NovelToon NovelToon
Mafia'S Innocent Love

Mafia'S Innocent Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Balas Dendam / Persaingan Mafia
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nanda wistia fitri

Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.

Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.

Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Malam itu udara London terasa menusuk.

Xerra pulang dengan langkah berat, tubuhnya letih setelah seharian kuliah dan bekerja part time sebagai pelayan di sebuah kafe kecil di pusat kota.

Biasanya ia bekerja sebagai desainer lepas menggambar gaun, membuat konsep kostum tapi hari itu pesanan sedang sepi, sehingga ia harus menambah shift di kafe agar bisa membeli kebutuhan kuliah bulan depan.

Begitu pintu utama rumah terbuka, aroma parfum mahal dan kopi hitam memenuhi ruang tamu.

Paman Maxim dan Bibi Melanie duduk rapi di sofa, wajah mereka tersenyum lebar… senyum yang langsung membuat bulu kuduk Xerra berdiri.

Di samping mereka, dua pria asing mengenakan setelan hitam duduk dengan postur terlalu formal untuk tamu biasa.

Xerra langsung tahu ini bukan pertemuan biasa.

Melanie berdiri sambil menepuk tangan kecilnya, berpura-pura senang.

“Xerra sayang, akhirnya kamu pulang. Kemarilah, duduk sebentar. Ada yang ingin paman dan bibi bicarakan.”

Nada suaranya terlalu manis, sampai membuat Xerra hampir mendengus.

Bibi Melanie manis?

Itu sama anehnya dengan hujan turun di dalam ruangan.

Namun Xerra tetap melangkah masuk, menutup pintu dengan hati-hati.

Ia mengendurkan syal dari lehernya, meletakkan tas kerja ke meja, kemudian duduk di ujung sofa yang paling jauh dari mereka.

Ia menyilangkan kaki dan menatap semuanya dengan senyum tipis.

“Ada apa, Bi? Tumben sekali ada sambutan hangat seperti ini.”

Nada suaranya ringan, tapi matanya penuh kewaspadaan.

Maxim memaksa tertawa kecil.

“Kamu ini… selalu bercanda. Kami hanya ingin berdiskusi tentang masa depanmu.”

Masa depan?

Xerra hampir tertawa.

Biasanya mereka tidak peduli apakah ia makan atau kelaparan, apalagi masa depan.

Salah satu pria asing itu menatap Xerra seperti sedang menilai barang lelang.

Xerra langsung tahu

Ada transaksi. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan.

Melanie menyeringai dan merapikan gaunnya sebelum berkata

“Kau tahu, sayang… kehidupan tidak mudah. Paman dan bibi sudah merawatmu sejak kecil. Kami ingin memastikan kau mendapatkan… kehidupan yang lebih baik.”

Xerra mendengarkan, namun senyumnya tidak hilang.

Ia menyandarkan punggung dan berkata dengan pelan

“Kehidupan yang lebih baik untuk siapa? Untukku atau untuk kalian?”

Kedua pria asing itu saling melirik.

Maxim tersenyum kaku, tapi matanya mulai tegang.

“Kau jangan bicara seperti itu. Kami hanya ingin memperkenalkanmu pada… calon keluarga baru.”

Keluarga baru?

Xerra menahan tawa.

Ia langsung tahu arah pembicaraan.

Melanie mencondongkan tubuh ke depan, menatap Xerra dengan mata licik.

“Mereka orang baik, kaya, dan… berminat padamu. Kau harus bersikap sopan malam ini.”

Xerra mengangkat alis.

“Ah… jadi aku mau kalian jual lagi, ya? Berapa harga kali ini? Lebih mahal dari yang kemarin?”

Suasana mendadak membeku.

Pria asing itu langsung menatap Melanie.

Melanie menegang. Maxim memerah.

Xerra tersenyum santai, menggoyangkan kakinya.

“Apa aku salah? Biasanya kalian tidak pakai acara manis begitu kalau bukan mau dapat uang.”

Melanie menggertakkan giginya, tapi mencoba tetap tersenyum karena ada tamu.

“Xerra, jaga sikapmu!”

Xerra bersandar lebih santai lagi.

“Aku sudah jaga sikap, Bibi. Kalau tidak, dari tadi aku sudah bilang hal yang sebenarnya… bahwa kalian menjualku seharga tiga puluh ribu dolar ke rumah hiburan murahan tiga hari yang lalu.”

Pria asing itu tersentak.

Benar-benar tidak menyangka.

Maxim mencoba menyelamatkan keadaan.

"Itu… itu hanya salah paham. Bibi dan pamanmu tidak bermaksud.....”

Xerra mengangkat jari telunjuk, menghentikan kalimatnya.

“Oh, jangan khawatir. Pemilik rumah hiburan sudah minta uangnya kembali. Karena aku sudah bebas.”

Ia menyeringai manis.

“Jadi… kalau kalian mau menjualku lagi malam ini, pastikan hutang yang kemarin kalian bayar dulu.”

Melanie langsung pucat.

Maxim terbatuk gugup.

Pria asing itu berdiri dari sofa, jelas tidak suka dibohongi.

Xerra bangkit sambil menggenggam tasnya.

“Kalau sudah selesai sandiwara keluarganya, aku naik ke atas. Besok masih kuliah pagi.”

Ia menatap mereka satu per satu.

"Oh iya… lain kali kalau mau menjualku, pastikan aku belum tahu caranya kabur.”

Tanpa menunggu jawaban, Xerra naik ke lantai dua dengan langkah anggun dan puas, meninggalkan mereka semua dalam kekacauan.

Keesokan paginya, rumah itu sudah riuh.

Suara bibi Melanie melengking dari ruang keluarga, disusul bentakan paman Maxim yang terdengar frustrasi. Xerra baru turun dari lantai dua, rambut masih sedikit berantakan, kaos kebesaran, dan wajah tanpa ekspresi khas dirinya bila sedang malas menghadapi drama keluarga.

Ia menuruni tangga tanpa tergesa, bahkan sempat menguap kecil.

Begitu sampai di lantai bawah, ia langsung menuju kulkas, membuka pintunya lebar-lebar, dan mengambil susu kotak yang sudah ia tandai "minum cepat sebelum basi" tiga hari lalu. Setelah itu ia menarik roti yang tinggal setengah dan sudah hampir lewat tanggal kedaluwarsa.

Sementara itu, sepupunya Liona yang selalu berusaha tampil elegan padahal masih pakai piyama satin KW meliriknya dari meja makan dengan tatapan meremehkan. Calvin, sepupunya yang lain, hanya sibuk dengan ponsel sambil sesekali mengunyah cereal mahal pemberian paman.

Xerra tidak peduli. Ia duduk, mulai mengoleskan selai kacang ke roti, sampai mendadak hampir tersedak ketika mendengar suara paman Maxim meninggi.

"Rumah ini harus dijual, Mel! Kalau tidak, kita bisa habis! Hutangku semakin menumpuk!"

Bibi Melanie menjerit panik, “Lalu kita tinggal dimana, Maxim?! Ini rumah peninggalan kakakmu!”

Xerra menatap mereka sambil meminum susu.

Tenang.

Cuek.

Seolah drama itu hanyalah tontonan gratis pagi-pagi.

Namun kalimat selanjutnya membuatnya berhenti mengunyah.

"Rumah ini akan dijual minggu ini."

Suara Maxim penuh tekanan.

Xerra langsung berdiri, menatap paman dan bibinya dengan ekspresi datar bercampur sinis.

"Paman tidak bisa seenaknya menjual rumah ini," katanya sambil melipat tangan di dada.

"Cuma rumah ini satu-satunya harta peninggalan papa dan mama. Hakmu itu cuma numpang tinggal, bukan punya."

Maxim berbalik menatapnya dengan wajah merah karena emosi.

"Paman terlilit hutang karena investasi paman ditipu!" bentaknya.

Lalu ia menambahkan kalimat yang membuat suasana beku

"Kalau bukan rumah ini yang dijual, memangnya kamu mau saya jual saja? HAA?!"

Liona tersenyum miring, jelas menikmati pertengkaran itu.

Calvin mengangkat wajah sedikit dari ponsel, sekadar ingin melihat bagaimana reaksi Xerra.

Namun Xerra, dengan gaya khasnya yang membuat orang lain kesal, hanya menaikkan satu alis.

"Sudah pernah coba menjual aku, kan? Kemarin 30 ribu dolar."

Ia mengedip pelan.

"Sayang banget gagal, ya."

Bibi Melanie pucat.

Maxim memijit pelipisnya, menahan malu dan marah bersamaan.

Xerra lalu mengambil roti, memasukkannya ke dalam mulut, dan berjalan menuju sofa sambil berkata santai,

"Paman, kalau mau jual rumah ini, coba pastikan dulu legalitasnya. Karena nama pemilik sah sudah nggak tinggal di dunia ini, tapi ahli warisnya…"

Ia menepuk dadanya.

"…masih hidup, masih kuliah, dan masih sangat bisa mempolisikan kalian kalau nekat."

Liona bangkit berdiri, menunjuk Xerra marah-marah,

"Kamu itu nggak tahu diri! Paman dan bibi sudah merawat kamu sejak kecil!"

Xerra memutar bola mata.

"Rawat? Atau manfaatin?”

Keheningan penuh tensi menyelimuti ruangan.

Tanpa menunggu jawaban siapa pun, Xerra mengambil tas kampusnya dari pegangan kursi, memakainya, dan dengan nada malas ia berkata.

"Aku kuliah dulu. Kalian lanjutkan drama keluarga kalian. Seru kok, tapi sayang aku nggak punya waktu."

Ia melangkah ke pintu, membuka pintu utama, dan menambahkan tanpa menoleh

"Oh ya, jangan coba-coba pindahin barang-barang mama. Aku kunci lemari warisan malam ini."

Pintu tertutup.

Tinggal paman, bibi, dan dua sepupu yang terdiam, tidak tahu apakah harus marah… atau takut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!