NovelToon NovelToon
PENGANTINKU DIREBUT DIHARI PERNIKAHANKU

PENGANTINKU DIREBUT DIHARI PERNIKAHANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Evolusi dan Mutasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
​Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
​Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 : HUKUMAN DI DEPAN ALESHA

Ruang sidang disiplin internal di lantai dua basemen Vantec Tower terasa dingin.

Vion duduk di ujung meja panjang. Setelan jas arangnya masih rapi meski hari sudah cukup panjang. Di sampingnya, Alesha memegang cangkir air hangat dengan kedua tangan.

Di seberang meja, Clarissa berdiri dengan kedua tangan diborgol pengaman ringan.

Hendra berdiri di samping meja sambil membawa sebuah map.

"Semua bukti sudah diperiksa," katanya.

Ia membuka map tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

"CCTV dari ruang utilitas. Log terminal. Rekaman akses. Semuanya cocok."

Clarissa menelan ludah.

Hendra meletakkan satu lembar cetakan di atas meja.

"Ini rekaman saat Anda memasukkan kode manual untuk mengunci lift ekspres nomor tiga."

Clarissa melirik gambar itu. Wajahnya semakin pucat.

"Saya..."

Ia berhenti.

Vion mengangkat mata. "Katakan."

Clarissa menggigit bibir. "Saya tidak bermaksud membuatnya terluka."

Vion menatapnya beberapa detik. "Lift itu berhenti di antara lantai delapan puluh delapan dan delapan puluh tujuh."

"Saya panik."

"Kau panik," ulang Vion pelan.

Clarissa mengangguk. "Ya."

"Setelah sebelumnya memasukkan kode untuk mengunci lift?"

Clarissa tidak menjawab.

Vion menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kau tahu siapa yang ada di dalam?"

Clarissa menunduk. "Alesha."

"Istriku sedang hamil."

"Saya tahu."

"Dan kau tetap melakukannya."

Clarissa mengusap wajahnya yang basah. "Saya cuma ingin menakutinya."

Alesha yang sejak tadi diam akhirnya menatap Clarissa. "Menakuti?"

Clarissa membeku.

Alesha meletakkan cangkirnya. "Menurutmu, apa yang akan terjadi kalau lift itu jatuh?"

"Saya..."

"Apa kau sempat memikirkan itu?"

Clarissa menggeleng cepat. "Saya tidak berpikir panjang."

"Benar." Suara Alesha tetap tenang. "Kamu memang tidak berpikir panjang."

Clarissa menatapnya. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.

Hendra kembali mengambil map. "Pak, berdasarkan bukti yang ada, manajemen bisa menyerahkan kasus ini kepada pihak kepolisian."

Clarissa langsung menoleh. "Polisi?"

Hendra mengangguk. "Ya."

"Tunggu." Clarissa mulai panik. "Tolong."

Hendra tetap diam.

Clarissa memandang Vion. "Pak Vion, saya minta maaf. Saya benar-benar minta maaf. Saya tahu saya salah."

"Kau baru meminta maaf setelah tahu kami punya bukti."

Clarissa terdiam.

"Kalau tidak ada CCTV," lanjut Vion, "kau akan tetap melakukan hal yang sama?"

"Tidak."

"Jangan bohong."

Clarissa menunduk. Air matanya mulai jatuh. "Saya takut."

"Aku tahu."

"Saya tidak mau masuk penjara."

Hendra menutup map. "Kalau kasus ini dilanjutkan, keputusan selanjutnya bukan lagi di tangan perusahaan."

Mendengar itu, Clarissa langsung berdiri dari posisinya. Namun kedua kakinya gemetar. Ia maju beberapa langkah sebelum akhirnya jatuh bersimpuh di depan Alesha.

"Alesha..."

Alesha menatapnya. "Tolong."

Clarissa menangis. "Jangan penjarakan aku. Aku salah. Aku benar-benar salah. Aku khilaf."

"Khilaf?" Alesha mengulang kata itu pelan.

Clarissa mengangguk. "Iya."

"Kau mengunci lift."

"Iya."

"Kau tahu aku ada di dalam."

"Iya."

"Dan kau tahu aku sedang hamil."

Clarissa semakin menangis. "Iya."

"Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan dengan permintaan maafmu?"

Clarissa mengangkat wajah. "Aku..." Ia tidak bisa menjawab.

Alesha mengambil cangkiRnya lagi. "Aku bisa membiarkan laporan ini berjalan."

Clarissa langsung memegang ujung meja. "Tolong jangan."

"Buktinya lengkap."

"Tolong."

"Aku tidak perlu melakukan apa-apa." Alesha menatapnya. "Polisi yang akan mengurus sisanya."

Clarissa menggeleng cepat. "Jangan. Aku mohon. Aku tidak mau dipenjara."

Alesha terdiam sebentar, lalu berkata, "Aku tidak ingin menghabiskan waktu untuk mengurusmu di pengadilan."

Clarissa menatapnya dengan mata sembap. "Maksudmu...?"

"Aku tidak akan melanjutkannya."

Clarissa seperti tidak percaya. "Benarkah?"

Alesha mengangguk kecil. "Tapi jangan salah mengerti."

Clarissa terdiam.

"Aku tidak memaafkanmu."

Wajah Clarissa kembali tegang.

"Aku hanya tidak ingin masalahmu menjadi urusanku lebih lama." Alesha menoleh kepada Vion. "Benar, kan?"

Vion menatap istrinya. "Benar."

Ia kemudian berdiri.

Clarissa langsung melihat ke arahnya. "Pak Vion..."

Vion tidak menjawab. Ia menatap Hendra. "Jangan lanjutkan laporan ke polisi."

"Baik, Pak."

"Cabut seluruh hak aksesnya di atas lantai dasar."

Clarissa membeku.

Vion melanjutkan, "Dan pindahkan dia ke divisi sanitasi basemen."

Clarissa menatap Vion dengan wajah pucat. "Basement?"

"Mulai hari ini."

"Tapi, Pak..."

"Kenapa?"

"Saya tidak pernah bekerja di sana."

"Mulai sekarang kau akan bekerja di sana."

Clarissa menggeleng pelan. "Saya bisa melakukan pekerjaan lain. Saya bisa ditempatkan di gudang. Bagian administrasi juga bisa."

Vion menatapnya datar. "Kau kehilangan hak untuk memilih."

Clarissa terdiam.

Hendra mengambil mapnya. "Keputusan akan langsung saya teruskan ke bagian personalia."

"Pak Hendra..." Hendra berhenti. Clarissa menatapnya. "Tolong."

Hendra menghela napas pendek. "Saya tidak bisa mengubah keputusan Pak Vion."

"Tapi..."

"Maaf."

Dua petugas keamanan yang menunggu di luar kemudian masuk.

Clarissa langsung mundur. "Tunggu."

Tidak ada yang menjawab.

"Aku bisa berubah. Aku janji."

Alesha hanya menatapnya. Clarissa menoleh kepadanya. "Alesha, tolong. Tolong lihat aku."

Clarissa menangis. "Aku benar-benar minta maaf."

Alesha menarik napas pelan. "Aku sudah mendengarmu."

"Jadi..."

"Pergilah."

Dua petugas keamanan membawa Clarissa keluar. Pintu ruangan tertutup.

Alesha menyandarkan tubuhnya ke kursi. Vion langsung menoleh. "Kamu capek?"

"Sedikit."

"Masih pusing?"

Alesha menggeleng. "Tidak."

Vion mengambil cangkir dari tangannya. "Kalau begitu kita pulang."

Alesha mengangguk.

Sementara itu, di lorong luar, Clarissa berdiri di depan lift servis. Pintu terbuka. Seorang petugas menunjuk ke dalam. "Masuk."

Clarissa tidak bergerak. "Ke mana?"

"Basement."

Clarissa menatap angka di panel. B2. B3. Semakin ke bawah.

"Mulai hari ini?" tanyanya lirih.

Petugas itu mengangguk.

Clarissa masuk perlahan.

Pintu lift menutup.

Angka lantai terus berubah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!