Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.
Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.
Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.
Yaitu mati.
Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Motivasi Aveline
Latihan Eve pun dimulai.
Joel membawa Eve menuju bagian ruangan yang lebih luas. Beberapa peralatan latihan sudah disiapkan di sana. Di atas meja panjang terdapat sejumlah senjata yang biasa digunakan dalam kegiatan berburu. Dua yang paling mencolok adalah sebuah pedang dengan ukuran lebih pendek dan busur beserta beberapa anak panah.
Joel berdiri di depan meja sambil mencoba mengingat kembali apa saja yang perlu dia jelaskan. Masalahnya, tidak ada satu pun panduan dalam latihan ksatria yang pernah mengajarinya bagaimana cara mengajar anak berusia empat tahun. Biasanya dia berlatih bersama anggota pasukan lain. Kalau pun harus mengajarkan seseorang, orang tersebut setidaknya sudah cukup besar untuk memahami instruksi tanpa perlu menjelaskan sesuatu berkali-kali.
Dan sekarang dia harus mengajari seorang anak kecil, seorang perempuan, dan waktu yang diberikan padanya hanya tiga hari. Joel melirik Eve yang sedang berdiri di depannya.
'Yang Mulia benar-benar serius menyuruh saya melakukan ini?'
Dia masih sulit memahami keputusan Lucien. Festival Berburu sudah semakin dekat, sementara Eve baru berusia empat tahun. Bahkan Joel belum yakin apakah tangan kecil tersebut mampu memegang senjata dengan benar. Kalau anak yang akan dilatih merupakan putra keluarga Valois, mungkin dia masih bisa memahaminya. Keluarga Valois dikenal memiliki fisik yang kuat dan kemampuan bertarung yang jauh di atas kebanyakan bangsawan. Anak-anak mereka pun biasanya sudah diperkenalkan dengan latihan fisik sejak usia muda.
Namun Aveline berbeda.
Dia adalah anak angkat Lucien, Joel tidak mengetahui kemampuan fisik Eve selain apa yang dia lihat sekarang. Tubuhnya kecil, lengannya pendek, dan bahkan ketika berdiri tegak, kepalanya hanya berada di sekitar pinggang Joel.
'Kenapa Yang Mulia ingin Nona Aveline ikut berburu?'
Pertanyaan tersebut terus mengganggunya. Namun sebagai seorang ksatria, Joel tahu dia tidak punya hak mempertanyakan keputusan majikannya. Kalau Lucien sudah memberikan perintah, tugasnya hanya memastikan Eve mampu mengikuti kegiatan tersebut tanpa membahayakan dirinya sendiri.
Joel menarik napas dan mulai menunjuk senjata yang berada di atas meja.
"Baiklah, Nona. Sebelum mulai berlatih, saya akan memperkenalkan beberapa senjata yang biasanya digunakan dalam kegiatan berburu."
Tangannya menunjuk pedang terlebih dahulu.
"Yang pertama adalah pedang. Senjata ini digunakan dalam jarak dekat. Nona perlu mendekati target sebelum bisa menggunakannya."
Joel kemudian menunjuk busur.
"Sedangkan yang satu lagi adalah busur. Senjata ini digunakan dari jarak jauh. Nona tidak perlu mendekati target secara langsung, tetapi membutuhkan ketepatan dan kemampuan mengendalikan busur."
Penjelasannya terdengar sedikit kaku. Joel bahkan beberapa kali berhenti untuk memilih kata yang paling mudah dimengerti.
Dia benar-benar tidak terbiasa menjelaskan hal semacam ini kepada anak kecil, Eve sendiri memperhatikan kedua senjata tersebut dengan serius.Tatapannya berpindah dari pedang ke busur.
Eve tidak membutuhkan waktu lama untuk mempertimbangkannya. Pedang jelas membutuhkan kekuatan fisik yang lebih besar. Selain bobot senjata, pengguna juga harus berada cukup dekat dengan target. Dengan tubuh kecil seperti miliknya, bertarung dalam jarak dekat merupakan pilihan yang buruk.
'Pertama-tama, kalau gue gak bakal pilih pedang, badan gue kecil, dan tenaga gue juga udah pasti terbatas, mari skip pedang, dan untuk busur...
Jarak memberikan keuntungan. Dia tidak perlu mengandalkan kekuatan tubuh sepenuhnya, selama mampu menarik tali dan mengarahkan anak panah dengan tepat.
"Ini." Eve akhirnya menunjuk busur.
"Busur?" Joel berkedip melihat pilihan Eve
Eve mengangguk.
'Dia memilih panah?' Joel menatap Eve selama beberapa detik.
Pilihan tersebut sedikit mengejutkannya. Kebanyakan anak kecil yang diperkenalkan dengan senjata biasanya langsung tertarik pada pedang. Mereka sering melihat para ksatria membawanya dan menganggap pedang lebih keren. Busur biasanya bukan pilihan pertama, bahkan di berbagai kasus untuk para anak bangsawan, busur sering diartikan sebagai senjata yang lemah. Namun Eve justru memilih senjata jarak jauh tanpa banyak pertimbangan. Joel akhirnya bertanya, meskipun dia sendiri merasa pertanyaannya terdengar agak bodoh.
"Kenapa Nona memilih panah?"
Eve menatap pedang di atas meja, kemudian kembali melihat busur.
"Kalena pedang keliatan belat." Eve menatap pedang di atas meja, kemudian kembali melihat busur.
Joel terdiam. Dia sempat mengira Eve akan memberikan alasan yang lebih sederhana seperti karena busur terlihat cantik atau karena dia tidak menyukai pedang. Namun jawaban tersebut justru membuatnya berpikir. Pedang memang lebih berat dan membutuhkan kekuatan fisik yang lebih besar. Terlebih dengan tubuh Eve yang masih kecil, memilih senjata jarak dekat jelas bukan keputusan yang ideal.
Joel menatap Eve dengan ekspresi berbeda.
'Dia mempertimbangkan kekuatannya sendiri.' Senyum kecil muncul di wajah Joel.
'Jangan-jangan Nona Aveline jenius? jadi itu sebabnya Yang Mulia Duke mempertimbangkan untuk membawa Nona? sepertinya saya terlalu meremehkan Tuan Lucien.' Pemikiran tersebut terdengar berlebihan. Namun semakin dia memikirkannya, semakin masuk akal pilihan Eve, dan Joel mendadak merasa lebih bersemangat.
"Pilihan yang bagus, Nona."
Dia mengambil busur latihan dari meja, lalu memilih sebuah busur dengan ukuran jauh lebih kecil daripada milik para ksatria dewasa.
"Kalau begitu, kita akan mulai dengan busur."
Joel kemudian mengambil busur dan beberapa anak panah pendek yang sudah disiapkan khusus untuk Eve. Ukurannya jauh lebih kecil dan ringan dibandingkan anak panah yang biasa digunakan oleh pasukan Valois. Dia menyerahkannya kepada Eve, lalu Eve menerimanya dengana kedua tangan kecilnya, dia menatap busur yang diberikan, lalu padangan Eve kembali beralih ke arah Joel. Lalu alisnya perlahan mengerut.
'...Ini serius?'
Anak panah tersebut bahkan terlihat seperti mainan di tangannya. Eve memutar benda tersebut perlahan di antara jari-jarinya.
'Panah sekecil ini emang bisa bunuh mangsa?'
Dia mulai meragukan kemampuan senjata tersebut. Kalau ukurannya sekecil begini, rasanya lebih cocok dipakai untuk menusuk buah daripada menjatuhkan hewan buruan.
Joel yang melihat ekspresi Eve hanya tersenyum kecil.
"Nona tidak perlu khawatir. Ukurannya memang dibuat khusus untuk anak-anak seusia Nona. Kita tidak akan langsung menggunakannya untuk berburu."
Eve mengangkat wajah.
"Telus?"
"Kita mulai dari latihan dasar."
Joel mengambil busur tersebut dan memperlihatkan cara memegangnya.
"Untuk sekarang, Nona hanya perlu belajar memegang busur dengan benar. Setelah itu kita belajar menarik tali dan mengarahkan anak panah."
Eve mengangguk. Dia kembali melihat busur kecil di tangannya, kalau memang dia harus belajar, dia akan mempelajarinya sampai menguasainya. Joel kemudian membawa Eve beberapa langkah menjauh dari meja. Di ujung ruangan sudah disiapkan sebuah papan target berbentuk lingkaran dengan beberapa lapisan tanda di bagian tengah.
"Pertama-tama, saya akan memperagakannya," ujar Joel sambil mengambil busur latihan yang ukurannya lebih besar. "Perhatikan tangan saya, Nona."
Joel berdiri dengan posisi menyamping. Salah satu tangannya memegang busur, sementara tangan lainnya menarik tali bersama anak panah yang sudah terpasang. Gerakannya terlihat sederhana karena sudah menjadi kebiasaan baginya.
"Jangan menarik tali dengan terburu-buru. Pastikan tubuh tetap seimbang, kemudian arahkan ujung panah ke target." Joel menarik napas, tangannya melepas tali busur itu.
Fwish!
Anak panah melesat dan menancap tepat di bagian tengah target, Eve memperhatikan dengan mata berbinar.
'Gampang banget.'
Setidaknya kelihatannya begitu.
"Silakan Nona mencobanya."
Joel menyerahkan busur kecil kepada Eve. Dia kemudian memasang anak panah dan membantu mengatur posisi tangan Eve.
"Pegang seperti ini. Bagus. Sekarang tarik perlahan," ucap Joel.
Begitu Eve menarik tali tangannya langsung bergetar.Busur kecil tersebut ternyata tetap membutuhkan tenaga yang lumayan untuk ditarik. Eve mengerahkan kekuatan, lalu mengarahkan ujung panah ke papan target.
"Jangan terlalu tinggi. Turunkan sedikit."
Eve menurunkannya, lalu Joel memerintahkan untuk sedikit lebih ke kiri lagi. Eve menggeser tangan miliknya sesuai dengan arahan Joel.
"Bagus. Sekarang lepaskan."
Ketika anak panah itu dilepaskan, talinya bergetar dan anak panah itu hanya meluncur beberapa jengkal dari Eve dan jatuh begitu saja ke lantai.
"Baik. Kita coba lagi."
Percobaan kedua tidak jauh berbeda. Kali ini anak panah memang melesat, tetapi arahnya terlalu jauh ke kanan dan jatuh sebelum mencapai target. Percobaan ketiga bahkan lebih buruk, dan percobaan selanjutnya pun masih sama.
'Kok susah banget sih?'
Joel berjongkok di samping Eve.
"Jangan hanya mengandalkan tangan, Nona. Kaki juga harus menopang tubuh. Bahu jangan terlalu tegang. Saat menarik tali, jangan langsung memikirkan target. Rasakan dulu posisi busurnya."
Eve mencoba mengikuti instruksinya.
"Seperti ini. Sekarang tarik." Joel kembali membetulkan posisi siku dan bahunya.
Eve menarik tali perlahan.
"Bagus. Arahkan."
Eve mengarahkan panah, setelah arah itu sesuai yang diinginkannya, beberapa detik kemudian Eve melepas anak panahnya.
Fwish!
Kali ini anak panah melesat lebih jauh, namun masih belum mengenai target. Anak panah jatuh beberapa jengkal di sebelah papan.
Joel mengangguk.
"Lebih baik."
Eve mencoba lagi beberapa percobaan berikutnya mulai menunjukkan perubahan. Anak panah tidak lagi langsung jatuh di depan kaki Eve. Sesekali bahkan berhasil mengenai papan, meskipun posisinya masih jauh dari bagian tengah. Eve mulai terbiasa dengan gerakannya. Tarikan tali yang awalnya terasa sulit mulai lebih mudah dilakukan. Dia juga mulai memahami bahwa arah tembakan tidak hanya bergantung pada ke mana dia melihat, tetapi juga posisi tubuh dan tangannya.
Joel pun sedikit lebih tenang. Setidaknya sekarang dia tidak perlu mengejar anak panah yang jatuh tepat di depan kaki Eve setiap beberapa detik. Namun, masalah lain muncul. Meskipun anak panahnya berhasil melesat, tetapi ketepatannya sangatlah tidak akurat. Karena tujuan latihan ini adalah untuk berburu, tentu saja ketepatan akurat merupakal hal yang utama. Itu adalah bahan ajaran yang selanjutnya Joel perlu tekankan.
Di sisi lain, Eve mengerucutkan bibir, dia tahu dia sering salah, bahkan untuk mengenai target masih jauh, tetapi Joel memberikan intruksi sedikit demi sedikit. Eve bisa memahami kalau Joel ingin Eve bisa mengerti dengan cepat, tetapi baginya hal tersebut sangat tidak efektif. Setidaknya bagi Eve.
"Joel!"
"Ya, Nona?"
"Lakukan tugasmu dengan benal!."
Joel terdiam. Cecil yang berdiri tidak jauh dari sana menutup mulut, berusaha menahan tawa.
"Saya juga sedang berusaha, Nona."
Latihan berlanjut beberapa saat. Eve mulai bisa menembakkan anak panah dengan lebih konsisten, meskipun arahnya masih belum selalu tepat. Joel kemudian beralih membereskan beberapa senjata latihan yang tergeletak di meja. Dia membungkuk mengambil sebuah pedang kayu ketika terdengar suara tali busur dilepaskan dari belakang.
Fwish!
Joel tidak sempat menoleh.
Plak!
Sebuah benturan ringan mengenai bokongnya. Joel membeku, Cecil juga terdiam. Eve memegang busurnya dengan kedua tangan.
'Ups.'
Joel perlahan berdiri tegak sambil memegangi bokongnya.
"Nona..."
"Tenapa?" Eve memasang wajah polos.
Joel menarik napas panjang. Untung anak panah yang digunakan merupakan perlengkapan latihan dengan ujung tumpul, ditambah celana latihan yang cukup tebal. Benturannya memang membuat kaget dan sedikit nyeri, tetapi tidak sampai menyebabkan cedera.
Di sisi lain, Cecil justru tidak bisa menahan diri.
"Kerja bagus, Nona!" serunya sambil tertawa kecil. "Tembakan yang bagus!"
Joel menoleh tajam. Cecil segera menutup mulutnya, tetapi bahunya masih bergerak menahan tawa. Joel menghela napas lalu berjalan mendekati Eve.
"Nona, Anda harus lebih fokus."
Eve menatapnya.
"Perhatikan arah panah sebelum dilepaskan. Kalau tidak, kejadian seperti barusan bisa terulang."
Joel menunjuk papan target.
"Bayangkan saja, untung panah tersebut mengenai bokong saya. Kalau saat berburu nanti malah mengenai bokong Yang Mulia Duke bagaimana?"
Nada suaranya terdengar seperti teguran, tetapi ada sedikit nada bercanda di bagian akhir.
Eve terdiam, kemudian matanya perlahan membesar.
'...Kalau kena bokong Lucien? Ide bagus.' Sudut bibir Eve hampir terangkat.
Bayangan Lucien yang biasanya selalu tenang mendadak muncul di kepalanya, lalu terbayang pula ekspresi pria tersebut kalau tiba-tiba mendapat anak panah di bokong.
Eve menahan tawa.
'Gue bisa kasih pelajaran ke orang gila itu.'
Sejak saat tersebut, latihan Eve berubah. Bukan karena dia tiba-tiba menjadi jenius dalam memanah. Dia hanya mendadak punya motivasi yang sangat jelas. Setiap kali menarik tali busur, Eve membayangkan satu target tertentu.
Bokong Lucien.
Hasilnya bahkan membuat Joel yang awalnya pesimis mulai tercengang. Anak panah Eve perlahan semakin jarang jatuh sebelum mencapai target. Arah tembakannya juga mulai lebih stabil. Memang belum sempurna, tetapi perkembangan dalam waktu singkat tersebut cukup membuat Joel bersemangat.
Dia berdiri di samping Eve sambil memperhatikan anak panah yang baru saja menancap di papan.
"Bagus, Nona. Sekali lagi."
Eve mengambil anak panah berikutnya, wajah kecilnya terlihat serius. Dalam kepalanya hanya ada satu bayangan yang perlu dia utamakan yaitu...
'Bokong Lucien.'
Joel tidak tahu alasan perubahan motivasi Eve. Dan mungkin memang lebih baik dia tidak pernah tahu.