INVESTASI CINTA YANG SALAH
Oleh: AwandaMw
"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."
Sinopsis:
Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.
Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.
Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
***Bab 16 Pengakuan Sella
📖 BAB 16: Pengakuan Sella
Di dalam ruang pemeriksaan Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, pendingin udara berembus kaku. Bau kertas arsip dan kopi murah menyatu di udara. Sella duduk di kursi besi dingin berhadapan dengan dua orang penyidik dan pengacara pribadinya.
Riasan wajah Sella yang biasanya sempurna kini luntur sepenuhnya. Garis-garis hitam bekas maskara mengering di pipinya, mata sembap, dan rambut pirang kecokelatannya tampak terikat asal-asalan. Tidak ada lagi aroma parfum mewah mahal atau kilau kalung berlian L'Aurore di lehernya—perhiasan itu telah disita oleh penyidik sebagai barang bukti utama.
"Saudari Sella Anindya," ujar penyidik senior seraya mengetuk berkas laporan audit forensik di atas meja. "Berdasarkan bukti alur transaksi, kartu kredit eksekutif korporat atas nama Anda telah mencatat pengeluaran sebesar seratus delapan puluh juta rupiah untuk renovasi ruang kerja pribadi, serta tumpukan faktur belanja barang-barang mewah. Apakah Anda menyadari bahwa dana tersebut berasal dari kas operasional perbankan Apex Media?"
Sella meremas jemarinya yang bergetar hebat di atas paha.
"Saya... saya tidak tahu kalau itu uang penggelapan, Pak!" jerit Sella dengan suara serak menahan tangis. "Reno yang bilang ke saya kalau dia adalah pemilik tunggal perusahaan! Dia yang menyuruh saya belanja! Dia yang menggesek kartu itu untuk saya!"
"Tapi Anda menandatangani formulir pencairan anggaran pemasaran khusus yang diajukan ke bagian keuangan, Saudari Sella," potong penyidik dengan nada datar, menunjukkan salinan dokumen bertanda tangan Sella. "Anda menjabat sebagai Direktur Pemasaran. Secara hukum, Anda memiliki tanggung jawab administratif penuh atas setiap pengeluaran yang Anda sahkan."
Sella menengok ke arah pengacaranya dengan pandangan panik penuh keputusasaan. Namun, pengacaranya hanya menggelengkan kepala pelan, mengisyaratkan bahwa membela diri secara buta hanya akan memperberat posisinya.
"Pak Penyidik..." Sella menyatukan kedua telapak tangannya di atas meja, air matanya kembali menetes deras. "Saya mau kooperatif. Saya mau bongkar semuanya! Saya punya bukti rekaman percakapan dan pesan singkat dari Reno!"
Penyidik menaikkan sebelah alisnya. "Bukti apa yang Anda miliki?"
Sella buru-buru menyodorkan ponsel mewahnya yang kini berada dalam pengawasan penyidik.
"Reno yang merencanakan semuanya dari awal!" tangis Sella memecah keheningan ruangan. "Reno sengaja mengalihkan dana kas operasional untuk membiayai gaya hidup keluarganya dan membelikan saya barang mewah karena dia mau menguras aset perusahaan sebelum digugat oleh Nadia! Dia bilang Nadia itu wanita bodoh yang nggak paham hukum bisnis!"
Sella menarik napas tersengal-sengal, meluapkan seluruh isi pikirannya tanpa menyisakan sedikit pun perlindungan untuk pria yang pernah dipujanya.
"Reno juga yang menyuruh ibunya dan adiknya menuntut uang bulanan ratusan juta! Dia bahkan berencana memindahkan hak paten sistem media Apex ke akun pribadi di luar negeri!" lanjut Sella histeris. "Saya cuma dimanfaatkan Reno untuk jadi tameng! Saya bersedia bersaksi di pengadilan untuk memberatkan Reno, asalkan status saya diubah jadi saksi pelaku atau penangguhan penahanan saya dikabulkan!"
Penyidik mencatat setiap kata dari pengakuan Sella, lalu menatap wanita di depannya dengan tatapan dingin.
"Pengakuan Anda akan dimasukkan ke dalam Berita Acara Pemeriksaan Tambahan," kata penyidik tegas. "Namun mengenai penangguhan penahanan... pihak pelapor, PT Cakrawala Capital, telah mengajukan penolakan keras atas segala bentuk kompromi hukum."
Mendengar nama PT Cakrawala Capital, bahu Sella berguncang hebat. Wajah Nadia yang tenang dan dingin saat menatapnya di restoran Senopati malam itu kembali terbayang, menghantam kesadarannya dengan rasa penyesalan yang teramat dalam.
Sementara itu, di ruangan VVIP sebuah rumah sakit swasta di kawasan Jakarta Selatan, Ibu Risma terbaring lemas dengan selang infus terpasang di tangannya. Tekanan darah wanita tua itu melonjak drastis setelah mendengar berita bahwa Reno dan Sella resmi ditahan serta seluruh aset rumah mereka dibekukan oleh pihak kurator.
Maya duduk di samping ranjang dengan mata sembap dan wajah pucat pasi. Tidak ada lagi sisa kepongahan dari gadis yang biasanya selalu memamerkan barang-barang mewah di media sosial itu.
Klek.
Pintu kamar perawatan terbuka. Nadia melangkah masuk. Ia tampil begitu anggun dalam balutan busana terusan berwarna krem polos, menggenggam tas kulit simpel tanpa corak yang mencerminkan kemewahan tenang.
Melihat Nadia masuk, Maya langsung bangkit berdiri dari kursinya. Tubuhnya bergetar, ketakutan luar biasa tampak jelas dari sorot matanya.
"M-Mbak Nadia..." bisik Maya terbata-bata.
Ibu Risma yang terbaring lemas perlahan membuka matanya. Melihat sosok mantan menantunya berdiri di ujung ranjang, air mata wanita tua itu langsung mengalir membasahi bantal.
"Nadia... Nak..." rintih Ibu Risma dengan suara parau dan lemah. "Ibu mohon... ampuni Reno, Nak... Ibu bisa mati kalau lihat Reno masuk penjara..."
Nadia berdiri di samping ranjang, menatap mantan ibu mertuanya tanpa amarah, namun juga tanpa kehangatan yang dulu selalu ia berikan.
"Ibu tidak perlu membebani pikiran dengan hal itu," ujar Nadia pelan, suaranya jernih dan tenang. "Proses hukum sudah berjalan di tangan pihak kepolisian."
Ibu Risma mencoba meraih ujung lengan baju Nadia dengan tangannya yang gemetar, namun Nadia dengan halus melangkah satu tapak ke belakang, menghindari sentuhan itu.
"Nadia..." panggil Ibu Risma seraya menangis sesenggukan. "Ibu tahu Ibu salah... Ibu yang sudah dibutakan sama uang Reno. Ibu yang menyuruh Reno memperlakukan kamu seperti pembantu... Tapi tolong, Nak, kasihanilah Reno... Dia itu suami kamu selama lima tahun..."
"Dia mantan suami saya, Bu," pangkas Nadia dengan penekanan yang sangat halus namun tegas.
Nadia beralih menatap Maya yang terus menundukkan kepala rapat-rapat.
"Maya," panggil Nadia.
Maya mendongak kaget, menatap Nadia dengan mata ketakutan. "I-iya, Mbak?"
"Rumah yang kamu tempatin bersama ibumu saat ini adalah aset atas nama PT Cakrawala Capital yang dulu dipinjamkan untuk fasilitas direksi," kata Nadia datar. "Tim hukum saya sudah memberikan surat pemberitahuan pengosongan rumah dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam."
"Mbak!" seru Maya panik, air matanya menetes deras. "Terus kami mau tinggal di mana?! Kami nggak punya uang lagi! Semua kartu kredit Mas Reno sudah diblokir!"
"Kamu punya pendidikan dan tubuh yang sehat, Maya," jawab Nadia dingin. "Kamu bisa bekerja dan mencari kontrakan sederhana. Sebagaimana yang saya lakukan lima tahun lalu ketika membiayai kuliahmu dan membayar cicilan utang ibumu."
Kata-kata Nadia menghantam dada Ibu Risma dan Maya begitu telak. Mengingatkan mereka pada kenyataan pahit bahwa selama lima tahun ini, kehidupan nyaman yang mereka nikmati bukanlah hasil kerja keras Reno, melainkan pengorbanan wanita yang mereka caci maki.
"Nadia... kamu tega sekali sama kami..." bisik Ibu Risma meratap.
Nadia merapikan posisi tas di lengannya, menatap wanita tua itu untuk terakhir kalinya.
"Saya tidak tega, Bu. Saya hanya berhenti menjadi orang bodoh," ujar Nadia penuh wibawa. "Saya sudah membayar biaya perawatan rumah sakit ini untuk hari ini sebagai bentuk penghormatan terakhir saya pada ikatan keluarga yang dulu pernah ada."
Nadia membalikkan badannya dengan anggun, melangkah menuju pintu keluar kamar perawatan.
"Mulai besok pagi," lanjut Nadia sebelum membuka pintu, "seluruh tagihan dan kebutuhan hidup keluarga kalian adalah tanggung jawab kalian sendiri."
Nadia melangkah keluar, membiarkan tangisan histeris Ibu Risma dan Maya bergema di dalam ruangan yang tertutup rapat.
Nadia berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan kepala ditegakkan tinggi. Masa lalunya telah sepenuhnya dimakamkan, dan kini ia siap menghadapi pertarungan hukum pamungkas di persidangan.
🌸🌸🌸🌸