Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.
Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.
Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.
Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 — Latihan Bersama Lagi
Kali ini Keenan tidak lagi datang telat, tapi bukan berarti tidak akan ada masalah.
Latihan tambahan yang seharusnya hanya memakan waktu sepuluh menit—passing ringan, ritme, sedikit footwork—tetap saja berubah jadi ajang adu napas dan ego.
"Lagi," perintah Rakha sambil melempar balik bola. Napasnya sudah terdengar berat, bukan karena lelah, tapi karena kesal yang menumpuk.
Keenan menangkap bola dengan satu tangan, memutar pergelangan seolah memamerkan sesuatu. "Serius? Dari tadi gue udah ngelakuin bagian gue."
"Bagian lu tuh cuma setengah," balas Rakha cepat. "Gerakan lu berantakan banget."
Alis Keenan terangkat. "Berantakan? Atau standar lu aja yang nggak masuk akal, Kapten."
Rakha meremas ujung jersey-nya sendiri, menahan diri. Ia menarik napas panjang, bukan untuk menenangkan diri, tapi untuk menghentikan diri dari meledak.
"Ulang," katanya datar. "Sekarang juga."
Keheningan tipis menyelinap di antara mereka.
Lalu… detik berikutnya, bola terbang.
Tapi bukan menuju Rakha.
Bola itu melesat ke udara, tinggi sekali, sampai Rakha refleks mendongak.
Dan Keenan, alih-alih menunggu bola itu jatuh, ia sudah melangkah pergi, langkahnya begitu cepat seperti ingin kabur dari semuanya sekaligus.
Rakha baru sadar Keenan benar-benar pergi ketika bola itu jatuh dug di tanah, memantul pelan. Kosong. Hampa.
"KEENAN!" seru Rakha.
Langkah itu tidak berhenti.
Tidak melambat.
Tidak ada angin menandakan penyesalan.
Tidak ada gerakan kecil yang menunjukkan ia mendengar.
Hanya punggung Keenan yang semakin menjauh.
Rakha memijit pelipisnya keras. "Sialan…" desisnya, tapi nada itu lebih terdengar seperti kekhawatiran yang disamarkan dengan marah.
Anak-anak lain langsung pura-pura. Ada yang ngikat sepatu padahal dari tadi udah rapet. Ada yang minum dari botol kosong. Semuanya tahu bahwa ini bukan saat yang tepat untuk buka mulut.
Rakha sempat ingin membiarkan Keenan pergi.
Biar hilang sendiri. Biar sadar kalau latihan ini bukan main-main. Biar kapok.
Tapi ia juga tahu satu hal. kalau Keenan lagi kesal, dia bisa melakukan apa saja.
Dan hari ini… aura 'gue-nggak-peduli-lagi' di Keenan itu terlalu kuat, sampai bikin Rakha nggak tenang.
Rakha mendecak, mengambil botol minumnya dengan gerakan kesal yang justru terlihat gelisah. "Gue cari dia bentar," katanya, meski sebenarnya nggak ada yang cukup penting untuk dijelaskan.
Tanpa menunggu respons, Rakha langsung berlari keluar—setengah marah, setengah cemas, dan sepenuhnya tidak siap menghadapi kenyataan bahwa ia peduli… jauh lebih dari yang ia mau akui.
...----------------...
Keenan ternyata tidak langsung pulang.
Rakha menemukannya dari jauh—di parkiran kecil belakang sekolah, berdiri sendiri di samping motornya. Keenan membuka helm half-face dengan gerakan kesal, meletakkannya di jok.
"Gila… dia beneran mau ngebut-ngebutan," bisik Rakha.
Dari balik tembok sekolah, Rakha mengawasi. Suara motor meraung pelan ketika Keenan memutar kunci. Suara itu memenuhi udara sore yang seharusnya tenang.
Keenan merapikan rambutnya asal-asalan, sangat asal, seolah hanya perlu melakukan sesuatu supaya tidak meledak. Lalu ia naik ke motor tanpa ragu, tanpa lihat kiri-kanan, tanpa pikir panjang.
Rakha memejam mata sebentar.
Ia kesel sama orang itu. Ia capek menghadapi sikapnya. Tapi bayangan Keenan ngebut dalam keadaan emosional bikin perut Rakha langsung kaku.
"Anak ini kalau nekat… nekat beneran," gumam Rakha pelan.
Akhirnya ia mengembuskan napas panjang, napas yang terdengar pasrah sekaligus peduli.
"Terserah lah… gue pantau dikit aja," katanya, meski ia tahu betul itu bohong. Ini bukan sekedar 'pantau dikit' tapi ia beneran panik setengah mati.
Rakha melirik kiri-kanan, mencari sesuatu yang bisa dia pakai. Yang ada hanya… sepeda sekolah reyot yang sering dipakai buat muter lapangan.
Ia menatap sepeda itu lama.
"…serius?" Rakha menepuk dahinya sendiri. "Kalau gue naik motor, dia pasti sadar. Tapi kalau naik ini…"
Ia menghela napas frustrasi. Tetap saja ia menarik sepeda itu keluar.
Dengan gerakan malas tapi terpaksa, Rakha naik ke sepeda itu. Ban depannya sedikit kempes, joknya agak miring, tapi cuma itu satu-satunya pilihan.
"Dasar Keenan… bikin gue ngelakuin hal-hal bodoh begini," gerutunya.
Perlahan, Rakha mulai mengayuh, menjaga jarak aman di belakang. Menjaga agar Keenan tidak melihatnya.
Karena kalau Keenan tahu Rakha mengikutinya, habis sudah gengsi keduanya.
Tapi tetap saja… Rakha mengikuti.
Karena sebenarnya, ia lebih takut kehilangan Keenan daripada mengaku peduli.
...----------------...
Keenan seketika melajukan motornya ke jalan belakang sekolah—jalan sempit yang selalu jadi arena balapan iseng anak-anak. Bukan balapan sungguhan, lebih seperti… siapa paling cepat melupakan masalah.
Rakha mengikuti dari jauh.
Dan pemandangan itu, sejujurnya bikin dia ingin melempar sepeda ke kepala Keenan.
Keenan berdiri sedikit di footstep, tubuh condong ke depan, membiarkan angin menampar wajahnya. Motornya melaju cukup cepat untuk ukuran jalan kecil, tidak sampai membahayakan nyawa, tapi cukup buat bikin jantung orang lain kontraksi.
"Dia pikir hidupnya anime dominan angin apa…" Rakha menggerutu sambil mengayuh sepeda yang ban depannya hampir protes.
Ia mempercepat kayuhannya, bukan karena ingin menyusul… tapi karena napasnya tiba-tiba ikut panik sendiri.
Tikungan pertama, Keenan mulus.
Tikungan kedua, ia makin miring.
Tikungan ketiga—Rakha mencengkeram stang sepeda kuat-kuat.
Roda belakang motor Keenan tergelincir sedikit di atas pasir aspal. Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk bikin Rakha nyaris refleks menjatuhkan sepedanya sendiri.
Namun Keenan berhasil menyeimbangkan lagi. Lalu, ia tertawa pendek.
Tawa yang aneh. Tawa yang jelas bukan karena lega. Lebih seperti seseorang yang sudah kelewat penuh, lalu mencoba membuang emosinya lewat suara paling tipis.
"Gila… dia ketawa?" Rakha hampir tidak percaya. "Bocah ini beneran udah nggak stabil."
Tapi di balik kesal itu… ada rasa lega yang menyesakkan. Bahwa Keenan masih bisa tertawa, meski tawa yang terdengar patah.
Rakha terus mengikuti sampai Keenan memperlambat motor dan berhenti di sebuah taman kecil dekat perumahan belakang sekolah. Tempat sepi yang sering anak-anak gunakan buat bolos atau kabur sebentar dari keramaian.
Keenan mematikan motornya perlahan. Turun dari motor dan hanya berdiam.
Benar-benar diam.
Tidak memukul setang.
Tidak menendang batu.
Tidak memaki.
Ia hanya berdiri, seperti tidak tahu harus melakukan apa dengan semua emosi di dadanya.
Rakha menurunkan kecepatan sepedanya perlahan, berhenti agak jauh di balik pohon besar. Ia menahan napas, memandangi Keenan dari bayangan.
Untuk pertama kalinya hari itu… Keenan terlihat tidak marah. Tidak defensif. Tidak pura-pura kuat.
Hanya… kosong.
Kosong dengan cara yang membuat Rakha ingin mendekat, tapi gengsinya langsung menampar balik.
Rakha menelan ludah, menunduk sebentar.
"…Sial. Gue nggak suka lihat dia gitu," gumamnya lirih.
Dan untuk beberapa detik, Rakha hanya berdiri di sana, membiarkan jarak memisahkan mereka—tapi jarak itu tidak pernah cukup jauh untuk mematikan kepeduliannya.
Keenan tiba-tiba menendang kerikil kecil. Suaranya pelan, tapi jelas lelah.
"Kenapa sih gue nggak bisa santai satu hari aja…"
Rakha refleks ingin menjawab. Lidahnya sudah siap bergerak, tapi ia menggigit bibir.
Ia tidak datang untuk adu bacot dengan Keenan. Ia cuma… memastikan bahwa Keenan tidak masuk UGD. Itu saja, tidak lebih.
Setelah beberapa menit, Keenan akhirnya duduk di tanah, menarik lututnya, dagu bertumpu. Gerakannya seperti seseorang yang kehabisan bensin.
Ekspresinya… kosong.
Bukan marah.
Bukan sedih.
Lebih seperti seseorang yang terlalu capek untuk pilih emosi mana yang harus dia tunjukkan.
Rakha menunduk.
Ada sesuatu di dadanya yang mengencang, campuran ingin menepuk bahu Keenan dan ingin menamparnya karena bikin orang lain ikut kepikiran.
Bocah ini bikin ribut, bikin drama, bikin orang naik darah saja.
Tapi ketika sendirian… dia selalu terlihat paling rapuh.
Rakha menghela napas panjang, hampir seperti menyerah.
"Ya ampun, Keenan…" bisiknya pelan. "Lu kenapa sih selalu milih buat lari."
Ia ingin mendekat. Ingin duduk di sebelah Keenan meski cuma diam. Ingin bilang, 'lu nggak sendirian, tolol.'
Tapi gengsinya terlalu keras, mengunci kakinya di tempat.
Akhirnya Rakha memutar balik perlahan, memilih pulang lewat jalur lain agar Keenan tidak tahu bahwa ia sempat mengikutinya dari jauh.
Saat langkahnya menjauh, angin sore membawa suara lirih Keenan.
"Gue beneran nggak ngerti cara jadi orang baik di depan lu, Rakh…"
Kata-kata itu tidak dimaksudkan untuk didengar siapa pun.
Tapi Rakha mendengarnya.
Ia berhenti.
Bahunya naik sedikit, seakan kalimat itu mengenai tempat yang lembut dan nyeri sekaligus.
Namun ia tidak menoleh.
Ia menatap langit yang mulai gelap, lalu menjawab dengan suara yang bahkan lebih pelan, hampir seperti rahasia yang ia sembunyikan dari dirinya sendiri.
"Gue juga nggak ngerti cara berhenti peduli sama lu, Keenan…" Rakha menunduk, suaranya semakin tipis. "Lu kayak bom waktu buat gue. Entah sejak kapan…"
Di belakang, Keenan masih saja berdiam.
Hingga akhirnya ia hanya menendang kerikil kecil lagi, kesal pada dunia, pada Rakha, pada dirinya sendiri… tapi juga mencoba bernapas lebih stabil.
Keduanya pulang lewat arah yang berbeda. Sama-sama gengsi.
Tidak ada yang selesai hari itu. Tapi anehnya… jarak di antara mereka terasa berbeda.
Tidak selebar sebelumnya.
Padahal mereka baru saja melepaskan bagian dari diri mereka, bagian yang tidak pernah mereka kasih lihat pada siapapun.
Bagian yang bahkan mereka sendiri belum ngerti. Atau lebih tepatnya mereka belum mau mengerti.
kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭