satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resi Wiratama
Dengan sedikit memberanikan diri Satria menembus dinding air terjun itu
Plash
Satria berdiri diam di balik dinding air terjun, otaknya menjadi membeku, bagaimana tidak dinding air yang deras ia tembus tetapi tubuh nya tak basah sedikit pun
" Apa aku sudah mati" Gumam Satria sambil melihat kedua tangan nya
Ia mencoba mencubit pipi nya
Tak terasa sakit, ia terduduk
" Aku sudah mati!?" Gumam nya tak percaya
" Kamu belum mati cucuku, ini alam bawah sadarmu" Suara itu kembali terdengar sangat jelas dan lebih berwibawa
" Masuklah ke dalam goa aku menunggu di sini " Kembali suara itu terdengar
Satria yang awalnya takut kini nekat ia berdiri dan melangkah masuk ke dalam goa yang ada di hadapannya
Goa itu cukup panjang, tidak seperti yang goa yang biasa ia masuki gelap dan berbau apak, goa ini terawat dan bersih, ada semerbak wangi yang menyegarkan saat ia menghirup napas dalam dalam
Saat berada di ujung goa Satu sosok dengan pakaian resi sedang duduk, Satria yang melihat itu dengan cepat meminta maaf
" Maaf eyang, aku telah lancang masuk " Ucap Satria
" Memang aku yang memanggilmu, mendekatlah" Ucap kakek itu sambil menggapaikan tangan memanggil Satria mendekat
Tubuh Satria seperti di angkat oleh kekuatan besar, dan mendekat sendiri ke hadapan Resi
" Cucuku, Aku resi Wiratama, kau adalah keturunan ke sembilan," Resi itu berkata dengan senyum menatap Satria
Satria denhan cepat membungkukkan badan
" Salam Eyang" Ucapnya sopan, kakek Pandu selalu mengingatkan agar orang yang lebih muda selalu menghormati orang tua, tetapi dalam hal dan sikap yang sewajarnya
" Duduklah, aku akan menjelaskan asal usul mulai, juga tentang gelang yang kau pakai itu" Ucap Resi Wiratama
" Baik eyang" Satria duduk bersila di hadapan Resi Wiratama
" Kamu adalah keturunan Wiratama, hanya saja dua ratus tahun yang lalu keluarga Wiratama di hancurkan, akun menyegel kekuatanku di gelang Candra Kirana dan mencoba menyelamatkanmu keturunan satu satunya, hanya saja aku tak menyangka jika kau terlempar ke masa depan" Tutur Resi Wiratama menjelaskan
" Jadi aku dari zaman dulu?" Tanya Satria bingung
" Iya dan kau keturunanku, jangan kau pikirkan tentang itu ku lihat kau juga sudah menyesuaikan dengan keadaan ini, sekarang tentang Gelang itu, gelang itu hasil tempaan ku, aku namakan Gelang Candra Kirana, karena dulu aku mengagumi Ksatria Werkudara, bahkan berusaha menciptakan ilmu senjata kuku Pancanaka, " Tutur Resi Wiratama . Satria mendengarkan penjelasan Resi dengan seksama agar tak ada yang terlewat, ternyata Gelang itu selain menyimpan kekuatan Resi Wiratama dan ilmu ilmu yang yang ia ciptakan, dan uniknya gelang itu karena melewati dimensi waktu mempunyai ruang sendiri dan bisa menyimpan benda
" Jadi, semua kekuatan itu sekarang ada di diriku.?" Tanya Satria,
" Ya hanya saja semua itu harus kau pelajari agar kamu bisa menyesuaikan dengan dirimu"!ucap Resi.
" Bagaimana mempelajarinya?" Tanya Satria
Resi Wiratama tak menjawab ia menempelkan jari telunjuknya pada kening Satria
Seketika, berbagai gerakan terlihat dalam ingatannya juga cara menggunakan ilmu ilmu itu sesuai dengan keadaan.
" Waktuku sudah habis, sekarang aku akan pergi, dan kau jika ingin kemari cukup niatkan dalam hati, maka jiwamu akan kembali kemari" Ucap Resi Wiratama, dan tak lama ia berkata tubuhnya memudar, dan perlahan hilang di telan angin
" Terima kasih Eyang, selamat jalan" Satria membungkuk memberi penghormatan pada Eyang Resi Wiratama.
Selepas memberi hormat pada eyang Resi Wiratama, goa tiba tiba menjadi gelap
dan saat Satria membuka mata ternyata ia sedang duduk bersila di atas ranjangnya
" apa ini nyata?" gumam Satria , ia mencoba melakukan tehnik pernapasan yang di berikan oleh Resi Wiratama
saat ia mencoba berlatih, semua udara terasa masuk ke dalam tubuhnya, namun saat ia menghembuskan udara itu ia merasa ada yang tersisa di dalam pusarnya
" Ini tenaga dalam?" gumamnya saat merasakan udara yang tersimpan di pusarnya menjadi energi, ia mencoba mengerahkan energi dari pusarnya ketangan kanannya
Wuuut
Braaaak
Praaaaang
Serangkum angin kencang keluar dari tangan Satria dan mengenai lemari bajunya membuat cermin di lemari itu hancur berantakan
" he he he, aku berhasil sekarang, kata Eyang aku harus sering berlatih agar kekuatanku terus meningkat" Satria tertawa dalam hati dan kembali melanjutkan latihannya
satria larut dalam latihannya
Tiiin
Tiiin
saat malam tiba suara klakson mobil terdengar di depan rumah Satria
Satria menyudahi latihannya dan berdiri untuk membukakan pintu
" Eh abis ngapain loe kok basah kuyup gitu kaya tikus kecebur" Hadi yang di depan pintu bertanya dengan heran melihat kondisi Satria yang basah
" he he he, gw lagi mandi loe dateng ya gw buru buru gake buru handukan" sahut Satria sambil menyuruh Hadi masuk
" Loe udah beres mandinya?" tanya Hadi lagi
" belum , gw lanjut mandi yah, kopi loe buat aja sendiri" sahut Satria sambil masuk ke dalam kamar mandi
" Ya " ucap Hadi ia menaruh plastik yang di bawanya
Di kamar mandi Satria baru menyadari gelang yang di pakainya tak ada dan kini ada tato berwarna emas melingkar di lengan tepat di mana ia memakai gelang kemarin
Ia teringat jika gelang itu mempunyai ruang sendiri dan cara mnyimpan atau mengeluarkannya hanya dengan pikirannya saja
Sluuup
saat ia mencoba sikat gigi yang di depannya menghilang ia memejamkan mata dan mencoba melihat dengan pikirannya sikat gigi tadi benar ada di gelang itu
" Woi lama amat mandinya, keburu dingin nih nasi Padangnya" dari dalam rumah Hadi berteriak karena Satria lama di kamar mandi
" Bentar ini lagi handukan!" balas Satria , ia dengan cepat meraih handuk dan mengeringkan tubuhnya
" eh, loe abis perawatan?" Hadi yang melihat perubahan pada tubuh dan wajah Satria menjadi kaget
" perawatan apa kaya emak emak aja" sahut Satria sambil memakai baju
" Loe lihat di cermin dulu deh" Hadi menarik Satria ke depan cermin yang ada di ruang tengah
" eh, kok bisa begini?" Satria yang melihat pantulan dirinya di cermin kaget sendiri, wajahnya bersih bersinar rahangnya terlihat lebuh kokoh, dan bentuk badannya yang awalnya hanya tinggi kini tegap berisi
" Emang loe abis ngapain? tadi pagi gw rasa loe masih biasa aja?" tanya Hadi heran
" Oh cuma pake pembersih wajah doang" sahut Satria " loe bawa nasi padang, yuk makan laper gw" Satria langsung ke meja makan dan membuka nasi Padang yang di bawa Hadi
" wah rendang loe tahu aja kalau gw lagi pengen makan rendang" Satria berseru senang saat melihat nasi padang dengan sayur rendang
" dah makan aja ribut banget loe, eh nanti temenin gw yah" ucap Hadi
" kemana?"
" ke pasar beli baju" sahut Hadi
" Ok" Ucap satria setuju
Tapi sayang kalau Satria jika dipecat dari kerjanya, soalnya kerjanya sudah mantap tuh, santai dan lingkungannya sangat mendukung untuk latihan²nya... 😁