Sinopsis:
Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.
Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.
"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."
Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Enam tahun mengejar Bayangan
Aku kembali ke meja kubikelku dengan langkah yang masih terasa goyah. Begitu duduk, aku tidak memberi waktu sedetik pun bagi pikiranku untuk melayang kembali ke kejadian di kafe tadi. Aku segera menyalakan layar komputer, membuka folder proyek, dan membiarkan jemariku menari di atas keyboard.
Aku harus fokus. Aku harus menyelesaikan revisi ini sekarang juga.
"Zal, lo nggak makan siang dulu? Tadi kan cuma dampingi Pak Danendra, emang nggak ditawarin makan?" suara Nesha menginterupsi dari kubikel sebelah.
Aku menggeleng tanpa menoleh dari layar. "Udah tadi, Nesh. Ini ada revisi mendadak dari pusat, harus selesai besok jam sembilan. Gue mau cicil sekarang biar nggak kelabakan."
Aku sengaja berbohong soal rasa lapar. Kenyataannya, sepotong croissant di kafe tadi terasa seperti batu di tenggorokanku. Aku tidak butuh makanan; aku butuh distraksi. Dan deretan angka serta grafik di depanku adalah distraksi terbaik yang pernah ada.
Satu jam, dua jam berlalu. Fokusku sepenuhnya terserap ke dalam dokumen. Aku mengabaikan rasa pegal di bahu dan mataku yang mulai terasa pedas karena terus menatap layar. Setiap kali bayangan bisikan Danendra muncul di kepala, aku segera menekannya dengan mengetik lebih cepat.
“Jangan biarkan dia menang, Azzalia,” batinku terus menyemangati diri sendiri.
Aku mengoreksi setiap detail, memeriksa ulang setiap sumber data, dan memastikan tidak ada satu pun celah yang bisa ia gunakan untuk mengkritikku besok pagi. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku adalah profesional yang handal. Aku ingin dia tahu bahwa posisinya sebagai atasan tidak akan memberinya celah untuk masuk ke ruang pribadiku.
"Zal, gue balik duluan ya? Lo beneran mau lembur?" tanya Nesha saat jam kantor mulai berakhir. Area kubikel satu per satu mulai kosong, meninggalkan suara dengung AC yang terasa makin keras di telinga.
"Iya, Nesh. Tinggal dikit lagi, nanggung. Lo duluan aja," sahutku, tetap menatap layar.
"Ya udah, jangan kemalaman ya. Hati-hati, kantor kalau udah sepi agak serem," canda Nesha sambil melambai pergi.
Kini, ruangan ini benar-benar sunyi. Hanya ada aku dan cahaya lampu meja yang menyinari kubikelku. Aku menarik napas dalam, mengembuskannya perlahan. Targetku adalah menyelesaikan ini sebelum pukul tujuh malam, lalu pulang dan mengunci diri di kost.
Namun, di tengah kesunyian itu, aku mendengar suara pintu ruangan eksekutif terbuka. Suara langkah kaki yang berat dan teratur mulai menggema di koridor yang sepi. Langkah kaki yang sangat kukenali.
Jantungku berdegup kencang. Aku semakin menundukkan kepala, memfokuskan pandangan pada layar komputer, berpura-pura tidak menyadari kehadirannya. Aku tidak ingin menoleh. Aku tidak ingin melihatnya. Tapi suara langkah itu berhenti tepat di belakang kursiku.
Aroma wood-scent itu kembali menyerbu indra penciumanku, menghancurkan konsentrasi yang susah payah kubangun sejak siang tadi.
"Saya bilang besok jam sembilan pagi, Azzalia. Bukan berarti kamu harus menyiksa diri kamu di kantor yang sudah kosong ini," suara baritonnya terdengar rendah, memecah kesunyian malam di ruangan itu.
Aku memejamkan mata sejenak, meremas pinggiran meja. Zirah besiku kembali terasa berat. Sangat berat.
"Saya tahu pak,tapi saya ingin segera menyelesaikannya,supaya saya bisa istirahat dengan tenang di rumah tanpa notif dadakan dari kantor di luar jam kerja,karena itu sungguh mengganggu jam istirahat saya"
Aku bisa merasakan atmosfer di sekitar kami berubah seketika. Jawaban yang kulontarkan barusan terdengar begitu ketus dan penuh pertahanan, bahkan bagi telingaku sendiri. Aku masih enggan menoleh, tetap memaku pandangan pada kursor yang berkedip di layar, seolah benda itu jauh lebih penting daripada pria yang berdiri tepat di belakangku.
Danendra terdiam sejenak. Aku bisa mendengar helaan napasnya yang berat. Keheningan yang tercipta di antara kami terasa begitu menyesakkan, lebih berat dari tumpukan pekerjaan yang sedang kuhadapi.
"Begitu?" gumamnya. Suaranya kini terdengar lebih dekat. "Jadi, saya adalah 'gangguan' yang menghalangi istirahat kamu, Azzalia?"
Tiba-tiba, sebuah gelas kopi hangat diletakkan di atas meja di sebelah laptopku. Asap tipis menguar dari sana, membawa aroma vanilla latte yang persis seperti yang kami pesan siang tadi.
"Minum dulu. Saya tidak mau staf saya jatuh sakit hanya karena ambisinya untuk menghindar dari saya," ucapnya dingin, namun ada nada kepedulian yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
Aku menatap gelas itu dengan perasaan campur aduk. "Terima kasih, Pak. Tapi saya tidak butuh ini. Saya hanya butuh waktu untuk menyelesaikan tugas saya."
"Dan tugas itu sudah selesai," potongnya cepat. Sebelum aku sempat bereaksi, ia meraih flashdisk yang terpasang di komputerku dan mencabutnya dengan gerakan tangkas.
"Pak! Apa-apaan?" aku refleks berdiri dan berbalik, menatapnya dengan api amarah yang mulai tersulut.
Danendra berdiri sangat dekat denganku sekarang. Ia menatapku dengan sorot mata yang tak tergoyahkan, sementara jemarinya memutar-mutar flashdisk itu.
"Sembilan puluh persen draf ini sudah sempurna sejak siang tadi, Zal. Kamu hanya sedang mencari alasan untuk tetap sibuk supaya tidak perlu bicara dengan saya, kan?" tuduhnya telak. "Sekarang pulang. Saya yang akan antar."
"Saya bawa motor, Pak. Dan saya bisa pulang sendiri," sahutku keras kepala, mencoba merebut flashdisk dari tangannya, namun ia dengan mudah mengangkat tangannya lebih tinggi.
"Motor kamu sudah saya minta bagian keamanan untuk dipindahkan ke area aman. Kuncinya ada di saya," ia tersenyum tipis—senyum yang sangat menyebalkan. "Jangan membantah lagi, Azzalia. Ini bukan sebagai atasan, tapi sebagai seseorang yang tidak mau melihat kamu pulang sendirian di jam segini."
Aku mengepalkan tangan, menatapnya dengan benci sekaligus nyeri yang luar biasa di dada. Dia selalu tahu cara menyudutkanku, cara memaksaku masuk ke dalam dunianya kembali. Zirah besiku yang tadi kupikir sangat kuat, kini mulai menunjukkan retakan besar tepat di depan matanya.
"Kenapa kamu selalu harus memaksa, Nen?" suaraku melemah, nyaris menyerupai bisikan.
"Karena kalau aku tidak memaksa, kamu akan terus berlari, Zal. Dan aku sudah cukup lelah mengejar bayanganmu selama enam tahun ini."
"Aku enggak pernah nyuruh kamu ngejar,aku nyuruh kamu ngejauh dan pergi dari hidup wanita dingin ini" desisku tajam
.Nggak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa ngatur siapa yang boleh aku sayang, Zal. Termasuk kamu," sahutnya pelan namun tajam.
Ia melangkah satu kaki lebih dekat, mempersempit ruang di antara kami hingga aku bisa merasakan radiasi panas dari tubuhnya. Aroma wood-scent itu kini terasa begitu mendominasi, mengacaukan pasokan oksigen di paru-paruku.
"Enam tahun lalu aku pergi bukan karena aku menyerah, tapi karena aku memberimu waktu untuk bernapas. Tapi sekarang? Semesta sendiri yang membawa kamu kembali ke depan mataku. Apa kamu pikir aku akan sebodoh itu untuk melepasmu lagi?"
Aku mendongak, menantang manik matanya yang berkilat emosi. "Kamu egois, Nen! Kamu cuma memikirkan perasaan kamu sendiri tanpa peduli seberapa keras aku berusaha untuk nggak narik kamu ke dalam hidupku yang berantakan!"
"Hidup kamu berantakan atau nggak, aku nggak peduli!" potongnya cepat. Suaranya sedikit naik satu oktav. "Yang aku tahu, aku lebih suka berantakan bareng kamu daripada tertata rapi tapi tanpa kamu. Sekarang, pilihannya cuma dua: kamu jalan sendiri ke mobil, atau aku yang akan angkat kamu keluar dari kantor ini."
Aku terperangah. Keberaniannya sekarang benar-benar jauh berbeda dengan Danendra yang dulu hanya bisa tersenyum pasrah saat aku membentaknya. Jabatan dan waktu ternyata telah membentuknya menjadi pria yang sangat dominan.
"Jangan gila, Pak Danendra. Ini di kantor," desisku sambil melirik kamera CCTV di sudut ruangan.
"CCTV itu sudah mati sejak sepuluh menit yang lalu," jawabnya santai sambil memasukkan flashdisk-ku ke dalam saku kemejanya. Ia kemudian merogoh saku lainnya dan mengeluarkan sebuah kunci motor dengan gantungan kunci berbentuk bintang kecil—gantungan yang dulu pernah kuberikan padanya sebagai hadiah ulang tahun yang bahkan hampir kulupakan.
Hatiku mencelos melihat benda itu masih tersimpan rapi dan mengkilap.
"Ayo pulang, Azzalia. Jangan buat aku melakukan hal yang akan membuat kamu semakin membenciku malam ini," ucapnya lembut, namun nadanya sarat akan ancaman yang nyata.
Dengan perasaan kalah yang amat sangat, aku menyambar tas kerjaku. Aku berjalan melewatinya dengan bahu yang menegang. Zirah besiku tidak lagi sekadar retak; ia hancur berkeping-keping. Dan yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa aku mulai menikmati rasa "kalah" ini setelah sekian lama berjuang sendirian.
Kami berjalan beriringan di koridor kantor yang remang. Suara langkah kaki kami bergema, menciptakan irama yang aneh—sebuah melodi tentang dua orang yang mencoba menjadi asing, namun terikat oleh masa lalu yang menolak untuk mati.
"Jangan berpikir ini adalah kemenangan kamu, Nen," gumamku saat kami sampai di depan lift.
Danendra menoleh, menatap pantulan kami di pintu lift yang mengkilap. "Aku nggak butuh kemenangan, Zal. Aku cuma butuh kamu tetap ada di jangkauan pandanganku. Itu sudah lebih dari cukup."