NovelToon NovelToon
MENANTANG PARA DEWA

MENANTANG PARA DEWA

Status: tamat
Genre:Action / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"

​Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.

​Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.

​Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.

​"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Bayangan sang Penopang Langit

​Hawa dingin yang memancarkan kejernihan merayap pelan di antara pilar-pilar es raksasa Aula Agung. Keheningan yang tercipta setelah ucapan sang Ketua Agung terasa begitu pekat, seolah waktu itu sendiri enggan berputar untuk merusak kesakralan sejarah yang baru saja terucap dari bibir Han Wuyan. Setiap partikel uap beku yang melayang di udara seakan membeku kaku, tergantung di antara tekanan spiritual yang sarat akan bobot masa lalu.

​Seorang Tetua berjanggut perak yang berdiri di barisan depan melangkah maju satu depak. Garis-garis tegas pada raut wajahnya yang dipenuhi guratan usia tampak bergetar hebat, mencerminkan gejolak rasa penasaran mendalam serta kegelisahan yang mengusik pikirannya.

​"Lalu... Ketua Agung," bisik Tetua itu dengan suara yang tertahan, bergetar di antara desau angin es yang tipis. "Apa yang terjadi selanjutnya dengan kultivator agung dari Benua Canglan itu?"

​Di sudut ruangan, Xue Qingyue yang sejak tadi berdiri membisu hanya memilih untuk tetap terdiam dalam posisinya. Mata biru es miliknya tidak beralih sedikit pun dari sosok sang Ketua Agung. Sebagai praktisi yang telah melatih keheningan batin dan mengabdi di tanah membeku ini selama berabad-abad, ia paham betul bahwa kisah yang baru saja terkuak ini bukanlah sekadar cerita dongeng pengantar tidur biasa. Itu adalah lembaran sejarah kelam, sebuah fondasi tersembunyi yang membentuk realitas dan tatanan dunia mereka yang retak saat ini.

​Han Wuyan terdiam sejenak. Sinar mata tuanya yang biasanya memancarkan kearifan bijaksana dan ketenangan tak bertepi mendadak meredup, menyisakan tatapan kosong yang menembus kubah es aula. Pandangannya seolah melintasi benteng-benteng pertahanan, menembus lautan awan, dan melompati jurang waktu ribuan tahun yang telah terkubur di bawah tumpukan abu kiamat.

​Ia menghela napas panjang. Hembusan uap putih dari bibirnya seketika mengkristal di udara, berubah menjadi butiran es halus yang bergemerincing pelan saat jatuh menimpa lantai kristal.

​"Ia terus melangkah," ujar Han Wuyan. Suaranya terdengar begitu berat, dalam, dan bergaung pelan menembus dinding-dinding pilar es. "Ia mendaki pilar kekuatan tanpa pernah menoleh ke belakang. Menembus batas fana selangkah demi selangkah, mengorbankan setiap inci kemanusiaannya... hingga akhirnya ia memijakkan kakinya di sebuah ranah yang bahkan aku sendiri—yang saat ini berdiri di ranah Ascendant—tidak sanggup menamai atau membayangkannya."

​Sang Ketua Agung menyipitkan matanya. Kenangan kuno yang tersimpan di balik jiwanya seakan menguasai seluruh kesadarannya.

​"Dulu, saat aku baru saja menembus batas mortalitas dan melangkah ke ranah Ascendant, aku berpikir bahwa ini adalah puncak dari segala hal. Puncak dari Pemahaman Dao, puncak dari kekuatan mutlak seorang praktisi," lanjut Han Wuyan dengan nada yang sarat akan kekaguman sekaligus kepiluan mendalam. "Namun, setelah aku menyaksikan sendiri jejak eksistensi beliau dan menyadari kebenaran di balik batas langit... aku baru tersadar betapa konyolnya diriku. Aku tidak lebih dari seekor katak yang membanggakan luasnya genangan air di dalam dasar sumur yang dangkal."

​Ruangan Aula Agung yang megah itu mendadak terasa menyempit oleh pengakuan jujur dari penguasa tertinggi mereka. Para Tetua yang mendengar kalimat tersebut merasakan tumpuan kaki mereka gemetar. Jika seorang Ascendant yang sanggup menghentikan ruang dan waktu menganggap dirinya bagai katak di dalam sumur, seberapa tinggi dan mengerikannya tingkatan yang telah dicapai oleh legenda dari masa lalu itu?

​"Eksistensi itu mencapai puncak yang tak terbayangkan tepat saat usianya genap seribu tahun," sambung Han Wuyan. "Di masa itu, seluruh faksi dan sekte yang mengagungkan jalan kebenaran di Benua Canglan menatapnya dengan rasa takut yang amat sangat. Mereka mengutuk dan membenci jalan yang ia tempuh—sebuah jalan kultivasi iblis yang sarat akan hawa pembusukan, rasa sakit, dan energi korosif yang menentang Hukum Alam. Di mata dunia yang berpikiran sempit, ia adalah anomali terkutuk yang seharusnya dimusnahkan."

​Han Wuyan jeda sejenak. Sinar mata tuanya berkilat tajam, membiarkan kalimat berikutnya menggantung di udara dengan bobot yang sanggup meremukkan mental siapa pun yang mendengarkannya.

​"...namun, di balik rasa takut, kebencian, dan prasangka yang mereka gaungkan setiap hari, ada satu kenyataan pahit yang tak bisa dipungkiri oleh siapa pun di benua itu. Mereka semua... sepenuhnya bergantung pada keberadaannya."

​Suasana Aula Agung seketika menjadi semakin membeku. Udara dingin terasa mencekik tenggorokan. Para Tetua menahan napas mereka masing-masing, membayangkan betapa bahagianya sekaligus kesepiannya eksistensi tunggal tersebut. Dipandang sebagai iblis dan dibenci oleh dunia yang ia pijak, namun di saat bersamaan menjadi satu-satunya pilar penopang agar dunia itu tidak hancur melumat mereka yang membencinya.

​"Ketika invasi besar melanda dan serangan gelombang kehampaan melahap tanah mereka," gema suara Han Wuyan semakin menggelegar, memancarkan fluktuasi Hukum Es yang membuat lantai kristal bergetar halus, "ketika formasi-formasi pertahanan sekte-sekte besar yang mengagungkan kesucian runtuh menjadi debu, dan ketika para dewa yang mereka puja memalingkan wajah... bukanlah para praktisi jalan kebenaran yang menyelamatkan tanah itu. Dialah... eksistensi tunggal, sang praktisi demonic yang dibenci itu... yang berdiri sendirian di puncak dunia, menopang langit yang retak dengan raganya agar tidak jatuh melumat kehidupan yang tersisa."

​Kata-kata sang Ketua Agung menghantam kesadaran para Tetua bagai gumpalan es raksasa yang dihantamkan langsung dari langit.

​Jajaran Tetua yang sebelumnya dengan lantang mempertanyakan keberadaan Mo Xie, menyuarakan keraguan atas energi korosifnya, serta mengkhawatirkan prasangka Sekte Angin Surgawi, kini berdiri mematung dalam keheningan yang penuh dengan rasa malu. Beberapa Tetua yang dikenal memiliki pandangan paling sempit dan kaku mendadak menundukkan kepala mereka dalam-dalam, tak berani menatap pilar es di hadapan mereka.

​Di dalam dada para Tetua, pemahaman baru bertunas dengan sangat menyengat. Mereka kini mengerti mengapa sang Ketua Agung memperlakukan Mo Xie dengan begitu istimewa. Han Wuyan tidak melihat Mo Xie sebagai ancaman atau pembawa malapetaka, melainkan sebagai sosok pemuda yang mungkin saja ditakdirkan untuk mencapai ranah legendaris itu—sebuah wadah baru yang kelak sanggup menyelamatkan dunia ini, atau bahkan melampaui capaian sang penopang langit di masa lalu.

​Rasa malu yang amat sangat menjalar cepat di sanubari para Tetua. Selama ini, mereka begitu bangga akan identitas mereka sebagai praktisi jalan kebenaran yang suci, memandang rendah segala bentuk energi asing yang tidak selaras dengan doktrin sekte. Namun, mendengar bagaimana seorang pemegang kekuatan terkutuk menjadi benteng terakhir yang menanggung nasib sebuah benua, kesucian yang mereka agungkan seketika terasa dangkal, rapuh, dan tak berguna di hadapan kiamat yang sesungguhnya.

​Di hadapan sejarah yang begitu megah dan tragis, argumen mereka tentang prasangka faksi luar mendadak terdengar bagai cicitan serangga konyol yang ketakutan setengah mati pada bayangannya sendiri.

​"Sudah cukup."

​Suara jernih, dingin, dan penuh otoritas mutlak mendadak memotong keheningan yang mencekam tersebut.

​Mu Bingyun yang sejak tadi bertakhta di samping Han Wuyan perlahan menegakkan tubuhnya. Gaun sutra peraknya berdesir pelan, memancarkan aura Hukum Es di ranah Sovereign tingkat menengah yang seketika menyapu sisa-sisa keraguan di dalam aula.

​Sepasang mata safir milik sang Ketua Sekte menatap lurus ke arah jajaran para Tetua, tidak menyisakan sedikit pun celah untuk perdebatan lebih jauh.

​"Mo Xie sekarang adalah bagian sah dari Sekte Es Abadi," tegas Mu Bingyun. Setiap kata yang keluar dari bibirnya membawa bobot hukum sekte yang absolut dan tak terstruktur. "Ia tidak hanya sekadar murid biasa yang berjalan melewati pintu benteng ini. Ia telah secara aktif dipilih oleh Inti Es Abadi—Harta Surgawi tertinggi yang menjadi pilar dan fondasi tempat kita berdiri saat ini."

​Mu Bingyun menyapu pandangannya yang tajam ke seluruh sudut ruangan, memastikan setiap kata meresap ke dalam kesadaran para Tetua.

​"Yang artinya... secara hukum alam, fondasi sekte, dan benang takdir, ia sudah resmi menyandang nama serta kehormatan Sekte Es Abadi. Tidak ada lagi perdebatan mengenai keberadaannya di tempat ini. Tidak ada lagi keraguan konyol mengenai dari mana asal-usul kekuatannya."

​Di bawah tatapan dingin sang Ketua Sekte dan aura mengintimidasi milik sang Ketua Agung, tak ada satu pun Tetua yang berani menyanggah, mengangkat kepala, atau sekadar membuka suara. Keberanian mereka untuk berspekulasi telah lumat sepenuhnya oleh pengakuan mutlak dari dua penguasa tertinggi sekte tersebut.

​Han Wuyan melihat keheningan yang kini menyelimuti aula dengan sebuah anggukan pelan. Sinar matanya yang bijaksana memancarkan rasa puas melihat bagaimana pikiran para pengikutnya telah diluruskan dari kepicikan.

​"Pertemuan untuk hal ini dianggap selesai," ucap Han Wuyan tenang, melambaikan tangan kanannya yang tua di udara.

​Setelah menyelesaikan beberapa pembahasan teknis mengenai pengawasan formasi perbatasan selatan dan alokasi sumber daya spiritual sekte untuk bulan mendatang, sang Ketua Agung akhirnya mengibaskan lengannya, membubarkan majelis tersebut. Para Tetua membungkukkan badan mereka dalam-dalam, memberikan penghormatan tertinggi sebelum akhirnya melangkah mundur dan meninggalkan Aula Agung dalam keheningan yang serba canggung dan tegang.

​Sementara itu, jauh di wilayah puncak es yang kini telah rata dengan tanah akibat hantaman Bencana Langit, Mo Xie masih terduduk bersila di atas batu kristal yang tersisa.

​Napasnya teratur, dalam, dan tenang, mengembuskan uap dingin yang tipis ke udara malam yang mulai membaik. Di dalam sirkulasi pembuluh darah dan jalurnya, Hukum Chaos yang baru saja lahir berputar dengan sangat stabil dan rapat, menyatu sempurna dengan Dantian baru miliknya yang telah melompati batas menuju ranah Awakened awal. Rasa terbakar pada kulitnya dan bekas luka Bencana Langit telah sirna sepenuhnya, digantikan oleh pasokan Qi yang terasa puluhan kali lebih kokoh, padat, dan tak bertepi dibanding saat ia masih terbelenggu di ranah Mortal.

​Perlahan, Mo Xie membuka kedua matanya.

​Perubahan mendasar terlihat jelas pada sepasang matanya yang telah berevolusi secara radikal. Mata kanannya yang semula hitam pekat kini dihiasi oleh lingkaran merah tipis yang menyala misterius di sekeliling pupilnya, memancarkan dominasi Qi Kegelapan yang liar. Sementara mata kirinya tetap memancarkan pendar biru gletser murni dari Inti Es Abadi. Perpaduan dua warna dalam matanya memberikan kesan keanggunan yang berbahaya dan mistis.

​Ia mengangkat tangan kanannya ke depan wajah, mengepalkan jemarinya perlahan. Di balik jubah hitam baru bersulam benang perak khas Sekte Es Abadi yang mengenakan tubuh tegapnya, ia dapat meraba simbol pedang kecil di pergelangan tangannya. Simbol itu tidak lagi berdenyut liar seperti senjata ganas yang berusaha merebut akal sehatnya; ia kini membisu sepenuhnya, tunduk di bawah cengkeraman kehendak mutlak milik Mo Xie.

​"Ranah Awakened..." bisik Mo Xie rendah.

​Seulas senyum dingin dan tipis terukir di sudut bibirnya saat ia menatap langit malam Benua Tianlan yang retak. Langkah pertamanya untuk merobek takdir dan menuntut balas pada para penentu langit baru saja dimulai.

1
Septiana Athorid
Bagus dan menarik
Day Chuk
Novel yang Rekomen
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Pena Quality
keren
Kausafiksi: terimakasih 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
best
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!