Sebuah pertemuan yang tidak terduga terjadi pada Mariana purnama, yang akan mengubah hidup nya, akibat salah sasaran kebencian dan juga dendam dari seorang bos mafia, yang di kenal sebagai Hansen Deen.yang punya pengaruh dan kuasa besar di negara A.
pertemuan yang awalnya tidak di sengaja untuk Ana malah menjadi pertemuan yang akan membawa nya dalam masalah besar untuk hidup nya.
SELAMAT MEMBACA ,SEMOGA TERTARIK😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shkira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 14
Ana beranjak duduk, ia tertegun pucat, bibir nya gemetar menahan sesak di dada tanpa sadar air mata nya menetas.
Ia tidak menyangka kalau selama ini Hansen menipu dan mempermainkan perasaan nya. Hanya untuk merenggut nyawa nya.
Ana terisak pelan merasakan hati nya sangat sakit hingga sulit untuk bernafas, ia memukul-mukul dada nya agar mengurangi rasa sakit nya. Namun itu tidak bisa membuat nya tenang.
Ia sangat terpukul dengan kenyataan yang lagi-lagi mempermainkan diri nya.
Orang yang sangat ia cintai selama ini hanya bersandiwara untuk mempermainkan nya.
Ana bangkit dari ranjang mengusap kasar air mata di pipi nya. Tatapan nya penuh rasa kecewa, Ia tidak akan rela mati begitu saja di tangan Hansen.
Ia membuka pintu yang ternyata terkunci dari luar, lalu ia melangkah cepat menuju balkon melihat ke bawah memastikan seberapa tinggi keberadaan nya sekarang. Ia terkejut sebab saat ini ia berada di lantai 3.
Ana menarik tirai jendela lalu mengambil sprei, untuk di gabungkan. Setelah semua nya pasti, ia melempar lilitan kain ke bawah.
Sebelum ia turun ia memastikan tidak ada penjaga di sana.
Ana pelan-pelan turun hingga berhasil sampai ke bawah. Ia mengendap pelan menuju gerbang, yang ternyata di jaga oleh seorang penjaga.
Ana mengambil batu seukuran tangan lalu melempar nya jauh hingga menimbulkan suara untuk mengalihkan perhatian penjaga.
Mendengar suara mencurigakan penjaga itu beranjak dari duduk nya, pergi ke asal suara, sambil menyoroti Dengan senter..
Ana berlari menuju gerbang yang ternyata terkunci. Ia menggeledah pos penjaga lalu menemukan kunci yang tergantung. Ia segera pergi setelah gerbang terbuka.
Penjaga yang sibuk mencari asal suara yang sejak tadi ia cari. Tiba-tiba ia tertegun panik ketika melihat Ana berlari keluar gerbang.
penjaga itu mencoba mengajar ana, namun tidak berhasil karena Ana menyetop sembarang mobil untuk membawa nya pergi dari sana.
Hansen sangat marah saat mendengar kabar dari penjaga bahwa ana melarikan diri. Ia bergegas naik ke kamar nya di ikuti oleh Ares, ia melihat kain yang masih menjuntai ke bawah.
"Bos, aku akan kirim orang untuk menangkap nya!" Ucap Ares panik. Saat melihat wajah hansen yang suram.
"Tidak perlu!"
Ares bingung dengan maksud Hansen " Tapi bos, nona Ana, dia.."
"Aku bisa menangani nya, sendiri!"
"Kerahkan orang untuk menjaga di setiap kantor polis di kota, jangan biarkan dia datang ke kantor polisi!" Perintah nya tegas.
Hansen bergegas pergi mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi.
Ia belum menyadari kalau Ana sudah tahu identitas nya.
Mobil yang ana tumpangi adalah milik seorang pegawai negri yang baru saja pulang kerja, pemilik mobil nya adalah seorang wanita. Sehingga ia merasa kasihan memberi Ana tumpangan saat melihatnya berlari tanpa alas kaki.
Ana turun di depan jalan gedung apartemen. Ia berterimakasih pada pemilik mobil.
Ia segera pergi ke apartemen nya, kaki nya yang tidak memakai sandal tergores oleh aspal yang kasar sehingga membuat nya lecet.
Namun ana tidak memperdulikan itu,
Ia berlari kecil keluar dari lift.
Saat ia ingin mengambil kunci apartemen ia lupa kalau tas dan ponsel nya telah di ambil oleh Ares.
Ia berdecak kesal. Kemudian ia berniat pergi ke rumah Risa. Namun langkah nya terhenti saat Hansen keluar dari lift.
Ana tertegun panik, langkah nya mundur perlahan hingga mentok di tembok.
Langkah Hansen semakin dekat berhenti di depan nya, yang ketakutan setengah mati.
Hansen melihat reaksi Ana yang ketakutan saat melihat nya. Ia curiga kalau Ana tau identitas nya. Namun untuk memastikan ia menguji nya dengan terus bersandiwara di depan Ana.
"Sedang apa kamu, berdiri di sini tanpa memakai alas kaki?" Tanya Hansen.
Ana tertegun kaget. Ia tidak menyangka Hansen belum tau kalau dirinya sudah mengetahui kebohongan nya.
Ana mencoba tenang agar Hansen tidak curiga dan mencari celah untuk kembali ke desa diam-diam.
"A..aku.. aku tadi.."
Hansen tiba-tiba menggndong tubuh ana. Sampai membuat nya terkejut panik.
"Ha..Hansen, apa yang kamu lakukan turun kan aku?!"
"Lantai nya dingin, biar aku yang membawa mu masuk!" Meraih gagang pintu yang terkunci.
"Berikan kunci nya!" Ucap nya datar.
"Ku..kunci nya tertinggal di kedai!" Balas ana bohong.
"Kenapa bisa tertinggal! Kalau begitu malam ini tinggal di apartemen ku dulu!"
"JANGAN!" Sentak nya panik.
Hansen mengernyitkan dahi, ia mulai yakin kalau Ana sudah mengetahui sesuatu tentang nya. "Ana, kenapa sejak tadi Kamu terus gugup?"
"Jelaskan nanti saja, kita masuk dulu kedalam!" Ucap nya, sambil menggendong Ana masuk kedalam apartemen milik nya.
Ana takut bercampur bingung saat Hansen membawa nya masuk.
Hansen meletakan Ana di atas sofa. Ia mengambil air dan kain. Untuk membersihkan luka di kaki ana.
Entah saat itu Hansen bersandiwara atau tidak. Tapi terlihat ia bersungguh-sungguh melakukan nya untuk Ana.
Ana hanya diam dalam ketakutan nya, agar tidak membuat Hansen curiga.
.
.
.
.
Bersambung.