"Aku yang menciptakan penderitaanmu... maka aku juga yang akan jadi takdir bahagiamu."
Lili tidak pernah menyangka akan bertransmigrasi ke dalam novel buatannya sendiri—menjadi Lilian, seorang pelayan biasa. Mengerikannya, ia datang saat Damian, sang tokoh utama pria, berada di titik terendah.
Dibuang keluarga, posisinya dijarah, dan tunangannya direbut anak angkat yang licik.
Tahu betul penderitaan ciptaannya, Lilian pasang badan. Berbekal 'pengetahuan masa depan', ia membongkar kejahatan anak angkat itu dan menuntun Damian merebut kembali segalanya.
Namun, saat dendam terbalaskan dan Lilian berniat pergi, Damian justru menguncinya erat.
"Kamu yang mengajarkanku cara bangkit, Lilian. Jangan harap bisa pergi setelah merebut hatiku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.30 —Garis tipis Kepercayaan
Keesokan paginya, Damian perlahan membuka mata. Biasanya, hal pertama yang ia rasakan adalah sentuhan lembut atau sapaan manja Lilian yang membangunkan tidurnya. Namun, pagi kali ini terasa sangat berbeda. Suasana kamar begitu hening dan dingin.
Damian menoleh ke sisi kanannya—kosong. Tidak ada sosok Lilian di sana.
Mendadak perasaan tidak tenang menyergap dadanya. Dengan bergegas Damian beranjak dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar. Ia berjalan cepat menuju dapur, berharap menemukan Lilian di sana sedang sibuk membantu Maya.
Namun, hasilnya nihil. Di dapur hanya ada koki dan Maya yang sedang memberikan instruksi.
"Tuan, Anda memerlukan sesuatu?" tanya Maya saat menyadari kehadiran majikannya.
"Di mana Lilian, May?" tanya Damian cepat, napasnya sedikit memburu.
"Nona Lilian? Saya belum melihat Nona sejak tadi, Tuan. Mungkin sedang berada di kamar Nona Kara," balas Maya.
Damian mengangguk singkat, lalu berbalik dan bergegas menuju kamar sang adik. Namun, lagi-lagi hasilnya nihil. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Lilian maupun Kara di dalam kamar tersebut.
"Lilian... kamu di mana?" gumam Damian pelan. Rasa panik yang tak beralasan mulai merayapi benak pria itu.
Saat Damian berdiri mematung di koridor dengan wajah bingung, pintu kamar Arthur terbuka. Pria paruh baya itu keluar dan menatap putra sulungnya. Hubungan mereka memang masih terasa canggung jika menyangkut urusan pribadi, meski sangat solid saat membahas pekerjaan.
"Ada apa, Damian? Kenapa kamu tampak panik?" tanya Arthur heran.
"Dad... Lilian tidak ada. Dia hilang, Dad," balas Damian dengan raut tegang.
Arthur menaikkan sebelah alisnya, mengamati putranya. "Hilang? Jangan berlebihan. Mungkin dia hanya sedang jalan-jalan pagi di luar."
Arthur menghela napas panjang, menatap putra sulungnya itu dengan tatapan tajam nan dalam. Ia bisa melihat ketakutan yang nyata di mata Damian—ketakutan yang tidak pernah diperlihatkan pria itu dalam urusan bisnis sekalipun.
"Sejak kapan seorang Damian jadi semudah ini kehilangan kendali cuma karena tidak melihat wanita dalam beberapa jam?" tanya Arthur dengan suara berat dan tenang.
Damian mengepalkan tangannya di samping tubuh, rahangnya mengetat. "Dad, aku cuma khawatir. Tidak biasanya dia bangun pagi dan pergi begitu saja tanpa pamit."
"Khawatir, atau kamu sedang merasa bersalah?" potong Arthur cepat, membuat Damian seketika terdiam mematung.
Arthur melangkah mendekat, menepuk pundak Damian pelan namun terasa mantap.
"Lilian itu wanita yang cerdas dan peka, Damian. Kalau kamu pikir kamu bisa menyembunyikan sesuatu dari dia, kamu salah besar," ujar Arthur lirih, suaranya dipenuhi ketegasan seorang ayah. "Seorang wanita tidak akan tiba-tiba berubah dingin atau menjauh tanpa alasan. Kalau kamu sungguh-sungguh takut kehilangan dia, jaga sikapmu. Jangan sampai kebohongan kecil yang kamu buat justru menghancurkan kepercayaan yang sudah kalian bangun bertahun-tahun."
Damian tertegun, kata-kata sang ayah menembus tepat ke dadanya.
"Pikirkan itu," tambah Arthur sebelum akhirnya berbalik melangkah pergi meninggalkan Damian yang masih berdiri kaku di koridor.
"Kebohongan..." Batin Damian meringis. Bayangan pertemuannya dengan Clara semalam mendadak berputar kembali di kepalanya, memicu rasa bersalah yang makin menghimpit dada.
Namun kini, kata-kata ayahnya menyadarkan Damian. Di mata Lilian, tindakan sembunyi-sembunyi itu bisa diartikan sebagai pengkhianatan.
Dengan napas memburu dan dada yang terasa sesak oleh penyesalan, Damian berputar arah. Ia melangkah lebar menuju pintu utama mansion, bertekad menyusuri seluruh sudut taman dan area sekitar rumah demi menemukan Lilian—dan memohon maaf sebelum segalanya terlambat.
Namun, sebelum Damian sempat melangkah keluar menuju taman belakang, pintu gerbang utama mendadak terbuka. Suara deru mesin mobil terdengar nyaring memasuki pelataran rumah. Itu adalah mobil sedan yang biasa dipakai oleh adiknya.
Tak lama kemudian, pintu mobil terbuka. Kara turun bersama Eleanor dan Lilian sambil membawa beberapa kantong belanjaan dan makanan.
"Lilian!" seru Damian spontan.
Tanpa memedulikan keberadaan Eleanor atau Kara di sana, Damian melangkah lebar dan langsung merengkuh tubuh Lilian ke dalam pelukan yang sangat erat. Dekapan itu begitu protektif, seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, Lilian akan menghilang bagai asap.
Lilian tersentak kaget. Ia terpaku di tempat dengan tangan yang masih memegang kantong belanjaan, benar-benar bingung dengan reaksi dramatis pria di hadapannya ini.
"Kamu kenapa sih?" tanya Lilian terheran-heran seraya menepuk-nepuk pelan punggung Damian.
Eleanor dan Kara yang berdiri tidak jauh dari mereka saling melempar pandang, lalu menyunggingkan senyum tipis melihat tingkah sepasang kekasih itu.
"Tadi Mommy dan Kara jalan-jalan sebentar keluar sambil beli sarapan," ujar Eleanor memberi penjelasan lembut, lalu menggandeng Kara masuk ke dalam rumah karena tidak ingin mengganggu momen pribadi Damian dan Lilian.
Damian perlahan melepaskan pelukannya, menangkup kedua pipi Lilian dan menatap manik matanya dalam-dalam. "Beneran? Kamu... gak kabur kan?"
Pertanyaan konyol itu membuat Lilian menghela napas pelan, merasa heran sekaligus gemas dengan tingkat kepanikan Damian.
"Engga, Damian. Aku cuma ingin beli sesuatu, makanya tadi ikut Mommy dan Kara," balas Lilian lembut.
"Kenapa kamu gak bangunin aku dulu?" tanya Damian lagi, suaranya kini melunak namun masih tersisa sedikit nada protes.
"Kamu kan masih tidur nyenyak banget tadi. Lagian aku udah tinggalin pesan kok di ponsel kamu," sahut Lilian santai.
Damian tertegun sejenak, baru teringat kalau ia sama sekali belum mengecek ponselnya sejak terbangun panik tadi. Rasa lega yang luar biasa seketika membuncah di dadanya, mengikis habis seluruh ketakutan dan rasa bersalah yang sempat menghimpitnya.
"Baiklah... lupakan saja. Ayo ke kamar," kata Damian seraya merangkul pinggang Lilian rapat-rapat. "Temani aku di sana, aku mau mandi."
Lilian menaikkan sebelah alisnya, menyunggingkan senyum jahil. "Ihh, udah gede juga masih minta ditemenin mandi," cibir Lilian.
Cibiran itu justru memancing senyum tipis khas Damian yang sangat hangat—senyuman yang hanya diperlihatkan khusus untuk Lilian seorang.
Bersambung ...
d'ajak nikah gak mau
buat apa bertahan demi laki² yang tidak mau menikahi'mu
balik wwooii... balikk...
wow....
kejutan....
ada apa ini Li...
Emak Bapak'mu gak nyariin Kamu Li
tarik nafas lewat mulut...
buang lwt bawah...
bbrrooootttt🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
tapi Kamu jadi kaya raya Li
mengganggu aja