Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Jarak Yang Perlahan Terkikis
Nayara masuk kedalam mobil dengan tenang dan elegan, tercium aroma lembut dari parfum maskulin yang langsung menyapa indra penciuman Nayara begitu pintu tertutup sempurna.
Adrian berjalan ke sisi kemudi lalu duduk dengan tenang dibelakang kemudi, mesin mobil menyala pelan dan lembut sebelum akhirnya kendaraan mewah itu perlahan meninggalkan halaman Almeera Group.
Beberapa menit pertama hanya keheningan yang terasa menemani perjalan keduanya, lampu-lampu kota mulai menyala disepanjang perjalanan, Nayara menoleh sedikit kearah pria yang berada disampingnya.
Adrian mengemudikan kendaraannya dengan fokus, satu tangan memegang kemudi sementara tangan lainnya bersandar santai didekat tuas transmisi.
" Apa kamu selalu menjemput wanita seperti ini?" tanya Nayara memecah keheningan.
" Tidak, hanya jika wanita itu akan menjadi istriku" Adrian melirik Nayara sebentar.
" Kau terdengar sangat yakin menjawabnya" Nayara sedikit mengangkat alisnya, mendengar jawaban Adrian yang terlalu tenang.
" Aku hanya realistis saya, Nayara"
" Realistis?" Nayara kembali bertanya untuk sekedar memastikan.
" Saat ini kita sedang dalam proses menuju ke jenjang pernikahan"
" Tapi masih ada kemungkinan diantara kita berubah pikiran, Adrian" Nayara kini mengalihkan pandangannya keluar jendela.
" Kamu benar..." Adrian tersenyum tipis
" Jadi jangan terlalu yakin dan percaya diri"
" Apakah Nona Nayara berencana untuk berubah pikiran?" tanya Adrian.
Nayara tidak langsung menjawab, ia kembali menatap wajah pria disampingnya.
" Sampai saat ini... Belum" jawaban lirih keluar begitu saja dari bibir Nayara.
Mendengar jawaban Nayara membuat Adrian merasa puas, takama kemudian kendaraan yang mereka tumpangi berhenti didepan sebuah restoran rooftop yang menghadap langsung kearah pemandangan kota malam.
Angin malam berhembus lembut ketika Nayara dan Adrian mulai naik keatas, lampu-lampu kecil menghiasi setiap sudut tempat itu, menciptakan suasana yang hangat dan tenang.
Pelayan mengantar keduanya ke meja dekat dengan pagar kaca, dari sana seluruh kota tampak terlihat berkilauan. Nayara duduk dengan fokusnya yang kini memperhatikan pemandangan dihadapannya.
" Tempat ini sangat indah" ucap Nayara pelan
" Aku pikir kau akan menyukainya" Adrian menjawab yang kini posisi duduknya berada diseberang Nayara.
" Kau terlalu percaya diri dengan pilihanmu"
" Aku hanya memperhatikan saja, karena kamu tidak seperti wanita yang menyukai tempat terlalu ramai"
Nayara terdiam membernarkan ucapan Adrian, dalam hatinya ia tidak menyangka jika pria itu akan memperhatikan sampai ke hal terkecil.
" Dan mau tahu itu hanya dari satu kali pertemuan?" tanya Nayara.
" Mungkin kamu harus mulai mengakui, jika aku cukup jeli" Adrian mengangkat bahunya.
Nayara dan Adrian mulai memesan makanan, obrolan yang awalnya terasa formal perlahan berubah menjadi lebih ringan dan santai. Adrian ternyata memiliki selera humor yang cukup halus. Bahkan beberapa kali Nayara hampir tersenyum tanpa sadar.
" Apa kaku selalu serius seperti ini jika berada dikantor?" tanya Adrian.
" Tentu saja, memangnya kenapa? Ada yang salah?" jawab Nayara.
" Kasihan sekali karyawanmu, mereka pasti sangat takut padamu" jawab Adrian.
" Seharusnya sih, begitu" mendengar jawaban Adrian Nayara menyetujui, membuat Adrian terkekeh pelan.
" Aku bahkan tidak menyangka jika kamu bisa bercanda juga ternyata"
" Kata siapa? Aku sedang tidak bercanda" jawaban itu membuat Adrian kembali tertawa lebih jelas kali ini.
Untuk pertama kalinya Nayara melihat sisi lain dari Adrian, tidak sedingin yang dibayangkan, tidak juga terlalu kaku justru.... Cukup menyenangkan.
Namun Nayara segera menyadari sesuatu ia terlalu nyaman dengan percakapan ini, dan itu bukan hal yang baik.
" Nayara..." setelah makan malam hampir selesai, Adrian tiba-tiba saja kembali membuka obrolan.
" Hmmm...." Nayara mengalihkan pandangannya menatap Adrian.
" Bolehkah jika aku bertanya sesuatu yang lebih pribadi?"
" Silahkan..." Nayara menatapnya dengan tenang.
" Kenapa kamu tidak pernah pada cinta?" Adrian memperhatikan wajah Nayara sejenak.
Pertanyaan Adrian itu datang begitu saja secara cepat tanpa peringatan membuat Nayara kini terdiam, beberapa detik berlalu tanpa suara hanya ada angin malam yang berhembus melewati meja mereka.
" Itu bukan sesuatu hal yang perlu kamu ketahui" Tatapan Nayara perlahan berubah menjadi dingin, tapi tidak membuat Adrian tersinggung.
" Jika kita benar-benar menikah..." Adrian tetap menatap Nayara dengan tenang, berhenti sejenak dengan ucapannya.
" Aku berpikir jika seharusnya aku mengenalmu lebih dari sekedar nama dan pekerjaan, bukan?".
Nayara terdiam pandangannya kini menatap pria dihadapannya cukup lama biasanya orang akan berhenti jika ia telah menunjukkan tatapan dingin, namun Adrian tidak... Ia tetap tenang, sabar seolah masih menunggu Nayara membuka sedikit saja pintu yang selama ini ia tutup rapat.
" Aku rasa kita sudah cukup mengenal satu sama lain malam ini" akhirnya Nayara berdiri dari duduknya.
" Apa kamu marah?" Adrian ikut berdiri.
" Tidak, aku hanya tidak terbiasa untuk membicarakan masa lalu" ucap Nayara pelan dengan tatapan yang lurus kedepan.
" Baiklah" Adrian tidak memaksanya, ia hanya mengangguk kecil.
Ketika Nayara dan Adrian berjalan keluar dari restaurant dengan langkah tenang.
" Tapi jika suatu hari nanti kita sudah saling menerima... aku ingin menjadi orang yang kamu percaya untuk menceritakan semuanya" ucap Adrian.
Nayara berhenti dan menoleh menatap Adrian dengan tatapan yang tenang. Kalimat itu terasa terlalu tulus dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama.... Ada sesuatu didalam hati Nayara yang bergerak pelan sesuatu yang hampir ia lupakan.
Namun Nayara buru-buru mengalihkan pandangannya, ia belum siap membuka hatinya. Sementara Adrian hanya memperhatikan diam-diam, dan tanpa Nayara sadari... pria itu mulai merasa bahwa satu bulan mungkin tidak akan cukup karena wanita didepannya ternyata jauh lebih menarik dari apa yang telah ia bayangkan.