Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.
Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.
Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 : Jadwal DBL & Plastik Hitam Perhatian Ara
Selasa pagi minggu berikutnya datang dengan tempo yang jauh berbeda bagi SMA Cahaya Permata. Suasana santai anak-anak kelas XI IPS 2 mendadak tergerus oleh hawa kompetisi yang makin dekat. Turnamen basket tahunan paling bergengsi tingkat SMA, DBL (Developmental Basketball League), tinggal menghitung hari.
Bagi siswa biasa, ini artinya adalah keseruan sorak-sorai dari tribun penonton. Namun bagi seorang Khafi—kapten tim utama sekaligus jangkar permainan—ini adalah minggu penuh siksaan fisik dan mental.
Sejak bel masuk berbunyi pukul tujuh pagi, keberadaan Khafi di dalam kelas bisa dihitung dengan jari. Cowok itu terus-terusan bolak-balik. Baru sebentar duduk di kursinya, pintu kelas sudah diketuk oleh panitia DBL, dipanggil guru olahraga untuk urusan berkas dispensasi, atau dicari anak-anak tim utama untuk membahas strategi pertahanan.
"Buset dah si Khafi, sibuk amat kayak presiden mau kunjungan kerja," celetuk Fathir saat jam istirahat pertama, ia yang dipanggil untuk main game bersama dengan Pandu yang di tinggal oleh 3 sekawannya latihan basket memandangi kursi Khafi di belakang yang kosong melompong. Tas cowok itu bahkan cuma digeletakkan asal di atas meja, resletingnya masih setengah terbuka.
Pandu yang sedang mengunyah kripik tempe mendengus pelan. "Latihan DBL tahun ini gila-gilaan, Bro. Pak Yudi nambah porsi latihan fisik dua kali lipat. Kemarin sore aja anak-anak disuruh suicide run sepuluh kali putaran. Si Khafi sebagai kapten kan kudu pasang badan. Dia yang nge-breakdowns taktik, dia yang harus nyontohin, dia juga yang kudu ngomelin anak-anak kalau ada yang loyo." ucapnya karena beberapa kali saat ia main ke rumah Khafi, temannya itu sering kali keluar rumah.
Kiara, yang duduk di deretan tengah, menyadari perubahan ritme itu dengan sangat jelas. Menstruasi hari pertamanya yang menyiksa minggu lalu sudah lewat total. Kondisi fisiknya sudah segar bugar, tapi kini giliran pikirannya yang terganggu.
Di atas mejanya, ada sebuah paper bag polos warna cokelat. Di dalamnya tersimpan jaket varsity hitam milik Khafi yang sudah ia cuci bersih, disetrika rapi, dan diberi wangi pelembut pakaian yang lembut. Kiara berniat mengembalikan jaket itu secepatnya biar tidak ada beban atau alibi untuk terus kepikiran. Tapi masalahnya, si pemilik jaket jangankan bisa diajak ngobrol santai, baru mau disapa saja sudah keburu menghilang di belokan koridor.
Neona menoleh ke arah Kiara, menyenggol lengan sahabatnya itu pelan. "Kia, lo nggak mau balikin jaket si Khafi sekarang aja? Itu kan di dalam paper bag udah lo bawa dari rumah."
Kiara memutar pulpen di jarinya, berpura-pura menatap papan tulis dengan mimik cuek. "Gimana mau ngasih, Na? Urang-uringan gitu anaknya dari tadi. Nanti kalau gue taruh di mejanya terus ketimbun buku tugas kan berantakan. Nanti aja pas kelas sepi."
"Halah, alasan," cibir Neona sambil tersenyum menggoda. "Bilang aja lo gengsi kan kalau ngasih pas anak-anak cowok lagi nongkrong di sini? Takut digodain kalau nggak ada Khafi?"
"Nggak ya! Siapa yang gengsi?!" semprot Kiara cepat, membelalakkan matanya walau ujung telinganya mendadak memerah. "Gue cuma lagi males aja ngeladenin ledekan begituan, lagi nggak mood deh pokoknya,"
Neona yang mendengar jawaban Kiara yang terkesan asal hanya tertawa saja seraya pura-pura mengangguk paham.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul empat sore, bel pulang sekolah berbunyi. Namun bukannya sepi, area SMA Cahaya Permata justru makin berisik oleh anak-anak yang memang ada jadwal berbagai macam ekstrakurikuler. Suara decitan sepatu karet di atas lantai semen kering dan pantulan bola basket yang berat terdengar beritme dari arah gedung indoor gymnasium sekolah.
Kiara sebenarnya sudah siap pulang. Ia menyandarkan tasnya di bahu, memegang paper bag cokelat di tangannya, lalu berjalan menyusuri koridor lantai dua bersama Neona. Jalur pulang mereka memang melewati selasar atas yang menghadap langsung ke area lapangan basket indoor.
Saat melintasi selasar berpagar besi itu, langkah Kiara refleks melambat. Matanya menerobos barisan pagar besi, menatap ke arah tengah lapangan di bawah sana.
Di sana, tim utama basket SMA Cahaya Permata sedang dihajar latihan fisik keras. Suara peluit Pak Yudi melengking nyaring berulang kali.
Khafi berdiri di tengah garis free-throw. Kaos latihan parasut tanpa lengan warna hitam yang dikenakannya sudah basah kuyup oleh keringat sampai menempel rapat di dada bidangnya. Wajahnya yang biasa tenang kini tampak tegang dan lelah. Dahinya bertumpuk peluh, dan rambut bagian depannya sudah menempel di keningnya akibat basah.
"Lagi! Fokus, heh! Defense lo bolong di sayap kiri, Bagas! Jangan malas gerak kakinya!" teriak Khafi mengarahkan anggotanya.
Suara Khafi yang biasanya berat dan tenang kini terdengar agak pecah dan serak parah. Tenggorokannya jelas-jelas sudah meradang gara-gara dipakai berteriak seharian di tengah lapangan yang panas dan pengap.
Kiara menghentikan langkahnya total. Ia menyandarkan kedua tangannya di pagar besi, memperhatikan sosok tinggi di bawah sana yang baru saja melakukan lay-up kencang, lalu mendarat dengan napas memburu berat. Khafi membungkuk sebentar, bertumpu pada kedua lututnya sambil mengusap wajahnya kasar menggunakan punggung lengan.
"Gila... serak banget suara si Khafi, Kevin sama Ferdi juga berantakan banget nggak enak diliat," gumam Neona yang ikut berdiri di samping Kiara. "Kapan mereka istirahatnya coba? Dari pagi wara-wiri, sore langsung dihantam drilling begini."
Kiara tak menyahut. Tenggorokannya sendiri mendadak terasa gatal membayangkan betapa keringnya tenggorokan Khafi saat ini. Ingatan Kiara mendadak melompat ke kejadian minggu lalu. Saat dia sedang merintih kesakitan dan malu karena perkara tembus, Khafi lari-larian tanpa peduli gengsi demi membawakan jaket tebal buat menutupi roknya.
Dia aja kemarin rela bikin malu dirinya sendiri buat gue.. batin Kiara. Rasa kasihan dan hangat yang tipis merayap pelan di dadanya, mengalahkan benteng gengsi yang biasanya ia bangun tinggi-tinggi.
Layar ponsel di kantong rok Kiara mendadak bergetar. Sebuah panggilan masuk tertera di layar : Tante Siska —mamanya Khafi.
Kiara membelalak pelan, buru-buru menggeser tombol hijau di layar lalu menempelkan ponselnya ke telinga sambil berjalan agak menjauh dari kebisingan lapangan.
"Halo, Tante Siska?" sapa Kiara lembut.
Dari balik telepon, suara hangat khas Tante Siska terdengar mengudara, tapi diselimuti nada cemas yang kental. "Halo, Ara sayang... Kamu masih di sekolah, Nak?"
"Masih, Tante. Ini baru selesai jam pelajaran, lagi di selasar mau jalan ke depan. Ada apa, Tante?"
Tante Siska menghela napas panjang dari seberang sana. "Aduh, Ara ... Tante mau nanya, Khafi masih latihan ya di lapangan? Tante telepon dari tadi gak diangkat-angkat sama anak itu. Tante khawatirnya setengah mati."
Kiara melirik kembali ke arah lapangan di bawah. "Iya, Tante. Ini lagi di tengah lapangan, lagi latihan fisik keras banget sama Pak Yudi. Ponselnya kayaknya ditaruh di dalam tas di tribun, makanya nggak kedengaran. "
"Astaga... pantesan," Desah pelan hembusan napas lelah dari Tante Siska terdengar. "Ara, Tante boleh curhat dikit nggak? Tante itu pusing banget liat kelakuan si Khafi beberapa hari ini. Tadi pagi aja dia cuma sempat minum susu setengah gelas, rotinya nggak disentuh sama sekali gara-gara terburu-buru takut terlambat rapat DBL. Pulang sekolah tiap malam jam sembilan, badannya udah dingin, mukanya pucat. Tante kasih vitamin dia lupa minum terus. Kemarin malam Tante dengar dia batuk-batuk di kamarnya, suara tenggorokannya udah serak banget tapi kalau dibilangin suruh istirahat malah jawabnya 'aman Ma, aman'."
Kiara mendengarkan setiap kalimat itu dengan seksama. Ia ikut merasa lelah dan khawatir mendengar penuturan Mamanya Khafi ini. Ciri khas Khafi banget: keras kepala, sok kuat, dan enggan memperlihatkan rasa lelahnya di depan orang lain.
"Ara paham, Tante... Soalnya di sekolah juga dia bolak-balik terus dari tadi pagi," balas Kiara halus.
"Tante minta tolong ya, Ara... Kalau kamu ketemu anak itu sebelum kamu pulang, tolong ingetin dia buat minum air hangat atau makan sesuatu. Kalau Tante yang ngomong suka dianggap angin lalu sama dia. Tapi kalau kamu atau temannya yang ngomong, biasanya dia lebih mau dengar. Tolong ya, Nak?"
Kiara menggigit bibir bawahnya pelan. "I-iya, Tante. Nanti Ara sampaikan ke Khafi ya. Tante tenang aja."
"Makasih banyak ya, Ara sayang... Kamu hati-hati ya jalannya kalau mau pulang."
Sambungan telepon terputus. Kiara berdiri mematung beberapa detik di koridor, memandangi layar ponselnya yang kembali gelap.
Neona yang dari tadi merekam sesi latihan Kevin yang menurutnya keren, mulai menghampirinya. "Siapa? Nyokap lo?"
"Bukan. Mamanya Khafi," jawab Kiara pelan. Ia menoleh ke arah Neona dengan raut wajah yang mendadak berubah serius. "Na, lo duluan aja ke depan ya. Gue mau ke kantin bentar."
"Eh? Mau ngapain ke kantin? Katanya mau langsung pulang?"
"Ada yang mau gue beli sebentar. Udah, lo duluan aja ke depan gerbang, nanti gue nyusul!" kata Kiara tanpa menunggu jawaban Neona lagi. Ia berbalik arah dan melangkah cepat turun menuju area kantin belakang yang sudah mulai sepi.
Kantin sekolah jam empat sore hanya menyisakan beberapa penjual yang sedang merapikan dagangan. Kiara melangkah tegas mendekati salah satu warung langganannya.
"Bu, beli air mineral yang nggak dingin ukuran besar satu ya," ujar Kiara cepat.
Matanya lalu bergerak memindai rak etalase kaca. "Sama itu, Bu... minuman larutan penyegar cap kaki tiga yang rasa jeruk botolan ada? Sama obat cair buat tenggorokan gatal yang warna hijau itu."
Ibu kantin mengambil barang-barang yang diminta Kiara dengan cekatan. "Ada, Neng. Nih larutannya, sama obatnya. Mau dibungkus pakai kantong?"
"Iya Bu, pakai kantong plastik hitam aja ya."
Setelah membayar, Kiara membawa kantong plastik hitam itu. Tapi langkahnya mendadak berhenti di depan koperasi kecil dekat kantin. Ia menatap deretan cokelat di depannya. Mengingat ucapan Tante Siska kalau Khafi belum makan nasi dari pagi dan cuma minum susu setengah gelas, Kiara mendesah pelan.
Gula darahnya bisa drop kalau habis latihan fisik marathon begini nggak kemasukan karbo, batinnya.
Kiara masuk ke koperasi, menyambar satu batang besar dark chocolate cadbury yang kandungan cokelat murninya lebih tinggi—tidak terlalu manis tapi cepat menambah energi. Ia memasukkan cokelat itu ke dalam kantong plastik hitamnya.
Kini masalah utamanya adalah: Gimana cara ngasih barang-barang ini ke Khafi tanpa kelihatan lebay atau bikin geger se-lapangan?
Kiara berjalan kembali ke arah gedung indoor. Ia tidak masuk lewat pintu utama tribun penonton, melainkan lewat pintu samping dekat area loker ruang ganti pemain yang sepi. Dari situ, ia bisa melihat situasi lapangan tanpa harus menampakkan diri di depan banyak orang.
Kebetulan sekali, Pak Yudi baru saja meniup peluit panjang tiga kali.
Priiiiit! Priiiiiit! Priiiiit!
"Oke! Cukup buat latihan sore ini! Cooling down lima menit, habis itu mandi dan balik ke rumah masing-masing! Jangan ada yang begadang malam ini!" teriak Pak Yudi memecah formasi latihan.
Anak-anak tim basket langsung ambruk selonjoran di pinggir lapangan. Ada yang merebahkan badan di atas lantai, ada yang menelungkupkan kepala di atas bola.
Khafi berjalan agak tertatih kaku menuju tepi lapangan, memegangi pinggangnya yang pegal. Cowok itu mendudukkan dirinya di bangku kayu dekat deretan tas pemain. Ia menarik napasnya dalam-dalam, napasnya memburu keras. Tangannya terulur meraih botol minum miliknya di dekat tas, tapi saat diguncang-guncang, botol plastik itu sudah kosong melompong. Tak ada setetes air pun tersisa.
Khafi mendesah pasrah, menyandarkan kepalanya ke dinding tembok yang dingin sambil memejamkan mata lelahnya. Tenggorokannya serasa terbakar.
Kiara, yang mengintip dari balik celah pintu ruang ganti, merasa momen ini sangat pas. Tapi tepat saat ia mau melangkah, Ferdi baru saja keluar dari dalam kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya pakai handuk kecil.
Nah, pas banget ada Ferdi. batin Kiara merasa lega.
Kiara melangkah keluar sedikit dari balik tembok. "Ferdii! Sstt! Edii" panggil Kiara dengan nada berbisik tapi tajam.
Ferdi yang merasa namanya dipanggil menoleh celingukan, kaget melihat Kiara berdiri di lorong dekat pintu kamar mandi. "Eh? Neng Kiara? Ngapain di sini? Mau masuk ke toilet cewek?"
Kiara menarik lengan baju Ferdi cepat, menyeret cowok itu dua langkah mendekati kegelapan lorong loker biar tak kelihatan anak-anak di tengah lapangan.
"Ferdi, berisik banget sih suara lo!" bisik Kiara galak sambil melotot.
"Lah, kan gue bingung, Neng..." ujar Ferdi polos sambil menggaruk kepalanya.
Kiara langsung menyodorkan dua barang ke tangan Ferdi : paper bag cokelat berisi jaket varsity hitam Khafi, dan kantong plastik hitam berisi minuman dan cokelat yang baru dibelinya tadi.
"Nih," kata Kiara cepat.
Dahi Ferdi bertaut tipis, mengintip isi bawaan itu penasaran. "Apaan nih? Barang bukti?"
"Bukan, Bambang!" semprot Kiara gemas, berusaha menahan suaranya agar tidak melengking. "Itu paper bag isinya jaket si Khafi yang kemarin dipinjemin ke gue. Udah bersih, udah wangi. Kasihin ke dia."
"Oh, oke. Nah kalau plastik hitam ini apaan?" tanya Ferdi sambil mengintip ke dalam plastik. Matanya membelalak pelan saat melihat ada air mineral besar, larutan pereda tenggorokan, obat cair, dan cokelat. "Anjay... isi sembako? Dari siapa nih?"
Wajah Kiara seketika terasa hangat, tapi ia memburu-buru pasang raut muka paling jutek yang ia punya. "Dari kakek lo! Ya dari gue lah, pake nanya lagi!"
"Buset, galak amat..." ringis Ferdi. "Cie... perhatian banget sama si Kapten."
"Nggak usah mulai deh, Di!" gertak Kiara sambil mengepalkan tangannya di depan muka Ferdi. "Gue kasih itu gara-gara kemarin dia udah bantuin gue! Biar nggak ada utang-piutang! Lagian suara dia udah kayak kaleng rombeng gitu, teriak-teriak mulu dari tadi! Bilang sama dia: obat tenggorokannya diminum, airnya diminum sampai habis, cokelatnya dimakan biar nggak lemas! Kalau dia nanya, bilang aja kembalian utang kemarin! Paham nggak?!" ucapnya setengah memaksa.
Ferdi mendengarkan sambil tersenyum jahil sambil mengangguk-angguk cepat, takut kena amuk singa betina ini lagi. "Paham, Paham! Pesan anda akan saya bantu sampaikan 100% presisi tanpa kurang satu kata pun!" ucapnya terkesan meledek berlebihan.
"Awas ya kalau lo bocor atau nambah-nambahin cerita ke anak-anak lain!" ancam Kiara sekali lagi. "Udah sana! Gue mau pulang!"
Kiara langsung memutar badannya dan berlari cepat menyusuri lorong luar menuju gerbang sekolah, membiarkan jantungnya bertumpuk deg-degan kencang gara-gara menahan malu.
Di pinggir lapangan basket, Khafi masih memejamkan matanya sambil mengusap lehernya yang terasa panas dan kaku.
BRAK.
Sebuah paper bag cokelat dan kantong plastik hitam mendadak ditaruh Ferdi di atas paha Khafi yang sedang selonjoran.
Khafi membuka matanya pelan, mengernyitkan dahi menatap Ferdi yang berdiri di depannya sambil tersenyum-senyum misterius. "Apaan nih?" suara Khafi keluar sangat pelan dan serak.
"Rezeki anak sholeh, Bos," sahut Ferdi sambil menepuk bahu Khafi dua kali. "Tadi ada 'kurir khusus' mencegat gue di dekat lorong loker. Katanya nih barang suruh kasihin ke lo."
Khafi melirik paper bag cokelat itu lebih dulu. Begitu ia melihat lipatan kain parasut hitam di dalamnya dan mencium aroma wangi pelembut pakaian yang sangat familier—wangi yang sama persis seperti pakaian Kiara—ujung alis Khafi terangkat.
"Jaket gue..." gumam Khafi pelan.
"Betul! Dan itu plastik hitam disuruh buka," goda Ferdi sambil mengedipkan sebelah matanya.
Khafi dengan penasaran meraih kantong plastik hitam itu. Begitu ia membuka lipatan plastiknya, matanya membelalak pelan. Di dalamnya ada botol air mineral ukuran satu liter, satu botol larutan penyegar jeruk, obat cair untuk tenggorokan, dan satu batang dark chocolate favoritnya.
Di selipan antara botol air dan cokelat, ada selembar kertas lipat kecil warna merah muda yang dilipat asal-asalan.
Khafi mengambil kertas kecil itu, membukanya. Di dalamnya ada tulisan tangan yang agak tegak bersambung dan sangat tajam—khas tulisan tangan Kiara :
Gak usah GR! Ini kembalian utang gue gara-gara kemarin lo beliin pembalut. Biar kita impas!
Minum airnya sampai habis, obat tenggorokannya diminum biar suara lo gak kayak bebek kejepit. Cokelatnya dimakan, kata mama lo tadi pagi lo belum makan nasi. Jangan pingsan di lapangan, bikin repot orang se-sekolah aja.
- Ara
Khafi membaca baris demi baris tulisan di kertas kecil itu. Rasa lelah yang menghimpit tubuhnya seharian ini, rasa kering di tenggorokannya, hingga pegal di seluruh badannya seketika menguap entah ke mana.
Ferdi yang memperhatikan perubahan raut wajah kaptennya langsung terkekeh. "Si Neng Kiara tadi ngomongnya galak banget, Khaf. Katanya 'bilangin ke si Khafi biar gak utang-piutang lagi!'. Tapi pas ngomong gitu, pipinya merah kayak tomat rebus."
Khafi tidak membalas ucapan Ferdi. Cowok itu menyandarkan badannya kembali ke tembok, memandangi selembar kertas pink di tangannya dengan tatapan yang amat sangat lembut.
Perlahan, bibirnya yang kering dan pucat terangkat ke atas. Sebuah senyuman tipis—namun sangat hangat dan tulus—terukir jelas di wajah datarnya yang biasa tanpa ekspresi.
Khafi mengambil botol larutan penyegar jeruk itu, memutar tutupnya, lalu meminumnya beberapa teguk hingga tenggorokannya terasa dingin dan nyaman. Setelah itu, ia mengambil obat cair pereda tenggorokan dan langsung meminumnya.
"Masih dibilang kembalian utang..." gumam Khafi pelan pada dirinya sendiri, kekehannya terdengar halus di tengah lapangan yang mulai sepi.
Ia memasukkan kertas kecil dari Kiara itu ke dalam dompetnya, merapikan jaket hitamnya yang sudah wangi, lalu mengambil ponsel di dalam tasnya.
Jari-jemari Khafi menari cepat di atas layar, mengetikkan satu pesan singkat untuk seseorang yang mungkin saat ini sedang berjalan menuju gerbang sekolah dengan jantung berdebar.
^^^Khafi Mahendra^^^
^^^Makasih larutannya, Ara. Suara gue udah gak kayak bebek kejepit lagi. Jaketnya wangi, kayak yang punya.^^^
^^^Lain kali kalau mau perhatian gak usah pakai alibi kembalian utang. Gue paham kok.^^^
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dekat gerbang sekolah, Kiara yang baru saja merangkul lengan Neona mendadak menghentikan langkahnya saat ponsel di genggamannya bergetar. Begitu membaca dua pesan beruntun dari Khafi di layarnya, wajah Kiara seketika membara panas sampai ke ujung leher.
"Kenapa, Kia? Muka lo mendadak kayak kepiting rebus gitu?" tanya Neona heran.
Kiara dengan panik menyembunyikan layar ponselnya ke dalam dada, menatap Neona dengan mata membelalak salah tingkah. "G-gak ada apa-apa! Ferdi mulutnya benar-benar lemes banget, sumpah!" serunya kencang, menutup rasa campur aduk di dadanya yang malam itu mekarnya luar biasa indah.
semangatt
Harus bngtttt sih kalian baca! Jngn lupa ramein komen, like, sama vote ya guys. Biar Author-nya makin semangat & rajin update! 🚀
gasss terus thor/Determined/
Vibesnya kaya balik lagi ke masa SMA wkwkwkk, karakter plus interaksi Kiara dan Khafi tuh relate dan beneran dapet banget vibes enemies to loversnya.
Awalnya cuman iseng baca tapi makin ke sini makin bikin senyum-senyum sendiri hahaha, alurnya ngalir terus penulisannya juga rapi yang bikin enaknya gitu.
Semangat terus thor, ditunggu update selanjutnya!
Wajib baca sih buat yang suka trope gini, rugi banget kalau kelewatan karena dijamin ketagihan kaya gua