Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis ^ 32
...Bukannya tidak suka! Hanya saja, itu benar-benar sangat menyiksa!!...
...- Ardanayudha -...
Pandangan mata yang meliar kini terhenti saat manik itu tidak sengaja melihat ke arah seorang wanita familiar. Jika pun jaraknya tidak begitu dekat dengan wanita itu. Tapi bola mata Yudha dapat melihatnya dengan jelas. Apalagi topi hitam itu menutup sedikit bagian atas wajah wanita itu.
Sudut bibir yang sendari tadi hilang, kini kembali terukir di wajah lelahnya. Berniat ingin berjalan mendekat, menghampiri orang itu. Tapi kedua kakinya kembali diam, saat seorang pria muda menghampiri dengan langkah tergesa.
Yudha tahu siapa pria itu. Dia artis yang tengah di kejar-kejar oleh Elvarrio. Mungkin hal itu Yudha tidak di permasalahkannya. Akan tetapi, ada hubungan apa mereka berdua? Jangan bilang...
"Yudha! Apa yang kau lihat?" Cetus Rama yang entah datang dari mana. Sebentar melihat temannya itu, sebelum mengikuti arah pandangan Yudha. Mendapati dua insan paling menonjol di antara banyaknya pejalan kaki di sana.
Dan itu membuat Rama membuang napa berat. Raut wajahnya tidak bisa diartikan melalui kalimat manis yang menjadi paragraf. "Apa yang mereka lakukan?"
"Mereka bukan sepasang kekasih 'kan?" Entah kenapa Yudha mencetuskannya begitu saja. Entah karena penasaran, takut jika hal itu bisa menimbulkan rumor yang tidak benar. Atau, Yudha memang tidak menyukai jika Yumna bersama seorang pria yang tidak Yudha kenal sangat dekatnya.
"Mereka hanya teman sekolah." Kini Rama melihat wajah Yudha dari samping. "Tapi dia sangat dekat."
"Benarkah?" Ada rasa ingin tahu di benak Yudha soal pertemanan Yumna dengan Yuan. Tapi Yudha harus mengesampingkan perasaannya lebih dulu saat ini. Karena Yudha wajib mencari keberadaan Malla. Itu lebih penting.
"Kau tidak menyukainya?" Senyum kecil begitu pahit Rama perlihatkan tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Yudha.
"Kita harus menemukan Malla secepat mungkin." Alih Yudha, kini membalikkan tubuhnya. Tanpa mempedulikan Rama. Karena Yudha tidak mau menjadi bahan omongan di saat dia berkumpul bersama teman-temannya nanti. Sudah cukup Tirtha menyangkut pautkan dirinya dengan Sella.
Tapi dengan tersentak, Yudha mau tidak mau membalikkan tubuhnya saat kedua pundaknya di cengkeram oleh tangan lebar milik Rama. Kini sedikit mendorong Yudha, kearah di mana Yumna dan Yuan melangkah pergi.
"Kita sudah mencarinya kesana, dan kita tidak menemukan Malla." Diam sejenak, Rama terus menatap punggung Yumna di balik kacamata bulatnya itu. "Mungkin mengikuti mereka itu akan memberi kita petunjuk. Karena setahu ku. Yumna tidak mau pergi jika itu bukan hal penting.
"Bukankah kita seperti reporter yang menangkap artis tengah berkencan?" Mungkin kalimat itu sedikit terdengar ambigu. Tapi Yudha tetap mengatakannya, dan itu diterima baik oleh Rama.
"Benar, api tujuan kita dengan reporter-reporter itu berbeda. Mereka akan langsung menerbitkan kalimat palsu tanpa mencari fakta lebih dulu. Tapi kita bertugas untuk tetap menutup mulut. Jika kita menulisnya di media, hidup kita yang akan sengsara." Jelas Rama dengan sudut bibir yang tersungging. Pandangannya kembali lurus ke depan.
Dan kepala Yudha mengangguk setuju. Benar apa yang di katakan Rama. Mereka bekerja untuk para artis, tugas mereka melindungi sang artis. Entah itu salah atau benar. Mereka harus tetap berada di pihak sang artis. Karena itu tanggung jawab utama mereka yang bergabung dalam sebuah perusahaan entertainment.
Diam membasahi sekilas bibirnya, setelah menyimpan handphone itu di dalam saku celananya. Tanpa memberi balasan untuk orang di seberang sana. Karena Yudha tidak ingin Rama menyimpan kecurigaan pada dirinya.
Kini pandangan Yudha masih melihat ke arah Yumna berada. Jika benar Yumna tahu di mana keberadaan Malla, mungkin saat ini wanita itu tengah menuju ke tempat itu. Tapi kenapa Yumna menutup mulutnya? Kenapa wanita itu tidak memberitahu Rama ataupun pihak perusahaan? Sebenarnya apa yang di sembunyikan Yumna? Apa dia juga mendapat ancaman dari Natussa? Atau ada hal lain, kenapa Yumna memilih diam tanpa mengatakannya pada siapapun.
Tapi apa Yuan juga tahu? Atau dia hanya mengikuti kemana perginya Yumna? Apa Yudha harus membuat rencana untuk membawa Yuan pergi? Karena sebagai manager, Yudha tidak ingin melihat para artis mendapat skandal yang mengarah untuk menghancurkan hidupnya sendiri.
"Aku akan membawanya pergi. Kau bisa mengikuti Yumna. Mungkin saja Yumna tahu keberadaan Malla." Cetus Yudha tanpa adanya diskusi lebih dulu dengan Rama yang diam, sedikit bingung dengan perkataan Yudha. Apalagi kini Yudha melangkah lebih dulu mendekati Yuan.
Hal itu semakin membuat Rama merasa gelisah sendiri. Sebentar melihat sekitar untuk memastikan jika semua orang sibuk dengan kegiatan mereka sendiri. Sebelum beralih pada Yudha kembali, dengan menelam ludah getirnya.
Dengan keberanian penuh, Yudha begitu tenang membungkam mulut Yuan dari belakang, dan membawa pria itu pergi dari tujuan utamanya yang ingin mengikuti Yumna. Dan untungnya posisi Yuan berjalan di belakang Yumna. Hingga hal itu tidak disadari oleh Yumna, yang terus melangkah tanpa henti.
"Siapa dirimu?" Seru Yuan di balik tangan kekar Yudha yang masih setia menutup mulut pria itu.
Yudha terus menyeret tubuh Yuan dengan sekuat tenaganya. Karena Yudha tidak mau terlihat lemah di depan siapapun. Jika pun saat itu, Yudha ingin langsung menyerah. Melempar tubuh Yuan di jalanan. Akan tetapi, hal itu tidak bisa Yudha lakukan saat ini.
Tibanya di taman yang tidak ada siapapun, kini Yudha menjauhkan tubuhnya dari Yuan yang membuang napas kesal. Menatap Yudha dengan pandangan tidak percaya.
"Ada apa dengan mu? Kenapa kau menyeret ku kesini?" Nada bicara itu benar-benar terdengar tidak terima dengan sikap Yudha yang dengan seenaknya menarik Yuan tanpa bicara baik-baik.
Sedangkan Yudha membuang napas beratnya, melihat sekitar membiarkan kedua tangannya berdecak pinggang. Sebelum membalas tatapan Yuan. "Apa kau bosan dengan kehidupan mu? Apa kau tidak lagi butuh uang?"
Diam sejenak, Yudha menurunkan kedua tangannya. Kembali membuka suara. "Kenapa kau ceroboh sekali? Kenapa kau mengikuti Yumna? Bagaimana jika ada yang melihat kalian berdua? Apa itu tidak akan menjadi masalah."
"Mungkin bagimu itu tidak. Karena penggemar mu akan tetap membela mu, tetap berada di pihak mu. Tapi bagaimana dengan Yumna? Apa dia bisa kau selamatkan atas komentar jahat dari penggemar mu?" Sekilas Yudha menaikan alisnya. Entah kenapa benaknya merasa mendidih sekali. Tapi Yudha harus menahan ledakan amarahnya yang tidak akan Yudha perlihatkan untuk Yuan. Karena mau bagaimana pun, Yuan juga tidak bersalah.
Yudha hanya lelah. Hanya itu. Yudha hanya ingin melampiaskan rasa lelahnya, melalui ocehan tidak jelas dari mulutnya.
"Aku hanya ingin membantu Yumna. Apa itu tidak boleh sebagai teman?" Mencari pembelaan diri, agar tidak menjadi sasaran empuk yang hanya bisa Yuan lakukan. Tapi ucapannya memang benar.
Yudha meniup udara, menahan diri untuk tidak meninggikan suaranya. "Jika kau ingin membantunya. Bukan seperti ini caranya. Posisi mu saat ini tengah menjadi incaran para reporter. Karena apa? Karena media terus membicarakan kontrak mu dengan perusahaan. Apalagi__"
Sebenarnya Yuan tidak ingin menyela perkataan Yudha. Hanya saja Yuan sulit menahan lidahnya untuk tetap diam lebih dulu, mendengar apa yang akan Yudha katakan. "Aku tidak akan memperbarui kontrak ku dengan perusahaan itu. Karena keputusan ku saat ini sudah bulat. Aku akan menerima tawaran dari Sirius entertainment."