"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 034: Ujian Tiga Benda
Rumah Mangatas Situmorang di Menteng tidak memasang papan nama.
Gerbangnya tua, catnya tidak sempurna, tetapi engselnya bersih. Di halaman, pohon sawo membuat bayangan lebar. Bayu datang pukul enam lima puluh. Ia tidak ingin menguji kesabaran orang yang kemarin mampu membuat satu gudang diam hanya dengan satu kata.
Pintu dibuka seorang asisten rumah tangga tua.
"Pak Mangatas menunggu di perpustakaan."
Perpustakaan itu seperti ruangan yang dibangun untuk melawan lupa. Rak buku naik sampai langit-langit. Map arsip ditata menurut tahun. Di meja tengah, tiga kain putih menutup tiga benda.
Mangatas duduk dengan kopi hitam.
"Kamu datang sebelum jam tujuh. Bagus. Orang yang terlambat biasanya lebih percaya alasan daripada bukti."
"Selamat pagi, Pak."
"Jangan terlalu sopan. Sopan tidak membuat mata lebih tajam."
Bayu berdiri di sisi meja.
Mangatas membuka kain pertama.
Sebuah keris terbaring di atas bantalan hitam. Warangkanya sederhana, bilahnya tua, pamornya tenang seperti air gelap.
"Sepuluh menit," kata Mangatas.
Bayu memakai sarung tangan. Ia tidak langsung menyentuh bilah. Ia melihat ganja, pesi, lekuk pamor, lalu bekas rawatan lama di dekat pangkal. Mata kirinya menghangat sebentar, tetapi ia menahan diri. Struktur yang dilihatnya harus diterjemahkan menjadi alasan yang bisa diuji.
"Bilah ini berasal dari Mataram akhir," katanya setelah enam menit. "Ciri Majapahit tidak terpenuhi. Pamor wos wutah, pengerjaan halus tapi tidak seberat empu tua. Ada bekas penggantian warangka abad ke-20. Bilahnya asli, cerita turun-temurunnya mungkin diperpanjang."
Mangatas tidak berkata benar atau salah.
Ia membuka kain kedua.
Sebuah album kecil berisi koin perak masa VOC.
"Ini lebih membosankan," ujar Mangatas.
"Benda membosankan sering paling mahal kesalahannya."
"Bah. Mulai pintar bicara."
Bayu memeriksa berat, tepi, oksidasi, dan bekas cetak satu per satu. Dua koin terasa salah. Keduanya merupakan cetakan ulang peringatan yang dibuat jauh setelah periode asli, dengan pengerjaan cukup rapi.
"Sebagian besar asli. Dua ini post-strike commemorative. Nilai koleksi ada, tapi tidak boleh dihitung sebagai edaran VOC periode itu."
Mangatas akhirnya menulis satu garis di buku catatannya.
"Ketiga."
Kain terakhir dibuka.
Sebuah arca batu kecil berdiri dengan wajah aus. Label lamanya tertulis rapi: `Majapahit, abad ke-14`.
Bayu melihatnya lebih lama daripada dua benda sebelumnya.
Di permukaan, semua terlihat patuh pada katalog. Proporsi tubuh, gaya mahkota, sikap tangan, bahkan jenis batu. Tetapi struktur pahat di bagian lipatan kain terasa lebih tua. Cara bahu dibentuk tidak mengikuti Majapahit akhir. Ada kekakuan sakral yang lebih dekat ke masa sebelumnya.
Mata kirinya menembus retak halus di dalam batu.
Tidak ada kepalsuan.
Justru terlalu asli untuk labelnya.
Bayu membaca ulang kartu katalog. Di sudut bawah ada nama penyusun lama.
Mangatas Situmorang.
Ruangan menjadi lebih berat.
Kemampuan matanya tidak akan membantu. Yang diuji sekarang adalah tulang belakangnya.
"Kenapa diam?" tanya Mangatas.
"Karena jawaban saya bisa dianggap tidak sopan."
"Benda tidak peduli sopan."
Bayu menarik napas.
"Maaf, Pak. Ini bukan Majapahit."
Mangatas tidak bergerak.
Bayu melanjutkan, "Ini lebih tua. Era Singhasari. Proporsi bahu, lipatan kain, dan cara wajah dipahat tidak cocok dengan gaya abad ke-14. Katalog salah."
Kata terakhir jatuh seperti pisau ke meja.
Sepuluh detik berlalu sebelum Mangatas tertawa.
Tawanya pecah besar seperti pintu gudang yang dibuka setelah terkunci puluhan tahun, tanpa sedikit pun keramahan.
"Tiga puluh tahun!" Ia memukul meja sekali. "Tiga puluh tahun saya tunggu ada orang yang berani bilang katalog itu salah!"
Bayu tetap berdiri.
"Itu katalog Bapak."
"Ya. Dan saya salah."
Mangatas menatap arca itu. Suaranya turun.
"Saya menemukannya lima tahun setelah katalog terbit. Tapi setiap orang yang saya tanya berkata, 'Pak Mangatas pasti benar.' Mereka lebih takut pada nama saya daripada hormat pada benda."
Ia menutup kembali kain putih itu.
"Kamu lulus karena berani membuat saya tidak nyaman. Ketajaman matamu hanya membawamu sampai pintu."
Bayu baru menyadari telapak tangannya berkeringat.
Mangatas menunjuk kursi.
"Duduk. Pelajaran pertama."
Bayu duduk.
"Pemalsu itu tukang," kata Mangatas. "Motif mereka bisa berupa keserakahan, kelaparan, atau paksaan. Akar masalahnya adalah pemesan yang menentukan barang mana harus hilang dan cerita mana menggantikan sejarah."
Ia membuka laci dan mengeluarkan beberapa foto lama. Museum. Gudang. Peti kayu. Satu foto menampilkan rak kosong dengan label masih menempel.
"Sejak awal 1990-an, saya melihat koleksi bergeser. Satu arca pergi untuk restorasi, kembali dengan berat berbeda. Satu naskah dipinjam untuk pameran, pulang dengan serat kertas yang salah. Saat saya bertanya, dokumen selalu lengkap."
"Siapa yang mengatur?"
"Itu pertanyaan yang membuat orang tua saya kehilangan banyak teman."
Mangatas menatap Bayu.
"Dulu saya kira jawabannya ada di gudang," lanjutnya. "Ternyata gudang hanya tempat barang tidur. Jawabannya ada di meja makan pejabat, ruang rapat yayasan, surat rekomendasi, dan tanda tangan orang yang tidak pernah menyentuh barang."
Ia mengambil satu foto hitam putih.
Di sana ada seorang lelaki tua berkacamata, berdiri di depan rak naskah. Wajahnya tidak tersenyum, tetapi matanya hidup.
"Guru saya. Namanya tidak perlu kamu pakai sembarangan. Selama tiga puluh tahun, nama beliau lebih sering disebut sebagai orang gagal daripada orang benar."
Bayu menunduk sedikit.
"Beliau menemukan pola yang sama?"
"Lebih awal daripada saya. Ia melihat bahwa barang yang hilang tidak selalu langsung dijual. Kadang disimpan bertahun-tahun sampai ingatan publik melemah. Lalu muncul barang pengganti dengan cerita baru. Orang awam menyebutnya koleksi. Saya menyebutnya pencurian sejarah."
Mangatas menyentuh tepi foto dengan jari kaku.
"Serangan musuh masih lebih mudah ditanggung daripada diamnya orang baik yang takut kehilangan undangan seminar."
"Guru saya dulu mengejar orang-orang itu. Beliau dihancurkan lewat tulisan koran, tuduhan palsu, dan bisikan bahwa ia sudah pikun. Beliau meninggal dengan nama yang belum bersih."
Ruangan hening.
"Pemalsu itu cuma tukang, Nak. Lawan utamamu adalah orang yang memesan pekerjaannya."
Bayu merasa kalimat itu lebih berat daripada semua angka yang pernah ia hitung.
Ketika pamit, Mangatas mengantarnya sampai pintu perpustakaan. Lalu ia berhenti, seolah baru memutuskan sesuatu.
Ia membuka brankas kecil di balik rak, mengambil sebuah buku catatan tua bersampul cokelat. Kertasnya menguning. Sudutnya aus. Ada bau waktu yang tidak bisa dipalsukan.
"Ini catatan guru saya."
Bayu tidak langsung menyentuhnya.
Mangatas memegang buku itu lebih erat.
"Belum boleh kamu bawa," katanya. "Belum. Kamu baru lulus satu pagi. Tapi kamu boleh tahu bahwa di dalamnya ada tanggal, nomor katalog, dan inisial orang-orang yang dulu terlalu kuat untuk disentuh."
Bayu menatap buku itu seperti menatap barang bukti yang bernapas.
"Apa yang harus saya lakukan?"
"Tetap hidup. Tetap rapi. Jangan menjadi pahlawan yang mati karena ingin cepat benar."
Mangatas akhirnya meletakkan buku itu di atas meja, tetapi tangannya masih menutup separuh sampul.
"Orang yang menghancurkan dia... masih hidup. Dan masih berkuasa."