Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.
Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.
Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Peringatan
Bukannya menjawab pertanyaan Rania, Brian justru menatapnya santai.
"Di mana teh herbalnya?"
Rania mengerutkan kening. "Teh herbal?" Rania menghela napas panjang. Kesabarannya mulai menipis. "Kau bukan pasienku lagi, Brian. Kau sudah sembuh."
Ia membuka pintu kamarnya lebih lebar. "Jadi, pergilah."
Namun Brian sama sekali tidak bergerak. "Aku tidak akan pergi."
Rania menatapnya tajam. "Kenapa?"
"Aku sedang menunggu seseorang pagi ini," jawab Brian.
"Siapa?" tanya Rania.
Brian hanya tersenyum tipis. "Kau akan segera tahu."
Rania mengembuskan napasnya. "Terserah.”" Ia mulai menutup pintu. "Tapi ingat, jika urusanmu sudah selesai, segera tinggalkan rumah ini."
Brian hanya menatap Rania. Namun sebelum pintu tertutup rapat, tiba-tiba ia bertanya, "Rania."
Gerakan tangan Rania terhenti.
"Kenapa kau tidak pernah mencari atau bertanya mengenai kabar Kakekku?" tanya Brian.
Rania terdiam. Tangannya menggenggam gagang pintu dengan lebih erat.
Tidak ada jawaban. Rania hanya menutup pintu perlahan.
Klik!
Brian menatap pintu yang kini telah tertutup. "Menarik sekali," gumamnya.
Tatapannya kemudian beralih menuju jendela kamar yang masih terbuka.
Sementara itu, Rania berjalan menuju ruang kerjanya.
Langkahnya terhenti sesaat. "Aku tidak ingin bertemu lagi dengan Kakek Barra."
Rania memejamkan matanya. "Maaf, Brian..." Ia menarik napas panjang. "Aku mungkin harus melukai kakekmu nantinya."
Rania kembali berjalan.
Namun tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu ruang kerja, sebuah suara menyapanya.
"Selamat pagi, Nona Rania."
Rania menoleh.
Rio berdiri tidak jauh darinya. "Saya mendapatkan pesan dari Tuan Zoul."
Rania mengerutkan kening. "Pesan dari Zoul?"
Rio mengangguk. "Tuan Zoul meminta bantuan Anda untuk memeriksa kondisi ibunya. Kabarnya, ibunya sudah menderita sakit selama dua tahun dan ingin mendapatkan pemeriksaan dari Anda."
Rania mendengarkan penjelasan Rio dengan saksama.
Beberapa saat kemudian, ia mengangguk.
"Baik." Rania kemudian menatap Rio. "Tapi aku ingin kau merahasiakan hal ini dari Brian."
Rio sedikit terkejut. "Nona..."
"Aku tidak ingin Brian tahu." Rania menurunkan suaranya. "Kalau dia tahu, dia pasti akan melarangku."
Rio terlihat ragu.
Namun Rania tiba-tiba meraih tangannya. "Tolong, Rio."
Sentuhan lembut itu membuat Rio sempat terkejut.
Rania menatapnya penuh harap. "Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu."
Rio terdiam beberapa saat. Akhirnya, ia mengangguk. "Baik, Nona."
Rio perlahan menarik tangannya dari genggaman Rania.
Rania tersenyum kecil. "Terima kasih." Ia menepuk bahu Rio pelan, kemudian berlalu masuk ke ruang kerjanya.
Klik! Pintu tertutup.
Rania duduk di kursi kerjanya. Ia menghela napas lega. "Akhirnya... aku punya pekerjaan tambahan."
Tangannya bergerak mengusap perutnya yang masih datar. Senyum kecil muncul di wajahnya. "Semoga semuanya berjalan lancar."
Di waktu yang sama...
Di salah satu kamar hotel mewah Club Glamore, suasana pagi terasa jauh berbeda.
Mona berdiri di hadapan Daffa dengan mata sembap.
"Daffa..."
Pria itu tidak menoleh.
"Bertanggung jawablah atas apa yang terjadi semalam."
Daffa menghela napas kasar.
Mona mencoba meraih tangannya. Namun Daffa menghempaskan tangan tersebut.
Mona terhuyung beberapa langkah ke belakang.
"Daffa!"
Namun Mona tidak menyerah. Ia kembali mendekat dan memeluk kaki pria itu.
"Kalau aku hamil setelah ini... kau harus menikahiku."
Daffa semakin geram. "Mona, lepaskan!" Ia mendorong bahu Mona dengan kasar.
Tubuh perempuan itu kembali terhempas.
Daffa memalingkan wajah. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang.
Brian.
Pasti ini semua rencana Brian, pikirnya. Jemari Daffa segera meraih kemeja hitamnya, ia mengenakannya sambil membelakangi Mona.
Namun Mona kembali mendekat. Kali ini, ia memeluk tubuh Daffa dari belakang.
"Tolong, Daffa..." Suaranya bergetar. "Kalau kau tidak mau bertanggung jawab, aku bisa mati di tangan ayahku."
Mona terisak. "Aku mohon, Daffa."
"Diam!" Bentakan Daffa membuat Mona tersentak.
Brakk!
Tubuh Mona terdorong hingga membentur meja.
Prang!!!
Gelas dan botol alkohol yang berada di atas meja jatuh dan pecah.
Serpihan kaca menggores lengan Mona.
"Akh!" Mona meringis.
Daffa membeku.
Seketika sebuah ingatan melintas di kepalanya Daffa.
Rania. Ia pernah melihat Rania terjatuh dari pohon. Tangannya terluka akibat ranting kering.
Daffa mengerjapkan mata. Ia tersadar ketika mendengar suara rintihan Mona.
"Kau melukaiku, Daffa..." lirih Mona sambil terisak.
Daffa menghela napas panjang. Tatapannya jatuh pada wajah Mona yang dipenuhi air mata.
Pakaian perempuan itu sudah berantakan akibat kejadian semalam.
Daffa memejamkan mata sambil menyentuh pelipisnya. "Setan apa yang merasukiku semalam?" gumamnya.
Ia kembali membuka mata. Tatapannya kemudian beralih ke ranjang.
Sprei berwarna krem itu memperlihatkan noda merah yang membuat dadanya terasa sesak.
Daffa mengumpat lirih. "F*ck." Ia mengacak rambutnya. Kedua tangannya kemudian memegang kepala.
Daffa berusaha keras mengingat apa yang sebenarnya terjadi semalam.
Namun...
Nihil.
Tidak ada satu pun ingatan yang tersusun dengan jelas.
Daffa membuka matanya kembali. Pandangan pria itu jatuh pada Mona.
Gadis itu sedang memegangi lengannya yang berdarah.
Sebuah luka memanjang terlihat akibat goresan serpihan kaca.
Daffa menghela napas kasar. Tatapan mereka bertemu.
Daffa kemudian berjongkok di hadapan Mona. "Kau belum pernah tidur dengan lelaki mana pun?"
Mona menggelengkan kepalanya. "Kau orang pertama."
Mona menelan ludah. "Jadi aku mohon—"
"Jangan bahas itu dulu."
Daffa memotong ucapannya. "Pikiranku belum jernih."
Daffa mengambil dasi merah marun miliknya, kemudian melilitkannya pada lengan Mona untuk menahan darah.
Setelah itu, ia membantu Mona berdiri.
Daffa meraih jasnya yang tergeletak di atas meja dan menyampirkannya ke tubuh Mona.
"Kita ke rumah sakit dulu," ucap Daffa.
Mona hanya mengangguk. Ia mengikuti langkah Daffa dengan pelan.
Melihat Mona yang kesulitan berjalan, Daffa akhirnya berhenti.
Tanpa meminta izin, ia membungkuk dan menggendong Mona.
Mona terkejut. Namun ia tidak menolak. Ia justru memandangi wajah Daffa dari dekat.
Pria ini baik sekali, pikir Mona. Sebuah pikiran lain muncul dalam benaknya.
Lalu kenapa Rania tidak segera menikah dengan Daffa?
Mona mengernyit.
Sebenarnya... hubungan rumit seperti apa yang terjadi antara Daffa, Brian, dan Rania?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Mona akhirnya memejamkan mata. Untuk saat ini, ia hanya bersyukur Daffa tidak meninggalkannya.
Satu jam kemudian...
Daffa masih menemani Mona di rumah sakit.
Setelah memastikan luka Mona mendapatkan penanganan, pria itu menunggu hingga perempuan tersebut tertidur di ranjang pasien.
Daffa berdiri.
Tatapannya sempat jatuh pada Mona. Kemudian ia berbalik dan meninggalkan ruangan.
Namun langkahnya tidak menuju rumahnya sendiri. Daffa memiliki tujuan lain.
Yaitu Rumah Rania.
Namun kali ini...
Ia tidak datang untuk menemui Rania. Ia datang untuk menemui seorang Pria.
Brian Aristama.
Bersambung...