Kianara Shernon Abraham
Seorang gadis berfrofesi aktrist berkarakter periang yang begitu tergila-gila pada novel berjudul “Save The Male Lead” tiba-tiba bertansmigrasi menjadi salah satu karakter novel yang sangat dibenci para pembaca yaitu Kianara Genevivie Anwealda.
Ya, karakter antagonis yang menjadi salah satu sumber penderitaan pemeran utama pria. Pun dengan suami yang sangat tidak peduli dengan istri bahkan anak nya. Bagaimana perjalanan kisah selanjutnya, ikuti jalan penuh lika-liku novel ini yang akan membawa kejutan ditiap plotnya.
Update 2-3 kali dalam seminggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyn_11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Kereta keluarga duke berhenti tepat di depan deretan butik kelas atas ibu kota. Lambang keluarga Awealda terukir jelas di pintunya—tidak ada penyamaran, tidak ada keraguan tentang siapa mereka.
Kianara turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan pada Arcelio.
“Pegang tangan Ibu. Jangan berlari,” ucapnya lembut.
Arcelio mengangguk patuh. Siang ini ia mengenakan pakaian sederhana namun nampak lucu jika dikenakannya, jauh dari busana resmi yang biasa membebaninya. Matanya berbinar melihat etalase-etalse kaca berisi pakaian jadi dengan berbagai model dan warna yang tampak menarik perhatian semua kalangan khususnya para bangsawan.
Mereka memasuki sebuah butik yang terkenal akan kualitas kainnya. Butik La Cauronne yang artinya Mahkota. Ya, karena ditempat ini merupakan butik langganan para bangsawan kelas atas untuk menunjukkan status sosial mereka karena memang harga yang harus merogoh kocek yang dalam, namun sepadan dengan kualitas dan kuantitas barang yang butik ini miliki. Tak hanya pakaian, mereka juga menjual beragam macam aksesori yang mana para bangsawan sukai. Bahkan butik ini menjadi langganan keluarga kekaisaran setiap akan mengadakan perjamuan pesta, maupun acara-acara formal lainnya.
Kedatangan mereka di sambut oleh pemilik butik dan beberapa pelayan dengan hormat. begitu mendengar kereta keluarga bangsawan ini di depan, tentu saja pemilik butik yang bernama Marianna menyambut langsung.
“Selamat datang Yang Mulia Grand Duchess. Ada yang bisa kami bantu? Tidak biasanya anda datang kemari secara langsung. Biasanya anda cukup memanggil kami untuk membuat dan mengukur pakaian.”
"hanya ingin saja, sekalian mengajak anakku jalan diluar," jawab lugas Kianara.
Marianna tersenyum sopan seraya menunjukkan beberapa katalog model pakaian baik dari gaun maupun pakaian anak-anak yang sedang menjadi tren di lingkungan bangsawan saat ini.
Kianara membolak-balik halaman demi halaman katalog itu menimbang manakah yang cocok jika digunakan oleh Arcellio. Menurutnya, semuanya akan tampak lucu dan menggemaskan jika pakaian ini di kenakan oleh sang putra. Rasanya ia ingin mengambil semua jenis baju itu. Tapi ditahannya demi melihat sang putra yang nampak berbinar melihat berbagai model pakaian jadi di depannya.
"jika ingin model terbaru, saya akan buatkan sesuai dengan keinginan anda dan tuan kecil Grand Duchess.''
Kianara mengangguk singkat tanpa menjawab. Ia lebih tertarik pada reaksi Arcelio yang memegang ujung kain linen biru pucat.
“Ini dingin di kulit,” gumam anak itu polos.
“Kalau begitu cocok,” balas Kianara. “Kau tidak suka baju yang berat, bukan?”
Arcelio tersenyum kecil. Ia sangat menyukai model dan bahan kain itu. meskipun terkesan simpel namun masih terlihat elegan dan akan sangat nyaman untuk tubuh mungilnya. Apalagi ini pertama kalinya ia membeli pakaian bersama sang ibu. Sungguh keinginan sederhana yang dari dulu selalu ia dambakan.
Kianara berbalik menoleh kearah Marianna yang tampak siap dengan buku sketsa serta penanya.
''kalau begitu tolong buatkan beberapa model dan bahan yang serupa dengan yang dipegang putraku. Jangan lupa untuk aksesoris dan sepatu yang senada. Ah, juga yang ada didalam katalog ini juga. Semua antarkan di kediaman Grand Duke Anwealda.''
Marianna mengangguk paham. Lalu ia memerintahkan para anak buahnya untuk mempersiapkan pakaian yang telah jadi dan untuk yang belum jadi akan segera ia garap sendiri yang nantinya dikirim bersamaan. Sejenak ia menjeda, menatap kembali Kianara yang kembali fokus menatap Arcellio.
"Grand Duchess, saya ada hal yang perlu dibicarakan dengan anda perihal butik ini seperti yang sebelumnya saya sampaikan. Bisakah anda meluangkan waktu sebentar?'' tanya Marianna.
Kianara langsung ingat. Benar. Tempat ini adalah salah satu bisnis yang pemilik asli tubuh ini jalankan sebelum menikah dengan Agerald secara rahasia. Sampai saat ini banyak orang yang sangat penasaran dengan sosok asli pemilik butik ini yang diyakini milik orang yang misterius. Meskipun watak Kianara yang dulu sombong, egois nan arogan, tapi dibalik itu semua diam-diam ia memiliki beberapa bisnis yang diketahui maupun yang tidak diketahui oleh keluarga, teman, juga berbagai kalangan.
Ah, jika diingat memang Kianara asli bertemu dengan Marianna di sebuah desa kecil yang saat itu sedang kekurangan. Keluarga Duke Ferentie yang saat itu membantu dan tentunya Kianara yang mau tidak ikut serta dalam pembagian pasokan makanan, obat-obatan, dan beberapa tenaga kerja untuk membangun kembali desa yang terkena bencana itu. Saat Kianara berjalan mengelilingi desa, ia tak sengaja bertemu dengan Marianna yang saat itu sedang menggambar sebuah gaun juga ada beberapa pola kasar di sekitarnya. Merasa bahwa gambar itu menarik perhatiannya, akhirnya Kianara membawa Marianna untuk ia sekolahkan dan dijadikan bawahannya sampai ia membuka sebuah butik dengan Marianna sebagai pembuatnya.
Lamunan Kianara terpecah oleh teh dan kudapan yang telah dinikmati putranya itu. Ia mengelus lembut surai Arcellio dan tersenyum. Arcellio menoleh bingung pada ibunya.
''ada apa ibu?'' tanya Arcellio bingung.
''ibu tinggal sebentar ya sayang. Tak akan lama. Hanya beberapa menit, untuk berbicara pada bibi Marianna. Lihat-lihat lah sekitar. Barangkali ada aksesoris lain yang menarik minat mu,'' anggukan gemas Arcellio menjadi tanda persetujuan untuk sang ibu pergi meninggalkannya sejenak.
Saat punggung sang ibu hilang dari pandangannya, ia lanjut melihat sekeliling sembari menikmati manisnya kudapan yang telah tersaji didepannya.
Namun ketenangan itu pecah ketika suara tawa nyaring terdengar dari sisi lain butik.
“Lihat, dia benar-benar ada.”
Seorang anak laki-laki lain melangkah mendekat. Usianya sekitar delapan tahun, dengan pakaian mahal dan sikap sombong yang terlalu dewasa untuk anak seusianya. Di belakangnya berdiri dua anak seusianya yang setia mengikuti dimanapun ia berada. pelayan keluarga Count Raveind—keluarga yang memiliki hubungan darah jauh dengan ayah Arcelio berdiri sedikit jauh dari anak-anak itu.
Anak yang bernama Ferdy Raveind itu menatap Arcelio dari ujung kepala hingga kaki. Tersenyum meremehkan yang kentara terlihat dibibirmya. Sementara kedua temannya hanya melihat tanpa mau ikut campur. Mereka tahu meski anak didepannya itu kurang dipedulikan oleh orang tuanya, namun tetap saja nama keluarga Grand Duke Anwealda membuat keluarga bangsawan lainnya bergetar ketakutan. Jangan lupakan keluarga ibunya yang adalah keluarga Duke Ferentie yang pengaruhnya begitu kuat.
“Jadi kau anak itu?” ujar Ferdy. “Anak yang bahkan keluarga orang tuanya sendiri tidak mau mengakuinya.”
Tangan Arcelio mengendur. Cangkir teh di tangannya jatuh begitu nyaring diatas meja. Ia menatap penuh syarat makna kearah orang-orang didepannya. Sedangkan para pengawal dan pelayan duke mendekat setelah terdengar keributan di dalam butik. Terlihat sang tuan muda yang tengah menatap tajam-tatapan yang belum pernah mereka lihat pada sekumpulan anak didepannya.
“Apa maksudmu?” tanyanya lirih.
Anak Count itu menyeringai.
“Nenekku bilang, kau hanya kesalahan. Anak yang tidak diinginkan. Makanya jarang diajak ke acara keluarga.”
Kata-kata itu menusuk—terlalu tajam untuk anak sekecil Arcelio. Ia menunduk, jari-jarinya gemetar, napasnya menjadi pendek. Sejenak ia memejamkan mata. Ia mengingat kilasan memori tadi pagi bersama ibunya. Dimana begitu hangat dan nyamannya pelukan seorang ibu.
Tidak. Ia tak akan bersedih lagi. Ia bisa melihat perlakuan ibunya yang menjadi begitu baik padanya. Ia tak akan goyah dengan perkataan jahat orang didepannya itu. Walaupun usianya masih kecil, tetapi ia teringat didikan yang diberikan oleh gurunya jika sebagai penerus keluarga Grand Duke Anwealda tidak boleh lemah hanya karena sebuah kalimat jahat. Ia kuat.
Kianara yang tadinya ingin mengambil saputangannya yang tertinggal mendengar semuanya.
Ia tidak langsung mendekat. Hanya mengamati beberapa saat seperti apa rupa anak yang mengatakan hal keji itu, matanya jatuh pada sosok anak keturunan bangsawan dari Count Raveind. Lalu ia melangkah maju dan berdiri di depan Arcelio, tubuhnya membentuk perisai tanpa perlu diperintahkan.
“Ulangi perkataanmu,” ujar Kianara.
Suaranya tenang. Terlalu tenang. Namun, dingin yang kentara begitu menusuk.
Anak itu ragu sejenak, namun gengsinya menahan rasa takutnya.
“Aku hanya mengatakan kebenaran, Yang Mulia. Dia—”
“Kebenaran versi siapa?” potong Kianara.
Butik menjadi sunyi.
Ia menatap anak itu lurus, tatapan seorang wanita yang sudah terlalu lama hidup di dunia politik dan tahu betul bagaimana kata-kata bisa membunuh lebih dalam daripada pedang.
“Dengarkan aku baik-baik,” lanjut Kianara.
“Arcelio Awealda lahir dengan nama yang sah, darah yang sah, dan hak yang tidak bisa kau, nenekmu, atau siapa pun cabut hanya dengan ucapan.”
Pengawal Count itu saling bertukar pandang.
Kianara menurunkan tubuhnya sedikit, sejajar dengan tinggi anak itu.
“Jika kau mendengar gosip orang dewasa,” ucapnya pelan,
“itu bukan untuk kau ulangi—melainkan untuk kau pertanyakan.”
Anak itu menelan ludah.
“Kau cucu keluarga terhormat,” lanjut Kianara.
“Namun kehormatan tidak diwariskan lewat gelar, melainkan lewat perilaku.”
Ia berdiri kembali, lalu mengulurkan tangan ke arah Arcelio.
“Arcellio,” panggilnya lembut.
Arcellio mendongak. Matanya berkaca-kaca. Terharu oleh pembelaan sang ibu. Tak dapat dipungkiri, hatinya menghangat.
“Kau dengar apa yang Ibu katakan,” ujar Kianara sambil mengusap pipi anaknya.
“Kau bukan anak yang tidak diinginkan.”
Ia menggenggam tangan Arcelio erat.
“Kau adalah anak yang dilindungi, disayangi, dan seorang tuan muda dari Grand Duke Anwealda sekaligus cucu dari keluarga Duke Ferentie . Tak ada yang lebih terhormat dari itu. Jangan pernah tunduk pada mereka yang berbuat buruk padamu.”
Tanpa memberi kesempatan siapa pun bicara, Kianara melangkah keluar dari butik, meninggalkan keheningan dan wajah-wajah pucat di belakangnya.
Kianara berhenti sejenak menatap Marianna yang baru saja berlari saat seorang pegawai yang memberi tahu keributan yang terjadi di depan. Ia membungkuk hormat seraya meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi hari ini.
"kirimkan barang yang hari ini dipesan. Untuk masalah pekerjaan yang tertunda tadi, aku minta untuk kau datang saat semuanya sudah dipersiapkan,'' Kianara berbalik menatap satu persatu anak pembuat masalah juga pelayan keluarga anak itu penuh peringatan.
''urusan ini belum selesai. Akan ku tagih setiap balasan akan perkataan dan perilaku tidak sopan mu itu. Jangan coba-coba dengan dua keluarga besar yang nantinya akan membuat kalian menyesal!?'' tanpa berkata panjang lagi, ia berbalik pergi meninggalkan beberapa orang yang terduduk pucat pasi.
Di luar, mereka berjalan menuju kedai kudapan kecil di ujung jalan. Arcelio masih diam, namun genggaman tangannya pada Kianara tidak lagi gemetar.
“Ibu…,” panggilnya pelan.
“Apakah aku salah karena lahir?”
Kianara berhenti. Ia berlutut, menatap anaknya dengan penuh keyakinan.
“Tidak,” jawabnya tanpa ragu.
“Kesalahan satu-satunya di dunia ini adalah orang dewasa yang lupa bagaimana caranya menjadi manusia.”
Arcelio memeluknya. Menyalurkan semua perasaan yang terjadi hari ini. Benar, tidak ada yang perlu ditakutkan, karena ia lahir dari dua keluarga besar yang sudah sepatutnya tidak mendapat perilaku buruk orang lain, terlebih lagi dari orang yang memiliki hati dan perkataan yang buruk.
Dalam hati Kianara berjanji akan memberi perhitungan kepada Count Raveind terutama kepada bibi sang suami yang telah menyebarkan racun kepada keluarganya.
...****************...