Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu
Pucuk hidung Aurellia memerah, air matanya langsung menghujam keluar.
Dia begitu tak kuasa memandang foto di tangannya.
Rasa rindu yang selama ini dia tahan pada sosok orang yang di dalam foto kian menyesakkan dadanya.
"Ini papa dan mamaku." Aurellia mengusap wajah di foto, seolah-olah dia sedang mengusap wajah orang yang disayanginya itu secara langsung.
"Dari mana Kakek mendapatkannya?" tanya Aurellia dengan suara bergetar.
"Foto itu sudah lama ada di rumahku," jawab Tuan Dekha, membuat Aurellia mengangkat wajahnya dan menoleh pada Tuan Dekha yang berada di hadapannya.
"Maksud, Kakek?" tanya Aurellia dengan berbagai praduga mencuat di kepalanya.
"Apa Kakek mengenal kedua orang tuaku?" lanjut Aurellia.
Tuan Dekha menghela nafasnya berat.
Begitu jelas nampak raut kesedihan di wajahnya yang sudah mulai keriput.
Bahkan dia sempat menunduk beberapa saat baru kembali menatap Aurellia sebelum angkat bicara
memberi penjelasan.
"Ya, aku mengenalnya. Papamu berteman dekat dengan papa Rayga. Persahabat mereka luar biasa. Dalam suka maupun duka mereka hadapi dan jalani bersama. Tidak pernah ada perselisihan yang aku lihat di antara mereka," jelas Tuan Dekha berlinang
air mata mengenang sosok putranya yang sudah tiada dan juga sahabat putranya yang merupakan papa dari Aurellia.
"Ternyata persahabatan mereka sehidup semati dengan cara kepergiannya yang juga sama." Tuan Dekha tidak kuasa membendung air matanya.
Dia menengadahkan kepalanya menatap langit-langit restoran sambil memejamkan matanya.
Mendengar penuturan Tuan Dekha, dada Aurellia semakin terasa sesak.
Bahkan dia terisak pilu, terbayang bagaimana orang tuanya mendapat perlakuan keji sebelum mereka tiada.
"Berarti papa Rayga juga pergi karena dibunuh?" tebak Aurellia dalam hati.
Tadi dengan jelas dia mendengar kalau papanya dan papa Rayga pergi dengan cara yang sama.
Itu artinya mereka pergi sama-sama karena dibunuh seseorang.
Aurellia bisa berkesimpulan begitu karena orang tuanya tiada di tangan seseorang yang membunuhnya dengan keji.
"Ayo!" Tiba-tiba saja Rayga menarik kasar tangan Aurellia dan membawanya pergi tanpa pamit dari hadapan Tuan Dekha.
Aurellia kaget ditarik seperti itu oleh Rayga, tetapi dia tetap mengikuti dan mengimbangi langkah kaki suaminya.
Sementara Xander mengejar Rayga dan Aurellia yang sudah berlalu, sedangkan Tuan Dekha menunduk dan tersedu dengan kesedihannya
yang begitu rindu pada putra satu-satunya yang dia miliki.
"Bos, kau menyakiti Aurellia!" Teriak Xander dari belakang yang berusaha menyusul Rayga.
Walau Rayga mendengar Xander berbicara dari arah belakang, tetapi dia tidak menghiraukannya.
Rayga terus berjalan cepat tanpa melepaskan tangan Aurellia.
"Bos!" sentak Xander ketika sudah berhasil mengejar langkah Rayga.
"Kau menyakiti Aurellia," ulang Xander.
"Jangan ikuti aku, pergilah urus pekerjaan lain!" sahut Rayga tidak menghiraukan apa yang dikatakan Xander padanya.
"Aku tidak apa-apa, Tuan," sela Aurellia menoleh pada Xander, langkah mereka terus maju tanpa berhenti sama sekali.
Sesampainya di parkiran restoran, Rayga langsung membukakan pintu untuk Aurellia dan menyuruh Aurellia masuk.
Tanpa bantah, Aurellia langsung masuk ke dalam mobil.
Sedangkan Xander berdiri i samping pintu mobil dengan raut wajah cemas.
"Urus barang-barang di hotel. Aku akan langsung pulang," kata Rayga, setelah itu dia langsung berjalan menuju pintu mobil sebelahnya dan masuk ke dalam mobil.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Rayga langsung mengemudikan mobilnya.
Xander hanya bisa mematung dan pasrah, karena Rayga yang masih berperang dengan waktu masa lalunya sangat sulit untuk diluluhkan dan dinasehati.
Mobil melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.
Aurellia yang berada di samping Rayga tidak berani mengeluarkan suara, apalagi menegur suaminya itu.
Walau rasa takut akan terjadi sesuatu hal yang buruk di jalanan, tetapi Aurellia tidak berani mengatakan apapun pada Rayga.
Tidak ada obrolan apa-apa sampai mereka memasuki halaman rumah Rayga.
Kepala Aurellia terasa pusing, perutnya terasa diaduk-aduk.
"Turun," kata Rayga saat mobil sudah dimatikan mesinnya.
Rayga tidak memasukkan mobilnya dalam garasi, dia hanya memarkirkan di halaman begitu saja.
Aurellia turun sempoyongan, bahkan dia sangat sulit untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
Sehingga saat mencoba berjalan mau masuk rumah, dia terjatuh karena kakinya tidak kuat menahan bobot tubuhnya dan kepala Aurellia juga begitu pusing.
Rayga yang melihat itu, reflek mempercepat langkahnya.
Dia tidak cemas pada kondisi Aurellia, tetapi tergerak begitu saja kakinya untuk mempercepat langkah.
"Kenapa?" tanyanya dingin yang dijawab gelengan oleh Aurellia.
Aurellia mencoba untuk bangkit dan ingin kembali berjalan masuk ke dalam rumah, karena dia ingin sekali untuk cepat-cepat sampai di kamar dan mengistirahatkan diri.
Kepala Aurellia benar-benar terasa sakit dan pusing, apalagi perutnya yang terasa begitu tidak nyaman.
Melihat Aurellia kesusahan untuk bangkit, Rayga mengulurkan tangannya.
Dengan ragu Aurellia menjangkau tangan Rayga dan berusaha untuk berdiri.
Namun, tetap saja Aurellia tidak bisa menjaga keseimbangannya dan kembali terjatuh.
"Tuan," pekik Aurellia kaget ketika Rayga mengangkat tubuhnya dan menggendong masuk ke dalam rumah.
Rayga berada di kamar itu.
Rayga menidurkan Aurellia di atas tempat tidur ukuran king size dengan kasur yang begitu empuk.
Tanpa berkata apapun, Rayga menyelimuti Aurellia sampai hanya kepalanya saja yang di luar selimut.
"Ini kamar siapa, Tuan? Aku mau ke kamarku saja." Aurellia menyibakkan selimutnya hendak duduk.
"Jangan banyak gerak, tidurlah. Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu," kata Rayga, dia berjalan mendekat pada Aurellia dan kembali menyelimuti Aurellia.
"Tidak usah panggil Dokter, Tuan. Aku tidak apa-apa," sahut Aurellia.
Rayga menatapnya dingin, sehingga Aurellia bungkam.
Dia menurut saja apa yang dikatakan Rayga padanya, walau dia masih enggan untuk tidur di sana.
Kamar dengan barang dominan berwarna hitam dan coklat di dalamnya sudah cukup mengisyaratkan pada Aurellia kalau itu adalah kamar Rayga.
Barang-barang di dalamnya tidak terlalu banyak, hanya ada dua lemari dan satu kaca besar.
"Tuan, apakah Anda mengenal papaku?" sontak saja Aurellia bertanya seperti itu pada Rayga.
"Kenapa?" tanya Rayga menghempaskan tubuh ke sofa yang tidak jauh dari tempat tidurnya.
"Jika Tuan mengenal papaku, bolehkan aku diantar pulang sebentar saja ke rumah yang dulu ditempati kedua orang tuaku? Aku rindu mereka," ujar Aurellia yang diakhiri dengan isak tangisnya.