NovelToon NovelToon
Dibuang Suami, Kembali Menjadi Nyawaku

Dibuang Suami, Kembali Menjadi Nyawaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Niclia

Larasati dipaksa menikah demi menyelamatkan keluarganya, namun tiga tahun kesetiaannya dibalas dengan pengusiran saat wanita idaman suaminya kembali. Tanpa mereka tahu, Larasati bukan wanita lemah yang mereka kira. Saat identitas aslinya terbongkar, kini giliran mereka yang memohon belas kasihannya—tapi Larasati tak akan pernah kembali ke masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niclia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Harapan Baru di Antara Keraguan

Hari-hari berlalu dengan penuh kesibukan bagi Larasati. Di samping mengurus perusahaan yang kini berada di bawah tangannya, ia juga harus menjaga kesehatan dirinya dan janin yang semakin hari semakin tumbuh. Bu Aminah selalu mengingatkannya untuk tidak terlalu lelah, namun Larasati ingin membuktikan bahwa ia mampu berdiri tegak tanpa bergantung pada siapa pun.

Suatu sore, saat ia hendak pulang, ia melihat Arga berdiri agak jauh di depan gerbang. Ia tampak ragu mendekat, membawa sebungkus buah dan makanan yang disiapkannya sendiri. Penampilannya jauh lebih sederhana dari biasanya, tanpa setelan mahal yang dulu selalu ia banggakan.

"Aku hanya ingin memastikan kau dan anak kita sehat," ucapnya pelan saat Larasati menghampirinya. "Aku belajar memasak sendiri... tahu ini tak sebanding dengan apa yang pernah kau lakukan untukku selama tiga tahun itu. Aku tidak berharap kau langsung memaafkanku, aku hanya ingin mulai menjadi manusia yang bertanggung jawab."

Larasati menerimanya dengan hati-hati. Ia tak memaafkan begitu saja, namun ia tak ingin menutup pintu sepenuhnya bagi seorang ayah yang mulai sadar akan kewajibannya. "Terima kasih. Jangan lakukan ini karena kasihan, tapi lakukan karena kau sadar ini adalah bagian dari perbaikan dirimu sendiri."

Di sisi lain, Ardan sering hadir membawa ketenangan. Ia tak pernah menuntut perasaan, hanya memberi dukungan tulus yang membuat Larasati merasa aman. Ia selalu hadir saat rapat penting, memberi saran yang bijak, atau sekadar menemani Larasati berjalan santai saat lelah. Hal itu membuat Arga mulai cemburu, namun ia sadar sepenuhnya bahwa ia tak punya hak apa-apa lagi untuk melarang atau memaksa.

Malam itu, saat sendirian di kamar, Larasati memegang perutnya yang mulai sedikit menonjol. Ada rasa takut yang kadang menyelinap, namun digantikan oleh tekad yang makin kuat. Ia tahu jalan di depannya masih panjang dan berliku, tapi ia tidak akan pernah berjalan sendirian lagi.

Arga berdiri diam di tempat, menatap punggung Larasati yang perlahan menjauh. Hatinya terasa perih namun juga penuh rasa syukur karena wanita itu masih memberinya sedikit ruang untuk berbuat baik. Ia berjanji pada dirinya sendiri, tak peduli seberapa lama waktu yang dibutuhkan, ia akan terus berusaha memperbaiki segala kesalahannya.

Sementara itu, berita tentang perubahan sikap Arga perlahan terdengar oleh Disa. Rasa iri dan amarahnya kembali meledak. Ia tak terima melihat Arga yang dulu sepenuhnya miliknya kini sibuk memohon perhatian Larasati. Ia mulai merencanakan rencana lain yang lebih licik, berharap bisa menghancurkan nama baik Larasati sebelum ia semakin kuat.

Di dalam kamar, Larasati menatap pantulan dirinya di cermin. Ia melihat perubahan yang nyata—bukan hanya pada penampilan, tapi juga pada sorot matanya yang kini penuh percaya diri. Ia sadar bahwa kedamaian yang ia rasakan saat ini bisa saja terusik sewaktu-waktu. Namun ia tak lagi wanita yang mudah menyerah hanya karena ancaman atau fitnah orang lain.

Bu Aminah mengetuk pintu pelan lalu masuk membawa segelas susu hangat. "Kau terlihat lelah, Neng. Istirahatlah, dunia tak akan runtuh meski kau berhenti sejenak."

Larasati tersenyum tipis. "Terima kasih, Bu. Aku hanya takut kalau aku lengah sebentar, orang-orang yang ingin menjatuhkanku akan kembali berbuat jahat."

"Mereka tak akan bisa menyakitimu lagi selama kau berdiri di atas kebenaran," ucap Bu Aminah lembut namun tegas. "Kakekmu selalu berkata: Kekuatan terbesar seseorang bukanlah pada harta yang dimilikinya, melainkan pada keteguhan hatinya untuk tetap jujur meski dihina sekalipun."

Kata-kata itu menguatkan hati Larasati kembali. Ia menyadari bahwa selama ia berpegang pada kebenaran, tak ada satu pun yang bisa menjatuhkannya.

1
Marunov_25
Panjang sih panjang ceritanya Thor, tapi ya jangan ada pengulangan terus... 😭
Marunov_25
Ada pengulangan lagi Thor 😭
Marunov_25
kenapa ada pengulangan Thor, kirain mataku yang salah liat texs...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!