NovelToon NovelToon
Warisan DENDAM

Warisan DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:373
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.

Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.

Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.

Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22 : Lalu siapa?

Sore itu merambat turun perlahan, menelan cahaya matahari di balik pepohonan liar yang mengelilingi bangunan terbengkalai di belakang kota. Langkah kaki memecah keheningan dengan cepat, tergesa, dan penuh amarah.

“Bajingan itu benar-benar nyari mati,” geram Emily.

Ia berjalan paling depan, rahangnya mengeras. Empat orang temannya mengikuti di belakang, wajah mereka sama tegangnya. Semak-semak menggesek kaki mereka saat mereka menembus jalan setapak yang jarang dilalui orang.

“Gimana bisa dia nyimpen salinan?” salah satu dari mereka menyahut kesal. “Udah puas, sekarang mau memeras kita?”

“Kurang ajar,” yang lain menimpali. “Kalau dia pikir kita bakal diem, dia salah besar.”

Pintu gedung tua itu terbuka dengan derit panjang. Udara lembap dan bau besi berkarat langsung menyambut mereka. Di dalam, ruangan gelap gulita hanya satu lampu gantung menyala redup di tengah, menciptakan bayangan panjang di dinding retak.

Di bawah cahaya samar itu, beberapa sosok berdiri menunggu.

Delapan orang.

Begitu Emily melangkah masuk, salah satu dari mereka, Daniel maju satu langkah. Wajahnya keras, ekspresinya penuh kekesalan.

“Apa maksud semua ini, hah?” bentaknya. “Masalah lama kok diungkit lagi?”

Emily berhenti tepat di bawah cahaya lampu. Tatapannya tajam, dingin.

“Masalah lama?” ia mendengus pendek. “Kamu serius ngomong gitu?”

Ia maju selangkah, jarak mereka kini hanya beberapa inci. “Harusnya aku yang nanya. Kenapa kamu berniat nyebarin rekaman itu?”

Daniel mengerutkan keningnya. “Rekaman apa?”

“Jangan pura-pura bodoh,” potong Emily. Suaranya meninggi. “Rekaman si jalang itu. Atau sekarang kamu mau cari untung dari situ? Setelah semua yang kamu lakuin ke dia?”

Suasana langsung memanas.

Daniel tiba-tiba mencengkeram kerah pakaian Emily dan menyeretnya setengah langkah ke depan. Rahangnya mengeras, napasnya berat.

“Rekaman apa, hah?!” bentaknya. “Aku nggak tahu apa-apa soal itu!”

Emily menepis tangannya dengan kasar. “Jangan pura-pura bodoh, Daniel!” balasnya keras. “Kamu pikir aku nggak tahu niatmu? Mau nyebarin itu ke publik? Biar polisi turun tangan?”

Ia maju satu langkah, menantang. “Kamu tahu berapa banyak uang yang ayahku keluarin buat nutup semua ini? Kamu pikir semua itu buat main-main?”

Daniel menggeram. Tangannya terangkat refleks, siap memukul.

“Daniel!” teriak salah satu temannya.

Beberapa orang langsung bergerak. Dua teman Emily menariknya menjauh, sementara teman-teman Daniel menahan lengannya sebelum sempat mengenai siapa pun. Sepatu berderit di lantai beton, napas mereka bercampur amarah.

“Tenang!” salah satu dari mereka memperingatkan. “kamu mau bikin semuanya makin kacau?”

Daniel masih menatap Emily dengan mata menyala. “aku nggak ngelakuin apa-apa,” katanya dingin. “Nyebarin apa? Me-megang rekaman aja aku nggak.”

Ia menyeringai tipis, getir. “Siapa orang bodoh yang mau nyeret dirinya sendiri ke penjara dengan nyebarin bukti, setelah orang itu mati?”

Kalimat itu membuat Emily terdiam.

Salah satu temannya maju setengah langkah. “Jadi… kamu beneran nggak nyimpen salinannya?” tanyanya curiga. “Soalnya kabarnya jelas, nama kamu yang disebut.”

Salah satu teman Daniel mendengus. “Kami nggak sebodoh itu. Kalau rekaman itu bocor, kami yang tenggelam duluan.”

Hening jatuh.

Pandangan mereka saling beradu, penuh curiga, penuh perhitungan. Tidak ada satu pun yang mengaku. Tidak ada satu pun yang terlihat berbohong… atau semuanya sama-sama pandai menyembunyikan sesuatu.

Jika bukan Daniel dan bukan mereka.

Lalu siapa?

Ketegangan itu tiba-tiba pecah.

Sebuah tawa terdengar dari sudut gelap ruangan terdengar pelan, rendah, dan jelas bukan milik siapa pun di antara mereka.

Semua tubuh menegang bersamaan.

“Ada apa?” salah satu berbisik. “Siapa itu?”

Lampu di atas mereka berkedip sekali. Lalu sebuah suara terdengar, tenang, nyaris santai.

“Kenapa berhenti?” katanya. “Ayo… lanjutkan.”

1
Ibu'e Arfan Call
seru deh bacanya,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!