“Nikah sama aku saja, Aluna.”
Seharusnya Aluna tertawa saat mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat itu.
Bagaimanapun, Rafa adalah Rafa, sahabat yang sudah tumbuh bersamanya hampir seumur hidup.
Namun satu ajakan pernikahan membawa mereka pada sebuah kontrak yang perlahan mengubah segalanya.
Di antara persahabatan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan dan perasaan yang tak pernah berani diungkapkan, Aluna mulai menyadari satu hal
mungkin selama ini, ada seseorang yang telah menjadikan dirinya segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belanja Bareng
Rafa memarkir mobilnya di basement salah satu pusat perbelanjaan yang terletak tidak begitu jauh dari apartemennya.
Setelah ia mengajak Aluna turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam pusat perbelanjaan tersebut.
Sebelum masuk, ia terlebih dahulu mengambil troli dan mendorongnya masuk ke dalam.
"Mau beli apa?." Tanyanya pada Aluna yang sedang sibuk membaca resep di handphonenya.
"Aku mau masak steak sama potato wedges." Jawabnya menoleh sebentar menjawab pertanyaan Rafa
"Berarti beli daging." Gumam Rafa dan kembali mendorong trolinya.
Ia juga tidak lupa menggandeng tangan Aluna karena takut gadis itu salah jalan atau tertabrak sesuatu karena dari tadi Aluna terus menggulir layar ponselnya.
Begitu sampai di meet section, mata Aluna berbinar melihatnya. Baru pertama kali ia belanja sendiri seperti ini, ia pun tersenyum ke arah Rafa.
"Pilihin." Ucapnya
"Mana aku tau milih daging." Jawab Rafa menggeleng sambil tersenyum gemas.
"Mas, minta daging yang paling bagus kualitasnya dong buat steak." Pinta Rafa pada penjaga counter daging tersebut.
"Paling bener tanya masnya." Ucapnya pada Aluna
"Bisa aja kamu."
Aluna tertawa kecil mendengar ucapan Rafa.
"Silahkan mas, ini grade paling tinggi."
Lelaki tadi memberikan pesanan Rafa dalam sebuah plastik yang sudah ia kemas rapi.
"Terima kasih." Rafa mengambil pesanannya lalu meletakkannya didalam troli.
"Mau beli apa lagi?." Tanya Rafa pada Aluna
"Kentang...ah aku juga mau beli mushroom, terus..."
Semua bahan yang tercatat di resep sudah disebutkan oleh Aluna, dan mereka mengambil semua bahannya hingga troli yang tadi kosong sudah terisi beberapa bahan ekperimen masak Aluna hari ini.
"Udah semua nih?." Tanya Rafa memastikan Aluna tidak ketinggalan satu bahan pun.
"Beli cemilan juga yuk." Ajak Aluna kemudian
"Sayur juga." Kata Rafa mengingatkan
"Gak mau, maunya snack." Tolak Aluna yang memang pada dasarnya kurang menyukai sayuran.
"Kalau gitu harus beli buah." Ujar Rafa yang memutar otak agar makanan mereka tetap seimbang.
"Boleh deh."
Aluna berjalan lebih dahulu dan Rafa dengan sabarnya mengikutinya dibelakang sembari mendorong troli.
***
Sesuatu yang beraroma wangi menghentikan langkah Aluna, mereka kini berdiri di bakery section.
"Rafa."
Panggil Aluna pada Rafa yang tengah memilih Snack
"Apa?." Rafa lalu menghampiri Aluna yang memanggilnya.
"Wangi rotinya enak banget, mau juga."
Tatapan Aluna tidak bisa berpaling dari roti yang baru saja keluar dari oven dan segera dipajangkan di etalase mereka.
"Ya udah pilih."
Dengan senang hati Aluna memilih beberapa roti untuk ia bungkus dan makan di jalan nanti.
"Udah semua?." Tanya Rafa lagi ketiga kalinya.
"Udah. Yuk, balik." Jawab Aluna bersemangat.
"Bayar dulu." Tegur Rafa karena mereka belum membayar belanjaannya.
"Ohiyaa haha."
Aluna tertawa karena tidak menyadari ia dari tadi hanya memilih apa yang ingin ia beli.
Mereka berdua pun menuju ke kasir untuk membayar belanjaannya.
"Mau ice cream gak, Al?." Tanya Rafa menawarkan saat ia melihat freezer berisi ice cream di dekat kasir.
"Mauuu, matcha yah." Jawab Aluna kesenangan.
Semua belanjaan Aluna sudah dibayar oleh Rafa, mereka pun kembali ke mobil. Rafa membawa semua belanjaan tadi ke mobil sementara Aluna berjalan santai disampingnya menikmati ice cream matchanya.
"Kamu yakin bisa masak?."
Rafa menatap Aluna penuh keraguan, untuk seorang gadis yang sangat jarang memasuki dapur, apa Aluna tau apa yang harus ia lakukan nanti? pikir Rafa.
"Gak yakin sih, kan baru mau belajar." Jawab Aluna sekenanya.
Rafa hanya bisa pasrah menantikan bagaimana dapurnya nanti berubah menjadi tempat eksperimen Aluna.
Mereka berdua berjalan menuju ke basement dengan beriringan, mata Rafa tertuju pada Aluna yang terlihat lahap menikmati ice cream nya.
"Keknya enak tuh." Ucap Rafa penuh maksud.
"Mau?." Tanya Aluna menawarkan
"Aaaa." Tanpa basa basi Rafa langsung membuka mulutnya menunggu Aluna menyuapinya.
"Jangan banyak-banyak." Kata Aluna memperingatkan.
Aluna lalu menyuapkan ice cream nya tepat didepan mulut Rafa karena kedua tangan Rafa penuh dengan belanjaan Aluna.
"Enak." Ucapnya puas
"Biasanya cowok gak suka matcha loh."
"Berarti ada yang suka kan."
"Iya sih."
***
Sesampainya di apartemen, Rafa dan Aluna turun dari mobil yang sudah di parkir di basement.
Ice cream Aluna sudah habis, sekarang ia turun dari mobil dengan croissant ditangannya yang sedang ia nikmati dengan lahap.
"Mau gak?." Tanya Aluna menawarkan makanannya pada Rafa lagi.
"Suapin." Ucap Rafa manja
"Manja bener sih." Cibir Aluna menatapnya dengan bibir yang di manyunkan
"Tangannya penuh Al." Keluh Rafa memperlihatkan barang bawaannya.
"Eh iyaa."
Aluna merasa tidak enak karena Rafa membawa semua barangnya sendiri, tapi salah sendiri karena dari tadi Aluna menawarkan diri ingin membawa beberapa belanjaan mereka tapi Rafa menolaknya.
"Nih Aaaa."
"Enakkan?."
"Lumayan."
***
Rafa dan Aluna sudah masuk ke dalam gedung apartemen dan mereka tengah menunggu lift.
Saa lift nya terbuka, keduanya langsung masuk ke dalam. Aluna lalu memencet tombol lantai apartemen Rafa, setelah itu ia kembali menikmati makanannya.
Tidak lama kemudian pintu lift kembali terbuka saat mereka sudah sampai di lantai tujuan.
"Rafa aku kenyang, kamu habiskan yah." Pinta Aluna yang tidak sanggup memakan rotinya lagi.
"Sini aku bawa belanjaannya sebagian."
Ia berniat mengambil alih sebagian barang belanjaannya agar Rafa bisa memegang roti tadi dan memakannya.
"Suapin aja." Tolak Rafa tidak mau Aluna membawa belanjaan itu.
"Ya udah nih."
Aluna pun menurut saja, ia lalu menyuapkan potongan kecil roti yang ada ditangannya.
Rafa dengan senang hati memakan makanan apapun yang diberikan oleh Aluna untuknya.
"Aluna, Rafa."
Aluna sedikit terkejut saat mereka berpapasan dengan Abra, terlebih disamping Abra ada Kai.
Ia jadi ingat pertama kali bertemu Kai di apartemen ini juga, Aluna pun dapat menebak Kai tinggal disini juga.
"Kak Abra...Kak Kai." Sapa Aluna canggung karena ada Kai juga.
"Mama bilang kamu mau jalan sama Rafa, kok malah ada disini?." Tanya Abra penasaran
"Rafa bingun kak kita mau kemana, jadinya kesini aja. Aku mau belajar masak, penasaran." Jawab Aluna sembari menunjuk belanjaan mereka yang dibawa oleh Rafa.
"Kakak sendiri ngapain disini?." Tanya Aluna balik pada kakaknya.
"Nih mau nyamper si Kai, kita mau hangout bareng mumpung lagi weekend."
Aluna menatap Kai dengan tatapan penuh arti dan penekanan, ia seolah berbicara dengan matanya agar Kai tidak memberitahu tentangnya pada kakaknya.
Kai sendiri hanya cuek lalu membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Oh gitu yah, have fun yah kak." Ucap Aluna yang masih berusaha mengintimidasi Kai dengan tatapannya.
"Adek gue lo, awas macam-macam." Kata Abra memperingatkan Rafa.
"Siap bang." Jawab Rafa seolah mengatakan ia bisa mempercayakan Aluna padanya.
"Apaan sih kak Abra, emang Rafa mau ngapain." Tegur Aluna tidak suka kata-kata Abra tadi.
"Pulangnya jangan malam-malam yah, kak Abra pergi dulu." Pesan Abra pada adiknya itu.
"Hati-hati kak Abra..kak Kai." Ucap Aluna yang masih konsisten dengan tatapannya pada Kai.
Kai lalu memutar bola matanya malas saat ia melewati Aluna.