Araya Lin dipaksa menjadi pengantin
pengganti bagi kakak tirinya. la dinikahkan dengan Arkanza Aditama, seorang CEO miliarder yang dirumorkan kejam, dingin, dan cacat akibat sebuah kecelakaan tragis. Keluarga Araya tertawa, mengira mereka telah membuang anak tak berguna ke dalam 'neraka'.
Namun, di malam pertama pernikahan mereka, Araya terkejut saat melihat pria jangkung dengan tatapan setajam elang berdiri sempurna di hadapannya-tidak cacat sedikit pun. Di sisi lain, Arkanza mengira ia hanya menikahi gadis udik yang bisa ia kendalikan. la tidak tahu bahwa istri kecilnya yang terlihat lugu ini adalah "Z", seorang peretas jenius misterius yang selama ini dicari-cari oleh perusahaannya sendiri.
Ketika dua pembohong ulung terjebak dalam satu atap, akankah pernikahan kontrak ini berakhir dengan pertumpahan darah, atau justru memicu romansa yang tak terhentikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17: Perjamuan Para Serigala
Lampu di ruang kerja pribadi Arkanza berpendar redup, menyisakan cahaya biru tajam dari jajaran monitor yang kini dikuasai oleh Araya. Rambutnya diikat asal, kacamata anti-radiasi bertengger di hidung mancungnya, dan jari-jarinya menari di atas mechanical keyboard dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Di belakangnya, Arkanza berdiri sambil menyesap wiski, memperhatikan setiap baris kode yang muncul di layar dengan tatapan terpesona. Ini pertama kalinya ia melihat "Z" bekerja secara terbuka di depannya.
"Tiga lapis firewall pemerintah," gumam Araya, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai sombong. "Mereka pikir enkripsi kuno ini bisa menahanku? Lucu sekali."
Enter.
Layar berubah menjadi merah, lalu seketika menampilkan ribuan data transaksi gelap. Mata Araya membelalak saat melihat satu nama yang sering muncul di sana.
"Suryo Hadiningrat," baca Araya pelan. "Menteri yang baru saja memberikan kontrak infrastruktur besar pada Aditama Group... ternyata dia adalah otak di balik pencucian uang Keluarga Lin sejak tahun 1998."
Arkanza meletakkan gelasnya dengan dentingan keras di atas meja. "Suryo adalah orang yang paling dilindungi oleh kakekku dulu. Jika kita menjatuhkannya, kita tidak hanya menghancurkan Keluarga Lin, tapi juga mengguncang fondasi politik kota ini."
Arkanza melangkah mendekat, meletakkan tangannya di sandaran kursi Araya, mengurung wanita itu dalam aroma maskulinnya yang dominan. "Besok malam, Suryo mengadakan pesta perayaan ulang tahun perusahaannya. Semua musuhmu akan ada di sana. Siska, Clara, dan pamanmu yang terhormat."
Araya menoleh, menatap mata Arkanza yang berkilat haus darah. "Kau ingin aku melakukan serangan langsung di pesta itu?"
"Bukan hanya serangan digital," Arkanza mengusap pipi Araya dengan punggung jarinya. "Aku ingin kau datang sebagai Nyonya Aditama. Aku ingin mereka melihat 'gadis yatim piatu' yang mereka injak-injak dulu, kini berdiri di puncak rantai makanan. Biarkan mereka ketakutan sebelum kau meledakkan bom informasimu."
Araya terdiam sejenak. Menghadapi mereka secara langsung berarti melepaskan topeng "gadis polosnya" selamanya. Tapi melihat data di layar—bukti bahwa mereka tertawa di atas darah orang tuanya—membuat darahnya mendidih.
"Aku butuh akses ke sistem keamanan hotel tempat pesta itu diadakan," ucap Araya mantap.
"Sudah kusiapkan," jawab Arkanza cepat. "Leon akan mengurus teknis di lapangan. Kau hanya perlu terlihat cantik, mematikan, dan tetap berada di jangkauanku."
Keesokan malamnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di depan lobi hotel bintang lima yang dijaga ketat. Karpet merah membentang, dan puluhan kilatan kamera jurnalis menyambut kedatangan tamu-tamu elit.
Pintu mobil terbuka. Arkanza melangkah keluar dengan setelan tuksedo yang sangat elegan, memancarkan aura kekuasaan yang mutlak. Namun, perhatian semua orang teralihkan saat ia mengulurkan tangan untuk membantu istrinya keluar.
Araya muncul dengan gaun black silk dengan belahan tinggi yang memperlihatkan kakinya yang jenjang. Rambutnya ditata elegant wave, dan kalung berlian senilai jutaan dolar melingkar di lehernya. Tidak ada lagi jejak Araya yang rapuh. Yang ada hanyalah seorang wanita yang auranya setara dengan sang raja bisnis di sampingnya.
Begitu mereka masuk ke aula pesta, suasana mendadak hening. Di sudut ruangan, Siska dan Clara yang sedang berbincang dengan para sosialita hampir menjatuhkan gelas sampanye mereka.
"A-Araya?" bisik Clara dengan wajah pucat. "Bagaimana mungkin dia... dia terlihat seperti itu?"
Siska mengepalkan tangannya. "Sialan. Dia benar-benar menggunakan Arkanza untuk membalas dendam."
Araya melirik ke arah mereka dengan senyum tipis yang meremehkan. Di dalam tas kecilnya, sebuah perangkat transmisi data mini sedang bekerja, memindai setiap ponsel di ruangan itu.
"Satu menit menuju sinkronisasi sistem," bisik Araya pada mikrofon kecil yang tersembunyi di balik antingnya.
Arkanza merangkul pinggang Araya, menariknya lebih dekat. "Jangan terburu-buru, Sayang. Biarkan mereka menikmati napas terakhir mereka sebelum kita mematikan oksigennya."
Tiba-tiba, suara pembawa acara bergema, memanggil Menteri Suryo Hadiningrat untuk naik ke atas panggung untuk memberikan sambutan. Pria tua itu tersenyum lebar, merasa di atas angin, tidak menyadari bahwa di barisan depan, seorang hacker jenius sedang bersiap mengirimnya ke penjara dengan satu tekanan jari.
"Waktunya pertunjukan, Arkanza," gumam Araya.
Layar raksasa di belakang panggung yang seharusnya menampilkan video profil perusahaan tiba-tiba berkedip. Gambar berubah menjadi hitam, dan sebuah logo huruf "Z" besar muncul di sana.
Seluruh tamu undangan terkesiap. Wajah Arkanza tetap tenang, namun matanya menatap Siska dengan tatapan yang seolah berkata: Kematianmu dimulai sekarang.