NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 18

Pagi itu, udara di lorong utama SMA Garuda terasa lebih pekat dari biasanya. Berita mengenai adu mulut di ruang transit mentor antara Ketua OSIS dan Mas Gabriel mulai menyebar luas di kalangan murid kelas XII. Meski tak ada yang tahu pasti topik pembicaraan mereka yang sebenarnya, kehadiran Gabriel yang dinilai terlalu sering memberi perhatian khusus pada Kirana mulai memicu spekulasi.

Di dalam ruang kelas XII IPA 2, Kirana duduk berpangku tangan menatap keluar jendela. Buku catatan Fisika di depannya terbuka, tetapi pikirannya melayang pada tatapan Kenan kemarin sore di tangga darurat. Tatapan yang memperlihatkan celah ketakutan di balik topeng ketegasan sang Ketua OSIS.

"Kir! Lo melamun lagi?" tegur Maya seraya mendaratkan telapak tangannya di meja, memecah lamunan Kirana.

Kirana tersentak pelan. "Eh? Enggak kok, May. Gue Cuma lagi mikirin rumus gelombang elektromagnetik ini, benaran bikin pusing."

"Pusing rumus apa pusing ngeliat perang dingin antara Kak Kenan sama Mas Gabriel?" goda Maya dengan nada berbisik. Ia menggeser kursinya agar lebih dekat ke arah Kirana. "Sumpah ya, Kir. Tadi pagi anak-anak divisi Mading pada gosip. Katanya kemarin sore Kak Kenan nyamperin ruang transit dengan muka datar tapi auranya horor banget. Lo beneran gak diintimidasi sama mereka berdua kan?"

Kirana menggeleng cepat. "Nggak sama sekali, May. Kemarin itu cuma urusan teknis berkas riset kelompok. Kenan kan emang begitu kalau urusan kelengkapan dokumen, teliti banget sampai terkesan galak."

"Tapi jujur ya," Maya menopang dagunya, "Mas Gabriel itu perhatiannya ke lo agak beda, Kir. Walaupun dia mentor buat semua anak kelas XII, tapi tiap kali bahas materi atau proyek beasiswa, nama lo mulu yang dipanggil. Kalau gue jadi pacarnya Kenan—eh, maksud gue, kalau gue ada di posisi orang yang dekat sama lo—gue pasti ikutan cemburu."

Kirana memilih meminum air mineralnya untuk menghindari topik tersebut. Ia tahu betul batas yang harus dijaganya. Gabriel mungkin adalah teman masa kecil yang penuh perhatian, namun Kenan adalah suami dan masa depannya saat ini.

....

Saat bel istirahat pertama berbunyi, seluruh ketua kelompok proyek Education Exchange dipanggil menuju laboratorium komputer di lantai dua untuk menyelesaikan jadwal simulasinya.

Kenan sudah duduk di meja paling depan dengan laptop dinas OSIS yang menyala. Penampilannya rapi seperti biasa, tetapi sorot matanya tampak lebih tajam dari hari-hari sebelumnya. Gabriel berdiri di depan proyektor, merapikan lengan kemeja abu-abunya sebelum memulai pengarahan.

"Selamat siang semuanya," buka Gabriel dengan suara baritonnya yang tenang. "Hari ini kita akan mengunci draf awal dari setiap kelompok. Seperti yang sudah disepakati dengan pihak kurikulum, lima puluh persen nilai simulasi riset ini akan dimasukkan ke dalam komponen penilaian akhir semester."

Gabriel lalu memindahkan slide presentasi, menampilkan grafik persentase kelayakan proyek dari masing-masing kelompok.

"Sejauh ini, Kelompok 1 yang diketuai oleh Kenan Alister menunjukkan progress paling signifikan dalam hal struktur data," lanjut Gabriel. Ia menatap lurus ke arah Kenan. "Namun, dari evaluasi mentor, ada sedikit catatan kritikal. Fokus riset Kelompok 1 terlalu teoretis pada manajemen OSIS internal, kurang menyentuh aspek psikologis siswa, khususnya dampak tekanan akademis dan hubungan personal terhadap performa belajar."

Suara Gabriel yang menyebut frasa 'hubungan personal' terkesan sangat halus, tetapi bagi Kenan, kalimat itu terasa seperti sindiran langsung yang dilemparkan tepat ke wajahnya.

Kenan menegakkan posisi duduknya, menatap layar proyektor tanpa riak emosi. "Saran yang bagus, Mas Gabriel. Namun riset organisasi dibuat berdasarkan variabel yang terukur secara empiris, bukan pada asumsi atau dinamika personal yang sifatnya spekulatif dan tidak relevan dengan instrumen sekolah."

Atmosfer di dalam laboratorium komputer seketika mendingin. Beberapa ketua kelompok lain yang duduk di barisan belakang saling berpandangan, merasakan ketegangan di antara dua pemuda tersebut.

Gabriel tersenyum tipis, mengetukkan jarinya di atas meja p podium. "Dalam kajian akademik luar negeri, variabel personal justru menjadi faktor penentu utama, Kenan. Ketika seseorang menyembunyikan variabel penting dalam sebuah sistem, riset itu akan menghasilkan bias. Tapi tak apa, kita lihat saja bagaimana hasil kuesioner lapangan yang akan disebar oleh Kirana nanti."

Kenan tidak membalas lagi secara lisan. Ia hanya mencatat poin evaluasi tersebut di lembar kerjanya dengan gerakan tangan yang tegas dan cepat, menandakan bahwa perang dingin ini telah bergeser ke ranah profesionalisme di lapangan.

…

Sore harinya, hujan deras mengguyur kompleks sekolah. Sebagian besar murid sudah pulang ke rumah masing-masing, sementara Kirana masih berada di lorong ruang piket untuk menyelesaikan pengisian lembar kuesioner bersama beberapa anggota divisi Mading.

Saat Kirana hendak melangkah menuju gerbang depan dengan payung di tangannya, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan tangga lobi. Kaca mobil tersebut diturunkan, memperlihatkan Gabriel di kursi pengemudi.

"Kirana," panggil Gabriel ramah di tengah suara gemuruh hujan. "Hujan deras banget. Ayo masuk, sekalian gue anterin pulang. Ada beberapa draf kuesioner yang perlu gue jelaskan langsung supaya lo gak kesulitan pas nyusun analisisnya besok."

Kirana menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. Ia memegang erat gagang payungnya, teringat pada janji yang dikatakannya pada Kenan malam kemarin di rumah.

"Makasih atas tawarannya, Kak Gabriel," jawab Kirana sopan namun berjarak. "Tapi sebentar lagi gue ada janji jemputan. Untuk materi kuesioner, drafnya sudah dijelaskan secara detail sama Kenan tadi siang."

Gabriel menatap Kirana dari dalam mobil. Ada kilat kekecewaan yang sangat jelas di matanya, namun ia berusaha menutupinya dengan senyuman tenang. "Lo yakin, Ran? Hujan makin deras dan jalanan depan sekolah biasanya banjir kalau sore begini," bujuk Gabriel lagi. "Gue cuma mau bantu lo sebagai mentor, gak lebih."

Sebelum Kirana sempat membalas, suara deru mesin sepeda motor matik besar terdengar dari arah parkiran dalam. Kenan muncul dengan mengenakan jas hujan hitam tipis di atas seragam OSIS-nya, menghentikan motornya persis di samping mobil Gabriel.

Kenan membuka kaca helmnya, menatap Gabriel dingin sebelum beralih memandang Kirana dengan lembut.

"Naik, Kirana," perintah Kenan singkat namun penuh penekanan. Terlihat jelas sekali ketidaksukaan nya pada Gabriel.

Kirana tanpa ragu sedikit pun langsung membuka payungnya, melangkah mendekati motor Kenan, dan naik ke kursi penumpang di belakang suaminya. Ia memeluk pinggang Kenan rapat-rapat, menyembunyikan wajahnya di balik punggung lebar Kenan dari terpaan angin hujan.

Kenan menatap Gabriel dari balik kaca helmnya. "Permisi, Mas Gabriel, Kirana sudah ada janji pulang bersama saya untuk evaluasi tugas."

Tanpa menunggu balasan dari Gabriel, Kenan langsung menarik gas motornya, membelah genangan air hujan menuju gerbang luar sekolah. Gabriel memperhatikan kepergian motor tersebut melalui spion mobilnya, meremas lingkar kemudi dengan wajah yang menggelap.

Perjalanan menuju rumah mereka diiringi oleh guyuran hujan yang cukup lebat. Begitu tiba di garasi rumah minimalis dua lantai mereka, Kenan langsung menuntun Kirana masuk ke dalam hall depan untuk menghindari angin malam yang dingin.

Kenan melepaskan jas hujannya yang basah, melepas helm, lalu berbalik menatap Kirana yang bajunya sedikit terkena cipratan air di bagian lengan.

"Lo gak kena hujan deras kan?" tanya Kenan, nadanya ketus namun tangannya dengan sigap mengambil handuk kering di dekat rak depan dan menyangkutkannya di bahu Kirana.

Kirana tersenyum kecil melihat perhatian tertutup dari suaminya. "Nggak kok, cuma bagian lengan doang yang agak basah. Lo sendiri gimana? Baju lo agak basah tuh di bagian bahu."

Kenan tidak menjawab. Ia mengusap sisa titik air hujan di dahi Kirana dengan jemarinya, lalu menatap mata istrinya lurus-lurus.

"Makasih ya," bisik Kenan pelan, hampir tak terdengar di antara suara hujan yang menghantam atap rumah.

Kirana mengernyit heran. "Makasih buat apa?"

"Makasih karena tadi lo milih buat nolak tawarannya Gabriel dan nungguin gue," kata Kenan dengan nada jujur. "Gue tadi sempat pikir lo bakal naik ke mobil dia karena hujan deras banget."

Kirana menatap raut wajah Kenan yang selalu berusaha tampil sempurna dan kuat di depan semua orang, namun kerap memperlihatkan sisi rapuhnya hanya di hadapan Kirana. Kirana melepaskan handuk di bahunya, melingkarkan kedua tangannya di leher Kenan, dan berjinjit sedikit untuk mencium pipi kanan suaminya.

"Kan gue udah janji, Pak Ketos," goda Kirana lembut. "Gue ini udah ada yang punya. Mana mungkin gue mau naik mobil cowok lain sementara suami gue bela-belain naik motor di tengah hujan cuma buat jemput gue?"

Kenan menghembuskan napas lega, rasa tegang yang menumpuk di dadanya sepanjang hari seketika mencair. Ia memegang pinggang Kirana dan mengangkat tubuh cewek itu sedikit dan membawanya ke area ruang tengah yang lebih hangat.

Di dapur, aroma teh hangat dan sup ayam segar membumbung memenuhi ruangan. Kenan yang sudah berganti pakaian santai, celana kain abu-abu dan kaos lengan panjang hitam sedang menyiapkan mangkuk saji, sementara Kirana mengeringkan rambutnya dengan handuk di meja makan.

"Soal riset kelompok tadi siang di lab," buka Kirana sambil mengaduk teh hangatnya. "Kak Gabriel beneran bikin lo tersinggung ya?"

Kenan meletakkan mangkuk sup di meja, lalu duduk di hadapan Kirana. "Dia gak bikin gue tersinggung secara profesional. Tapi dia secara sengaja memakai instrumen riset buat menyindir  kita."

"Gue rasa dia cuma belum bisa nerima keadaan, Ken," kata Kirana pelan. "Dulu waktu kecil di Jerman, dia emang tipe cowok yang selalu mendapatkan apa yang dia mau karena prestasinya. Pas dia balik ke sini dan tahu keadaan gue udah beda, dia ngerasa kehilangan kontrol."

Kenan menatap cangkir tehnya, jari-jemarinya mengetuk permukaan meja secara teratur. "Gue gak peduli sama masa lalu dia atau ambisinya. Tapi kalau strategi evaluasi dia di sekolah mulai mengganggu nilai akademis lo atau memicu kecurigaan anak-anak lain, gue gak akan tinggal diam."

"Maksud lo gimana?" tanya Kirana penasaran.

"Gue udah minta izin ke Pak Suryo buat menarik sebagian besar porsi pengolahan data kuesioner ke sistem internal OSIS," jelas Kenan tegas. "Jadi minggu depan, pas presentasi pertengahan, Gabriel gak punya celah buat menginterogasi lo di depan umum. Semua validasi data bakal lewat gue."

Kirana menatap Kenan dengan rasa kagum yang tak bisa disembunyikan. Di balik sifat protektifnya yang terkadang berlebihan, Kenan selalu berpikir sepuluh langkah di depan untuk memastikan Kirana aman dari segala bentuk risiko di sekolah.

"Lo emang Ketua OSIS paling cerdas" puji Kirana sambil tersenyum.

Kenan melirik Kirana dengan sudut matanya, berusaha menyembunyikan rasa bangga dan senyum tipis di bibirnya. "Makanya makan sup nya cepat habis. Habis ini lo harus belajar Fisika bab enam, gue yang bakal bimbing langsung."

"Aduhh, ampun Pak Ketos! Masak habis makan langsung belajar sih!" keluh Kirana berpura-pura lemas, memegangi kepalanya.

Kenan terkekeh pelan, meraih sendok dan menyuapkan sepotong sayur ke mulut Kirana. "Gak ada alasan. Katanya mau kuliah di Bandung bareng gue?"

Sementara itu, di ruangan kerjanya yang luas di rumah keluarga Wijaya, Gabriel berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke halaman luar. Di atas mejanya, berkas rekam medis dan data latar belakang keluarga Kirana serta Kenan terhampar rapi.

Gabriel menyesap kopi hitamnya yang dingin, menatap rintik hujan yang tak kunjung berhenti.

"Lo boleh menang di sekolah dan menjaga dia untuk saat ini, Kenan Alister," gumam Gabriel dengan suara yang teramat dingin dan tenang. "Tapi ujian nasional dan seleksi masuk perguruan tinggi tinggal beberapa bulan lagi. Ketika rahasia ini mulai membebani karier akademis kalian berdua, kita lihat sejauh mana ikatan pernikahan anak SMA bisa bertahan."

Gabriel meletakkan cangkirnya, lalu mengambil sebuah pena merah dan melingkari tanggal pelaksanaan Ujian Akhir Semester dan Simulasi Beasiswa Luar Negeri di kalender kerjanya.

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!