ini. Setelah semua petualangan yang kau lalui. "
Aku menatapnya. "Aku sudah cukup dengan petualangan. Yang aku butuhkan sekarang adalah ketenangan. "
"Dan kau mendapatkannya? "
Aku tersenyum. "Ya. Aku mendapatkannya. "
Ia meraih tanganku. "Bagus. "
Kami duduk di beranda, menatap matahari terbenam, tanpa perlu bicara. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa aku tidak perlu mencari lagi.
Karena yang kucari sudah ada di sampingku.
---
## BAGIAN 16: AWAL YANG BARU
Keesokan paginya, aku bangun dengan perasaan damai. Matahari bersinar cerah di luar jendela. Burung-burung berkicau. Angin pagi membawa bau embun dan tanah.
Aku berjalan ke laboratorium. Reiki sudah ada di sana, duduk di beranda dengan secangkir kopi.
"Selamat pagi," sapanya.
"Selamat pagi."
Aku duduk di sampingnya. Kami diam, menikmati pagi yang tenang.
"Hime."
"Ya?"
"Terima kasih. Untuk semuanya."
Aku menatapnya. "Kau sudah mengucapkan itu berkali-kali."
"Aku tahu. Tapi aku tidak akan pernah bosan mengucapkannya."
Aku tersenyum. "Aku juga tidak akan pernah bosan mendengarnya."
Kami berpelukan di beranda, di bawah sinar matahari pagi. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa masa depan yang menanti adalah masa depan yang cerah.
---
**Bersambung **