Refan tega mecampakkan Maira yang sudah lama bersamanya demi orang baru yang bernama Reya. Akhirnya Maira menikah dengan Hendra yaitu temannya Refan sendiri. Akhirnya Maira bahagia bersama Hendra. Refan yang begitu terpuruk dan menyesali keputusannya akhirnya Refan bersimpuh di kaki mantan istrinya untuk mengajaknya kembali rujuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weta anjelina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 30 Pov Maira
Aku tertunduk tak berdaya di bawah lantai, pupus sudah harapanku tak ku sangka Mas Refan sekejam itu.
Ku sangka selama ini Mas Refan memilihku tetapi kenyataannya tidak seperti itu, Mas Refan lebih memilih pelakor itu di bandingkan istri sahnya sendiri.
Di depanku mereka saling berdekapan gimana rasanya perasaan ku.
"Kenapa kamu setega ini Mas." Gumamku daram hati.
Kulihat pelakor itu tersenyum puas, ya puas sudah pelakor itu membuatku menderita.
Aku bangkit dari lantai tempatku tertunduk tak berdaya tadi, tempat di mana aku bersujud di kaki Mas Refan, rasanya semuanya telah berakhir sudah mau tidak mau aku harus terpaksa melepaskan Mas Refan,namun kali ini aku tidak boleh bodoh lagi.
Kuhapuskan air mata ku, aku berdiri di hadapan mereka berdua.
"Aku sudah merelakan mu Mas, aku sudah menganggap mu tiada, ingat Mas suaktu saat nanti jangan pernah kau menyesali pilihan mu itu" Aku berlalu meninggalkan mereka berdua, kulihat pelakor itu sedikit menaikkan alisnya dan tersenyum kemenangan.
Ku tinggalkan mereka berdua di sana, aku sedikit Berlari menuju kamar di kamar aku memandang wajahku di depan cermin.
"Kau tidak di butuhkan lagi Maira, untuk apa kau masih berada di sini, kau juga berhak bahagia." Gumamku sambil sedikit tersenyum namun setelah itu aku mengeluarkan air mata lagi.
Entah lah rasanya begitu sesak, disisi lain aku juga merasa lega setelah mengetahui krputusan dari Mas Refan, kalau tidak mungkin aku masih berharap hingga detik ini.
Ku susun bajuku di dalam koper, tak lupa ku ambil semua peralatan yang sekiranya akan ku butuhkan nanti.
"Ingat Mas, akan ku balas penghianatan mu nanti." Gumamku sembari mengengam erat gelas yang ku minum hingga gelas itu pecah.
"Aww sakit." Aku lihat tanganku telah berlumuran darah, aku menanggis sesegukkan.
Segera ku oles luka itu dengan dengan obat merah setelah itu aku perban tanganku.
"Kenapa tangan mu dek." Tiba-tiba saja Mas Refan mengagetkanku.
"Tidak apa-apa mas.
"Kamu terluka dek, kamu sengaja mau coba-coba bunuh diri ya?." Tanya Mas Refan sedikit mengejekku.
"Luka ini belum seberapa di bandingkan penghianatan kamu mas." Jawabku sembari membantingkan pas bunga di depannya.
"Dan ingat ya mas, laki-laki bukan hanya dirimu saja, jadi jangan berpikir aku akan sebodoh itu bunuh diri hanya untuk laki-laki bajingan seperti mu!" Lanjutku kepada mantaan suamiku itu, membuatnya bungkam.
"Udah selesai, apa masih ada yang mau di katakan lagi?" Ucap mantan suamiku itu sambil memandang ke arah lain.
"Ada mas, jangan lupa uang untuk anak kita setengah dari gaji mu, aku ngak mau tau ya Mas."
"Dek kamu apa-apan sih."
"ingat ya mas, atau ku tuntut kamu di pengadilan, dengan kasus tidak memberi nafkan yang cukup untuk anak mu!"
"Dek." Aku berlalu meninggalkan dia sediri di kamar, dan keluar kamar sambil membawa koper.
Di ruang tamu kulihat maduku itu sibuk dengan gawainya, aku hiraukan saja dia aku berlalu menuju pintu luar.
"Tunggu mantan istrinya Mas Refan." Tiba-tiba saja pelakor itu mengoceh ke arah ku, kuliat dia sedikit berdiri.
"Malam ini aku merasa senang sekali, karena Mas refan lebih memilihku." Ejeknya sambil berdiri sok cantik di depanku membuatku sangat muak sekali.
"Heh, bentar lagi juga mas Refan akan mencapakkan mu, dan kamu tau Mas Refan masih mencintaiku, buktinya Mas Refan menyusulku di kamar dan membujukku untuk balikkan lagi, sementara kau, kau mudah sekali di bohongi,sebenarnya aku juga kasian pada mu." Aku sedikit berbohong kepada pelakor itu.
"Rasakan pelakor sialan." Gumamku dalam hati,kulihat pelakor itu gelisah dan sedikit menghentakkan kaki menuju ke kamar menyusul mantan suamiku itu.
Aku tidak menghiraukannya, aku bergegas keluar rumah, Entah kemana aku harus pergi, entahlah yang penting aku keluarga dari rumah neraka ini.
semangat
sukses
mksh