Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.
Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.
Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.
Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.
Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.
Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.
Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Tanda Tangan Tunangan
Keira pulang ke Pondok Indah pada siang setelah efek obat benar-benar hilang.
Ia belum sempat masuk ke gudang ketika mendengar suara Tante Mira dari ruang keluarga.
"Nona Vanessa, botol apa ini?"
Vanessa berdiri dekat sofa. Di tangan Tante Mira ada botol bening kecil yang ditemukan di saku gaun pesta.
"Vitamin," jawab Vanessa.
"Kenapa di rekaman hotel Anda menuangkannya ke jus Nona Keira?"
Wajah Vanessa berubah.
Brandon telah menyerahkan salinan rekaman kepada rumah sakit atas izin Keira pagi tadi. Tante Mira melihatnya ketika membantu mengisi laporan kejadian.
"Itu cuma obat supaya dia tenang," kata Vanessa. "Dia selalu merusak acara."
"Dia masuk IGD karena obat itu."
"Lalu kenapa? Dia masih hidup."
Keira masuk sambil memegang salinan laporan toksikologi awal. "Sampel dan rekamannya sudah disimpan. Kalau aku melapor, ini bukan lagi soal pertengkaran saudara."
Vanessa menatap kertas itu, tetapi tidak tampak takut. "Siapa yang akan percaya mantan narapidana? Papa akan bilang kamu sengaja minum sesuatu untuk mempermalukanku. Mama akan membelaku. Ko Kevin pada akhirnya juga memilih keluarga."
Setiap kalimatnya lahir dari pengalaman. Selama bertahun-tahun, Vanessa memang tidak pernah perlu benar. Ia hanya perlu menjadi orang yang lebih dicintai.
Keira berhenti di pintu.
Kalimat itu memutus sesuatu yang selama ini masih ia tahan.
Ia mengambil asbak kristal dari meja dan berjalan mendekat.
Vanessa baru sempat menoleh ketika asbak menghantam bahunya. Ia jatuh ke sofa sambil berteriak. Keira mengayunkan benda itu lagi ke lengan yang digunakan Vanessa untuk menuang obat.
"Ini untuk lima tahun," kata Keira.
Pukulan berikutnya mengenai sandaran ketika Vanessa menghindar. Abu dan serpihan rokok lama beterbangan.
"Ini untuk Evelyn."
Vanessa merangkak turun dari sofa. Keira mengejarnya, tetapi kaki kirinya goyah. Ia tetap mengangkat asbak dengan empat jari yang dibalut.
"Dan ini untuk gelas jus itu."
Kevin berlari dari lorong. "Kei, cukup!"
Ia menahan pergelangan Keira sebelum pukulan berikutnya jatuh. Keira meronta, bukan karena kehilangan akal, melainkan karena untuk pertama kalinya amarah yang ditelan selama bertahun-tahun memiliki sasaran di depannya.
"Lepaskan!"
Vanessa menangis di lantai. "Ko Kevin, dia mau membunuhku!"
Yolanda datang dari belakang. Ia melihat Vanessa, lalu meraih asbak lain di meja tanpa bertanya apa yang terjadi.
"Jangan sentuh anakku!"
Asbak itu menghantam belakang kepala Keira.
Suara di ruangan hilang.
Tubuh Keira terlepas dari tangan Kevin dan jatuh ke karpet. Luka jahitan di dahinya tidak terkena, tetapi bagian belakang kepalanya membentur keras. Darah tipis muncul di antara rambut.
"Kei!"
Kevin berlutut. Keira tidak merespons ketika dipanggil.
Tante Mira mendorong semua orang menjauh. "Panggil ambulans!"
Edmond yang baru masuk justru menyuruh petugas keamanan menutup gerbang agar keributan tidak dilihat tetangga. Vanessa terus menangis, Yolanda memeluknya, dan Kevin berdebat dengan ayahnya tentang laporan polisi.
Tidak ada ambulans yang datang setelah sepuluh menit.
Kevin sudah menelepon layanan darurat, tetapi Edmond memerintahkan petugas gerbang mengatakan situasi terkendali. Ia ingin menunggu dokter keluarga agar tidak ada kendaraan bersirene berhenti di depan rumah. Kevin menelepon kembali dari ponselnya sendiri, namun hujan dan lalu lintas membuat waktu tiba terus mundur.
"Kita bawa dengan mobil," kata Kevin.
Edmond merampas kunci dari meja. "Tidak ada yang pergi sebelum kita sepakat apa yang akan dikatakan."
Saat para lelaki berdebat tentang cerita, Tante Mira mengangkat tubuh Keira.
Tante Mira tidak menunggu lagi.
Ia mengikat kain lebar di sekitar tubuh Keira, mengangkat perempuan itu ke punggung, lalu berjalan keluar melalui pintu samping. Punggungnya yang masih terluka oleh sabuk langsung terasa terbakar.
Hujan turun begitu ia mencapai jalan.
"Tolong bertahan, Nak," isaknya. "Tante bawa kamu ke rumah sakit."
Kaki Tante Mira hampir tergelincir dua kali. Air mengalir dari rambut Keira ke bahunya. Jalan utama masih jauh ketika cahaya sebuah Alphard hitam menyapu mereka.
Mobil itu mengerem.
Rayhan turun sebelum Brandon sempat membuka payung.
Ia mengenali seragam pudar dan perban empat jari.
"Apa yang terjadi?"
"Kepalanya dipukul, Tuan." Tante Mira terengah. "Dia tidak bangun."
Rayhan mengambil Keira dari punggungnya. "Masuk."
Brandon membantu Tante Mira naik, lalu memerintahkan sopir menuju RS Pondok Indah. Rayhan menahan kepala Keira agar lehernya tetap stabil. Tidak satu pun dari mereka bertanya apakah gaun atau jok mobil akan kotor oleh hujan dan darah.
CT di IGD menunjukkan perdarahan intrakranial yang menekan jaringan. Dokter bedah saraf meminta tindakan segera.
Tante Mira menjawab pertanyaan triase dengan napas masih tersengal. "Ibunya memukul bagian belakang kepala memakai asbak. Ada serangan lain beberapa hari ini. Tolong catat semuanya."
Rayhan menoleh kepada Brandon. "Simpan pakaian basah dan foto lukanya sesuai prosedur. Minta rumah sakit menghubungi polisi setelah dia sadar dan bisa memutuskan sendiri."
"Bagaimana dengan keluarga Pratama?"
"Jangan beri mereka akses tanpa persetujuan pasien."
Tante Mira menatap lelaki asing itu. "Tuan mengenal Nona Keira?"
Rayhan melihat lampu merah di atas ruang tindakan. "Belum cukup."
"Operasi darurat tetap berjalan," jelas petugas administrasi. "Tapi siapa yang menerima penjelasan dokter dan keputusan setelahnya? Keluarganya belum bisa dihubungi."
Tante Mira menunduk. Secara hukum ia bukan keluarga.
"Saya yang tanggung," kata Rayhan.
Petugas melihat formulir. "Hubungan dengan pasien?"
Rayhan mengambil pena.
Di kolom `hubungan dengan pasien`, ia menulis satu kata.
`Tunangan.`
Brandon menatap tulisan itu, lalu atasannya. "Bos?"
Rayhan menandatangani bagian bawah. "Mulai sekarang, pastikan dia aman."
"Termasuk dari keluarga Pratama?"
"Terutama dari mereka."
Brandon merendahkan suara. "Status itu tidak benar secara hukum."
"Aku tahu. Koreksi saat dia sadar. Aku menanggung akibatnya."
Rayhan menyerahkan formulir itu. Kata `tunangan` tidak memberinya hak atas Keira, tetapi membuat Tante Mira tetap menerima kabar tanpa keluarga Pratama mengambil alih. Perempuan itu meremas ujung seragamnya yang basah, lalu duduk di depan ruang operasi.
Pintu ruang operasi menutup. Rayhan tetap berada di luar sampai dokter mengonfirmasi perdarahan berhasil dikendalikan.
Pada saat yang sama, di rumah tua Hartono di Menteng, sebuah ponsel bergetar di tangan Oma Hartono.
Brandon akhirnya mengirim foto yang seharusnya ia hapus. Dalam gambar itu, seorang gadis berambut berantakan mencengkeram kerah Rayhan. Wajah Rayhan yang biasanya sedingin ruang rapat terlihat menunduk penuh perhatian.
Oma memperbesar foto, lalu tertawa.
Ia mengenali jas cucunya dan peony yang sebelumnya tidak ada. Lebih dari itu, ia mengenali cara Rayhan menahan tubuh perempuan itu. Tidak kaku, tidak jijik, dan tidak berusaha melepaskan tangan yang menarik kerahnya.
"Cucu perempuan yang berani. Aku suka."
Ia menelepon kepala staf rumah.
"Siapkan kamar tamu terbaik. Seorang tamu penting akan datang."