Michelle sudah lama mencintai Edward, namun ternyata lelaki itu justru jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Kimberly, teman baik Michelle sendiri.
Rasa benci Michelle terhadap Kim semakin membara. Sehingga salah seorang sahabatnya yang lain mengajaknya ke desa sepupunya.
Michelle membawa pulang barang antik berupa cermin tua yang sangat menyeramkan setelah pulang dari hutan. Cermin itu bisa mendatangkan petaka.
Hingga kabar tentang kematian Kim setelah beberapa hari menikah dengan Edward pun tersebar di kalangan masyarakat.
Ada misteri apa di balik kematian Kimberly?
Ayo temukan jawabannya dengan membaca novel ini sampai selesai, selamat membaca 🥳
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Keesokan harinya, Michelle telah mendapatkan kabar dari para anak buahnya tentang anting miliknya yang hilang itu. Mereka sudah berhadapan dengan Michelle di ruang tamu.
Gadis itu tampak berjalan mengitari ketiga orang lelaki bertubuh besar dan gagah itu. Dia tampak sedang emosi untuk saat ini.
Dia melipatkan kedua tangannya di depan dada. Sorot matanya sangat tajam menatap para tangan kanannya yang sedang tertunduk kepadanya.
"Kenapa pekerjaan kalian sungguh tidak becus! Kalian tidak sendirian. Kalian bertiga! Tapi kenapa tidak bisa menemukan satu anting itu dalam waktu semalam?!"
"Maafkan kami, bos. Tapi kami benar-benar sudah mencarinya sebisa mungkin. Di area yang pernah kami lewati bersama bos juga. Tapi tetap antingnya tidak ketemu." sahut salah seorang dari mereka bertiga.
"Aku tidak mau tau. Pokoknya kalian harus mencari dimana keberadaan anting itu saat ini."
"Tapi, bos..."
"Tapi apa?!"
"Kalau kami mencarinya sekarang, takutnya ada warga yang melihat dan menaruh curiga ke kami nantinya."
"Arghh!!!!! Kalian memang tidak bisa diandalkan!!!" Gadis itu melempar sebuah vas bunga hingga pecah dan pecahannya bertebaran di lantai.
"Menurut saya tidak menutup kemungkinan jika anting itu turut terkubur di dalam kuburannya Venny, non."
Michelle mulai terpikirkan soal itu. Kemungkinan besar antingnya juga turut terkubur di sana. Jadi mereka harus menggali kuburan itu lagi.
"Baiklah, kalian silakan pergi. Nanti akan aku hubungi lagi untuk mencari anting itu."
"Baik bos!" ucap mereka bertiga serentak.
Selepas kepergian ketiga penjahat itu, Michelle kini di rumah sendirian. Saat ia menghadap ke arah belakang untuk menuju ke kamarnya, tiba-tiba makhluk blank face itu kembali muncul.
"Kenapa kamu terkejut? Di mana jasad itu?" tanyanya.
"Ayo ikuti aku."
Michelle menuntun makhluk blank face itu hingga ke gudang tempat ia menyembunyikan mayat Venny. Dia terkesima melihat organ Venny.
"Dia sudah tidak muda lagi. Tetapi organnya masih sangat bagus dan cantik. Aku menyukainya. Tapi tidak semuanya. Aku hanya ingin mengambil hidungnya yang mancung." ucap makhluk itu.
"Apa?! Yang benar saja? Bagaimana caranya? Kau benar-benar makhluk aneh yang pernah kutahu."
"Panggil saja aku Orla. Aku juga ingin cantik sepertimu. Maka dari itu bantulah aku untuk melengkapi organ tubuhku yang kurang. Kau juga harus mencarikan kaki untukku. Aku bosan hanya berdiri dengan satu kaki."
"Kau memang sangat buruk rupa, Orla. Asal kau tau itu tidaklah mudah. Jadi, bantulah aku dulu untuk menjadi istrinya Edward dan barulah aku akan membantumu juga."
"Apa kau juga ingin menyingkirkan Kim? Itu juga bukanlah hal yang mudah. Kita harus saling membantu satu sama lain."
"Ya, tapi aku sudah kehabisan akal bagaimana cara menyusun rencana menghabisi nyawa perempuan itu."
Michelle menepuk jidatnya. Dia sepertinya sedang lupa dengan sesuatu. "Astaga, sepengetahuanku pagi ini laporan hasil autopsi keluar. Aku tidak sabar ingin mengetahui hasilnya."
"Nanti saja pikirkan itu. Pasti nanti hasilnya akan masuk berita dan diedarkan. Yang mati kan orang terkenal." tukas Orla.
Seakan ada tarikan yang sangat kuat dari tubuh Orla ke hidung milik Venny. Hidung itu tampak memerah dan akhirnya terlepas. Serta berpindah ke wajah blank milik Orla.
Dia kini sudah memiliki hidung. Dia sangat menyukai hidung tersebut. Sementara jasad Venny sudah tanpa hidung. Banyak darah bercucuran dari wajah jasad itu.
Michelle merasa ngeri menyaksikan adegan tak mengenakkan tersebut. "Cepat potong tangannya. Kemudian kau makan." perintahnya.
"Apa maksudmu? Kau pikir aku gila ingin memakan daging manusia? Jangan asal suruh kamu ya. Aku tidak akan mengikuti semua perintah darimu." ucapnya berterus-terang.
"Tapi ini bagus untuk memikat hati seorang lelaki yang kamu cintai itu. Aku jamin dia akan tertarik denganmu." ujarnya.
"Yang benar saja? Enggak, aku enggak mau."
"Kalau begitu, aku yang akan memakanmu."
"Kau bahkan tidak punya mulut. Bagaimana kau akan memakanku? Hahaha, jangan mimpi!"
"Berani sekali kau berkata seperti itu! Bahkan saat tidak ada mulut pun aku mampu berbicara. Tidak menutup kemungkinan aku juga mampu memakanmu."
"O-oke baiklah. Aku akan memakan tangan jasad ini. Tapi jangan makan aku, tolong." ucapnya dengan gugup.
Michelle memotong tangan sebelah kiri Venny dengan pisau. Kemudian memegang tangan yang berlumuran darah itu di depan matanya.
Dia merasa jijik ingin memakan tangan itu. Apalagi tangan mayat. Akhirnya dia membuka mulutnya dengan perlahan.
Kemudian menggigiti jari Venny terlebih dahulu. Barulah kemudian dia memakan lengan Venny. Darah berlumuran di sekitaran mulut gadis cantik itu. Tangannya juga berlumuran darah.
Beberapa menit ia habiskan untuk memakan tangan Venny. Sekarang tangan itu hanya tinggal tersisa tulangnya saja yang berwarna putih.
Sementara Orla pergi menghilang begitu saja tanpa berpamitan dengan Michelle. Gadis itu merasa lega karena dia sudah tak diawasi lagi dengan Orla.
Malam ini nanti mayat Venny akan kembali dikebumikan. Michelle akan menyuruh orang-orang suruhannya lagi.
...****************...
Kimberly, Edward, dan Frans sedang berada di rumah sakit. Mereka menantikan hasil autopsi yang katanya akan keluar pada pagi hari ini.
Setelah laporan hasil autopsi keluar, Frans yang akan membukanya terlebih dahulu. Dia membuka amplop itu. Kemudian membuka lembaran kertas di dalamnya dan segera membacanya.
"Bagaimana, yah?" tanya Kim penasaran.
"Bundamu meninggal karna keracunan makanan."
"Keracunan makanan? Bukankah ayah bilang bahwa Claudie ada di kamar sewaktu bunda meninggal? Apa dia mengunjungi bunda?" tanya Edward.
"Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Claudie?" Kimberly menaruh curiga pada gadis itu.
"Lebih baik kita tanya langsung kepada bibi yang ada di rumah. Ayo kita pulang."
Frans dan yang lainnya telah tiba di rumah. Rumahnya masih diamankan oleh polisi. Ada sekitar tiga orang polisi berjaga di sana.
"Apa benar nona Claudie membawakan sup ayam buatannya untuk Bu Venny?" tanya polisi tersebut.
"Iya, pak. Bu Venny memakan sup ayam buatan nona Claudie sampai habis. Bahkan tak bersisa. Nona Claudie sendiri yang membawa sup itu dari luar dan menyuapi Bu Venny makan." jelas pembantu itu.
"Kalau begitu kemungkinan kita harus membawa Claudie ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Karena setelah diperiksa, terdapat racun yang berasal dari sup ayam yang habis dimakan oleh Bu Venny." tuturnya.
"Kita harus tau apa motif pelaku dengan sengaja meracuni Bu Venny hingga meninggal. Atau mungkin ada orang lain selain tersangka yang meletakkan racun di dalam makanan tersebut." tambah polisi itu.
Sekarang Claudie sedang berada di kantor polisi. Dirinya terpaksa ditahan dan belum diperbolehkan pulang karena belum ada bukti yang kuat jika Claudie terbukti tak bersalah.
Tidak ada saksi juga di sana. Claudie menjawab semuanya dengan jujur. Beberapa orang polisi ditugaskan untuk menggeledah seisi rumah Claudie.
Saat menggeledah, mereka menemukan ada bekas botol obat tanpa keterangan. Botol itu diambil dan akan diperiksa sebagai barang bukti.
Mereka mencium aroma dari dalam botol itu sama dengan aroma darah Venny yang berlumuran di lantai kamarnya waktu itu.
Sekarang sudah pukul 11 malam. Michelle dan tiga orang tangan kanannya akan pergi ke kuburan lagi pada malam ini.
Mereka ingin mengembalikan mayat Venny ke kuburan. Dia sudah tak tahan lagi mencium aroma mayat yang sangat busuk itu.
Dia juga tidak tahan lagi jika harus tinggal serumah dengan mayat. Walau hanya semalam saja seperti malam tadi.
Saat mereka menggotong tubuh mayat itu, tiba-tiba mereka mendengar seperti ada suara orang. Ya, memang suara orang.
Dan sepertinya juga ada cahaya dari senter. Mungkin itu adalah bapak-bapak yang sedang ronda malam. Mereka memilih untuk bersembunyi terlebih dahulu.
Mereka bersembunyi di balik pohon pisang yang rimbun. Di belakang mereka adalah jurang. Dan di bawah jurang ada sungai yang cukup deras.
Karena terlalu sempit, sepertinya mereka sudah tidak tahan lagi untuk terus memegangi tubuh jasad itu. Hingga akhirnya jasad itu terjatuh ke jurang dan hanyut di sungai.
"Astaga, apa yang kalian lakukan? Kenapa jasad itu malah jatuh ke jurang? Sekarang jasad itu sudah hanyut. Akh, bagaimana ini." Michelle memegangi jidatnya.
Sementara anak buahnya itu tampak tersenyum getir. Mereka takut kena marah atau bahkan dipecat oleh gadis itu.
"Biarin aja bos, mungkin kalau ada yang menemukannya nanti juga pasti bakal dikubur lagi kok. Kalau enggak dikubur lagi juga orang lain enggak bakal tau, kan? Masa ada orang lain yang akan membongkar kuburan ini selain kita?"
"Iya, bos. Ada masalah apa dia kalau sampai membongkar kuburan ini lagi." sahut yang lainnya.
"Benar juga apa kata kalian. Kalau begitu ayo kita langsung pulang saja. Daripada nanti ada orang lain yang melihat kita berada disini." ucapnya kemudian.
Mereka segera kembali ke rumah. Setelah mengantar Michelle pulang, para penjahat itu juga kembali ke tongkrongan mereka bertiga.
Sementara di tepi sungai, ada dua orang anak muda sedang memancing di sana. Mereka tampak memancing sambil asyik bersenda gurau.
"Udah dapat ikan berapa, bro?"
"Satu aja belum. Wah, kamu udah dapat dua ekor ya."
Saat sedang asyik memancing, tiba-tiba dia merasa tali pancingnya terasa sangat berat dan sulit untuk ditarik. Dia pikir ikannya sangatlah besar.
"Bondan! Aku dapat ikan besar. Ayo bantu aku nariknya!" teriak orang itu.
Lelaki yang dipanggil pun segera datang menghampiri. Mereka mengerahkan seluruh tenaga untuk menarik tali pancing tersebut.
Dan akhirnya tali pancing itu tertarik. Betapa terkejutnya mereka ketika yang menyangkut di tali pancing itu ternyata adalah mayat orang yang terbungkus dengan kain kafan.
Mayat itu berdiri tegak di hadapan mereka berdua. Sementara tali pancing telah terlepas di tangan keduanya. Tubuh mereka terasa kaku menyaksikan mayat itu.
"Enggak ada hidungnya!" teriak Bondan.
Mereka berdua ingin berlari dari sana untuk menyelamatkan diri. Namun, mereka berdua malah menabrak satu sama lain.
Kepala mereka berdua terasa sakit dan pusing. Akhirnya mereka pingsan di tepi sungai bertiga dengan mayat itu.