BAB 1 (Opening kuat & emosional)
Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah
Bab 1: Titik Terendah
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Arga duduk sendirian di pinggir trotoar, tepat di bawah lampu jalan yang cahayanya redup. Tangannya menggenggam ponsel yang sejak tadi tak berdering. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Seolah dunia benar-benar lupa bahwa dia masih ada.
Hujan baru saja reda. Bau tanah basah bercampur dinginnya angin malam menusuk sampai ke tulang.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
“Gini ya rasanya… jadi gagal,” gumamnya pelan.
Beberapa bulan terakhir hidup Arga seperti runtuh satu per satu. Pekerjaan yang ia banggakan hilang begitu saja karena pengurangan karyawan. Tabungan yang ia kumpulkan habis untuk bertahan hidup. Dan yang paling menyakitkan… perempuan yang ia cintai memilih pergi.
Bukan karena tidak cinta.
Tapi karena keadaan.
“Maaf ya, Ga… aku capek nunggu kamu sukses,” kalimat itu masih terngiang jelas di kepalanya.
Arga tertawa kecil,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Jf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode ke 4 luka yang mulai terbuka
Langit sore itu berwarna jingga pucat, seolah ikut merasakan lelah yang sama seperti Arga. Ia duduk di bangku taman yang mulai usang, menatap kosong ke arah jalanan yang ramai. Orang-orang berlalu lalang dengan tujuan masing-masing, sementara ia masih terjebak dalam kebingungan yang tak kunjung usai.
Sudah beberapa hari sejak pertemuannya dengan Nara. Sosok perempuan itu entah kenapa terus muncul di pikirannya. Bukan hanya karena kebaikannya, tapi juga karena cara Nara memandangnya—seperti melihat sesuatu yang masih berharga dalam diri Arga, sesuatu yang bahkan sudah lama ia lupakan.
Arga menghela napas panjang. Tangannya menggenggam ponsel, membuka pesan terakhir dari Nara.
“Kalau kamu butuh teman cerita, aku ada.”
Pesan sederhana itu terasa berat. Bukan karena kata-katanya, tapi karena Arga tidak tahu harus mulai dari mana. Hidupnya terlalu berantakan untuk diceritakan. Terlalu banyak luka yang ia simpan sendiri.
“Ngapain sendirian di sini?”
Suara itu membuat Arga tersentak. Ia menoleh dan melihat Nara berdiri di sampingnya, mengenakan hoodie abu-abu dengan rambut yang diikat seadanya. Wajahnya terlihat lelah, tapi senyumnya tetap hangat.
“Kamu?” Arga sedikit terkejut. “Kok bisa di sini?”
Nara duduk di sampingnya tanpa izin, seperti sudah terbiasa. “Aku sering ke sini kalau lagi pengen tenang. Nggak nyangka ketemu kamu.”
Arga tersenyum tipis. “Dunia sempit ya.”
Beberapa detik berlalu dalam diam. Namun kali ini, diamnya tidak terasa canggung. Justru ada ketenangan yang perlahan merayap di antara mereka.
“Kamu kelihatan capek,” kata Nara pelan.
Arga menunduk. “Capek itu udah jadi hal biasa.”
Nara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Arga, menunggu, memberi ruang. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, Arga merasa ingin bicara.
“Aku gagal lagi,” ucapnya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. “Kerja, hidup, semuanya… kayak nggak ada yang berjalan sesuai rencana.”
Nara masih diam, tapi matanya menunjukkan bahwa ia mendengarkan.
“Aku udah coba bertahan,” lanjut Arga. “Tapi makin ke sini, rasanya makin kosong. Kayak… semua yang aku lakukan sia-sia.”
Kata-kata itu keluar begitu saja, seperti bendungan yang akhirnya jebol. Arga tidak menyangka dirinya bisa sejujur ini, apalagi pada seseorang yang belum lama ia kenal.
Nara menarik napas pelan. “Kamu tahu nggak?” katanya lembut. “Kadang kita ngerasa gagal bukan karena kita benar-benar gagal… tapi karena kita terlalu keras sama diri sendiri.”
Arga mengerutkan kening. “Maksudnya?”
“Kamu masih di sini. Masih berusaha, masih bangun tiap hari. Itu bukan gagal, Arga. Itu bukti kalau kamu belum nyerah.”
Arga terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi menghantam tepat di hatinya.
“Tapi aku capek…” bisiknya.
“Capek itu wajar,” jawab Nara. “Yang penting, kamu jangan berhenti. Istirahat boleh, tapi jangan menyerah.”
Angin sore berhembus pelan, membawa ketenangan yang sulit dijelaskan. Arga menatap ke depan, matanya sedikit berkaca-kaca.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa ada seseorang yang benar-benar mengerti.
“Nara…” panggilnya pelan.
“Iya?”
“Kenapa kamu baik banget sama aku?”
Nara tersenyum kecil. “Karena aku tahu rasanya sendirian di titik terendah.”
Jawaban itu membuat Arga menoleh. Ada sesuatu dalam suara Nara—sebuah luka yang tersembunyi, yang mungkin tidak jauh berbeda darinya.
Mereka kembali terdiam, tapi kali ini terasa berbeda. Bukan lagi tentang kesepian, melainkan tentang dua orang yang perlahan saling memahami. Di tengah hiruk pikuk dunia yang tidak pernah berhenti, Arga akhirnya menemukan satu hal yang sudah lama hilang: harapan. Dan mungkin… Nara adalah awal dari semua itu.
Langit mulai berubah gelap perlahan. Lampu-lampu taman menyala satu per satu, menciptakan suasana hangat di tengah dinginnya sore yang hampir malam. Beberapa anak kecil masih bermain di sudut taman, tertawa tanpa beban. Arga memperhatikan mereka cukup lama.
“Aku kangen bisa ketawa kayak mereka,” ucapnya tiba-tiba.
Nara ikut melihat ke arah anak-anak itu. “Semua orang juga pernah kehilangan caranya buat bahagia.”
“Kalau kamu?” tanya Arga. “Kamu pernah ada di titik paling capek?”
Nara tersenyum tipis, tapi kali ini senyumnya terlihat berbeda. Ada kesedihan kecil yang terselip di sana.
“Pernah,” jawabnya pelan. “Bahkan mungkin lebih parah dari yang kamu bayangin.”
Arga menatapnya penasaran, tapi memilih diam. Ia tidak ingin memaksa.
“Aku pernah ngerasa hidupku berhenti,” lanjut Nara. “Aku kehilangan seseorang yang paling aku percaya. Setelah itu semuanya berubah.”
Arga mendengarkan dengan tenang.
“Aku jadi orang yang gampang takut. Takut berharap, takut kecewa lagi. Sampai akhirnya aku sadar… kalau hidup nggak akan nunggu kita sembuh.”
“Kamu hebat,” kata Arga lirih.
Nara menggeleng kecil. “Nggak. Aku cuma belajar berdamai.”
Kata-kata itu membuat Arga berpikir lama. Selama ini ia selalu sibuk melawan keadaan, menyalahkan dirinya sendiri, memaksa semuanya berjalan sempurna. Tapi mungkin benar, ada saat di mana seseorang hanya perlu berdamai dengan luka yang tidak bisa diubah.
Hening kembali hadir, namun tidak terasa berat.
“Arga,” panggil Nara pelan.
“Hm?”
“Jangan pendam semuanya sendiri.”
Arga tersenyum pahit. “Aku nggak biasa cerita.”
“Kamu bisa mulai pelan-pelan.”
“Kalau nanti orang bosan dengar ceritaku?”
Nara menatapnya serius. “Kalau seseorang benar-benar peduli, mereka nggak akan bosan.”
Kalimat itu membuat dada Arga terasa hangat. Sudah lama sekali ia tidak mendengar sesuatu yang menenangkan seperti itu.
Ponsel Nara tiba-tiba berbunyi. Ia melihat layarnya sekilas lalu mematikannya kembali.
“Nggak diangkat?” tanya Arga.
“Nanti aja.”
“Pacar?”
Nara tertawa kecil. “Bukan.”
“Tapi ada yang nunggu?”
“Ada beberapa hal yang lebih penting buat aku malam ini.”
Arga tidak tahu kenapa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat mendengar jawaban itu. Ia langsung membuang pandangan ke arah jalan, mencoba menyembunyikan perasaannya sendiri.
Malam semakin larut. Udara terasa lebih dingin dari sebelumnya.
“Kamu udah makan?” tanya Nara tiba-tiba.
Arga menggeleng. “Belum lapar.”
“Itu jawaban orang capek.”
Arga terkekeh pelan. “Kok tahu?”
“Karena aku juga sering gitu.”
Nara berdiri dari duduknya lalu menatap Arga. “Ayo.”
“Mau ke mana?”
“Makan.”
“Aku nggak punya mood.”
“Makanya ditemenin.”
Arga menatap Nara beberapa detik sebelum akhirnya berdiri. Entah kenapa, ia sulit menolak perempuan itu.
Mereka berjalan keluar taman berdampingan. Langkah mereka pelan, seolah sama-sama menikmati suasana malam yang tenang. Di pinggir jalan, banyak penjual makanan mulai ramai didatangi pembeli.
Nara berhenti di sebuah warung sederhana.
“Di sini aja,” katanya.
Arga melihat sekeliling. Tempat itu kecil dan sederhana, hanya ada beberapa meja plastik dan lampu kuning redup di atasnya.
“Kamu sering makan di sini?” tanyanya.
“Iya. Murah dan enak.”
Mereka duduk berhadapan. Untuk pertama kalinya malam itu, Arga merasa pikirannya sedikit ringan. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat dadanya tidak sesesak biasanya.
Saat pesanan datang, Nara memperhatikan Arga yang hanya diam menatap makanannya.
“Kamu harus janji sesuatu.”
“Janji apa?”
“Besok kamu bangun dan coba lagi.”
Arga tersenyum kecil. “Sesimpel itu?”
“Iya. Kadang hidup cuma soal bertahan satu hari lagi.”
Arga menunduk pelan. Hatinya terasa hangat mendengar kata-kata itu.
Mungkin masalahnya memang belum selesai. Luka-luka dalam dirinya juga belum benar-benar sembuh. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Arga tidak merasa sendirian lagi.
Dan di tengah dunia yang terus berjalan tanpa peduli siapa yang terluka, kehadiran Nara perlahan menjadi alasan kecil untuk tetap bertahan.