Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.
Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.
Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.
Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.
Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3B. Pertemuan di Kafe
Tidak semua hujan membawa kesedihan.
Kadang, ia datang untuk membersihkan yang salah.
...Happy Reading!...
...*****...
Satu minggu sudah berlalu sejak malam penuh kejutan itu.
Aku belum bicara sepatah kata pun ke Bima.
Dia juga belum menjelaskan apa-apa.
Tapi jujur saja, aku terlalu sibuk untuk mengurus manusia semacam dia.
TING.
Pesan masuk. Nama di layar: Bima.
"Dek, kita harus ketemuan hari ini.
Adek aneh banget selama beberapa hari ini gak balas pesan abang.
Abang udah sampai di kota lagi.
Nanti kita ketemu di kafe biasa setelah adek pulang kerja.
Abang tunggu. See you, my love."
Ck.
Panggilan "my love" sekarang terdengar seperti sendok karatan menggesek papan tulis.
Mau tidak mau, aku harus menemuinya.
Bukan untuk berdamai, tapi untuk menyudahi semuanya.
"Oke, saya tunggu di kafe biasa."
Balasku singkat. Padat. Seperti kalimat vonis.
Lucu ya.
Dulu panggilan itu bisa bikin senyum-senyum sendiri.
Sekarang malah terasa seperti kutukan.
Belum sempat menata hati, ponselku kembali berbunyi.
TING.
Dari: Rani.
"Mbak, saya juga sudah berada di kota yang sama.
Boleh kita ketemuan hari ini?"
Oh.
Pemeran utama kedua akhirnya datang juga.
"Datang saja ke kafe XX pukul lima sore."
Dia langsung setuju.
Baiklah.
Hari ini akan menjadi titik akhir dari drama panjang berjudul tunangan.
Dan kali ini, aku bukan pemeran cadangan.
Aku penulis naskahnya.
...*****...
Pulang kerja, aku langsung menuju kafe langganan.
Bima sudah di sana, duduk manis dengan segelas teh tawar.
Sok kalem, padahal isinya badai.
Dia berdiri saat melihatku datang.
Kalem. Gentleman palsu.
Kalau dulu aku mungkin senyam-senyum bahagia,
sekarang rasanya ingin nyiram mukanya dengan es kopi dan bilang,
"Cool act kamu expired, Bang."
Aku duduk, menatapnya lurus.
Biar dia gelisah. Biar dia tahu, waktunya sudah habis.
Tangannya bergerak hendak menggenggam tanganku.
Aku menepis cepat, refleks seperti atlet voli.
"Adek, ada apa sih?"
"Ada yang mau saya bicarakan."
Dingin. Tegas.
Dia tertawa canggung.
"Lho, kok formal gini? Biasanya nggak gini loh kamu ke abang."
"Sumpah, jijik banget ngomong abang-adek gini.
Lo bukan abang gue, dan gue juga bukan adik lo."
Mata Bima melebar.
"Diam. Panggil gue Cayra, atau gue cabut."
"Oke, Cayra. Ada apa?"
Aku menarik napas.
Lalu dengan mantap, kulepas cincin dari jari manis dan kutaruh di meja.
"Gue mau pertunangan kita selesai."
Wajahnya memucat.
"Kenapa? Apa salah aku?"
"Lo nggak pernah bawa gue ke keluarga lo.
Lo cuma nyenengin keluarga gue. Udah cukup."
Dia menunduk, lalu mulai ngeles.
"Aku udah coba, tapi keluargaku menolak."
"Tentu aja menolak. Karena lo udah punya tunangan lain, kan?"
Bima terdiam.
Senyap.
"Daripada buang waktu, mending kita sudahi semuanya."
Dia malah menatapku lembut, seperti nggak merasa bersalah sama sekali.
"Kita nikah. Tapi nikah siri dulu ya."
TUAKK!
Kupukul meja. Semua orang menoleh.
"Lo pikir gue murahan?!"
"Ya, setidaknya kamu udah nikah, keluarga kamu gak bakal nuntut lagi."
"Mending gue sewa suami kontrak aja daripada nikah siri sama lo!"
Suasana makin panas.
Dan tiba-tiba-
"Mas Bima..."
Suara lirih dari arah belakang.
Kami berdua menoleh.
Seorang perempuan berdiri. Rambut dikuncir sederhana.
Wajah pucat, tapi tegas.
"Rani?"
Rani menatapku. Aku menatap balik.
Hening tiga detik. Tapi cukup untuk tahu siapa yang paling terluka.
"Saya minta maaf, Mbak Cayra," katanya lembut.
"Saya nggak tahu Mas Bima sudah bertunangan sama Mbak."
Aku mengangguk pelan.
"Semoga kalian bahagia bersama anak itu.
Silakan lanjutkan sinetron kalian. Gue pamit dari episode ini."
Aku pergi - bukan sebagai korban,
tapi sebagai perempuan yang akhirnya sadar harga dirinya.
...*****...
Langit sore mendung.
Aku berjalan menyusuri trotoar, langkah pelan tapi mantap.
Sampai hujan turun perlahan.
Aku berteduh di halte sepi.
Tiba-tiba, sebuah payung hitam tergeletak di bangku.
Aku menunduk, mengambilnya.
Di gagangnya ada stiker kecil - emoji kutu buku.
Emoji yang familiar. Dari masa lalu.
Entah kenapa, aku merasa payung ini ditinggalkan untukku.
Pelindung kecil di tengah badai besar.
Aku buka payung itu, lalu melangkah pulang di bawah hujan.
Untuk pertama kalinya dalam seminggu, langkahku terasa ringan.
Mungkin ini bukan akhir.
Mungkin... ini awal baru.
Dan semoga kali ini,
yang bawa payung... bukan cowok brengsek lagi.