Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.
Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30 end
Kepulan asap putih yang mengepul dari sudut gudang belakang toko roti perlahan buyar, tersapu oleh embusan angin malam musim semi yang membawa kesejukan.
Damian menatap dalam wajah Aurelia yang sedang tidur, karna aktivitas mereka kemarin, setelah puas dia membawa tubuh Aurelia ke dalam dekapannya, memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja dan tidak terluka sedikit pun.
Dan di situlah, di dalam toko roti kecil yang hangat itu, badai kehidupan yang sesungguhnya akhirnya benar-benar reda.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan keindahan yang begitu tenang. Toko Roti Hangat Auris kembali beroperasi seperti biasa, dipenuhi oleh aroma mentega panggang, vanila murni, dan fermentasi ragi yang menenangkan.
Sore itu, cahaya matahari kekuningan merembes masuk melalui jendela kaca toko, menyinari lantai kayu yang bersih. Di balik etalase, Aurelia berdiri dengan senyuman paling cerah yang pernah terukir di wajahnya. Tidak ada lagi bayangan ketakutan, tidak ada lagi gemetar di ujung jarinya, dan tidak ada lagi teror masa lalu yang menghantui tidurnya. Wanita itu tertawa lepas, merespons gurauan kecil dari seorang anak kecil pembeli roti dan ibunya.
Di sudut ruangan, Damian duduk di kursi kayunya yang biasa. Ia tidak lagi mengenakan mantel hitam kelam atau memegang gagang pedang dengan cengkeraman penuh curiga. Pria yang dulunya ditakuti sebagai Jenderal Tiran berdarah dingin itu kini mengenakan kemeja linen santai, menatap sang istri dengan pandangan yang dipenuhi oleh kehangatan dan rasa syukur yang teramat dalam.
Bagi seorang pria yang menghabiskan seluruh masa mudanya di tengah bau darah, denting pedang, dan jeritan kematian di medan perang, kedamaian sejati ternyata tidak ditemukan di atas takhta kekaisaran atau di balik tembok benteng istana yang megah. Kedamaian itu ada di sini—di dalam toko roti kecil yang sederhana ini, diiringi oleh aroma vanila yang manis dan secangkir teh hangat yang mengepul di atas meja.
Saat toko akhirnya ditutup dan para pelanggan terakhir meninggalkan tempat itu, Damian berdiri, melangkah mendekati Aurelia yang sedang membereskan sisa-sisa nampan.
Ia merengkuh pinggang Aurelia dari belakang, membenamkan wajahnya sejenak di ceruk leher wanita itu, menghirup aroma vanila yang menenangkan jiwa kasarnya. Aurelia tidak menghindar; ia justru menyandarkan punggungnya pada dada bidang Damian, membiarkan jemari mereka saling bertaut dengan erat di atas meja konter.
"Malam ini," bisik Damian lembut di telinga istrinya, napasnya menggelitik kulit leher Aurelia. "Ganti gaunmu. Kita akan pergi keluar."
Aurelia mengerjap, menoleh ke belakang dengan tatapan penuh tanya. "Keluar? Ke mana? Ini sudah malam."
"Percaya padaku," jawab Damian dengan senyuman tulus yang jarang sekali ia tunjukkan pada dunia luar. "Ada tempat yang ingin kutunjukkan padamu."
Malam menutupi kota pelabuhan dengan selimut beludru gelap yang bertabur bintang gemerlap. Udara musim semi terasa begitu bersahabat, membawa kehangatan yang menyenangkan setelah berminggu-minggu dihantam badai salju.
Damian membawa Aurelia berjalan-jalan ke pusat alun-alun kota kecil yang malam itu sedang merayakan festival tahunan musim semi. Sepanjang jalan setapak yang diterangi oleh deretan lentera kertas warna-warni, kerumunan warga berlalu-lalang dengan tawa riang. Anak-anak berlari membawa balon udara mainan, dan para musisi jalanan memainkan melodi akordeon yang ceria.
Aurelia tampak terpesona. Selama ini ia hanya melihat kota ini dari balik jendela toko atau dari sudut-sudut sepi saat bekerja. Berjalan berdampingan dengan Damian, mengenakan gaun malam berenda lembut berwarna hijau zamrud yang dibelikan khusus oleh suaminya, membuat ia merasa seperti wanita paling beruntung di dunia.
Damian menggenggam erat jemari Aurelia, memastikan tangan mereka tidak pernah terlepas di tengah kerumunan yang padat. Setiap kali ada orang yang hampir menyenggol mereka, Damian dengan sigap menarik Aurelia lebih dekat ke sisinya, melindunginya dengan kehangatan tubuhnya.
Mereka mampir di beberapa kedai kecil, mencicipi manisan buah berlapis gula, dan tertawa bersama saat melihat pertunjukan kembang api mini di sudut alun-alun. Aurelia mendongak, menatap profil wajah Damian yang tampak begitu tampan di bawah temaram cahaya lentera festival. Garis rahang pria itu melunak, dan sorot mata abu-abunya tidak lagi memancarkan kebekuan, melainkan pancaran cinta yang begitu murni dan dalam.
Menjelang tengah malam, Damian menuntun Aurelia menaiki sebuah bukit kecil di tepi pantai yang menghadap langsung ke arah teluk pelabuhan. Dari tempat itu, mereka bisa melihat seluruh pemandangan kota kecil yang berkilauan bagaikan hamparan permata di dalam kegelapan malam.
Angin laut berembus lembut, menerbangkan helai rambut kecokelatan Aurelia. Wanita itu berdiri di tepi pagar kayu, memejamkan mata sejenak untuk menikmati ketenangan malam, merasakan kebebasan mutlak yang selama ini ia impikan.
Damian berdiri tepat di belakangnya, lalu melingkarkan kedua lengannya secara perlahan di pinggang Aurelia, mendekap tubuh wanita itu ke dalam pelukan hangatnya.
"Aurelia," panggil Damian pelan. Suaranya begitu syahdu, tenggelam bersama deburan ombak kecil di bawah bukit.
Aurelia membuka matanya, menoleh sedikit ke samping untuk menatap wajah suaminya. "Ya, Damian?"
Damian menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan segenap keberanian di dalam hatinya—bukan keberanian seorang jenderal yang bersiap menghadapi musuh di medan perang, melainkan keberanian seorang pria yang menyerahkan seluruh jiwanya pada wanita yang dicintainya.
"Maafkan aku... karena butuh waktu begitu lama bagiku untuk menyadari arti kehadiranmu di dalam hidupku," ucap Damian tulus, manik matanya menatap manik mata hijau Aurelia dengan binar yang berkaca-kaca. "Maafkan aku atas setiap air mata yang pernah jatuh karena ketakutan yang kubuat di masa lalu. Tapi ketahuilah... sejak hari pertama aku melihatmu tersenyum di balik etalase toko roti itu, aku tahu bahwa duniaku yang hancur akhirnya menemukan rumahnya kembali."
Aurelia terpaku, napasnya tertahan di tenggorokan mendengarkan untaian kalimat yang keluar begitu jujur dari bibir pria yang dulunya dikenal begitu arogan.
"Aku tidak pernah pandai merangkai kata-kata manis," lanjut Damian, senyuman tipis dan lembut terukir di bibirnya. "Aku hanya tahu satu hal pasti di sisa hidupku... Aurelia, aku mencintaimu. Bukan sebagai kewajiban, bukan sebagai bagian dari status istana, tapi dengan seluruh sisa jiwa dan ragaku. Tetaplah di sisiku... selamanya."
Tepat pada detik terakhir kalimat itu terucap, langit malam di atas teluk pelabuhan tiba-tiba meledak dalam warna-warni yang cemerlang.
Duar! Bunga...
Puluhan kembang api raksasa melesat tinggi ke udara, memancarkan cahaya keemasan, merah delima, dan safir yang memantul indah di atas permukaan air laut, menerangi malam mereka berdua dengan kemegahan yang luar biasa. Suara letupan kembang api bergemuruh merdu, merayakan kebahagiaan yang telah lama tertunda.
Mendengar pernyataan cinta yang begitu tulus diiringi letusan kembang api yang memukau di langit malam, pipi Aurelia mendadak merona merah padam. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena ketakutan, melainkan karena gelombang kebahagiaan yang meluap-luap di dalam dadanya.
Ia merasa salah tingkah (salting), pipinya semakin panas, dan senyuman malu-malu merekah indah di bibirnya.
Dengan hati yang berbunga-bunga, Aurelia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata abu-abu Damian, lalu memberikan anggukan kecil penuh kepastian seraya menyurukkan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya.
"Ya..." bisik Aurelia lembut di tengah suara kembang api yang terus mekar menghiasi langit malam. "Aku juga mencintaimu, Damian."
Damian tersenyum lebar, untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia merasakan kebahagiaan yang sempurna tanpa ada keraguan sedikit pun. Ia mendekap istrinya semakin erat, menunduk, dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman hangat yang penuh cinta, menyegel takdir mereka berdua di bawah langit malam yang damai, mengakhiri kisah panjang mereka dengan kebahagiaan abadi yang sesungguhnya.
mampir diceritaku juga ya😊