NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Transmigrasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyvara

Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

​Jam istirahat pertama akhirnya tiba. Saat bel berbunyi, siswa-siswa berhamburan keluar kelas menuju kantin seperti kawanan zombi kelaparan. Bella tetap duduk di bangkunya, masih merapikan catatan sejarahnya menggunakan stabilo dua warna untuk membedakan antara 'fakta sejarah' dan 'analisis kausalitas'. ​Dion memberi isyarat kepada Rindi, Tono, dan Bono untuk pergi ke kantin duluan. Ia membutuhkan waktu berdua dengan bosnya, ada sesuatu yang mengganjal di dadanya yang harus segera diselesaikan. Sebagai Wakil Ketua yang mengenal Bella dari awal mereka membentuk geng ini, Dion tahu betul bahwa orang di depannya ini bukanlah sekadar "berubah pikiran". Ada pergeseran paradigma yang ekstrem.

​Dion menarik kursi dan duduk terbalik (dadanya bersandar ke sandaran kursi) menghadap meja Bella. Wajah tampan berandalnya terlihat serius.

​"Oke, Bos. Cukup sandiwaranya," kata Dion dengan suara rendah agar tidak terdengar siswa lain yang masih ada di kelas. "Lo siapa? Dan ke mana Bos gue yang asli?"

​Bella menutup buku catatannya perlahan, menyejajarkan ujung buku tersebut dengan tepi meja agar presisi 90 derajat, lalu mengangkat wajahnya menatap Dion.

​"Pertanyaan yang menarik, Dion. Dari segi filosofis, aku masih Bella Anastasia. Tubuh ini masih membutuhkan oksigen, nutrisi, dan tidur yang sama. Namun dari segi perangkat lunak (software) manajerial, aku telah melakukan update system secara total semalam."

​Dion mendengus keras. "Bahasa lo itu, Sumpah. Lo ngomong kayak Bapak gue kalau lagi meeting di kantor sebelum perusahaan dia bangkrut. Bos gue Bella yang asli nggak pernah pakai kata 'manajerial' atau 'SOP' seumur hidupnya. Dia lebih milih mukul orang pakai botol sirup daripada nulis di buku."

​"Maka Bella yang kamu kenal itu bodoh," potong Bella tajam, tanpa emosi. "Mukul orang pakai botol sirup hanya akan memberimu catatan kriminal, biaya ganti rugi, dan risiko penjara. Itu adalah Return on Investment (ROI) yang sangat negatif."

​Bella mencondongkan tubuhnya ke depan, ini saatnya. Dion adalah Key Opinion Leader di geng ini. Jika Sarah bisa menundukkan pola pikir Dion, sisa anggota geng akan otomatis mengikuti. Ia harus menerapkan teknik coaching satu lawan satu (1 vs 1 Performance Review).

​"Dion, mari kita lakukan asesmen karier sejenak," kata Bella, suaranya kini melembut sedikit, taktik good cop, bad cop yang ia jalankan sendirian. "Berapa usiamu sekarang?"

​"Tujuh belas. Kenapa?"

​"Tahun depan kita lulus. Pernahkah kamu memikirkan Exit Strategy (strategi keluar) dari sekolah ini? Apa rencana hidupmu setelah lulus dari SMA Garuda dengan nilai rapor merah dan catatan kenakalan yang menumpuk?"

​Dion terdiam. Ia membuang muka, menatap ke arah papan tulis. "Gue... gue bisa kerja apa aja. Jaga bengkel, atau jadi bouncer di klub."

​"Dengan kata lain, kamu akan menjual tenaga kasarmu dengan upah minimum, tanpa jenjang karier, jaminan kesehatan, maupun dana pensiun. Kamu akan menjadi pekerja kasar (blue-collar worker) selamanya," bedah Bella tanpa belas kasihan. "Kamu memiliki insting jalanan yang tajam, loyalitas yang tinggi pada kelompok, dan keberanian fisik. Itu adalah kompetensi dasar (core competencies) dari seorang manajer operasional yang handal. Sayangnya, kamu menyia-nyiakannya untuk menjadi preman sekolah murah."

​Dion menoleh menatap Bella, matanya sedikit membesar. Baru kali ini ada orang yang memberitahunya bahwa ia memiliki "kompetensi" dan "potensi". Guru-guru selalu memanggilnya sampah masyarakat. Orang tuanya sudah menyerah padanya. Namun, gadis yang selama ini ia ikuti hanya karena uang, kini sedang membedah masa depannya dengan tingkat kepedulian yang tajam dan menakutkan.

​"Gue... manajer operasional?" ulang Dion pelan.

​"Potensinya ada, namun soft skill dan hard skill-mu masih nol," Bella mengangguk mantap. "Aku tidak sedang bermain-main dengan peraturan baru ini, Dion. Aku sedang merestrukturisasi hidupku. Dan karena kalian adalah bagian dari organisasiku, aku akan menyeret kalian naik ke atas bersamaku, entah kalian mau atau tidak."

​Bella menatap lurus ke dalam jiwa Dion. "Kamu punya dua pilihan, Dion. Pilihan pertama: kamu bisa mengundurkan diri sekarang (resign), membawa Riko dan yang lain, dan kembali menjadi preman tanpa arah, lalu berakhir menjadi penjaga malam di klub murahan. Pilihan kedua: tetap di sini, patuhi SOP yang aku buat, tahan rasa sakit dari kedisiplinan ini, dan aku berjanji akan mengubahmu menjadi eksekutif yang ditakuti bukan karena kepalan tanganmu, tetapi karena kecerdasanmu."

​Ruangan kelas itu hening, hanya terdengar suara dengung kipas angin di langit-langit. ​Dion menatap mata Bella mencari kebohongan atau candaan, namun yang ia temukan hanyalah jurang ambisi yang tak berdasar dan otoritas absolut. Untuk pertama kalinya dalam hidup Dion, ia tidak merasa tunduk karena uang jajan yang disubsidi Bella. Ia merasa tunduk pada wibawa sejati.

​Perlahan, senyum miring khas berandalnya kembali muncul, namun kali ini bercampur dengan rasa hormat yang tulus.

​"Lo bener-bener gila sekarang, Bos. Gila yang bikin gue merinding," Dion menegakkan duduknya, merapikan kerah seragamnya sendiri secara sadar. "Oke. Gue ambil pilihan kedua. Lo mau gue jadi manajer apa kek, terserah. Asal lo beneran bisa bawa kita keluar dari lubang sampah ini."

​"Keputusan yang rasional, Dion," Bella tersenyum tipis. "Selamat bergabung di jajaran manajemen tingkat atas. Sekarang, karena sesi coaching kita sudah selesai, pergi ke kantin dan belikan saya air mineral botol. Uangnya akan saya reimburse nanti."

​"Siap, Bos," kekeh Dion sambil berdiri. Langkahnya terasa lebih ringan, meski beban tanggung jawab yang baru saja diletakkan di pundaknya jauh lebih berat dari sebelumnya. Restrukturisasi geng telah resmi dimulai dari akarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!