NovelToon NovelToon
SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."

Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.

Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.

Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 — Kabar Bahagia dan Ancaman Tersembunyi

Pagi itu, cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai jendela yang berwarna krem lembut, menyinari wajah Su Yi yang masih terlelap dalam tidur yang damai. Di sampingnya, Mo Han sudah terjaga sejak lama. Ia berbaring miring menatap wajah kekasihnya yang terlihat begitu tenang dan cantik meski tanpa hiasan apa pun. Tangannya terulur perlahan, menyentuh pipi lembut itu dengan punggung jari-jarinya, tak berani menyentuh lebih keras seakan takut membangunkan tidurnya yang manis.

Sejak kejadian di gudang tua itu, Mo Han tak pernah lagi melepaskan genggamannya pada tangan Su Yi. Setiap malam ia tidur di sisinya, memastikan napas gadis itu berjalan teratur dan hangat menyentuh kulitnya. Setiap pagi ia bangun lebih dulu, hanya untuk memastikan bahwa apa yang terjadi kemarin bukanlah mimpi — bahwa Su Yi benar-benar ada di sisinya, aman dan nyata.

Perlahan, kelopak mata Su Yi bergerak pelan, lalu terbuka menampakkan sepasang mata jernih yang masih terlihat sedikit mengantuk. Saat pandangannya jatuh pada wajah yang menatapnya lekat-lekat itu, senyum lembut seketika merekah di bibirnya.

"Kau sudah bangun?" Su Yi berbisik pelan, suaranya masih terdengar berat namun penuh kelembutan.

"Sudah." Mo Han menjawab sambil tersenyum tipis, lalu mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Aku tak ingin melewatkan satu detik pun saat kau membuka matamu."

Wajah Su Yi memerah seketika, namun ia tidak memalingkan wajahnya. Ia menatap manik mata hitam itu dalam-dalam, lalu perlahan mengangkat kepalanya sedikit dan mengecup lembut bibir pria itu sekilas.

"Selamat pagi, suamiku."

Satu kalimat itu terucap begitu pelan namun terdengar begitu jelas dan berat di telinga Mo Han. Jantungnya berdegup kencang seketika, dan sepasang matanya melebar sedikit karena terkejut sekaligus bahagia yang tak terlukiskan. Ia menatap wajah Su Yi lekat-lekat, seakan ingin memastikan bahwa apa yang baru saja ia dengar itu nyata.

"Kau..." Mo Han menelan ludah dengan susah payah, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Kau menyebutku... suamimu?"

Su Yi tersenyum manis, mengangguk pelan sambil meremas lembut ujung jari-jari pria itu. "Bukankah kita sudah menikah? Dan bukankah kita telah berjanji untuk saling menemani seumur hidup? Lalu apa lagi yang harus kupanggil selain suamiku?"

Kata-kata itu bagaikan aliran air yang menyejukkan hati Mo Han yang selama ini terasa panas dan gersang karena rindu dan takut kehilangan. Tanpa mampu menahan diri lagi, ia menarik tubuh Su Yi ke dalam pelukan erat, membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu dan menghirup napas dalam-dalam aroma tubuh yang menenangkan jiwanya.

"Ya... aku suamimu. Dan kau adalah istriku. Satu-satunya wanita yang kucintai seumur hidup." Mo Han berbisik dengan suara yang penuh emosi, tangannya mengusap lembut punggung Su Yi. "Dan tidak ada yang bisa mengubah hal itu. Tidak ada yang bisa memisahkan kita."

Su Yi membiarkan dirinya dipeluk begitu lama, menikmati kehangatan dan kekuatan yang selalu ia dapatkan dari pelukan itu. Namun tiba-tiba, ia merasa sedikit pening dan rasa mual yang aneh menyergap perutnya. Ia mengerutkan kening pelan, tangannya secara refleks menekan perut bagian bawahnya.

Merasakan perubahan sikap gadis itu, Mo Han segera melepaskan pelukannya sedikit dan menatap wajahnya dengan cemas. "Ada apa? Apa lukamu terasa sakit?"

Su Yi menggeleng pelan, lalu tersenyum menenangkan. "Tidak. Lukaku sudah tidak terasa sakit lagi. Hanya saja... tiba-tiba terasa sedikit mual dan pening. Mungkin karena kurang tidur kemarin."

Mo Han mengerutkan keningnya lebih dalam. Matanya menatap wajah pucat Su Yi dengan tatapan khawatir. "Kurang tidur atau bukan... tetap harus diperiksa. Aku akan memanggil dokter sekarang juga."

"Mo Han... tidak perlu." Su Yi mencoba menahannya namun Mo Han sudah bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar dengan langkah cepat. Tak lama kemudian, dokter pribadi keluarga itu tiba dengan membawa perlengkapan pemeriksaan lengkap.

Su Yi duduk di tepi tempat tidur sambil menatap Mo Han yang berdiri tak jauh dari dokter dengan wajah penuh kekhawatiran. Ia takut melihat pria itu begitu cemas, namun di sisi lain hatinya terasa hangat karena perhatiannya yang begitu tulus.

Dokter tua itu memeriksa denyut nadi Su Yi dengan teliti, lalu mengamati wajahnya dan menanyakan beberapa hal tentang kondisi tubuhnya belakangan ini. Semakin lama dokter itu memeriksa, semakin dalam kerutan di kening Mo Han. Hingga akhirnya dokter itu tersenyum dan meletakkan tangan Su Yi perlahan di atas selimut.

"Selamat, Tuan Muda. Nona Su Yi... sebenarnya sedang mengandung."

Su Yi tertegun mendengar kata-kata itu. Matanya melebar tak percaya, ia menatap dokter itu lalu beralih menatap Mo Han yang berdiri terpaku bagaikan patung di tempatnya. Wajah Mo Han yang tadi penuh kekhawatiran kini perlahan berubah menjadi ekspresi takjub yang luar biasa. Matanya terbelalak, napasnya tertahan, dan sepasang matanya perlahan berkaca-kaca menatap perut Su Yi yang masih rata sempurna.

"Kau... yakin?" Mo Han bertanya dengan suara bergetar, matanya tak beralih sedikit pun dari wajah dokter.

"Sangat yakin, Tuan Muda. Denyut nadanya menunjukkan tanda-tanda kehamilan yang sudah memasuki usia sekitar dua bulan. Hanya saja karena kondisi emosional dan fisik yang cukup lelah belakangan ini... menyebabkan gejala mual dan pening itu muncul lebih jelas." Dokter itu menjelaskan dengan senyum ramah. "Jadi tolong jaga kondisi Nona Su Yi dengan baik. Jangan biarkan ia terlalu lelah atau terkejut. Bayi dan ibunya membutuhkan ketenangan yang cukup."

Setelah dokter itu berpamitan dan pergi, suasana di dalam kamar itu menjadi hening sejenak. Mo Han berjalan perlahan mendekati Su Yi yang masih duduk terpaku di tepi tempat tidur. Ia berlutut di hadapan gadis itu, meletakkan kedua tangannya di atas perut Su Yi dengan sangat hati-hati seakan menyentuh benda paling berharga di dunia ini. Matanya menatap perut itu lekat-lekat, lalu perlahan mendongak menatap wajah Su Yi yang kini basah oleh air mata bahagia.

"Kita punya anak..." Mo Han berbisik dengan suara yang penuh getaran emosi, air mata bahagia akhirnya menetes dari sudut matanya. "Kita benar-benar punya anak, Yi..."

Su Yi mengangguk dengan air mata mengalir deras di pipinya, ia meletakkan kedua tangannya di atas tangan Mo Han yang berada di perutnya. "Ya... ada kehidupan baru di sini. Buah cinta kita, Mo Han."

Mo Han berdiri perlahan dan menarik Su Yi masuk ke dalam pelukannya dengan sangat lembut dan hati-hati. Ia mencium keningnya berkali-kali dengan penuh rasa syukur yang tak terhingga. "Terima kasih... terima kasih, Yi. Kau memberikan kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Mulai sekarang... aku akan menjagamu berdua. Lebih dari sebelumnya. Aku akan memastikan kalian berdua tumbuh dalam kebahagiaan dan keselamatan. Tidak ada yang boleh menyakiti kalian. Tidak ada yang boleh mengganggu kalian."

Namun di tengah kebahagiaan yang meluap-luap itu, ingatan tentang ancaman keluarga Jiang kembali menyelinap di benak Mo Han. Wajahnya perlahan berubah serius. Tangan kirinya tetap melingkar di pinggang Su Yi, sementara tangan kanannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Ia tahu bahwa keluarga Jiang belum sepenuhnya habis. Meskipun Tuan Jiang dan Jiang Chen telah ditangkap, namun ada jaringan luas yang masih tersembunyi di balik bayang-bayang kekuasaan mereka. Dan jika mereka mengetahui bahwa Su Yi sedang mengandung... bahaya akan berkali-kali lipat mengancam nyawa ibu dan calon bayinya.

Su Yi merasakan perubahan suasana hati pria itu. Ia mengangkat kepalanya dari dada Mo Han dan menatap wajahnya yang kembali tegang. "Ada apa, Mo Han? Kau terlihat khawatir."

Mo Han menatapnya, lalu mengusap pipinya dengan lembut dan tersenyum berusaha menenangkannya. "Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Hanya saja... karena kau sedang mengandung... aku harus memperketat penjagaan di sekeliling rumah. Dan mungkin untuk sementara waktu... kita tidak boleh memberitahukan kabar bahagia ini kepada siapa pun. Setidaknya sampai segala bahaya benar-benar hilang."

Su Yi mengerti maksudnya. Ia memegang erat tangan Mo Han dan mengangguk tegas. "Aku paham. Kita jaga rahasia ini baik-baik. Hanya milik kita berdua. Dan aku percaya padamu... kau pasti bisa melindungi kita berdua."

Mo Han mengangguk, lalu menatap perut Su Yi sekali lagi dengan tatapan penuh cinta dan tekad yang membara. Tunggu sebentar lagi, anakku. Ayah akan membersihkan segala bahaya yang ada di depan. Saat kau lahir ke dunia ini... ayah pastikan dunia itu aman dan damai untukmu.

Namun jauh di luar kediaman yang damai itu, di sebuah ruangan gelap yang remang-remang, seorang pria berdiri membelakangi cahaya lampu yang redup. Di tangannya, selembar kertas berisi laporan tentang kejadian di gudang tua itu serta kondisi Su Yi tergeletak di atas meja. Pria itu perlahan membaca setiap baris tulisan di atas kertas itu, dan saat matanya membaca baris terakhir... sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum miring yang penuh kejahatan.

"Sudah mengandung..." Pria itu berbisik pelan dengan suara berat dan serak. "Hebat sekali... baru saja bersatu dan sudah akan memiliki keturunan. Sayang sekali... semakin berharga yang kau miliki, semakin banyak yang akan kucabut darimu, Mo Han. Tunggu saja... hadiah terbesarku baru saja akan kukirimkan. Dan kali ini... kau pasti akan hancur berkeping-keping."

Pria itu melipat kertas itu perlahan dan menyimpannya ke dalam saku jasnya. Lalu ia berjalan perlahan menuju jendela besar yang menatap ke arah kediaman Mo Han di kejauhan, menatapnya dengan tatapan tajam dan penuh dendam yang tak akan pernah hilang hingga tujuannya tercapai.

Dan di dalam kamar yang hangat itu, Mo Han memeluk Su Yi erat dalam pelukannya, sama sekali belum menyadari bahwa bahaya yang jauh lebih besar sedang mengintai dari arah yang tak pernah ia duga — bahaya yang bahkan ia tak tahu siapa sosok yang mengendalikannya dari balik layar gelap itu.

 

1
Alia Chans
suka sama gendre perjodohan begini🤭🤭
salam interaksi thor😉
Arman: makasih kak
salam interaksi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!