NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author:

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Bab 4 Malam Ini Milik Suamiku

Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang tajam, mengunci kebisingan rumah mewah itu di luar. Di dalam ruangan luas yang remang-remang tersebut, Bara sudah berdiri di dekat jendela besar, jasnya sudah tersampir sembarang di atas sofa. Dia berbalik, matanya menyipit tidak suka saat melihat Renata melangkah masuk.

"Mau ngapain lo ke sini?" tanya Bara, suaranya dingin dan ketus. "Siapa yang kasih izin lo masuk ke kamar gue?"

Renata menghentikan langkahnya sejenak. Dia menatap Bara dengan tatapan lelah namun tetap tegak. "Ini bukan cuma kamar lo, Bara. Kamar ini kamar kita berdua. Gue punya hak buat ada di sini."

Bara mendengus sinis, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Aroma parfum maskulinnya yang tajam menyeruak, bercampur dengan aura intimidasi yang pekat. "Oh, jadi lo sekarang mulai berani? Jangan mimpi lo bisa tidur nyenyak di sini setelah drama lo di meja makan tadi."

Renata tidak menjawab. Dia tidak punya energi lagi untuk meladeni amarah Bara yang tidak ada habisnya. Dengan gerakan tenang, dia mengambil handuk dan baju ganti dari dalam koper yang masih tergeletak di pojok ruangan.

"Gue lagi bicara sama lo, Renata!" bentak Bara, merasa diabaikan.

Tanpa menoleh, Renata melangkah mantap menuju kamar mandi. "Gue capek, Bara. Gue mau mandi. Kalau lo mau marah-marah, simpan aja buat besok."

Blam!

Renata menutup pintu kamar mandi tepat di depan wajah Bara, menguncinya dari dalam. Dia menyalakan shower, membiarkan suara gemericik air meredam segala umpatan yang mungkin dilontarkan suaminya di luar sana.

Di bawah kucuran air hangat, Renata memejamkan mata. Bahunya yang tegang perlahan mereda. Dia tahu, keluar dari kamar mandi nanti, "perang" yang sesungguhnya baru akan dimulai. Bara tidak akan membiarkannya lolos begitu saja setelah insiden dengan Reno dan pujian dari Pak Baskoro tadi.

Sepuluh menit kemudian, Renata keluar dengan uap air yang masih menyelimuti tubuhnya. Dia hanya mengenakan piyama satin tipis—satu-satunya pakaian tidur layak yang dia punya. Rambutnya yang basah dibiarkan tergerai.

Begitu pintu terbuka, dia mendapati Bara masih di sana, duduk di pinggir kasur, pandangan mereka saling bertemu yang sulit diartikan. Matanya menelusuri lekuk tubuh Renata yang tercetak di balik kain tipis itu, membuat suasana kamar yang dingin mendadak terasa menyesakkan.

Bara berdiri perlahan, mendekati Renata yang terpaku di dekat meja rias. "Lo pikir dengan akting jadi menantu teladan dan pake baju kayak gini, gue bakal luluh?" bisiknya tepat di telinga Renata, suaranya kini serak dan berat.

Tangan Bara perlahan naik, mencengkeram bahu Renata dan memutarnya paksa agar menghadap ke arahnya. "Inget, Renata... di rumah ini, lo cuma milik gue. Dan gue bebas ngelakuin apa pun, asalkan milik gue sendiri."

"Bara, lepas!" Renata mencoba menyentak bahunya, tapi cengkeraman Bara justru semakin mengerat, kuku-kukunya seolah ingin menembus piyama satin tipis yang dikenakannya.

"Gue nggak suka diabaikan, Renata!" desis Bara, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Renata. Napasnya memburu, hangat dan beraroma maskulin yang memabukkan sekaligus mengancam. "Lo pikir lo siapa, bisa main masuk kamar dan kunci pintu di depan muka gue?"

Renata menatap mata Bara yang berkilat gelap, campuran antara amarah yang tertahan dan... sesuatu yang membuat jantungnya berpacu tak keruan. Dia bisa merasakan dadanya naik turun dengan cepat, bersentuhan tipis dengan dada Bara yang mengeras di balik kemejanya yang sudah berantakan.

"Gue cuma mau mandi, Bara! Salah kalau gue mau bersih-bersih?" tantang Renata, suaranya bergetar namun matanya tetap menatap tajam.

"Di depan Papa lo akting jadi istri saleha yang perhatian, tapi begitu berdua sama gue, lo berubah jadi kucing liar?" Bara tertawa sinis, suaranya rendah dan serak, membuat bulu kuduk Renata merinding. Tangannya perlahan turun dari bahu, menelusuri lengan atas Renata yang dingin, lalu beralih ke pinggangnya, menarik tubuh Renata semakin rapat ke tubuhnya.

Renata tersentak. Sentuhan Bara terasa seperti aliran listrik yang menyengat, membuat tubuhnya mendadak kaku namun sekaligus... menginginkan lebih. Dia membenci dirinya sendiri karena reaksi ini.

"Bara, apa-apaan sih! Lepasin gue!" Renata mendorong dada Bara dengan kedua tangannya, tapi itu sia-sia. Tubuh Bara begitu kuat.

"Lo tanya apa-apaan?" Bara menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di leher Renata. Bibirnya yang dingin menyentuh kulit leher Renata yang sensitif, mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh tubuh gadis itu. "Gue cuma mau nuntut hak gue sebagai suami, Renata. Inget, lo itu istri gue. Milik gue."

Renata memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menahan isak tangis yang mulai mendesak di tenggorokannya. Dia merasa sangat terhina, diperlakukan seperti barang dagangan yang bisa digunakan kapan saja oleh pemiliknya. Tapi di sisi lain, sentuhan Bara di lehernya, hembusan napasnya yang hangat, dan aroma tubuhnya yang maskulin... semua itu perlahan melumpuhkan logikanya.

"Bara... jangan..." bisik Renata lemah, suaranya nyaris tak terdengar.

Bara tidak mendengarkan. Dia mengangkat kepalanya, menatap mata Renata yang basah dengan pandangan yang gelap dan penuh nafsu. Tanpa peringatan, bibirnya mendarat di bibir Renata dengan kasar, melumatnya dengan rakus, seolah ingin meluapkan semua amarah dan cemburu yang terpendam di dadanya.

Renata tertegun. Ciuman Bara tidak seperti ciuman penuh kasih sayang di film-film romantis. Ciuman ini penuh dengan dominasi, kepemilikan, dan... kemarahan. Dia mencoba melawan, menggigit bibir Bara hingga berdarah, tapi itu justru membuat Bara semakin beringas. Bara mencengkeram rahang Renata dengan kuat, memaksanya untuk membuka mulut, lalu memperdalam ciumannya.

Di tengah pergulatan panas itu, air mata Renata akhirnya tumpah, membasahi pipinya. Dia pasrah, tubuhnya perlahan melemas dalam dekapan Bara. Dia membenci Bara, membenci pernikahan ini, dan membenci dirinya sendiri karena tidak berdaya melawan keinginan laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya.

Tangan Bara menyelinap ke tengkuk Renata, menariknya paksa agar tidak ada celah di antara mereka. Ciuman yang tadinya kasar berubah menjadi tuntutan yang lebih dalam, seolah Bara sedang berusaha menghapus jejak Reno atau siapa pun dari pikiran istrinya.

"Bara... lep-pas..." Renata berbisik di sela pagutan mereka, suaranya parau dan nyaris hilang.

Kedua tangan Renata yang tadinya mendorong dada Bara, perlahan kehilangan tenaga. Jemarinya justru meremas kemeja pria itu, mencari pegangan saat lututnya mulai terasa lemas. Tubuhnya berkhianat. Rasa hangat yang menjalar dari sentuhan Bara mulai melumpuhkan akal sehatnya, membuatnya terbuai dalam sensasi asing yang menyesakkan dada.

Bara melepaskan tautan bibir mereka sejenak, napasnya memburu panas di ceruk leher Renata. "Lo bilang lepas, tapi tangan lo malah meluk gue seerat ini, Renata. Bibir lo bohong, tapi tubuh lo nggak bisa," desis Bara dengan suara serak yang berbahaya.

"Nggak... gue benci lo..." racun itu tetap keluar dari mulut Renata, meski matanya terpejam erat menikmati embusan napas Bara di kulitnya.

"Benci gue sesuka lo, tapi malem ini lo harus tahu siapa pemilik lo yang sebenarnya," sahut Bara dingin.

Bara mengangkat tubuh Renata dengan satu sentakan, membuat gadis itu memekik kecil dan refleks mengalungkan lengannya ke leher Bara. Dia menghempaskan tubuh Renata ke atas kasur yang empuk. Sebelum Renata sempat bangkit, Bara sudah mengurungnya, menindih dengan bobot tubuhnya.

"Gue mau lihat... seberapa jauh 'istri' gue ini bisa bertahan," bisik Bara. Jemarinya mulai menelusuri garis piyama satin Renata, merasakan kulit halus yang terbakar oleh sentuhannya.

Renata menggeleng, mencoba memalingkan wajah saat jemari Bara mulai membuka kancing piyamanya satu per satu. "Jangan, Bara... jangan begini..."

Namun, setiap penolakan Renata justru dibalas dengan kecupan menuntut di bahunya, membuat pertahanan Renata runtuh perlahan. Bara ingin tahu segalanya, setiap inci dari tubuh wanita yang selama ini hanya dianggapnya sebagai barang pajangan. Dia ingin memastikan bahwa tidak ada satu sudut pun dari diri Renata yang tidak dia kuasai.

Bara mencengkeram pergelangan tangan Renata, menguncinya di atas kepala hingga istrinya itu benar-benar tak berkutik di bawah kuasanya. Tatapan Bara yang tadinya penuh amarah perlahan berubah menjadi kekaguman yang gelap saat melihat betapa rapuh dan polosnya wanita di bawahnya ini.

Renata hanya bisa memejamkan mata erat-erat, air matanya mengalir membasahi bantal. Tubuhnya gemetar hebat saat jemari Bara mulai menjelajahi bagian-bagian sensitif yang belum pernah disentuh siapa pun. Ada rasa takut yang luar biasa, rasa sakit yang menusuk saat Bara mulai memaksakan kehendaknya, namun di sela-sela rasa sakit itu, ada sensasi asing yang mulai merayap di saraf-sarafnya.

"Sakit... Bara... pelan-pelan..." isak Renata, suaranya parau dan terputus-putus.

Bara tertegun sejenak saat menyadari betapa kaku dan polosnya reaksi Renata. Ada sedikit rasa bersalah yang melintas, tapi egonya sebagai lelaki yang ingin berkuasa jauh lebih besar. Dia menunduk, mencium kening Renata dengan sisa-sisa kelembutan yang dia punya, lalu kembali melanjutkan tuntutannya.

Renata hanya bisa pasrah. Dia merasa seolah tubuhnya sedang dihancurkan, namun di saat yang sama, sentuhan-sentuhan Bara menciptakan badai yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Rasa sakit dan kenikmatan itu bercampur aduk, membuatnya mengerang pelan di sela tangisnya. Dia membenci kenyataan bahwa dia mulai terbawa suasana, menikmati setiap inci sentuhan kasar namun memabukkan dari suaminya sendiri.

Bara semakin kehilangan kendali saat merasakan kuku-kuku Renata menancap di punggungnya dan jemari istrinya itu meremas rambutnya dengan tarikan yang kuat. Isakan Renata kini telah berubah sepenuhnya menjadi desahan panjang yang tak bisa lagi ia tahan. Suasana di dalam kamar itu mendadak terasa mendidih, hanya menyisakan suara napas yang menderu dan gesekan kulit yang saling memburu.

"Sebut nama gue, Renata! Bilang siapa pemilik lo!" desis Bara dengan suara parau yang sarat akan dominasi. Dia tidak berhenti, justru gerakannya semakin menuntut, seolah ingin memastikan bahwa setiap inci tubuh Renata hanya mengenali sentuhannya.

"Bara... ahh... Ba-ra..." Renata mendesah keras, kepalanya mendongak ke belakang dengan mata terpejam rapat. Sensasi panas yang menjalar di sekujur tubuhnya membuatnya kehilangan akal sehat. Rasa sakit yang tadi ia rasakan kini telah melebur menjadi gelombang kenikmatan yang memabukkan, sesuatu yang selama ini tersembunyi jauh di dalam dirinya dan baru malam ini Bara bangkitkan secara paksa.

Bara menunduk, membisikkan kata-kata yang membuat pertahanan Renata runtuh sepenuhnya. "Lo milik gue. Jangan pernah lo pikirin Reno atau cowok mana pun lagi. Cuma gue yang boleh bikin lo kayak gini, paham?"

Renata tidak bisa menjawab dengan kata-kata yang jelas. Dia hanya bisa merespons dengan desahan yang semakin intens setiap kali Bara memberikan hentakan yang lebih kencang. Dia membenci betapa tubuhnya justru mengkhianati hatinya, betapa dia justru merasa "hidup" di bawah siksaan nikmat yang diberikan oleh laki-laki yang paling dia benci.

Suasana di kamar itu semakin mencekam oleh gairah yang meluap. Renata, yang awalnya hanya bisa pasrah, kini seolah terseret arus yang diciptakan Bara. Tubuhnya bergetar hebat setiap kali Bara menuntut lebih, dan suara-suara yang keluar dari bibirnya bukan lagi sekadar rintihan kesakitan, melainkan melodi kepuasan yang membuat Bara semakin beringas.

Dalam puncak ketegangan itu, Bara tiba-tiba mengubah posisi mereka. Dengan satu gerakan kuat namun mantap, dia membalikkan keadaan. Kini Renata berada di atas, napasnya tersengal-sengal dengan rambut panjang yang berantakan menutupi sebagian wajahnya yang memerah.

Renata terdiam sejenak, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat tercecer. Dengan jemari yang masih gemetar, dia menyibakkan rambutnya ke belakang, merapikan helai-helai yang kacau akibat guncangan hebat. Matanya yang sayu namun berkilat menatap langsung ke dalam manik mata Bara yang gelap dan penuh kemenangan.

Perlahan, seolah dipandu oleh insting yang baru bangkit, Renata mulai menggerakkan tubuhnya. Gerakannya lambat namun penuh penekanan, membuat Bara menggeram rendah dan mencengkeram pinggang Renata dengan kuat hingga kuku-kukunya memutih. Renata memejamkan mata, merasakan setiap inci penyatuan mereka yang terasa semakin dalam dan panas.

"Lebih keras..." bisik Bara parau, tangannya naik untuk menarik tengkuk Renata agar wajah mereka kembali berdekatan.

Renata terus bergerak, mengabaikan rasa perih yang sesekali menyengat di bagian bawah tubuhnya. Gerakannya semakin berani, mengikuti denyut gairah yang seolah meledak di setiap inci sarafnya. Dia bisa merasakan otot-otot perut Bara yang mengeras di bawah tangannya, dan setiap kali dia bergerak, Bara mengeluarkan geraman rendah yang terdengar seperti pujian sekaligus perintah. Ada kepuasan pahit saat menyadari bahwa pria yang biasanya memandangnya rendah, kini hanya bisa menatapnya dengan pandangan haus yang tak terkendali.

Beberapa menit kemudian, ketegangan itu mencapai ambang batasnya.

Puncak itu akhirnya datang seperti badai yang menghantam pantai dengan dahsyat. Renata memekik pelan, tubuhnya menegang hebat dalam dekapan Bara sebelum akhirnya lemas tak berdaya. Napas mereka saling beradu di udara yang sesak, memenuhi ruangan dengan aroma gairah yang masih tersisa.

Setelah semuanya berakhir, Renata perlahan melepaskan diri dari posisinya dan ambruk di atas dada bidang Bara sejenak. Dia membenamkan wajahnya di ceruk leher suaminya yang basah oleh keringat, mencari sisa-sisa napas di tengah keheningan yang mendadak terasa mencekam. Tubuhnya masih bergetar kecil, kelelahan yang luar biasa menyerang setiap sendinya.

Untuk pertama kalinya, Bara tidak langsung menjauh atau mendorongnya pergi dengan kasar.

Dia tetap di sana, membiarkan berat tubuh Renata membebani dadanya. Salah satu tangan Bara yang besar perlahan naik, entah sadar atau tidak, jemarinya bergerak kaku mengusap rambut Renata yang masih berantakan. Dia bisa merasakan detak jantung Renata yang masih berpacu cepat melawan dadanya, seirama dengan detak jantungnya sendiri yang mulai melambat.

Bara menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong yang gelap, menyadari bahwa malam ini... dia tidak hanya merusak fisik istrinya, tapi juga telah menanamkan benih obsesi yang mungkin akan menghancurkan mereka berdua. Dia tahu, setelah detik ini, dia tidak akan pernah bisa melihat Renata dengan cara yang sama lagi. Ada sesuatu yang telah berpindah tangan, bukan lagi soal uang atau kontrak, melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: keterikatan.

Renata masih bisa merasakan dadanya yang naik turun, berusaha menenangkan napas yang masih berantakan. Bau keringat Bara dan parfumnya yang maskulin sekarang nempel di kulitnya, bikin dia mual tapi sekaligus merasa aneh. Dia memejamkan mata rapat-rapat di ceruk leher laki-laki itu, nggak mau melihat wajah suaminya dulu.

Di dalam kepalanya, suara hatinya cuma bisa berbisik pelan.

Jadi, begini rasanya?

Tubuhku baru saja diserahkan ke orang yang paling aku benci. Sakitnya beneran ada, tapi anehnya... rasa nikmat itu juga nggak bisa di bohongi. Aku benci diriku sendiri karena sempat menikmati sentuhan dia, aku benci karena malam ini, aku bukan lagi Renata yang dulu.

Renata makin menenggelamkan wajahnya, membiarkan keheningan kamar itu menelan isak tangisnya yang paling dalam.

1
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!