Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Kita Bertemu Lagi, Vivi.
"Ayo kita putus,"
Ucapan itu membuat Althan terkejut. Tangannya yang sedang merogoh kotak cincin di kantongnya terhenti.
"Apa? Tapi kenapa? Aku salah apa?" tanyanya menuntut penjelasan.
Wajah Vivi tampak dingin. "Aku sudah bosan dengan semua ini Althan. Aku merasa nggak punya masa depan sama kamu,"
"Apa maksud kamu nggak punya masa depan?" Althan menahan kedua lengan Vivi. "Aku sudah merencanakan semua masa depan kita! Aku bahkan sudah beli rumah untuk kita berdua!"
"Aku nggak menginginkannya," Vivi tetap menggeleng. "Aku muak dengan semua ini Althan,"
"Muak? Apa yang bikin kamu muak, Vivi? Apa salahku? Coba jelaskan!"
Vivi menghela napas panjang, lalu menatap Althan lekat lekat. "Aku hamil,"
Genggaman Althan di pundak Vivi mengendur. Matanya membulat. "A-apa?"
Vivi mengeluarkan benda dari dalam tasnya. Sebuah test pack.
"Aku akan menggugurkan Anak ini,"
"Hah?!" Belum habis rasa terkejut Althan dari berita pertama, sekarang ia dibuat makin terkejut dengan berita kedua. "Menggugurkan?! Kenapa? Kenapa harus? Apa salah anak ini?!"
"Bukan anak ini yang salah," Vivi menggeleng. "Tapi keadaan kita,"
"Vivi, please, aku bener bener nggak bisa mencerna semua ini. Aku mau tanggung jawab, jadi please, jangan tinggalin aku, jangan gugurkan anak ini," Althan berlutut, memohon.
"Aku nggak siap punya bayi Althan," Vivi memejamkan mata. "Dan aku yakin, kamu juga nggak akan sanggup,"
Althan mendongak, menggelengkan kepalanya kuat kuat. "Aku sanggup, Vivi. Aku mau bertanggungjawab. Aku mau menghidupi anak kita. Please, pikirkan semuanya dulu, hmm?"
"Oh ya?" Vivi mendengus. "Yakin kamu sanggup? Althan, kamu lupa ya, sekarang status kamu sudah bukan orang biasa lagi,"
Vivi berjongkok, menyamakan tinggi mata mereka. "Sekarang, kamu sudah bukan Althan yang dulu. Kamu adalah seorang artis naik daun yang sedang digemari banyak orang. Bayangkan apa yang akan terjadi kalau fans fans mu tau, kalau kamu punya anak di luar nikah,"
Althan terdiam.
"Althan, sekarang ekonomi kamu sudah jauh lebih baik. Sekarang, kamu sudah bisa membawa ibu kamu ke apartemen yang bagus. Kamu rela, melepaskan semua itu? Kamu bisa kembali ke kamar kos kamu yang kumuh itu?"
Althan menghela napas panjang. "Vivi, dengar aku.."
"Kalaupun kamu mau, aku yang nggak mau," potong Vivi. "Aku nggak bisa mengorbankan masa depan orang lain hanya untuk keegoisan aku, Althan,"
"Kamu bukan orang lain, Vivi.. Kita sepasang kekasih.. Bukannya kita udah janji untuk bersama selamanya?"
"Maaf, Althan," Vivi berdiri, menghempaskan tangan Althan. "Aku nggak bisa memenuhi janji itu. Izinkan aku pergi..."
Air mata Althan luruh sepenuhnya. Hatinya terasa sangat sakit. Saat ini, ia merasa dunia hening, menyisakan dirinya dan suara langkah kaki Vivi yang semakin menjauh.
"Than,"
"Althan,"
"Woy, Althan!"
Althan terperanjat dan sontak terbangun dari tidurnya. Keringat tampak muncul di dahinya, dan pipinya basah oleh air mata.
Barusan itu, mimpi?
"Kamu mimpi buruk ya, Than? Makanya kalau mau tidur pindah dulu ke kamar gih,"
Althan menoleh dan mendapati Roni, sang manajer menatapnya dengan khawatir.
Althan melihat sekeliling. Ternyata sekarang dirinya sedang berada di apartemen, dan tanpa sadar ketiduran di sofa.
"Astaga..." Althan mengusap wajahnya dengan telapak tangan. "Jam berapa sekarang, bang?"
"Masih jam 6. Lanjutin aja tidurnya, nanti aku bangunin jam 8,"
"Oke," Althan mengangguk lemah. "Makasih ya bang, udah bangunin aku,"
"Iya sama-sama. Tapi, apa kebiasaan mimpi buruk kamu muncul lagi? Mau kubuatkan jadwal sama psikolog?"
"Nggak," Althan menggeleng. "Aku nggak apa apa kok bang. Mimpinya juga baru sekali ini aja dateng. Nanti kalau parah, aku bilang sama abang,"
"Syukur deh kalau gitu. Tapi, pokoknya, kalau kamu ngerasa mimpinya udah mengganggu, jangan sungkan buat ngomong ke gue! Oke?"
"Siap bang," Althan terkekeh sembari mengacungkan jempol.
Memang, lima tahun yang lalu, setelah kekasihnya meninggalkannya, dan ibunya meninggal dunia, dunia Althan serasa berbalik. Setiap malam, mimpi buruk selalu datang menghantuinya, membuatnya tidak berani untuk tidur. Akibatnya, Althan menjadi stres, dan emosinya tidak stabil. Untungnya, agensi yang menaunginya segera mengambil tindakan. Didampingi oleh Roni, yang kala itu adalah manajer baru, Althan menjalani pengobatan selama hampir satu tahun. Beruntung, setelah itu kondisinya perlahan tabil.
Tapi, hari ini mimpi itu kembali. Althan juga heran kenapa bisa. Dan setelah diingat ingat lagi, hal itu terjadi setelah pertemuannya dengan MUA yang mengganggu pikirannya kemarin.
"Bang,"
Althan membalikkan badannya yang semula hendak menuju kamar kembali ke arah Roni yang sedang duduk di sofa.
Roni yang awalnya sedang bermain ponsel menoleh. "Kenapa?"
"Nanti jam 8, temenin gue ke salon,"
"Oh, salon yang biasanya? oke, biar aku chat dulu ownernya,"
"Bukan," Althan menggeleng. "Bukan salon itu. Tapi salon tempat Maya, MUA kemarin kerja,"
Dahi Roni sontak berkerut. "Hah?"
...----------------...
Sementara itu, pagi hari di kontrakan tempat Vivi tinggal bersama Mikaila, suasananya sedikit chaos, gara gara wanita itu terlambat bangun pagi.
"Sayang, nanti sarapannya dimakannya di kelas aja ya. Nggak papa kan? Maafin Mama ya, harusnya Mama bisa berangkat lebih pagi," Vivi berkata penuh sesal kepada sang putri.
"Nggak papa Ma.." Mikaila tersenyum. "Udah, Mama cepetan berangkat sana. Nanti telat loh. Jangan sampe dimarahin sama bosnya Mama,"
Vivi mengangkat pergelangan tangan dan menatap jam yang melingkar di sana. "Astaga, sudah hampir jam 8. Ya udah, kalau gitu Mama pamit dulu ya sayang. Muach! Dadahhh!" Vivi segera berlari sambil melambaikan tangan setelah mencium dahi putrinya. Mikaila membalasnya dengan lambaian tangan dan senyuman lebar.
Vivi mempercepat langkahnya menuju halte bus.
Untungnya, salon tempatnya bekerja tidak terlalu jauh, masih bisa ditempuh menggunakan kendaraan umum. Hanya saja, kalau misalnya pelanggan nya banyak dan ia harus pulang sampai larut, terpaksa Vivi harus merogoh kocek lebih banyak untuk memesan ojol.
"Duh, ayo dong, cepetan..." Vivi mengeluh sambil menghitung detik demi detik.
Sebenarnya, bos tempatnya bekerja memang tidak galak. Bosnya itu juga tidak akan marah jika Vivi terlambat. Tapi, sebagai seseorang yang punya prinsip, Vivi berusaha untuk tidak datang telat. Dia bahkan rela bosnya memotong gajinya jika ia telat semenit saja. Etos kerjanya yang tinggi itulah yang membuat bosnya sangat menyayangi Vivi.
Setelah lima belas menit, Vivi akhirnya sampai di halte yang dituju. Segera saja, ia berlari menuju salon tempatnya bekerja yang tidak jauh dari halte.
"Ya ampun, ini masih pagi, kenapa salon udah rame banget?" Vivi tekejut saat ia sampai disana, salon sudah penuh dengan pelanggan yang berkerumun.
"Ada apa ini?" gumamnya bertanya-tanya.
"Permisi, permisi," Vivi berusaha menyibak kerumunan itu, mendorong paksa orang-orang yang enggan beranjak, demi bisa masuk ke dalam salon.
"Vivi!" Mbak Ani, salah satu rekannya yang kerja di salon tersebut segera menarik Vivi, lalu cepat cepat menutup pintu salon sebelum kerumunan orang itu memaksa masuk.
"Ya ampun! kemana aja sih, kamu? kok baru dateng?!"
Vivi menggigit bibir. "Aduh, maaf mbak, aku bangun kesiangan. Tapi, ini sebenarnya ada apa sih? Kok rame banget di depan?"
Mbak Ani tersenyum lebar. "Kita dapat rezeki nomplok, Vi!"
"Oh ya? rezeki apa mbak?"
"Pokoknya nggak bisa dijelaskan pake kata kata deh! Ayo, ayo, mending kita langsung masuk aja, kamu udah ditunggu!"
"Hah? ditunggu? sama siapa?"
Tanpa menjawab pertanyaan Vivi, Ani sudah menarik Vivi terlebih dulu menuju ruang VIP. Vivi tentunya heran, siapa gerangan orang penting yang sudah ke salon mereka pagi pagi begini? Karena biasanya ruangan itu hanya diisi oleh ibu ibu pejabat, dan itupun hanya setahun beberapa kali saja.
"Mbak!" Ani langsung berteriak saat mereka sudah masuk ke ruangan. "Ini Vivi nya sudah datang!"
Semua orang yang ada di sana sontak menoleh ke arah Vivi.
Vivi yang bingung dengan semua ini hanya bisa mematung, otaknya sibuk bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi. Sampai...
"Halo Vivi,"
suara itu membuat Vivi terbelalak.
Kursi yang ada di depan meja rias berputar, memperlihatkan sosok pria tampan yang selama ini berusaha Vivi hindari. Berbanding terbalik dengan reaksi Vivi, pria itu malah tersenyum lebar.
"Kita bertemu lagi," sapa Althan.
semoga althan segera tau kebenaran ny ,, klo vivi ninggalin dy krn Selina ,,
mungkin vivi di bawah ancaman Selina ,,
next kak
kalau kamu g membuat mereka berpisah juga g bakalan mereka pisah😡
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
sebenarnya vivi juga pengin ngaku kalau Mikaila anak althan, tapi dia takut kejadian masa lalu terulang kembali.
harusnya Vivi terus terang kenapa dia dulu ninggalin althan, biar althan kasih pelajaran sama wanita serakah itu kalau kebahagiaan althan sama Vivi g bakalan menghambat karirnya.
yang bukan dari harga, tapi dari nilainya siapa yang memberi dan kenanganny😭😭😭😭
sabar vi semua pasti akan terungkap tanpa harus kamu bicara