Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan panas
Arsati menatap sedih foto putrinya. Dia terpaksa berjauhan dan tidak berkomunikasi dengannya, agar suaminya tidak bisa mendeteksi keberadaan putri mereka.
"Nanti aja, ma, kita tanyakan pada tante Puspa. Setelah satu minggu." Begitu yang diucapkan Vidya, kakak Arsati padanya. setelah membiarkan Rhea pergi.
Arsati tau, suaminya sedang mengawasinya dan putrinya. Komunikasi mereka pasti disadap.
Kalo suaminya tau di mana keberadaan Rhea, suaminya pasti akan langsung menciduknya.
Sekarang saja adiknya Nazar sudah datang untuk menanyakan keberadaan Rhea.
"Kamu kangen sama Rhea?"
Arsati hanya.menghela nafas ketika mendengar suara suaminya yang menyapa.
"Halo, mbak."
Arsati hanya membalas sapaan adik iparnya dengan senyum tipis.
Baru aja dipikirin sudah datang, batinnya.
Sejak menghilangnya Rhea, suaminya jadi rajin pulang untuk makan siang. Biasanya sangat jarang. Ditambah sekarang ada Nara bersamanya.
Suaminya duduk di dekatnya, begitu juga Nara.
Nara mengulurkan ponselnya yang menunjukkan foto seseorang yang membuat alis matanya bertaut. Foto seorang laki laki muda yang mungkin jarak usianya lebih tua beberapa tahun saja dari putri bungsunya. Mungkin sebaya dengan Vidya.
"Ini foto siapa?" tanya Arsati sambil menatap Nara. Dia tidak pernah melihat
"Baskara, mba, yang mau aku dikenalkan dengan Rhea"," jelas Nara.
"Oooh...." Arsati merespon datar saja. Sebenarnya wajahnya tidak malu maluin juga. Tampan dan terlihat sukses, analisa Arsati dalam hati.
"Rhea dan Baskara sudah saling kenal, sayang."
Arsati agak terkejut.
"Rhea kenal?"Dirinya sulit untuk percaya.
Tapi kemudian Arsati sadar, wajar kalo Rhea kenal, bisa aja laki laki itu pernah jadi rekan bisnis.
Suaminya Nazar dan Nara adiknya menganggukkan kepalanya.
"Mereka.ngga tau kalo mau dijodohkan. Baru baru ini aja Baskara tau," jelas Nazar lembut.
"Oooh...." Arsati ngga minat mendengarnya, karena muaranya sudah jelas. Perjodohan yang pasti untuknya.
"Dulu Baskara pernah jadi kakak kelas Rhea. Sekarang Baskara jadi rekan bisnisnya," jelas Nara dengan mata penuh binar.
Arsati menghembuskan nafas panjang
Masalahnya bukan itu, protesnya dalam hati.
"Baskara pasti belum tau tentang foto itu, kan?" tuding Arsati tegas.
Nazar menggelengkan kepalanya. Pelan dan wajah antusiasnya memudar.
"Kalo foto itu tersebar bagaimana? Sampai sekarang kamu saja belum berhasil menemukan siapa orangnya yang sudah ngirim foto foto ini ke kamu, kan," semprot Arsati lagi. Sengaja dirinya mengatakannya di depan Nara, agar adik suaminya itu pokok masalah yang membuat Rhea harus dijauhkan darinya.
"Aku rasa, ngga akan ada masalah, mba," sela Nara mencoba meredam perdebatan yang mulai panas itu.
Arsati memalingkan tatapannya pada Nara, tajam.
"Sebaiknya kamu tunjukkan foto itu pada Baskara sebelum semuanya melangkah lebih jauh," tantang Arsati membuat Nara terdiam.
"Apalagi kalo keluarga Baskara tau tentang foto skandal itu. Ngga mungkin perjodohan ini bisa berlanjut," pungkas Arsati geram, karema kedua kakak beradik yang sudah berumur ini tidak pernah berpikir kemungkinan buruk yang mungkin terjadi pada Rhea.
Nazar dan Nara terdiam. Kata kata Arsati cukup telak mengena di hati mereka.
Nazar mengepalkan tangannya dengan menahan marah. Siapa di antara ketiga teman Rhea yang melakukanya? Pertanyaan itu selalu mengganggunya.
Nazar yakin kalo salah satu teman Rhea yang mengirim foto foto itu padanya. Sayangnya nomor itu tidak bukan milik mereka.
"Masalah ini harus diclearkan dahulu," tukas Arsati lagi.
"Masa kamu belum bisa tau siapa pengirim foto ini, pa?" sambungnya lagi ketika melihat suaminya tampak tepekur. Nadanya mengandung kekesalan bercampur rasa kecewa yang mendalam.
Nazar ngga menjawab. Dadanya bergejolak karena menahan marah yang amat sangat.
*
*
*
"Kemarin Baskara ke.perusahaan menemui aku," ucap Jani ketika siang hari ini mereka makan siang bersama.
"Ngapain Baskara ke tempat kamu?" respon Moli cepat.
Talisha yang masih kaget, belum bisa berkata apa apa. Hanya saja hatinya mulai terbakar.
"Baskara nanya di mana Rhea berada," jelas Jani tenang di bawah tatapan penuh intimidasi dari Talisha.
Talisha tersenyum sinis.
"Kamu jawab apa? Memangnya kamu tau?" sinisnya.
Jani menggeleng.
"Aku bilang ngga tau."
Talisha mendengus. Wajahnya masih menegang karena emosi yang tertahan.
"Baskara ngga nanya ke kamu soal Rhea?" pancing Janj sambil menatap Talisha tajam.
"Udah aku jawab ngga tau," ketus Talisha.
"Ngga tau?" cibir Jani pelan membuat tatapan Takisha makin mendelik padanya.
"Lis, Jadi kamu?" Moli sempat berpikir kalo pelakunya orang lain.
"Kamu tega banget ngirim foto foto itu pada Papa Rhea," tuduh Jani yakin, sebelum Talisha sempat bicara.
Kambali Talisha mendelik.
"Ada bukti?" ejeknya.
"Kalo ngga ada, jangan sembarang nyolot!" tambahnya lagi.
"Ngga lama lagi pasti ketahuan kalo kamu yang jepret Rhea dan sudah mengirimkan foto foto itu pada Papa Rhea." Jani ngga pedui, terus saja melayangkan tuduhannya pada Talisha.
"Kenap harus aku? Moli juga bisa, kan, yang melakukannya," kilah Jani ceoat.
Moli mendengus ketika namanya disebut Talisha
"Kamu jangan ngomong sembarangan, Lis," sergah Moli agak meradang.
"Aku lihat kamu yang jepret Rhea malam itu," ucap Jani membela Moli.
"Tuh, kalo udah salah, ngaku aja," cibir Moli mulai muak melihat penyangkalan Talisha.
"Aku foto-in Rhea hanya untuk senang senang aja. Fotonya sudah aku hapus," kilah Talisha yang ngga mau dianggap.bersalah.
"Yaa ampuun... Kenapa kamu bsia setega ini." Moli tampak stres. Ngga bisa dia bayangkan kalo itu terjadi padanya.
"Bukan aku yang kirim ke papanya Rhea!" Talisha masih tetap ngeyel.
Jani beedecak pelan.
"Syukurlah kalo udah begitu. Jadi kamu ngga akan menggunakannya untuk kesempatan lain."
Talisha mendelik marah. Dia balas menatap Jani dengan tajam.
"Kesempatan lain apa?" Ketus Talisha lagi.
"Kamu tau sendirilah." Jani menyahut sinis.
gimana yah.. rasanya tuh kaya digerogoti rayap hari ke hari yg hidupnya berkoloni utk menumbangkan kayu yg kokoh menunggu kayu itu keropos sampai tumbang..
kalau rayapnya sendirian mah gak ngeri. Yg ngeri itu kalau udah 1 koloni.
sama kayak orang toxic yg ngegennk..
Mereka tuh kuat karena rame.
Satu jd kompor, yg lain kipas-kipas. Targetnya ya "kayu kokoh" = orang yg kerja bener/jujur/gak ikut arus mereka...
Abaikan aja Rhe, anggep aja angin lalu, dia belum tau aja siapa kamu sebenernya..
faktanya kalau mereka tau kamu dr keluarga mana, mungkin mereka seperti kucing basah kena air hujan "Menggigil"
😂🤣
belum tau aja di jidat Rhea itu sudah ada marker nya "Belong to Dave" dan hanya org beriman aja yg bs liat mark itu wkwkkk