NovelToon NovelToon
IBUKU ADALAH MAUT

IBUKU ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.

“Kenapa harus suamiku, Bu?!”

Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.

Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERASAAN YANG ANEH

Setengah jam kemudian, Yulia akhirnya menyelesaikan sebagian besar pekerjaannya. Ruang tamu yang semula dipenuhi debu dan kotoran kini terlihat lebih bersih. Meski begitu, masih ada kamar dan bagian belakang dekat dapur yang belum sempat ia bereskan.

Yulia meletakkan sapu di sudut ruangan, lalu mengusap keringat di pelipisnya. Perutnya terasa semakin perih karena sejak pagi belum terisi makanan apa pun.

Ia melirik jam yang tergantung di dinding. Jarumnya hampir menunjukkan pukul dua siang.

Namun, Damar belum juga kembali.

“Kemana Damar, ya?” gumamnya sambil menoleh ke arah pintu.

Yulia berharap suaminya segera datang membawa makanan.

Akhirnya, ia memilih duduk di kursi yang sudah dibersihkan nya. Punggungnya bersandar pada sandaran kayu, sementara tangannya perlahan mengusap perut yang mulai membesar.

“Sebentar lagi Ayah pulang, ya, Nak,” bisiknya lembut. “Sabar dulu. Kita makan sama-sama nanti.”

Yulia mengembuskan napas pelan. Rasa lapar bercampur lelah membuat kelopak matanya semakin berat. Ia berniat memejamkan mata sebentar saja, sekadar mengistirahatkan tubuh sebelum melanjutkan pekerjaan.

Tangannya masih mengusap perut ketika kepalanya perlahan bersandar pada kursi.

Beberapa detik kemudian, matanya benar-benar terpejam. Tubuhnya yang kelelahan akhirnya menyerah.

.

.

.

“Sayang, bangun.”

Suara yang terdengar di dekat telinganya membuat kening Yulia berkerut. Perlahan, ia menggerakkan kepala, berusaha mengusir rasa kantuk yang masih menyelimuti. Ketika matanya terbuka, sosok yang sejak tadi ditunggunya akhirnya terlihat berdiri di hadapan.

“Damar?” Suaranya terdengar serak.

“Maaf, ya. Tadi aku keasyikan ngobrol sama warga desa, jadi lupa waktu.”

Yulia tidak langsung menjawab. Ia mengusap wajahnya, lalu melirik ke arah pintu sebelum mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.

“Sekarang jam berapa?” tanyanya tanpa menanggapi penjelasan sang suami.

“Setengah lima sore.”

“A-apa?”

Yulia buru-buru menyalakan layar ponselnya. Matanya membesar ketika melihat angka yang tertera di sana. Benar, sekarang sudah pukul setengah lima sore.

Perlahan, Yulia mengangkat wajahnya dan menatap Damar.

Sejak pagi, ia belum makan apa pun. Ia juga sudah menghabiskan banyak tenaga untuk membersihkan rumah yang kotor dan berdebu itu.

Sementara Damar justru asyik mengobrol dengan warga desa sampai lupa waktu.

“Damar, kamu tahu enggak? Aku seharian membersihkan rumah ini. Aku capek, lapar, haus, tapi kamu malah baru pulang sekarang.”

Suaranya bergetar di ujung kalimat.

“Iya, aku tahu, Sayang.” Ia mengeluarkan beberapa bungkus makanan. “Tapi kamu juga tahu sendiri, aku sudah lama enggak ke sini. Warga desa ngajak ngobrol, jadi aku enggak enak kalau langsung pergi.”

Yulia menunduk, menatap makanan yang baru saja dikeluarkan suaminya.

“Sudahlah, jangan cemberut begitu.” Damar mendorong sebungkus nasi ke arahnya. “Ayo, makan dulu. Nasinya masih hangat.”

Yulia menggigit bibir bawahnya, saat aroma makanan yang tercium dari hadapannya membuat perutnya kembali berbunyi.

Ia akhirnya memilih diam.

Dengan tangan yang sedikit gemetar karena lapar, Yulia membuka bungkus nasi itu. Ia mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.

“Pelan-pelan makannya. Nanti tersedak.” Ia berdiri, lalu melirik ke arah bagian rumah yang belum dibersihkan. “Biar aku yang melanjutkan beres-beresnya.”

Yulia tidak menyahut. Ia terus mengunyah makanannya, sesekali meneguk air mineral yang dibelikan Damar.

. . .

Malam perlahan menyelimuti desa.

Cahaya kekuningan dari lampu minta itu jatuh di atas meja.

Yulia duduk berhadapan dengan Damar.

“Damar, sepertinya kita harus beli kulkas, dan benerin lampu besok,” ucapnya kemudian.

Damar yang sedang sibuk dengan ponselnya mengangkat wajah. “Ya, besok aku cari toko yang jual kulkas.”

Yulia mengangguk kecil. “Iya.”

Setelah itu, tak ada lagi percakapan di antara mereka.

...****************...

Hari demi hari berlalu, kehidupan Yulia maupun Nafisa. Keduanya kini menjalani kehidupan masing-masing.

Kini usia kandungan Yulia telah memasuki tiga bulan. Perutnya memang belum terlalu besar. Namun, kini dirinya harus bekerja demi menambah kebutuhan rumah. Karena setiap bulannya, Damar selalu memberikannya uang sejuta.

Bahkan tak cukup untuk membeli susu apalagi membeli vitamin.

Dan Damar memaksanya meminum susu kental manis. Katanya sih sama-sama susu, dan juga harus berhemat.

Di sisi lain.

Kehidupan Nafisa justru terasa jauh lebih tenang.

Kedekatannya dengan Oma Rima pun semakin erat. Hampir setiap hari, keduanya menghabiskan waktu bersama.

Dan jabatan Nafisa kini telah diserahkan kepada Fiona. Keputusan itu diambilnya sendiri atas dukungan serta persetujuan Dewangga, bukan karena ia tak lagi mampu bekerja, melainkan karena ia ingin memberikan kesempatan kepada Fiona untuk berkembang dan membuktikan kemampuannya.

.

Pagi itu, kediaman Nafisa tampak lebih ramai dari biasanya. Beberapa orang sibuk menghias ruangan dengan rangkaian bunga dan dekorasi bernuansa lembut. Sebagian lainnya menata meja, memastikan segala persiapan untuk acara lamaran esok hari berjalan sesuai rencana.

Kabar mengenai lamaran Nafisa dan Dewangga sengaja dirahasiakan oleh pria itu. Hanya keluarga terdekat yang mengetahui.

Di tengah kesibukan itu, Nafisa justru berdiri diam di tengah ruangan.

Tatapannya mengikuti beberapa orang yang berlalu-lalang sebelum akhirnya beralih pada ponsel yang sejak tadi digenggamnya.

Nama Ibu masih tersimpan di daftar kontaknya.

Sudah sebulan dirinya dan ibunya tak pernah berkomunikasi.

Namun, besok adalah hari penting baginya. Ia akan melangsungkan acara lamaran dengan Dewangga.

Bagaimanapun juga, ia tak mungkin mengabaikan ibunya begitu saja. Wanita itu telah melahirkannya dan membesarkannya.

Nafisa mengusap layar ponselnya dengan ibu jari. Setelah beberapa saat mempertimbangkan, ia akhirnya menekan nama kontak tersebut.

“Semoga saja Ibu mau mengangkat teleponnya,” gumamnya pelan.

Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya panggilannya tersambung.

“Ha-halo, Naf. Ada apa?”

Kening Nafisa langsung berkerut. Suara ibunya terdengar berbeda, seperti sedang menahan sesuatu.

“Bu, Ibu kenapa?” Nafisa mendekatkan ponsel ke telinganya. “Suara Ibu kayak orang habis menangis.”

“Enggak ada apa-apa, Naf. Tenggorokan Ibu sakit, makanya suara Ibu begini.”

Nafisa terdiam. Namun, ia tak ingin langsung berprasangka buruk.

“Benar, Bu?”

“Iya, benar. Ada apa, Naf?”

Nafisa tersadar dari keterdiamannya hingga akhir ia mengembuskan napas perlahan, lalu melirik ke arah dekorasi yang mulai terpasang di luar kamar.

“Begini, Bu. Maaf kalau mendadak memberi tahu. Besok aku mau lamaran.”

“Lamaran?”

“Iya, Bu.” Aku dan atasanku, Pak Dewangga, akan melangsungkan acara lamaran besok.”

Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.

Nafisa mengira sambungan teleponnya bermasalah. Ia bahkan sempat menjauhkan ponsel dari telinga untuk memeriksa layar, tetapi panggilan itu masih berlangsung.

“Bu?”

“I-iya, Naf. Ibu dengar.”

Nafisa kembali mendekatkan ponselnya.

“Ibu bisa datang, kan? Aku ingin Ibu hadir besok. Semua keluarga akan datang, dan aku ingin Ibu juga ada di sana. Tapi klau Ibu bersedia, aku ingin Ibu menjadi waliku.”

Kalimat terakhir itu membuat tenggorokannya terasa tercekat. Bagaimanapun juga, ia masih menginginkan kehadiran ibunya pada hari penting tersebut.

Namun, jawaban yang diterimanya justru membuat senyum tipis di bibirnya memudar.

“I-ibu enggak tahu, Naf. Ibu coba lihat dulu, ya.”

Nafisa menunduk. Jemarinya mengusap sisi ponsel, berusaha menyembunyikan kekecewaan yang perlahan muncul.

Ia sudah menduga ibunya mungkin akan menolak.

“Ya sudah, Bu. Kalau Ibu enggak bisa datang, enggak apa-apa.” Nafisa berusaha terdengar biasa saja. “Lagi pula, Ibu sedang hamil. Aku juga enggak mau merepotkan Ibu. Apalagi bila terjadi sesuatu pada Ibu di jalan.”

Hening.

Tak ada jawaban dari seberang sana. Hanya terdengar suara napas yang tidak teratur.

“YULIA! KENAPA ASIN SEKALI SIH? MAU KAWIN?!”

Nafisa sontak menjauhkan ponsel dari telinganya. Matanya membesar ketika mengenali suara pria yang berteriak itu.

Damar.

Itu suara mantan suaminya. Bukan, pria yang kini menjadi suami ibunya sendiri.

Nafisa membeku selama beberapa detik.

“Bu, siapa itu?” tanyanya cepat. “Ibu sedang di mana?”

“Naf, Ibu telepon lagi nanti, ya?”

“Bu, tunggu. Aku mau tanya—”

Tut.

Sambungan telepon terputus.

Nafisa terdiam, menatap layar ponselnya yang kini kembali menampilkan halaman utama. Ia bahkan sempat menekan tombol panggil lagi, tetapi urung.

Nafisa mengembuskan napas.

“Kenapa perasaanku jadi enggak enak begini?”

Di tempat Yulia berada, setelah memutuskan sambungan telepon dengan Nafisa, Yulia meletakkan ponselnya di atas meja. Ia baru saja hendak kembali ke dapur ketika suara Damar terdengar dari belakang.

“Yulia!”

Yulia segera berbalik. “Ada apa, Dam?”

Damar berdiri di dekat meja makan dengan wajah masam. Di hadapannya, sepiring tumis kangkung.

“Masih tanya kenapa? Nih, nih, coba!”

Belum sempat Yulia memahami maksud perkataan suaminya, Damar sudah menyambar sedikit tumis kangkung menggunakan tangannya. Pria itu kemudian menyodorkan sayuran tersebut ke mulut Yulia dengan gerakan kasar.

“Coba rasakan!”

Yulia terkejut. Ia berusaha memalingkan wajah, tetapi Damar terus memaksanya membuka mulut.

“Dam, apa-apaan, sih?” Yulia buru-buru menepis tangan suaminya hingga berhasil melepaskan diri. “Aku bisa makan sendiri!”

Damar menatapnya tajam.

“Asin enggak?!”

Yulia terdiam sesaat. Ia menatap tumis kangkung di piring, kemudian kembali memandang suaminya.

“Kalau memang terlalu asin, aku buatkan lagi.”

“Enggak usah!”

Prang!

Piring yang berada di tangan Damar seketika menghantam lantai. Suaranya memekakkan telinga, membuat Yulia tersentak mundur. Pecahan keramik berserakan, sementara tumis kangkung yang susah payah dimasaknya tumpah begitu saja di lantai.

“Astaghfirullah!” Yulia spontan menutup mulutnya.

Damar sama sekali tak menunjukkan penyesalan. Ia justru mengambil dompet dan kunci kendaraannya, lalu melangkah menuju pintu.

“Enggak usah masak lagi buat aku! Aku makan di luar!” bentaknya. “Tuh, habiskan semuanya! Mubazir kalau dibuang!”

Yulia berdiri kaku.

Bibirnya terbuka sedikit, tetapi tak ada satu pun kalimat yang berhasil keluar. Ia hanya bisa mengikuti kepergian Damar dengan pandangan kosong sampai punggung pria itu menghilang di balik pintu.

Beberapa detik kemudian, suara langkah Damar benar-benar lenyap.

Rumah itu kembali sunyi.

Yulia menunduk, menatap makanan yang berserakan di lantai.

Dengan hati-hati, Yulia berjongkok dan mulai mengumpulkan pecahan piring menggunakan tangan kosong. Ia terlalu terburu-buru membersihkan kekacauan itu sampai tak menyadari ada serpihan kecil yang masih tertutup sayuran.

“Aduh!”

Yulia segera menarik tangannya. Darah merah perlahan muncul, membentuk titik kecil yang semakin lama semakin jelas.

Ia memasukkan ujung jarinya ke mulut, berharap darahnya segera berhenti mengalir.

Matanya mulai terasa panas.

“Kenapa Damar berubah, ya?” bisiknya lirih. “Dulu dia enggak kayak gini. Dulu dia perhatian sama aku, tapi sekarang....”

Ucapannya terhenti.

Yulia menunduk, memandangi jari yang masih terasa perih. Ia berusaha menelan rasa sakit itu, tetapi justru air matanya jatuh membasahi pipi.

Yulia menghela napas panjang, lalu menyeka air matanya. Pandangannya beralih ke jam dinding, ia langsung tersentak.

Jarum jam menunjukkan hampir pukul setengah delapan malam.

“Astaga, aku bisa terlambat!”

Yulia segera bangkit. Ia mengambil sapu dan pengki, lalu membersihkan pecahan piring serta sisa makanan yang berserakan. Gerakannya terburu-buru, sesekali ia harus berhenti untuk mengusap perutnya yang mulai terasa tidak nyaman.

Setelah lantai kembali bersih, ia mencuci tangan dan membalut jarinya yang terluka dengan plester. Ia kemudian masuk ke kamar untuk berganti pakaian kerja.

Sudah sebulan ini Yulia bekerja sebagai buruh cuci. Setiap hari, ia menerima pakaian kotor dari beberapa pelanggan untuk dicuci dan disetrika. Pekerjaan itu cukup menguras tenaga, tetapi ia tak punya banyak pilihan.

Damar hanya memberinya uang satu juta rupiah setiap bulan.

Alasannya selalu sama, mereka harus berhemat.

Dengan uang sebanyak itu, Yulia harus memikirkan kebutuhan rumah tangga sekaligus keperluan kehamilannya. Bahkan, untuk membeli susu khusus ibu hamil saja, ia tak mampu.

Ketika ia mengusulkan agar mereka menyisihkan uang untuk membeli susu tersebut, Damar justru menyuruhnya minum susu kental manis karena harganya lebih murah.

Yulia tahu susu kental manis tidak bisa menggantikan susu khusus ibu hamil atau menjadi sumber nutrisi utama selama kehamilan. Namun, ia tak punya cukup uang untuk membeli yang lebih sesuai.

Setelah memastikan rumah dalam keadaan rapi. Yulia pun membuka pintu dan melangkah keluar.

Sebelum pergi, ia kembali menutup pintu, lalu menyelipkan kunci rumah di tempat yang biasa ia gunakan, di sela kayu dekat kusen.

Setelah memastikan kunci itu tersimpan dengan aman, ia segera bergegas meninggalkan rumah.

1
Mundri Astuti
hati" Nafisa ibumu belum tobat romannya...jangan tinggal bareng ya, sewain tmpt tinggal dan kasih pembantu yg usianya sama...

sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
Lee Mba Young
widih calon mangsa baru bu Yulia nih 🤣🤣🤣. dah gatel tu
Lee Mba Young
Ibu ibu dah tua kakean polah, the real beban buat nafisa.
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.
Lee Mba Young
nnti pasti semua biaya sang bayi smp bayi itu besar, biaya sekolah nafisa yg di suruh nanggung. iuhhh kasian nafisa, ibunya bukan membahagiakan tp ngasih beban.
Lee Mba Young
hbis ini ngemis lagi ke anak yg di khianati trus tanggung jawab adik nya semua biaya suruh nafisa yg nanggung. the real beban ibu Dan sang bayi.
Lee Mba Young
sekarang tinggal nunggu karma ibu Dan Adam itu. iuhh naudzibillah banget ngangkang ke mantu sendiri. jalang ketemu laki ngacengan 🤣.
Neni Rahmawati
bagus dewangga .
Neni Rahmawati
super duper gila..naudzubillah
Neni Rahmawati
ya ampun naudzubillah bu yulia..moga cepet dapet azab..si damar juga sama2 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!