"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"
Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.
Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.
Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...
siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 : ANTARA JARAK & PERHATIAN
Anna menatap Riko yang duduk begitu anggun namun mengintimidasi di hadapannya. Jantungnya berdetak tak karuan bukan hanya karena terkejut atas jebakan ini, tetapi juga karena perasaan rumit yang mendadak berkecamuk di dalam dadanya.
Anna tahu betul... Riko sangat menyukainya. Obsesi dan perhatian pria itu padanya tidak pernah main-main. Dan jika jujur pada hatinya sendiri, Anna tak bisa membohongi diri bahwa ia pun memiliki ketertarikan yang sama pada Riko.
Siapa yang bisa menolak daya pikat Riko Putra Mahenra? Pria itu sangat tampan, berkarisma, bergelimang harta, dan mampu memberikan dunia seisinya dalam sekejap. Sisi manusiawi Anna tak memungkiri bahwa pesona dan kemewahan Riko adalah magnet yang sangat kuat.
Namun, begitu bayangan Angga melintas di pikirannya, dada Anna seketika terasa sesak oleh kehangatan yang tak tergantikan.
Angga... pria yang hadir dari keluarga sederhana, tetapi memberikan begitu banyak kasih sayang, ketenangan, dan rasa aman yang tak pernah bisa dibeli dengan uang Riko. Sikap Angga yang hangat selalu menjadi tempat perlindungan paling nyaman bagi Anna di masa-masa terpuruknya.
Pilihan yang sungguh menyiksa dan teramat sulit bagi Anna.
Apalagi kenyataan pahit baru saja menamparnya yaitu Angga, pria sederhana yang pernah mengisi hari-harinya tiba-tiba berdiri sebagai saudara tiri dari Riko, sang pewaris tunggal Mahenra Group.
Takdir seolah sedang mempermainkannya dengan cara yang paling kejam.
"Andai saja..."batin Anna berteriak pilu di balik tatapan matanya yang mendingin.
"Andai saja aku tidak pernah bertemu dengan kalian berdua... atau andai saja hanya salah satu dari kalian yang hadir dalam hidupku, mungkin jalannya tidak akan serumit ini"
Riko yang menyadari perubahan raut wajah Anna yang memancarkan keraguan dan gejolak emosi mendalam—memiringkan kepalanya sedikit.
"Kenapa melamun, Anna?" suara Riko memecah keheningan, terdengar begitu percaya diri seolah ia tahu ia memegang kendali atas hati wanita di hadapannya.
"Duduklah. Tatap mataku, dan katakan apa yang sebenarnya membuatmu selalu lari dariku"
Anna menarik napas panjang, mencoba menguasai getaran di dadanya saat harus melangkah dan memposisikan dirinya di hadapan Riko, pria yang ia sukai. Namun sekaligus pria yang membawanya ke dalam pusaran konflik mematikan bersama Angga.
...****************...
Kendaraan Angga membelah padatnya jalanan kota yang disiram cahaya lampu jalanan. Perjalanan pulang usai rapat panjang hari ini tak sepenuhnya menyita pikirannya. Sebaliknya, benak Angga justru dipenuhi bayangan sesosok wanita yang teramat ia rindukan seseorang yang kehadirannya selalu sanggup meluruhkan seluruh rasa lelahnya dalam sekejap.
Berharap takdir berpihak padanya malam ini, Angga memutar arah kendaraannya menuju kantor tempatnya bekerja.
Jarum jam sudah menunjuk angka tujuh malam saat roda mobilnya bergulir memasuki halaman gedung kantor yang mulai lengang. Sebagian besar karyawan sudah pulang, menyisakan lampu-lampu koridor yang membiaskan cahaya temaram.
Begitu Angga melangkah mendekati pintu masuk utama, pandangannya tertuju pada sosok familiar. Pak Budi, petugas keamanan senior seperti biasa berdiri tegap mengawasi sisa-sisa karyawan yang berlalu pergi meninggalkan gedung.
"Selamat malam, Pak Angga. Baru kembali dari luar, Pak?" sapa Pak Budi ramah, menyatukan kedua tangannya memberi hormat.
Angga menghentikan langkah sejenak. Senyum hangat khas dirinya terukir tulus di wajahnya yang sedikit letih.
"Malam, Pak Budi. Iya, baru selesai urusan rapat di luar," jawab Angga dengan nada lembut dan ramah seperti biasanya.
"Masih ramai di dalam, Pak?" Tanya Angga kembali.
Pak Budi tersenyum sembari menyapu pandang ke arah lobi yang mulai sepi.
Angga menyempatkan diri melirik ke arah sudut lobi dan koridor menuju area divisi, berharap mata dan hatinya bisa menangkap sosok yang sejak tadi diam-diam ia cari.
"Sudah agak sepi, Pak. Kebanyakan sudah pada pulang dari tadi," ujar Pak Budi ramah.
"Di dalam sepertinya tinggal Mas Rama sama Mbak Lulu saja."
Mendengar nama itu disebut, ada kehangatan tipis yang berdesir di dada Angga. Ia mengangguk pelan pada Pak Budi.
"Baik, Pak Budi. Terima kasih ya. Saya masuk dulu sebentar."
Angga melangkah masuk menembus keheningan area kantor. Benar saja, di area kubikel, Rama tampak sedang merapikan tas dan mengunci laci mejanya, bersiap untuk pulang.
"Eh, Pak Angga. Baru balik, Pak?" sapa Rama sedikit terkejut saat melihat atasan sekaligus rekannya itu berjalan mendekat.
"Iya, Ram. Baru selesai urusan di luar," sahut Angga ramah.
"Kamu sudah mau jalan pulang?"
"Iya nih, Pak. Pekerjaan hari ini sudah beres semua. Saya duluan ya, Pak," pamit Rama seraya menyampirkan tasnya dan melangkah keluar menuju pintu utama.
Kini, suasana kubikel menjadi jauh lebih hening, menyisakan deru halus pendingin ruangan dan ketukan keyboard yang teratur.
Angga memindahkan pandangannya ke sudut meja di sebelah sana. Di bawah pendar lampu meja yang temaram, tampak sosok Lulu yang begitu tekun. Wanita itu sedang menyelesaikan sisa-sisa berkas penting yang sempat tertunda tadi siang saat ia bergegas pergi menjenguk sahabatnya yang terbaring di rumah sakit.
Dari tempatnya berdiri, Angga mematung sejenak, mengamati Lulu tanpa mengganggunya.
Lulu terlihat sangat cekatan dan teliti. Jemari lentiknya bergerak lincah menata lembaran kertas, sementara matanya yang jernih sesekali beralih menatap layar monitor komputer di hadapannya. Ia memeriksa setiap angka dan detail dokumen dengan cermat, memastikan semua data tercocokkan dengan sempurna dan tersimpan rapi ke dalam arsip digital sistem tanpa ada satu pun kesalahan.
Dedikasi dan keseriusan di raut wajah Lulu malam itu mendadak mengikis rasa lelah yang sejak sore mengjepit dada Angga. Senyum hangat di bibir Angga terukir makin jelas, perlahan ia melangkah mendekati meja wanita itu.
Entah apa yang sedang berputar di benak Angga. Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, kakinya melangkah begitu saja mendekati meja kerja Lulu. Rasa lelah akibat rapat seharian mendadak hilang, berganti dengan dorongan impulsif untuk berada di dekat wanita itu.
Angga berdiri tepat di samping meja Lulu, menunduk sedikit dengan tatapan mata yang begitu lembut—sebuah ekspresi yang amat jarang ia perlihatkan di area kantor.
"Lulu..." tegur Angga pelan, suaranya terdengar sangat hangat dan penuh perhatian.
"Kenapa belum pulang? Masih banyak berkas yang belum selesai, ya?"
Lulu mendongak terkejut. Matanya mengerjap polos menatap Angga yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya dengan senyum tipis yang amat menenangkan.
"Eh... Pak Angga. Ini, Pak, tinggal mencocokkan beberapa arsip digital yang tadi siang sempat tertunda," jawab Lulu agak gugup, merapikan tumpukan kertas di mejanya.
"Jangan terlalu dipaksa kalau sudah malam. Kalo capek, sisanya bisa dilanjut besok pagi," bisik Angga lembut, bahkan tangannya terulur secara refleks membenarkan posisi map berkas di meja Lulu agar lebih rapi.
Di sudut ruangan tak jauh dari sana, Rama yang tadinya sudah siap melangkah pergi, mendadak mematung.
Matanya melotot, mulutnya sedikit menganga menatap adegan di hadapannya. Rama benar-benar syok! Sikap Angga malam ini sama sekali berbeda dari biasanya.
Selama ini, Angga dikenal sebagai atasan yang dingin, tegas dan tak jarang bertindak "seenaknya" saat memberi tugas pada Lulu. Tapi malam ini? Kehangatan dan perhatian yang terpancar dari Angga benar-benar membuat bulu kuduk Rama berdiri.
"Sejak kapan Pak Angga bisa se-lembut itu sama Lulu?! Ada yang nggak beres nih!" batin Rama penuh curiga.
Digerakkan oleh rasa penasaran yang memuncak, Rama membatalkan niat pulangnya. Dengan gerakan kocak menyerupai agen rahasia gagal, Rama mengendap-endap di balik dinding penyekat kubikel lalu memajukan telinganya lebar-lebar untuk menguping pembicaraan hangat mereka.
Namun, baru saja Rama berhasil memasang posisi menguping terbaiknya...
"TAR TING TUNG DANG DING DONG! SAYANGGG OPO KOWE RUNGUUU...!!!"
Nada dering musik dangdut koplo yang amat nyaring dan menggelegar mendadak meledak dari dalam saku celana Rama! Suara kendang dan musik yang begitu heboh menggema ke seluruh penjuru lobi kantor yang sepi. Itu adalah nada dering khusus panggilan dari ibunya yang memang pencinta berat lagu dangdut.
"Astaga!" Rama tersentak kaget, hampir saja melompat dari persembunyiannya.
Seketika, Angga dan Lulu menoleh serentak ke arah sumber suara!
Angga menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan tajam nan heran, sementara Lulu menahan tawa melihat Rama yang berdiri kaku di balik kubikel dengan wajah pucat pasi.
"Rama?" panggil Angga dingin, suaranya mendadak kembali tegas.
"Kamu belum pulang? Sedang apa kamu di balik dinding itu?"
Dengan sikap sangat salah tingkah dan peluh dingin yang mulai menetes di dahi, Rama terburu-buru merogoh sakunya. Ia meremas ponselnya gemetar, mencoba mematikan suara dangdut yang masih membahana.
"E-eh... Pak Angga! Lulu...!" sahut Rama terbata-bata dengan senyum garing yang dipaksakan. Ia buru-buru menempelkan ponsel ke telinganya tanpa melihat layar. "Halo? Iya, Ibu! Ini Rama lagi... lagi cek tiang penyekat kantor, Bu! Takut dimakan rayap! Iya, Bu, Rama pulang sekarang!"
Rama melangkah mundur sambil terus memegangi ponselnya, menatap Angga dan Lulu dengan cengiran penuh rasa malu sebelum akhirnya berbalik dan lari terbirit-birit menuju pintu keluar.
Setelah langkah terburu-buru Rama dan gema lagu dangdut melenyap di balik pintu utama, ruangan kantor itu kembali dilingkupi keheningan yang serba canggung. Suara dengung pendingin udara terasa makin jelas, mengisi jarak di antara dua orang yang kini tersisa di dalam ruangan.
Pandangan Angga kembali tertuju pada sosok di hadapannya. Lulu berdiri sedikit kaku di balik mejanya. Gadis bersahaja dengan kacamata berbingkai tipis itu yang mungkin bagi orang lain terlihat biasa saja—tampak begitu cantik dan menawan di mata Angga. Terlebih pendar lembut lampu meja membiaskan aura lugu yang jujur dari raut wajahnya.
Batin Angga sebenarnya menjerit, menyuruh dirinya untuk segera tersadar dan bersikap profesional seperti biasa. Namun, rasa lelah luar biasa akibat rapat panjang hari ini, ditambah gejolak konflik batin yang tak kunjung usai dengan Indah, membuat pertahanan emosinya hancur perlahan.
Hari ini terasa begitu berat dan melelahkan bagi Angga... namun keberadaan Lulu yang tenang di ruangan ini secara ajaib memberikan rasa nyaman dan kedamaian yang amat ia butuhkan.
Tapi, Angga menahan dirinya kuat-kuat.
Ia mengepalkan jemarinya di dalam saku celana.
"Jangan, Angga... jangan main-main dengan perasaan wanita ini" tegas hatinya melempar peringatan.
Angga sadar betul, kehangatan yang mendadak muncul ini bisa jadi hanya emosi sesaat rasa sepi dan kelelahan yang mencari tempat bersandar karena terlalu lama menunggu wanita yang ia cintai. Ia tidak boleh bersikap egois dan menjadikan ketulusan Lulu sebagai pelampiasan rasa sepinya.
Tanpa mengumbar kata-kata penjelas, Angga menarik napas panjang dan mengambil satu langkah mundur, menciptakan jarak yang aman di antara mereka.
"Lulu... kalau sudah selesai, langsung dikunci mejanya dan pulang, ya. Saya duluan," ujar Angga dengan nada suara yang mendadak kembali formal dan agak dingin benteng yang sengaja ia dirikan kembali untuk menutupi gejolak di dadanya.
Tanpa menunggu jawaban, Angga berbalik dan melangkah pergi meninggalkan area kubikel dengan cepat. Sedangkan di tempatnya berdiri, Lulu hanya bisa mematung menatap punggung Angga yang perlahan menjauh dan hilang di balik pintu.
Pertanyaan besar mendadak berputar-putar di kepala Lulu, meninggalkannya dalam kebingungan yang mendalam.
Mengapa atasan satu ini begitu sulit ditebak? Kenapa kadang Angga bisa begitu galak, dingin dan menuntut...
Namun di detik lain, ia bisa menjelma menjadi sosok pria yang amat lembut, perhatian, dan memancarkan kehangatan yang begitu pekat?
Lulu menyentuh dadanya yang masih berdebar kencang. Sikap impulsif dan perhatian tak terduga dari Angga tadi baru saja membuat jantungnya berpacu hebat bahkan hampir membuat Lulu salah paham dan terbawa perasaan.
Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan debaran di dadanya seraya menatap berkas di mejanya dengan helaan napas berat.
"Sadar Lu... Dia itu manager mu"
"Kamu harus profesional, Okee?"
"Dia hanya berterima kasih padamu atas kejadian di pesta kemarin.... jadi tolong jangan salah paham!" Bisik Lulu berkali - kali mengingatkan dirinya agar tidak salah tingkah dan salah paham atas sikap managernya tersebut kepadanya.
Jemari Lulu bergerak cepat namun rapi menyusun sisa-sisa lembaran berkas, menutup map arsir, lalu mematikan monitor komputer di hadapannya. Ia memastikan seluruh permukaan meja kerjanya kembali bersih dan tertata sempurna, siap untuk menyambut kesibukan tugas esok pagi.
Setelah menyampirkan tas di bahu, Lulu melangkah bergegas menelusuri koridor menuju lobi. Di dekat pintu keluar, tampak Pak Budi baru saja selesai melakukan serah terima tugas dengan petugas security sif malam yang menggantikannya.
"Mari, Mbak Lulu. Hati-hati di jalan ya, sudah malam," sapa Pak Budi ramah seraya tersenyum.
"Iya, Pak Budi. Saya duluan ya, Pak," sahut Lulu sopan seraya mempercepat langkah kakinya menembus udara malam yang mulai mendingin.
Benaknya mengira Angga sudah jauh meninggalkan area kantor sejak tadi. Namun, baru saja langkahnya mendekati pintu gerbang depan, sorot lampu mobil menyala terang dari arah samping.
Sreeet...
Sebuah mobil hitam berhenti mulus tepat di sisi tempat Lulu berdiri. Kaca jendela bagian depan perlahan turun, menampilkan sosok Angga di balik kemudi. Pandangan pria itu terulur menatap Lulu begitu lembut, hangat dan pekat. Seolah pertahanan dingin yang tadi sempat ia pasang di dalam kantor telah meleleh kembali.
"Lulu, masuk....Saya antar kamu pulang," ajak Angga dengan nada suara yang rendah namun penuh penekanan lembut.
Seketika, dada Lulu berdesir hebat. Perasaannya mendadak tidak karuan, bercampur aduk antara bingung, gugup, dan panik. Bayangan kejadian malam lalu kembali berputar di kepalanya—saat di mana ia pernah berduaan saja di dalam mobil bersama manajernya itu. Perjalanan panjang yang sukses membuatnya serba salah tingkah dan bernapas pun terasa canggung.
Lulu memegang tali tasnya erat-erat, sempat ragu dan hendak membuka suara untuk menolak secara halus.
"Tapi, Pak... saya bisa naik transportasi online"
"Sudah malam, tidak aman," potong Angga pelan tapi pasti. Angga mendorong pintu dari dalam dan menatap lurus ke dalam manik mata Lulu di balik kacamatanya.
"Masuk, Lulu....Saya tidak menerima penolakan malam ini."
Sorot mata Angga yang begitu tegas namun sarat akan rasa perlindungan tak menyisakan ruang bagi Lulu untuk berkutik.
Dengan jantung yang berdegup kencang tak beraturan, Lulu akhirnya mengangguk pelan dan melangkah mengitari mobil untuk duduk di sebelah tempat kemudi.
semangat thor
jadi penasaran nih lanjut baca..