NovelToon NovelToon
Satu Atap Dengan Mertua

Satu Atap Dengan Mertua

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Romansa / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:200.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sebutir Debu

Seatap dengan mertua? Siapa takut!

Begitu pikir Lana ketika Galih–calon suaminya–mengutarakan syarat itu untuk menikah.

Tapi, siapa sangka kehidupannya setelah itu berubah drastis. Ibu mertuanya yang ajaib membuatnya makan hati hampir setiap hari.

Belum lagi ketika ipar mulai turut menggerogoti.

Bisakah Lana berdamai dengan sang mertua dan iparnya? Atau rumah tangganya akan hancur berkat campur tangan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4 Semakin Menjadi

"Ya udahlah, Dek. Kamu kalau pengen ya beli sendiri kan bisa, to? Ibu sudah tua, kita yang muda ini harus lebih bersabar menghadapi beliau, ya," bujuk Galih setiap kali Lana mengadukan perilaku-perilakiu ajaib ibunya.

"Meskipun itu salah?" bantah Lana sedikit tak terima.

"Yah, nanti Mas akan bilang ke ibu pelan-pelan. Tapi bukan dengan cara langsung menyalahkan, nanti Ibu bisa salah paham," ujar Galih memberikan solusi.

Lana kemudian tak ambil peduli. Ia seringkali memilih menginap di rumah orangtuanya ketika lelah hati melanda. Lelah hati akibat ulah Bu Tutik yang semakin mengesalkan setiap hari.

Beberapa kali ketika ia membeli jajanan atau buah sekedar untuk pengisi kulkas, Bu Tutik mengkritik dengan bicara bahwa itu semacam pemborosan. Dikatakan bahwa Lana terlalu banyak membeli cemilan. Padahal, Lana sudah banyak meminimalisirnya kalau dibandingkan dengan ketika ia masih single.

"Jadi wanita itu jangan boros. Nanti kalau uang suami habis dan tidak ada tabungan mau bagaimana? Mumpung masih muda, kumpulkan uang sebanyaknya. Nanti kalau sudah masa pensiun, tak perlu pusing lagi." Bu Tutik mulai berceramah ketika Lana memasukkan beberapa toples kue kering ke dalam lemari.

"Ini cuma persiapan kalau ada tamu datang saja, Bu. Lagian juga pakai uang gaji Lana sendiri, kok. Uang dari Mas Galih yang dana simpanan sudah aman dalam tabungan," jawab Lana tak ingin dipersalahkan.

Padahal lelah berkerja, kadang membuat Lana juga butuh buah-buahan untuk nutrisi tubuhnya. Ia juga harus memikirkan haknya. Ingin membeli diluar dan makan sendiri masih ada rasa tak tega karen ada suami dan mertua. Ia masih berpikiran positif dan baik hati. Tak ingin makan diluar sendiri atau makan enak-enak hanya untuk diri sendiri seperti yang sering Bu Tutik lakukan. Ia sudah berusaha menjaga nama baik orang tuanya untuk tetap menghormati, menyayangi ibu mertuanya. Walau kadang sisi manusia biasanya suka muncul ketika lelah menghadapi sikap dan karakter ibu mertuanya yang super ajaib bagi Lana.

Tak lama, terdengar seruan Bu Khalim, tetangga mereka di depan pintu.

Lana bergegas membukakan pintu dan terkejut ketika Bu Khalim langsung mengulurkan sebuah bungkusan plastik yang dari aroma yang menguar sepertinya berisi kue yang baru matang dari pemanggangan.

"Lana, ini Ibu praktik bikin bolu kukus. Lumayan enak, loh." Wanita setengah baya yang sudah lumayan akrab dengan Lana itu berkata ramah.

"Wah, Bu. Bikin banyak, kah? Kok sampai dibagi ke sini, sih? Hmmm ... baunya aja udah menggoda banget ini," jawab Lana menerima pemberian Bu Khalim dengan sikap ramah meski sebenarnya ia sangat tak enak hati.

"Nggak apa, biar ikut incip sedikit. Nanti kapan lagi kalau Ibu bikin banyak akan dikasih yang banyakan, ya, hehehehe."

"Ini aja udah banyak, Bu. Makasih, loh. Jadi sungkan banget ini Lana malah gak pernah kasih apa-apa," ucap Lana dengan menampakkan rasa tak enaknya.

Dalam hati ia memang malu sekali kalau sering diberi baik makanan ataupun hasil panen sawah mereka untuk keluarganya. Karena ia merasa keluarganya tak pernah melakukan hal yang sama. Ibarat kata, sering sekali diberi tapi hampir tak pernah memberi.

Apa dayanya? Ketika ia punya rezeki dan ingin berbagi ke sekitar, Bu Tutik pasti akan menegur melalui larangan dari Galih. sudah diwanti-wanti oleh kedua orangtuanya sedari akan menikah. Maka Lana tak mampu untuk berdebat alot dengan suaminya. Ia memang bukan orang yang paham agama. Tetapi didikan ibunya membuat ia selalu mendengar petuah dan nasihat sang ibu termasuk untuk patuh dan taat pada suami.

"Dek, nanti aja kapan-kapan ya bagi-baginya. Sekarang kita itu butuh banyak uang untuk persiapan kalau pekerjaan Mas nanti pada fase sepi." Galih melarang saat ia baru saja dipanggil Bu Tutik ke kamarnya. Ya, sudah jelas sekali larangan itu berasal dari Bu Tutik. Dan seperti biasa, Galih tak akan pernah mau membantahnya.

"Mas, kita ini sering banget, loh, dikasih hantaran sama tetangga. Tapi kuperhatikan Ibu tak pernah melakukan hal yang sama. Makanya biar aku saja, Mas. Kita ini hidup bersosial. Sebaiknya kebiasaan saling memberi itu ya dari kedua belah pihak, bukan hanya maunya diberi saja terus," sanggah Lana pada akhirnya.

"Ibu sih enak, di rumah terus. Jarang ketemu para tetangga saat di perkumpulan PKK. Aku yang ketemu langsung secara rutin sama mereka, Mas. Aku malu kalau jadi omongan," lanjut Lana tak mau membenarkan sifat sang mertua yang menurutnya absurd luar biasa.

Akhirnya Lana tetap melaksanakan apa yang telah direncanakannya. Ia juga tak segan sepulang dari rumah orangtuanya, membawakan hasil kebun ibunya yaitu buah rambutan, pepaya serta pisang.

"Wah, banyak sekali ini, Lana. Panennya banyak, ya?" Bu Tutik yang membukakan pintu untuk Lana ketika ia pulang dijemput oleh Galih dari rumah orangtuanya dengan membawa setandan pisang, setengah karung rambutan dan seplastik besar pepaya.

"Dari Ibu. Katanya biar bisa dibagiin juga ke tetangga sini, Bu," jawab Lana dengan nada penuh penekanan.

Ia sudah belajar dari pengalaman bahwa kalau bawaannya diberikan kepada sang ibu mertua, maka kesemuanya akan berakhir di bawah tempat tidurnya dan sebagian lagi di kulkas. Tanpa sama sekali ingin membagikannya kepada tetangga sekitar. Padahal banyak sekali, pasti sampai bosan kalau dimakan sendiri. Tak jarang kadang ada yang sampai busuk.

"Siapa yang dikasih? Orang sini pada pelit aja, kok. Nggak usah! Kamu itu jangan jadi orang sok baik." Bu Tutik menyampaikan titah larangannya.

Spontan Lana mengernyitkan kening keheranan bercampur tidak percaya. Dalam hati sungguh ia ingin sekali meneriaki kepada Bu Tutik bahwa yang pantas dikatain pelit itu justru dirinya sendiri. Karena jelas semasa ia di situ saja sudah sering diberi hantaran oleh tetangga-tetangga. Dan yang dilihatnya justru Bu Tutik yang hampir tak pernah melakukan hal itu. Anehnya ketika menerima pemberian tetangga, ibu mertuanya akan sangat menikmati makanan tersebut.

"Tapi ini pesan Ibu memang untuk dibagikan ke tetangga sini, Bu." Akhirnya Lana memberikan jawaban tegasnya.

"Lagipula sebanyak ini mau dimakan siapa kalau nggak dibagi, Bu?" lanjut Lana karena melihat ibu mertuanya itu cemberut.

"Simpan saja di kulkas. Nanti juga lama-lama habis." Tanpa tahu malu, Bu Tutik tetap tak setuju bila Lana membagikannya.

Saking jengkelnya, Lana akhirnya tak menjawab dan tetap melakukan apa yang sudah direncanakannya sejak di rumah orangtuanya. Membagi-bagi bawaannya untuk tetangga-tetangga dekat.

Usai membaginya dalam beberapa bungkusan, ia mengantarnya dengan hati sedikit puas dan jauh lebih nyaman dari sebelumnya.

Para tetangganya tampak takjub dan bahkan beberapa kelepasan bicara bahwa tumben sekali dari keluarga Bu Tutik ada yang datang untuk memberi. Lana kembali harus menebalkan muka untuk kesekian kali.

Beruntungnya, para tetangga kini mulai sadar bahwa sikap Lana jauh berbeda dengan Bu Tutik. Oleh karena itu, mereka bisa semakin akrab dengan Lana. Hal mana membuat istri Galih itu senang dan tak lagi merasa teramat malu dan minder di lingkungan sana. Bukan Lana ingin dipuji karena berbeda dari ibu mertuanya. Tetapi bagi Lana, ia disana merantau, ikut suami. Jika ada apa-apa dengan dirinya dan keluarga ibu mertua. Tetangga lah yang lebih dulu hadir untuk membantunya.

Namun, siapa sangka, hal itu justru yang membuat Lana semakin dibenci oleh Bu Tutik. Semenjak itu sikapnya semakin menjadi-jadi. Lana semakin merasa sang ibu mertua berniat sekali membuat hidupnya tak nyaman seatap di rumah itu.

Di dalam rumah yang sama, berada di bawah satu atap yang sama, tetapi mulai jarang sekali saling bercakap-cakap. Kebanyakan hanya diam dan berkata seperlunya saja.

Sampai-sampai, Lana akhirnya mengultimatum Galih di kala emosinya sedang sangat di puncak, yaitu ketika Bu Lana bilang akan menginap di rumah saudaranya di kota sebelah, katanya untuk menenangkan pikiran dan mencari kebahagiaan.

"Ya ampun, apakah maksudnya saat ia di rumah pikirannya tidak tenang dan hidupnya tidak bahagia? Apakah ibu ingin mengadu domba aku dan mas Galih!" Batin Lana yang mulai risau dengan kelakuan ibu mertuanya.

1
Zachary
Luar biasa
Lili Aprilia
cepet banget end nya thorrrr.....bagus loh karyanya author
Lili Aprilia
emang ada sihhh mertua yang kayak buk Tutik ini, dan ipar seperti Ely ini bahkan lebih parah.....sabar aja ya Lana bila perlu gak usah balik lagi dehh kerumah buk tutik
Lili Aprilia
duhhh buk Tutik mulai merasakan sakit akibat perbuatannya sendiri
Mmk Ayudiathaharah
hem, mertua sejatinya adalah ibu kita juga mau sama anknya anny harus mau sama ibunya itu 1 paket and saudara saudaranya the gank. tapi aq mau ikuti alurnya pasti ada penyelesaiannya ayo sebutir debu yo wes aq ngikut😊
Eka Widya
seharusnya di beri judul"keajaiban sang mertua"kak😃😃🙏
fa _azzahra
duh salah pencet masa bintang 3 sii...ngapunten.gara2 bu tutik si
fa _azzahra
pasti tontonanya sinetron ikan terbang
fa _azzahra
sebenarnya agak gmana gt ya kalo ngomongin masalah makanan perihal orang pelit.dibicarain malu2 in ga dibicarain kok ya gatel
fa _azzahra
dimana2 ada orang kek gitu mba,realita di masyarakat.tp pasti kalian setuju kalau orang pelit itu biasanya 'nggragas sama milik orang lain😁😁
fa _azzahra: uwwo..😁😁
total 2 replies
Sri Lestari
Alhamdulillah ikut seneng kalau bumer sudah sadar 🤗
Sri Lestari
ikut gemesss 😅😅
Sebutir Debu: 🤣 komentar terunik 😁😁😁
total 1 replies
Bahari Sandra Puspita
karyamu selalu mengandung pelajaran yang berharga thor..
walaupun baca novel yang satu ini banyak gemesnya liat tingkah laku Bu Tutik, tapi berakhir bahagia..
jadinya lega banget gitu😁
tetap semangat berkarya ya thor..
semangat ngerampungin semua novel yg belum tamat.. 💪🏻
Sebutir Debu: Siap kak. Terimakasih sudah berkenan mampir di karya ku
total 1 replies
Maz Andy'ne Yulixah
baca non stop malam beberapa bab karena ngantuk tidur,,lanjut pagi smpai mau sore akhir nya selesai jga karena penasaran ending nya smpai masak saja smbil baca kak thor😄😄
Maz Andy'ne Yulixah: Naudzubilahminjalik jangan smpai to kak,nak neru2 bu tutik,nek contoh seng sae mawon😊
total 4 replies
Maz Andy'ne Yulixah
Alhmdulilah semoga kalian selalu rukun dan bahagia selalu😊
Maz Andy'ne Yulixah
Alhamdulilah akhir nya bu tutik bisa sadar dan sedikit2 bisa sembuh😇
Maz Andy'ne Yulixah
Nanti ely silau dijupuk duit te🙄
Maz Andy'ne Yulixah
Jangan2 itu tanda2 ya bu tutik,itu teguran dari ALLAH kalau hidup tu gaks sendiri masih saling membutuhkan bu harus bertetangga,dan uang gak dibawa mati jga bu,,apalagi jangan suka adu domba dan memfitnah hidup udah tua bukan nya banyak2 beribadah malah banyak nambah dosa,,duh padahal cuma novel tapi sangat2 menguras eamosi bener ya kak thor🤣🤣
Maz Andy'ne Yulixah
ely2 gak kasihan suami nya udah kerja lembur masih ngojek lembur sampai malam,itulah ely hidup gak bisa bersyukur apa2 harus kayak orang2,mbok hidup itu seadanya saja nek gak mampu yowes🙄🙄
Maz Andy'ne Yulixah
Hidup itu sewajar nya saja mba elly,orang gak mampu ko sok2 an biar kayak orang2 biar terlihat kaya tapi utang banyak,,wes podo ae nyata katah kak thor😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!