Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10.
Keesokan paginya, seiring kabut tipis yang masih menyelimuti desa, pasangan Daniel dan Zeya sudah terbangun. Hari ini sesuai rencana mereka akan ke kota. Sebelum berangkat mereka akan meminta ijin terlebih dahulu, kepada Pak Kades karena bagaimanapun mereka masih dalam pengawasan warga di sana.
Tak sampai lima belas menit berjalan, sampailah keduanya di kediaman Pak Kepala Desa dan langsung disambut hangat oleh tuan rumah. Namun, wajah Pak Kades seketika berubah serius saat Zeya menyampaikan maksud kedatangannya.
"Minta ijin kembali ke kota?" ulang Pak Kades sambil mengerutkan kening. "Bapak mohon maaf, Nak. Aturan adat di sini sudah disepakati bersama. Kalian baru saja menikah dan harus tinggal di desa ini sampai segala urusan dianggap selesai. Pergi dari sini sekarang sama saja melanggar kesepakatan."
Zeya menatap Pak Kades dengan hormat "Kami mengerti sepenuhnya aturan itu, Pak. Kami tidak bermaksud melanggar adat. Tapi, ada hal mendesak yang harus kami selesaikan secepatnya. Ini terkait rekaman dan foto yang menyebar luas di dunia maya, yang membuat semua orang salah paham terhadap kami."
"Dan sekarang kami sudah menemukan siapa pelakunya juga memegang bukti nyata. Jika tidak segera diluruskan, dikhawatirkan fitnah itu semakin menyebar dan bisa membawa dampak buruk juga bagi nama baik desa ini," lanjutnya dengan tenang.
Daniel pun ikut menambahkan, menyampaikan segala kronologi kejadian dan maksud baik mereka untuk menyelesaikan masalah sampai ke akar-akarnya tanpa bermaksud menimbulkan keributan.
Pak Kades terdiam cukup lama, mempertimbangkan setiap penjelasan yang disampaikan. Perlahan raut wajahnya yang semula kaku perlahan mulai melunak. Sepertinya dia menyadari bahwa masalah ini bukan sekadar urusan pribadi, melainkan juga berkaitan dengan kehormatan desa mereka.
"Baiklah," ucapnya memecah keheningan. "Saya mengerti alasan kalian dan saya mengijinkan kalian pergi."
"Tapi ada satu syarat. Kalian tidak boleh pergi berdua saja. Saya akan menugaskan dua orang perangkat desa untuk ikut serta menemani kalian. Sebagai perwakilan sekaligus menjaga bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Bagaimana?" tambahnya menandaskan.
Daniel dan Zeya saling bertukar pandang, lalu mengangguk serentak dengan pasrah.
"Baik, Pak. Kami terima syarat itu. Terima kasih banyak atas kepercayaan dan ijin yang Bapak berikan," ucap Daniel sedikit lega.
...
Dengan menggunakan moda transportasi KRL, Daniel dan Zeya serta kedua orang utusan Pak Kades berangkat ke kota. Sesampai di sana, baik Zeya maupun Daniel tidak pulang ke kediaman mereka, melainkan memilih menghubungi orangtua masing-masing dan meminta bertemu.
Mami Mia, datang lebih cepat ke tempat yang telah mereka sepakati. "Kenapa kalian nggak pulang ke rumah aja, sih?" tanyanya dengan raut keberatan.
Sebelum menjawab, Zeya melirik ke arah dua orang utusan Pak Kades tersebut.
"Itu karena, Ze nggak ingin identitas kita ketahuan, Mi," bisiknya pelan.
Mami Mia menggelengkan kepala, sembari menghela napas kasar. "Kalian ini ada-ada saja tingkahnya."
Zeya tersenyum tipis, lalu merangkul pundak ibu mertuanya. "Begini, Mi. Ze dan Daniel berencana ingin mendatangi dia di rumahnya. Soalnya Ze pengin tahu, alasan dia melakukan perbuatannya itu," bisiknya lagi.
"Kira-kira Mami setuju, nggak?" tanyanya kemudian.
Mami Mia sempat tertegun sejenak, tetapi kemudian wanita itu untuk mengangguk mantap. "Mami setuju. Tadinya mami juga berpikir seperti itu sebelum menempuh jalur hukum. Tapi berhubung kalian datang, kita bisa sama-sama ke sana meminta penjelasan darinya."
"Kalau sampai nggak mau ngaku juga, kita tunjukkan buktinya langsung di depan orangtuanya."
Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan, terlihat sosok Ayah Bastian berjalan menghampiri meja mereka. Langkahnya tergesa-gesa, tetapi wajahnya tampak tenang.
"Maaf, Ayah agak terlambat," ujarnya sambil duduk di samping Mami Mia. "Bagaimana... Apa yang kalian rencanakan?"
"Zeya mengusulkan agar kita langsung menemuinya di rumahnya, dan Mami juga setuju."
Ayah Bastian menatap Zeya sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baiklah, Ayah pun berpikir demikian," katanya seraya bangkit dari duduknya. "Sebaiknya kita berangkat sekarang."
...
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, rombongan itu akhirnya tiba di rumah keluarga Dr. Rangga. Belum sempat mereka mengetuk pintu, Bu Safira sudah lebih dulu keluar ke teras. Senyum ramah langsung menghiasi wajahnya begitu melihat para tamu yang datang bersamaan.
"Assalamualaikum," sapa mereka serempak sambil menangkupkan kedua tangan dengan sopan.
"Waalaikumsalam," jawab Bu Safira hangat. Ia segera menghampiri Mami Mia dan Zeya, lalu memeluk anak dan besannya itu dengan penuh keakraban serta kasih sayang. Sama sekali tidak menyadari badai yang sedang mereka bawa.
Tak lama kemudian, Dr. Rangga keluar dari dalam rumah. Pria itu tersenyum ramah sembari menyalami satu per satu tamunya.
"Selamat datang. Silakan masuk," ujarnya sopan, lalu membawa tamunya masuk dan mempersilakan mereka duduk.
"Wah, ada angin apa gerangan yang membuat kalian sampai datang bersama-sama seperti ini?" tanyanya sambil mengamati raut wajah serius dari setiap orang yang duduk di hadapannya.
Tak ada yang langsung menjawab. Keheningan perlahan memenuhi ruangan. Mami Mia dan Ayah Bastian saling bertukar pandang, seolah sedang berkomunikasi tanpa kata mengenai siapa yang harus membuka pembicaraan terlebih dahulu.
Beberapa detik kemudian, Mami Mia menarik napas panjang. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan, lantas menatap lurus ke arah Dr. Rangga dan Bu Safira.
"Kami datang ke sini untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting," ucap Mami Mia dengan tegas dan serius. "Kami ingin bertemu Maura karena semua masalah ini berkaitan langsung dengannya."
"Apakah Maura ada di rumah?" tanyanya kemudian.
Senyum di wajah Bu Safira perlahan memudar. Ia menoleh ke arah suaminya dengan tatapan bingung, sementara Dr. Rangga tampak mengernyit, berusaha mencerna maksud ucapan tersebut.
"Mia... sebenarnya ada apa?" tanya Bu Safira lirih. Wajahnya mulai dipenuhi rasa cemas.
"Panggil saja Maura," sahut Ayah Bastian tenang, tetapi sorot matanya terlihat begitu tajam. "Setelah dia datang, kita bicarakan semuanya bersama."
Bu Safira menelan ludah pelan. Meski dipenuhi tanda tanya, ia akhirnya menganggukkan kepala.
"Baiklah," ucapnya pelan sambil berdiri dari sofa. "Tunggu sebentar, saya panggilkan dia," lanjutnya, lalu bergegas menaiki tangga menuju lantai dua.
Di dalam kamar, Maura yang sedang memainkan ponselnya langsung memasang wajah kesal saat mendengar namanya dipanggil.
"Aku malas turun," gerutunya sambil memalingkan wajah. Ia menyilangkan kedua tangan di dada, terang-terangan menunjukkan penolakan.
"Maura, semua orang sedang menunggumu di bawah," bujuk Bu Safira lembut sambil mengusap bahu gadis itu. "Turunlah sebentar. Kalau memang nggak ada masalah, semuanya pasti akan baik-baik saja."
Maura mendecak pelan. Dengan enggan ia meletakkan ponselnya, lalu bangkit dari tempat tidur. Wajahnya tetap cemberut sepanjang langkah menuju tangga.
Beberapa saat kemudian, langkah kaki Maura mulai terdengar menuruni anak tangga. Semua mata di ruang tamu langsung beralih menatap ke arahnya. Begitu kaki Maura menginjak anak tangga terakhir, Zeya lantas berdiri dari duduknya, lalu melangkah menghampiri Maura. Hingga akhirnya ia berdiri tepat di hadapan gadis itu.
Maura mengernyit bingung. "Ada apa?" tanyanya dengan wajah polos.
Namun, Zeya sama sekali tidak menjawab. Sorot matanya berubah sedingin es. Dalam sekejap, tangan kanannya terangkat tinggi. Lalu...
Plak!!!
Suara tamparan keras menggema di seluruh ruangan. Semua orang membeku menyaksikan apa yang baru saja terjadi begitu cepat di depan mata.
.emaknya datang😁