Genre: Fantasi Modern, Romantis-Komedi, Isekai
Elia said : Gue boleh jadi antagonis, tapi minimal tetep punya akhlak lah ya!
Gimana jadinya kalau seorang gadis Gen Z super santuy bernama Elia tiba-tiba terbangun di dalam dunia webnovel romansa klise yang sering dia baca? Alih-alih jadi tokoh utama yang disayang semua orang, Elia malah apes tingkat dewa: dia masuk ke tubuh si villainess (tokoh jahat) yang punya nasib tragis dan bakal mati mengenaskan di pertengahan cerita!
Novel itu berjudul "Gadis Desa dan Sang Taipan" sebuah kisah cinta menye-menye tentang gadis kampung polos yang dicintai setengah mati oleh seorang taipan muda nan kaya raya. Masalahnya, si taipan kaya ini adalah tunangan Elia di dunia tersebut. Berdasarkan alur asli, Elia harusnya mati karena terlalu bucin dan terobsesi merusak hubungan mereka.
"Yang bener aja?! Masak gue harus jadi villain? Mana mati di tengah cerita lagi. Sial banget!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Tanpa Batas dan Kekacauan Kota A
•Masih ga bisa update gambar jaringan masih lag parah
...~ HAPPY READING ~...
Di dalam bunker rahasia bawah tanah yang terisolasi dari udara luar, gema teriakan kesakitan terdengar begitu memilukan.
BUGH!
"Aaakkhh!"
Suara raungan itu kini tak lagi bernada cergas seperti saat ia memerintah anak buahnya. Boni terkulai lemas di atas lantai semen yang dingin, wajahnya babak belur tak berbentuk. Namun, amarah Michel yang meluap-luap bagai lahar dingin tampak belum juga menemui titik reda.
"Bedebah sialan!" maki Michel dengan napas memburu.
BUGH!
"Akkkhhh! To-Tolong... jangan..." ratap Boni histeris seraya menutupi area vitalnya menggunakan kedua tangan yang gemetar hebat.
Namun, tendangan maut Michel tanpa belas kasih kembali menghantam aset berharga milik Boni. Jika dihitung-hitung, sudah tujuh kali sepatu kulit tebal milik kepala keluarga Lauren itu mendarat tepat di titik terlarang tersebut, menghancurkan masa depan sang iblis perdagangan manusia sampai tak bersisa.
BUGH! BUGH! BUGH!
"Sialan! Bajingan! Mati kamu! Mati! Mati!" racau Michel murka. Ia terus menendangi tubuh Boni yang melengkung bagai udang rebus, hingga pria itu akhirnya terkulai pingsan, tak lagi mampu menggerakkan jemarinya.
"Hah... hah..."
Napas Michel memburu hebat. Dadanya naik-turun teratur di balik kemeja mewahnya yang kini tergulung hingga siku, ternoda oleh percikan darah Boni. Rasa frustrasi dan kemarahan seorang ayah yang putrinya nyaris hancur masih bergolak liar di dalam dadanya. Ia butuh pelampiasan.
"Jhansen!" teriak Michel menggelegar.
"Ya, Tuan!" Jhansen melangkah maju dengan sigap.
BUGH!
Tanpa memberi aba-aba, Michel mendadak mengayunkan tinju keras ke arah wajah Jhansen. Dengan refleks terlatih sebagai pengawal pribadi papan atas, Jhansen menahan tendangan susulan Michel menggunakan kedua tangannya.
"Tuan, ayo! Saya tidak akan menahan diri!" ujar Jhansen tegas. Pria itu paham betul karakter atasannya Michel adalah sosok yang sangat sabar, namun jika batas kesabarannya sudah dilalui, pria itu berubah menjadi iblis yang haus pertarungan untuk menenangkan kepalanya.
BASH! BUGH! BASH! BUGH!
Adu fisik brutal pun terjadi di dalam bunker tersebut. Setiap pukulan dan tinju maut yang dilayangkan Michel ditangkis secara presisi oleh Jhansen, meski beberapa pukulan telak tetap berhasil menembus pertahanannya dan mengenai bahu serta rahang sang pengawal.
Di saat yang bersamaan, di atas meja kerja, ponsel canggih milik Michel terus bergetar tanpa henti. Layarnya menyala terang, memamerkan panggilang masuk yang sudah berdering lebih dari dua puluh kali.
Sementara itu di lorong rumah sakit...
Meilin berjalan bolak-balik seraya menatap layar ponselnya dengan raut wajah penuh cemas. "Papa di mana, sih? Kenapa tidak diangkat juga..." gumamnya khawatir.
Di tengah kecemasannya, sebuah tepukan pelan mendarat di pundaknya.
"Sayang..."
"Ya ampun, Mama! Bikin kaget aja!" protes Meilin spontan seraya memegang dadanya. Langkah kaki Miler benar-benar tidak terdengar sama sekali saat wanita anggun itu berjalan mendekatinya dari belakang.
"Ada apa?" tanya Miler lembut, memperhatikan raut wajah putrinya yang tegang.
"Papa, Ma... Aku sudah menelepon Papa sampai dua puluh kali, tapi sama sekali tidak diangkat," ujar Meilin cemas.
Miler tersenyum tipis, mengelus rambut Meilin dengan tenang. "Kirimkan saja papamu pesan suara. Nanti pasti dibaca kalau urusannya sudah selesai. Saat ini, percaya sama Mama... papamu itu hanya butuh waktu. Mama yakin, dia paling-paling lagi menangis di pojokan," ujar Miler bercanda tipis untuk mencairkan suasana tegang di antara mereka.
Miler lalu membalikkan tubuh Meilin pelan. "Ayo, kita temui adikmu."
"Astaga, Ma!" Meilin mendadak menepuk jidatnya sendiri. "Aku lupa! Helena tadi minta dibelikan makanan!"
Saking khawatirnya memikirkan sang papa yang tidak ada kabar, Meilin sampai lupa tujuan utamanya meninggalkan kamar rawat Helena.
"Mama sudah bawa, nih," ujar Miler seraya mengangkat sebuah paper bag berisi Makanan kesukaan Helena yang sempat ia beli di jalan. "Sudah, ayo. Papamu itu sedang menangis di pojokan, nanti juga kembali sendiri."
Miler menarik lembut tangan Meilin agar mengikutinya. Sebagai seorang istri yang mendampingi Michel belasan tahun, Miler sama sekali tidak khawatir ia tahu betul apa yang sedang suami tercintanya lakukan untuk membalas dendam demi putri kecil mereka.
Di sisi lain Kota A, markas besar keluarga Veradoux beroperasi dalam mode darurat.
Nicky Veradoux harus bekerja ekstra keras membersihkan sisa-sisa kekacauan yang ditinggalkan oleh duet maut Alex dan Michel. Michel secara terang-terangan membongkar seluruh nama besar yang terlibat dalam jaringan perdagangan manusia Boni ke media sosial.
Nama-nama terpandang mulai dari Madam Meri, aktivis yang selama ini disanjung sebagai angel pembela rakyat miskin, para politikus berwajah malaikat, hingga oknum kepolisian yang dikenal dermawan semuanya dikuliti tanpa sisa. Mereka adalah para penerima uang suap tutup mulut berkisar antara 300 hingga 500 juta rupiah setiap bulannya dari Boni.
"Michel... Cih!" gumam Nicky geram seraya mengembuskan asap rokoknya yang membumbung tinggi di udara.
Dampak dari unggahan Michel benar-benar dahsyat. Masyarakat Kota A mengamuk hebat. Warga yang tadinya bungkam kini turun ke jalanan dalam jumlah ribuan. Gelombang demonstrasi besar-besaran melumpuhkan pusat kota. Salah satu pejabat yang paling disorot adalah Pemimpin Daerah Plumkin, yang terbukti menerima suap hingga 5 miliar rupiah setiap empat bulan sekali.
"Tuan Plumkin sudah meninggalkan kediamannya," lapor Wiliam, tangan kanan Nicky, yang baru saja melangkah masuk. "Kami sudah menyisir seluruh lokasi yang mungkin ia datangi, namun hasilnya nihil. Pria itu pergi meninggalkan ponsel, mobil, dan seluruh fasilitasnya. Plumkin kabur tanpa membawa apa pun."
"Bukan kabur..." gumam Nicky tajam seraya mengetukkan jarinya di meja kaca. "...tapi dihabisi Michel. Pria itu memang biasanya sangat sabar, tapi kali ini akalnya hilang begitu melihat putrinya terbaring kritis di brankar rumah sakit."
Nicky mengembuskan asap rokoknya sekali lagi, lalu mematikan puntungnya di asbak.
"Oke. Orang-orang yang dinyatakan kabur bisa kita urus belakangan. Wiliam, selesaikan masalah yang ada di depan mata terlebih dahulu! Terutama para rakyat yang turun ke jalan. Tempatkan personil kita di barisan terdepan, pastikan tidak ada bentrokan atau korban jiwa dalam demonstrasi tersebut!" perintah Nicky tegas.
"Baik, Tuan!"
Nicky kembali menatap layar laptopnya yang terus memancarkan grafik pergerakan massa dan laporan wilayah. Jemarinya menari lincah di atas kibor, sementara bibirnya tak berhenti melontarkan instruksi tegas ke seluruh jajaran bawahannya untuk mengendalikan situasi Kota A agar tidak runtuh total.
...Bersambung 🫰🏻🤗...