Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30— Air Mata yang Tidak Terlihat
Sementara itu Arkan akhirnya memutuskan pergi menjelang dini hari.
Namun sebelum mobil berjalan, alat komunikasinya berbunyi.
“Tuan muda.”
“Ada apa?”
“Kami menemukan sesuatu tentang Hendro.” lapor anak buahnya.
Tatapan Arkan langsung berubah dingin lagi.
“Mereka berencana kabur ke luar negeri tuan muda.”
“Apa mereka masih punya aset?”
“Beberapa aset masih tersisa tuan muda.”
Arkan tersenyum tipis, senyum tanpa kehangatan.
“Bekukan semuanya, jangan sampai mereka kabur...”
“Baik tuan muda.”
“Dan awasi mereka dua puluh empat jam.” Tatapannya perlahan mengeras.
“Aku belum selesai dengan mereka, aku tidak akan biarkan mereka kabur dengan mudah.”
Pagi berikutnya…
Berita tentang kehancuran bisnis Hendro mulai tersebar.
Beberapa perusahaan mereka resmi bangkrut. Rumah mereka disita. Dan utang besar mulai ditagih bersamaan.
Sisil membaca berita itu dengan tangan gemetar.
“Ini nggak mungkin, ini, ini…” Sisil bahkan tidak mampu melanjutkan ucapannya.
“Dia sengaja menghancurkan kita!” Livia bahkan mulai histeris.
“Arkan Wiratmaja…” Hendro membanting ponselnya marah.
Nama itu kini terdengar seperti mimpi buruk karena setiap kali mereka mencoba bergerak Arkan selalu selangkah lebih cepat dan yang paling mengerikan pria itu bahkan belum benar-benar menunjukkan dirinya.
Di sisi lain Ranti juga membaca berita yang sama.
Dan entah kenapa ia langsung tahu siapa pelakunya.
“Arkan…” Tangannya gemetar memegang koran.
Putranya benar-benar berubah bukan lagi anak laki-laki hangat yang dulu selalu melindungi Alkina.
Sekarang Arkan menjadi seseorang yang bergerak dalam bayangan dan menghancurkan musuhnya perlahan.
Setiawan menghela napas berat.
“Kita kehilangan terlalu banyak waktu Ranti…”
“Semua karena aku…” Ranti menangis pelan.
Sore harinya, Alkina duduk sendiri di taman belakang rumah Mira.
Angin sore meniup rambutnya lembut namun pikirannya masih penuh dengan abangnya Arkan.
Ia ingin bertemu, sangat ingin dan seolah menjawab kerinduannya. Sebuah kotak kecil tiba-tiba diletakkan di meja taman oleh salah satu penjaga rumah.
“Nona… ada titipan.” ucap penjaga.
Alkina mengernyit bingung.
“Dari siapa ini?”
Pria itu hanya menunduk. “Saya tidak tahu nona.”
Entah kenapa jantung Alkina langsung berdebar keras.
Tangannya perlahan membuka kotak itu dan begitu melihat isi di dalamnya air matanya langsung jatuh.
Sebuah gelang sederhana. Gelang lama yang dulu diberikan Arkan kecil untuknya saat mereka masih anak-anak. Gelang yang Arkan beli di pedagang kaki lima.
Di bawahnya ada secarik kertas kecil. Tulisan tangan itu sedikit berubah karena usia namun Alkina langsung mengenalinya.
“Maaf karena terlambat melindungimu.”
Tubuh Alkina langsung gemetar hebat. Air matanya jatuh tanpa henti sambil memeluk gelang itu erat ke dada.
Karena akhirnya abangnya benar-benar menjawab kerinduannya.
******
Sejak menerima gelang itu…
hati Alkina tidak pernah benar-benar tenang lagi. Setiap hari ia memikirkan Arkan Memikirkan bagaimana wajah abangnya sekarang. Memikirkan bagaimana rasanya dipeluk kembali oleh satu-satunya orang yang pernah membuatnya merasa aman, satu-satunya orang yang selalu memprioritaskan dan rela melakukan apa saja untuk dirinya.
Namun di saat yang sama Arkan tetap tidak muncul dan kerinduan itu perlahan berubah menjadi rasa sesak yang sulit dijelaskan.
Siang itu Mira sedang pergi menghadiri urusan penting.
Rumah menjadi lebih sepi dari biasanya.
Alkina duduk termenung cukup lama sebelum akhirnya mengambil keputusan kecil yang sudah lama ia pikirkan Ia ingin keluar sebentar. Hanya sebentar.
“Aku cuma mau beli buku,” ujarnya pada penjaga rumah.
Pria itu langsung terlihat ragu.
“Tapi Bu Mira bilang...”
“Aku pakai penyamaran jadi kalian tenang saja, aku akan baik-baik saja.”
Alkina tersenyum kecil sambil menunjukkan topi dan masker yang ia kenakan dan juga wajahnya sudah ada beberapa titik hitam serta ia menggunakan baju dari seorang pembantu, Alkina yakin tidak akan ada yang mengenali dirinya.
“Aku juga tidak pergi jauh.” ucap Alkina meyakinkan penjaga itu.
Penjaga itu masih tampak khawatir namun akhirnya mengangguk setelah memastikan beberapa orang tetap mengikuti Alkina diam-diam.
Ini pertama kalinya setelah sekian lama Alkina berjalan sendirian di luar tanpa rasa terlalu takut, tanpa risih di ikuti oleh banyak penjaga.
Meski wajahnya tertutup masker dan topi serta penampilan yang jauh berbeda dari biasanya, tetap saja ia merasa gugup.
Namun suasana kota yang ramai justru membuatnya sedikit lega, ia masuk ke toko buku kecil di pusat kota.
Tempat yang tenang dan tanpa sadar tempat itu juga merupakan tempat yang sering dikunjungi Arkan diam-diam selama bertahun-tahun.
Di waktu yang sama Arkan baru saja masuk ke toko tersebut dari pintu belakang. Ia memang sering datang ke sana sejak tahu Alkina suka buku. Entah kenapa tempat itu membuatnya merasa dekat dengan adiknya.
“Tuan muda, buku pesanan anda sudah datang,” ujar pemilik toko pelan.
Arkan mengangguk kecil lalu berjalan ke arah rak belakang namun langkahnya perlahan berhenti.
Karena tidak jauh dari sana ada seorang gadis bertopi sedang berdiri sambil membaca sampul buku.
Postur itu, cara gadis itu menggenggam buku dan gelang biru di pergelangan tangannya membuat jantung Arkan langsung berhenti sesaat.
“Nana…” Bisikan itu nyaris tidak terdengar.
Sementara itu Alkina yang sedang memilih buku tiba-tiba merasakan sesuatu. Perasaan hangat aneh yang sangat familiar, ia perlahan menoleh dan matanya langsung bertemu dengan seorang pria tinggi berpakaian hitam beberapa meter darinya.
Entah kenapa jantungnya berdebar kencang. Dunia seolah berhenti, wajah pria itu jauh lebih dewasa sekarang. Tatapannya lebih dingin. Dan ada luka samar di dekat pelipisnya, namun mata itu Alkina langsung mengenalinya.
“Bang Arkan …” Napasnya tercekat.
Itu Arkan, abangnya. Orang yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam kenangan dan mimpi, orang yang sudah lama ingin ia temui.
Air mata langsung memenuhi mata Arkan, namun sebelum langkahnya bergerak ia melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak.
Tatapan Arkan, tatapan itu penuh kerinduan, namun juga dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan dan saat itu Alkina tiba-tiba mengerti, abangnya benar-benar takut menemuinya.
Tangannya perlahan mengepal. Kalau sekarang ia mendekat, Arkan mungkin akan semakin merasa tertekan. Maka dengan air mata yang terus jatuh diam-diam di balik masker Alkina justru menundukkan kepalanya pelan.
Lalu berpura-pura kembali melihat buku. Sementara Arkan membeku di tempatnya. Laki-laki itu bahkan tidak berani bergerak, karena ia takut semua ini hanya ilusinya lagi.
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam dan akhirnya Alkina berjalan pergi lebih dulu.
Langkahnya pelan, namun hatinya terasa sangat sakit karena inipertama kalinya abangnya berdiri begitu dekat di depannya dan mereka tetap tidak bisa saling memeluk.
Saat Alkina keluar toko, air matanya akhirnya jatuh semakin deras. Salah satu penjaga yang mengikuti dari jauh langsung panik.
“Nona! Anda kenapa? Anda baik-baik saja?” tanya penjaga itu cemas.
Namun Alkina hanya menggeleng cepat.
“Aku nggak apa-apa… aku baik-baik saja...” Suara gadis itu bergetar hebat.
“Tolong… jangan bilang siapa-siapa... kalau aku keluar hari ini.”
Sementara itu di dalam took Arkan masih berdiri diam. Tatapannya kosong ke arah pintu tempat Alkina pergi.
Tangannya gemetar pelan karena tadi Alkina benar-benar ada di depannya. Dan yang paling menghancurkan hatinya adiknya memilih pergi tanpa memanggilnya.