NovelToon NovelToon
KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.

Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.

Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detak Nyata Dikursi Depan

Jarum jam dikamarku baru saja menyentuh angka 06.50 WIB, tetapi aku sudah berdiri rapi di depan cermin besar. Kemeja katun biru langit yang tempo hari mendapat "sensor kelayakan" dari Arga sengaja kupakai lagi, dipadukan dengan celana kulot hitam yang kasual. Aku berkali-kali merapikan kerah baju, menyeka keringat dingin di telapak tanganku, dan mengecek sisa riasan tipis di wajahku.

Jantungku berdegup abnormal sejak kelopak mataku terbuka subuh tadi. Kata-kata Arga semalam tentang janji jemputan jam tujuh pagi terus berdengung di kepala, membuatku tidak bisa sarapan dengan tenang.

Tin!

Suara klakson pendek yang terdengar berat dan berwibawa mendadak memecah keheningan pekarangan rumah kosku. Tepat pukul 07.00 WIB. Tanpa meleset satu menit pun.

"Astaga, dia beneran datang," bisikku parau. Aku buru-buru menyambar tas kain lalu setengah berlari menuju pintu depan.

Begitu membuka pagar rumah, sebuah mobil hitam mewah milik Arga sudah terparkir rapi di tepi jalan. Kaca jendela bagian kemudi perlahan turun, menampilkan seraut wajah tampan dengan garis rahang tegas yang sedang menatapku datar. Namun, kilatan matanya pagi ini tidak lagi sedingin biasanya, terlihat lebih hangat dari biasanya.

"Pagi, Shavia. Ayo masuk," ujar Arga dengan suara baritonnya yang berat, membukakan kunci pintu otomatis dari dalam.

"P-pagi, Arga," jawabku agak terbata-bata. Aku membuka pintu penumpang depan, lalu mendudukkan diriku di atas kursi yang empuk dan sejuk.

Aroma parfum maskulin khas Arga langsung mengepung indra penciumanku, membuat kepalaku mendadak kosong.

Mobil perlahan melaju, membelah jalanan komplek yang masih sepi. Begitu mobil memasuki jalan raya utama, keheningan yang luar biasa canggung mendadak menyelimuti kami berdua. Deru halus mesin mobil terasa begitu dominan.

Aku meremas tali tas kain di pangkuanku erat-erat, menatap lurus ke arah kaca depan, benar-benar bingung harus membuka obrolan dengan kalimat seperti apa. Sifat keras kepala dan lidah tajamku yang biasanya lincah menggoda pria ini, mendadak mogok total karena terlalu canggung, setelah pengakuan malam kemarin.

Aku meliriknya dari sudut mata. Kedua tangan Arga mencengkeram kemudi dengan santai, tetapi aku bisa melihat gurat ketegangan yang samar di pelipisnya. Pria itu tampaknya sama-sama bingung menghadapi situasi baru ini.

Arga berdehem pelan sekali, memecah kesunyian yang menyiksa. Dia melirikku sekilas sebelum kembali melempar pandangannya ke arah arus lalu lintas di depan.

"Gimana... tidur lu semalam?" tanya Arga, nadanya terdengar agak kaku, seolah dia sedang memaksakan diri untuk merangkai kalimat basa-basi.

Aku tersentak kecil, langsung menoleh ke arahnya dengan pipi yang mendadak terasa hangat.

"Eh...Tidur... tidurku semalam nyenyak kok, Arga. Nyenyak banget malah. He..."

"Bagus kalau gitu," gumam Arga pendek.

Dia terdiam selama beberapa detik, mengetuk-ngetuk jarinya di atas kemudi mengikuti irama musik instrumen yang sengaja dia setel dengan volume rendah.

"Gue pikir lu bakal bergadang semalaman gara-gara... kejadian kemarin."

Mendengar kata itu, mukaku seketika memerah padam bagai kepiting rebus. Ingatan tentang bagaimana lengan kekarnya merengkuh tubuhku dengan erat semalam langsung berputar hebat di kepala.

"I-ih, enggak kok. Aku tidurnya cepat. Kamu sendiri... gimana?"

Arga tersenyum sangat tipis, sebuah kerutan kecil di sudut bibirnya yang hampir tidak terlihat jika aku tidak memperhatikannya dengan jeli.

"Gak. Semalam gue tidur cukup. Pikiran gue udah gak penuh lagi."

"Penuh karena apa emangnya?" tanyaku spontan, memancingnya dengan nada se-natural mungkin.

Arga menghentikan mobilnya karena lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah. Pria itu memutar tubuhnya sedikit ke arahku, menatapku lurus-lurus dengan sepasang mata tajamnya, yang kini memancarkan binar penuh kehangatan.

"Penuh karena mikirin lu, Shavia. Puas?"

Blush.

Pasokan oksigen di paru-paruku serasa disedot habis dalam sekejap. Aku refleks menundukkan kepala sedalam-dalamnya, menyembunyikan wajahku di balik helaian rambut yang terurai.

Kalimat lugasnya benar-benar membuat jantungku berdisko tidak keruan. "Kamu... bisa bercanda juga ternyata," bisikku malu-malu, namun ada binar kebahagiaan yang tidak bisa kusembunyikan dari sudut bibirku yang melengkung lebar.

Arga terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang terdengar begitu indah dan menenangkan di telingaku.

"Gue gak lagi bercanda. Gue cuma ngomong apa adanya. Lu udah sarapan belum?"

"Udah kok, tadi sempat makan roti isi selai sedikit," jawabku, perlahan mulai berani mendongak dan menatapnya kembali.

"Kamu sendiri, udah sarapan?"

"Udah, tadi di rumah bareng Alya," Arga kembali melajukan mobilnya saat lampu berubah menjadi hijau.

Pria itu menghembuskan napas panjang melalui hidungnya, raut wajahnya kembali berubah sedikit jengkel saat mengingat adiknya.

"Anak itu dari subuh udah berisik banget di meja makan. Nanyain apakah gue beneran mau jemput lu atau cuma bohong."

Aku tertawa renyah mendengarnya. "Hahaha, Alya emang lucu banget ya, Arga. Dia perhatian banget sama kamu."

"Dia bukan perhatian, dia cuma mau nyari bahan buat ngeledek gue di rumah," gerutu Arga ketus, namun nada suaranya sama sekali tidak terdengar marah.

Jalur komunikasi kami yang biasanya kaku dan berjarak perlahan-lahan mencair sepanjang sisa perjalanan, digantikan oleh obrolan ringan seputar jadwal kuliah dan kemacetan kota sore nanti.

Karena lokasi kampus kami berbeda dan letak kampusku sedikit lebih dekat, Arga memutuskan untuk mengantarkanku terlebih dahulu.

Mobil hitam mewahnya berhenti dengan mulus tepat di depan gerbang utama kampusku. Dari balik kaca mobil yang transparan, aku bisa melihat sesosok gadis dengan rambut yang dikuncir kuda sedang berdiri bersandar pada tiang koridor depan ya Rara. Sahabatku itu rupanya sudah berdiri di sana sejak tadi, melipat kedua tangannya di dada dengan mata yang memicing tajam ke arah mobil Arga.

"Udah sampai," ujar Arga sambil mematikan fungsi kunci otomatis pintu mobil. Pria itu menoleh ke arah luar, menangkap basah tatapan menyelidik dari Rara.

"Itu... sahabat lu udah nungguin di depan. Mukanya serem banget, kayak intel mau nangkap buronan."

Aku meringis canggung, melirik Rara yang mulai melangkah mendekat dengan langkah tegap.

"Hahaha, Rara emang gitu orangnya kalau lagi penasaran, Arga. Maaf ya."

Aku mengambil tas kainku di pangkuan, lalu berbalik menatap Arga dengan binar mata yang penuh rasa terima kasih. "Makasih banyak ya, Arga, buat jemputan pagi ini. Aku beneran seneng banget."

Arga menatapku lekat-lekat selama beberapa detik. Genggaman tangannya di atas kemudi melonggar. Dia perlahan mengulurkan tangan kanannya, mengacak pucuk kepalaku dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh kasih sayang, sebuah perlakuan nyata yang membuat seluruh tubuhku berdesir hebat.

"Sama-sama, Shavia. Nanti sore kalau kelas lu udah selesai, chat gue. Gue jemput lagi."

"B-beneran?!" mataku membelalak berbinar-binar penuh harap.

"Ya. Jangan keluyuran ke mana-mana setelah kelas selesai. Tunggu di halte depan," perintah Arga dengan sifat diktatornya yang kini justru terdengar sangat manis di telingaku.

"Siap dimengerti, Kapten. Aku turun dulu ya. Hati-hati di jalan ya!" seruku riang. Aku membuka pintu mobil, melangkah turun dengan senyuman yang merekah lebar sampai ke telinga, lalu melambaikan tangan saat mobil hitamnya perlahan mulai melaju kembali membelah jalanan raya.

Begitu punggung mobil Arga benar-benar menghilang di belokan jalan, sebuah cengkeraman kasar dan kuat mendadak mendarat di lengan atas sebelah kananku.

Tubuhku ditarik paksa berbalik badan.

Di hadapanku, Rara sudah berdiri dengan mata yang melotot sempurna dan napas yang ditarik dalam-dalam. Wajahnya dipenuhi oleh gairah interogasi tingkat tinggi yang siap meledak kapan saja.

"Shavia Aurelien. Jelaskan, sekarang juga!" cecar Rara dengan suara yang ditekan, menatapku dari ujung rambut sampai ujung sepatu.

"Gila ya lo. Pagi-pagi jam tujuh lewat, turun dari mobil mewah hitam, terus diacak-acak rambutnya sama pangeran gunung es. Sumpah, mata gue gak lagi salah lihat kan, Ra?!"

Aku langsung menyengir lebar, merangkul lengan sahabatku itu dengan erat untuk meredam keganasannya, lalu menariknya berjalan menyusuri koridor kampus menuju area kantin yang masih sepi.

"Aduh, Rara sayang... gak usah teriak-teriak gitu dong. Malu tahu dilihatin anak-anak lain."

"Masa bodo sama anak-anaklain!" potong Rara cepat, menepis lenganku pelan saat kami sudah duduk di salah satu bangku panjang kantin.

Dia memajukan tubuhnya di atas meja, menatapku lurus ke dalam mata dengan bejibun pertanyaan yang sudah tersusun rapi di kepalanya.

"Buruan cerita, Via. Jangan pakai dipotong-potong ya, apa aja yang terjadi di dalam mobil tadi selama tiga puluh menit perjalanan. Dia ngomong apa aja sama lo? Terus kenapa sifat kaku dia bisa mendadak hilang sampai pakai acara usap-usap kepala lu segala?!"

Melihat antusiasme Rara yang begitu besar, rasa bahagiaku yang sejak tadi kutahan di dalam dada akhirnya tumpah sepenuhnya. Aku menopang dagu dengan kedua tangan, mataku berbinar-binar cerah saat mulai menceritakan setiap detail isi perjalanan kami subuh tadi.

"Ra... lo harus tahu, suasana di dalam mobil awalnya canggung banget. Gue beneran mati gaya gak tahu mau ngomong apa," ujarku penuh semangat, diselingi tawa renyah.

"Gue cuma bisa meremas tali tas karena saking gugupnya. Tapi tebak apa yang terjadi setelah itu?"

"Apaan?! Jangan bikin penasaran deh!" tuntut Rara, menepuk meja pelan karena tidak sabar.

"Arga yang memulai percakapan duluan, Ra. Dia nanyain gimana tidur gue semalam, apakah nyenyak atau enggak. Terus dia juga nanya apakah gue udah sarapan apa belum dengan nada suara yang lembut banget, gak ada ketus-ketusnya sama sekali!" ceritaku heboh sambil menepuk-nepuk lututku sendiri.

"Bahkan... dia sempat bilang kalau semalam dia kurang tidur karena pikirannya penuh... dan pas gue tanya penuh karena apa, dia jawab kalau dia lagi mikirin gue. Sumpah, Ra, rasanya jantung gue mau copot pas denger dia ngomong gitu!"

Rara membelalakkan matanya sempurna, mulutnya setengah terbuka karena terkejut setengah mati, mendengar perubahan drastis sifat kapten basket elit tersebut.

"Hah?! Dia beneran ngomong gitu, Vi. Cowok kaku itu, bisa ngomong kalau dia kurang tidur, gara-gara mikirin lo?!"

"Iya, Rara sayang. Seratus persen itu yang gue denger, telinga gue sangat masih berfungsi dengan baik loh!" anggukku mantap, senyumanku tidak kunjung luntur sedikit pun.

"Terus tadi pas gue mau turun, dia ngacak rambut gue pelan banget, sambil bilang kalau nanti sore dia mau jemput gue lagi pas pulang kuliah. Dia nyuruh gue nunggu di halte depan dan gak boleh keluyuran ke mana-mana."

Rara menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku kantin dengan helaan napas panjang yang sarat akan rasa takjub dan tidak habis pikir. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali.

"Gila sih, Via... gue bener-bener gak menyangka taktik konspirasi lo sama adiknya, dan perjuangan bekal daging tumis subuh-subuh kemarin bisa membuahkan hasil se-dahsyat ini," gumam Rara dengan senyuman tulus yang akhirnya terukir di wajahnya.

Dia menepuk punggung tanganku lembut. "Gunung es itu akhirnya perlahan mulai seperti cowok khayalan dalam mimpi lu. Gue sebagai sahabat lo ikut seneng banget, Vi. Akhirnya lo nemu realitas yang jauh lebih indah daripada sekadar khayalan di dalam kepala lo."

Aku terdiam sejenak, merenungkan setiap kata dari Rara. Hatiku bergetar penuh rasa syukur. Hari kesepuluh dari masa taruhan satu bulan kami baru saja dimulai di pagi yang cerah ini, dan lewat debar hangat yang masih tertinggal di kursi penumpang depan mobil hitam Arga tadi, aku tahu pasti bahwa duniaku yang dulu abu-abu kini telah sepenuhnya digantikan oleh warna nyata yang sangat indah bersama Arga Wijaya.

1
zru!
baguss kak
Nura_thequeen: terimakasih ♥️🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim bunga lagi🤭
falea sezi
lanjut q kirim bunga lagi 👍
falea sezi: siap thor🤭 rajin up nanti q rajin kasih hadiah
total 2 replies
falea sezi
😕 ga jangan sakitin. via atau php ya 😓bisa. gila anak orang ga
Nura_thequeen: iya ni. moga aja Arga gak gitu ya. bisa-bisa via balik lagi kesetelan halunya🤣
total 1 replies
falea sezi
moga aja Arga gk php ya🤣
falea sezi
🤣 sweet nya mas kulkas
falea sezi
akirnya rara jujur😕
falea sezi
👍 q kirim hdiah tp buat via jangan terlalu ngemis ya😓
Nura_thequeen: wihhh, terimakasih besti. gak kok tenang via gak ngemis. cuma agak cegil sedikit aja.... haha
total 1 replies
falea sezi
malu maluin mbk🤣 ngemis ngemis lu halu di bawa ke ngata
falea sezi
🤣🤣 kebanyakan halu ya gini
Nura_thequeen: begitulah🤣🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
moga bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!