Orielle Celeste mati bersama bayi yang tak sempat ia lahirkan. Semua orang mengira wanita lemah yang selalu menangis itu akhirnya menyerah pada hidup. Mereka tidak tahu… Tubuhnya kini dihuni oleh Celeste Seraphina, mantan bodyguard profesional yang cerewet, dan ahli bela diri. Hal pertama yang ia lakukan setelah membuka mata bukanlah menangis. Ia menandatangani surat cerai, menghajar mantan suaminya hingga bersimbah darah, lalu meninggalkan rumah neraka itu tanpa sedikit pun penyesalan. Baginya, perceraian hanyalah awal. Namun, bahkan Celeste tidak menyangka seseorang telah menunggunya. Caspian Orion Devereux. Pria yang dijuluki sebagai villain paling berbahaya. Sosok yang bahkan dunia bawah pun enggan menyentuhnya. Tanpa banyak basa-basi, Caspian meletakkan sebuah kontrak pernikahan di hadapannya. “Menikahlah denganku.” “Sebagai gantinya, aku akan memastikan mantan suamimu… dan siapa pun yang pernah menyakitimu menerima balasan yang setimpal.” Kesepakatan yang terdengar menguntungkan. Sayangnya, bermain-main dengan seorang villain tidak pernah berakhir sederhana. Terlebih ketika pernikahan yang semula hanya sebuah kontrak perlahan berubah menjadi obsesi. Dan sang villain memutuskan bahwa wanita itu… adalah miliknya
Noh yg suka bini yg jijik liat suami pas Transmigrasi nohhhh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah
Setelah kepulangan Caspian dan Xanderion, apartemen mewah milik Cassandra kembali diselimuti ketenangan.
Serena memilih untuk undur diri lebih awal ke kamar tamu setelah memastikan semua berkas bukti milik Orielle tersimpan aman di laci terkunci.
Namun, di dalam kamar tidurnya sendiri, Celeste justru terjaga. Punggungnya bersandar di kepala ranjang, sementara matanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berputar. Kontrak pernikahan tiga bulan itu kini tergeletak di atas nakas, saksi bisu dari keputusan paling gila yang baru saja ia ambil.
(Gila ya... dalam waktu kurang dari seminggu, status gue berubah dari istri simpanan yang disiksa, jadi janda, terus sekarang mau jadi istri kontrak villain paling berkuasa seantero kota,) batin Celeste sambil menggelengkan kepala, separuh takjub separuh geli dengan jalan hidup barunya.
Bayangan wajah Caspian Orion Devereux kembali melintas di kepalanya. Pria itu benar-benar definisi sempurna dari karakter penjahat utama dalam novel yang sering ia maki-maki. Dingin, tidak tersentuh, memiliki aura dominasi mutlak yang bisa mencekik siapa pun tanpa perlu menyentuh fisik.
Dan yang paling membuat Celeste penasaran setengah mati bukanlah seberapa kaya atau seberapa kejam pria itu, melainkan detail-detail konyol yang mendominasi otaknya.
(Tapi beneran deh... badan Caspian tuh tegap banget. Tadi pas dia berdiri di dekat meja, bahunya lebar parah. Kalau dipeluk kayaknya tenggelam deh di dadanya. Belum lagi Xanderion, tangan kanannya itu... badannya udah kayak lemari dua pintu. Penasaran banget otot dada mereka sekeras apa, besi beton atau batu? Mana si Lucian banci itu nggak ada apa-apanya dibandingkan Xander, apalagi Caspian) gumam Celeste dalam hati, menyembunyikan seringai di balik selimut tebalnya.
.
.
.
Keesokan paginya, tepat pukul sepuluh kurang lima menit, sebuah mobil sedan hitam berlisensi khusus sudah terparkir rapi di bawah lobi apartemen.
Celeste tidak berdandan berlebihan. Ia mengenakan celana panjang kain hitam berpotongan rapi yang dipadukan dengan kemeja putih longgar, memperlihatkan kontras sempurna antara wajahnya yang polos, manis, dan imut dengan aura dingin yang tersimpan di balik matanya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai natural.
Begitu ia turun dari lobi, pintu mobil terbuka otomatis. Xanderion berdiri di samping pintu dengan postur tegak, membungkuk hormat singkat. "Selamat pagi, Nona Celeste. Tuan sudah menunggu di dalam."
Celeste mengangguk santai, lalu melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk.
Di dalam sana, Caspian duduk dengan tenang. Pria itu mengenakan setelan jas tailor-made berwarna arang gelap yang membuat ketampanannya terlihat semakin berbahaya. Tidak ada sapaan selamat pagi atau basa-basi dari bibirnya. Ia hanya melirik sekilas ke arah Celeste, lalu mengangguk kecil pada pengemudi untuk melajukan mobil.
Perjalanan menuju kantor catatan sipil ditempuh dalam keheningan yang cukup kaku. Xanderion mengurus semua berkas administrasi secara kilat begitu mereka tiba di sebuah ruangan privat khusus di gedung pemerintahan tersebut. Tidak ada sorot kamera wartawan, tidak ada dekorasi pesta, dan tidak ada tamu undangan.
Hanya ada mereka berdua, beberapa saksi dari pihak Caspian, dan seorang pejabat sipil yang tampak berkeringat dingin karena gugup harus menikahkan sang penguasa bayangan.
"Silakan tanda tangan di sini, Tuan Devereux... dan di sini, Nyonya Orielle," ujar pejabat itu dengan suara bergetar.
Celeste mengambil pena, membubuhkan tanda tangannya dengan tenang. Di sebelah tangannya, tangan besar Caspian bergerak mulus, menuliskan namanya di atas dokumen hukum yang mengikat mereka berdua secara sah—meski hanya dalam bentuk kontrak semata.
“Pernikahan kalian sah,” ucap pejabat itu lega begitu stempel terakhir ditekan.
Begitu urusan administratif selesai, mereka kembali masuk ke dalam mobil. Kali ini, mobil tidak langsung mengantar Celeste kembali ke apartemen Cassandra.
Xanderion memgendarai kendaraan itu menuju sebuah kawasan perumahan privat paling elite di pinggir kota—mansion utama milik Caspian, tempat di mana Celeste akan tinggal selama masa kontrak dua bulan ke depan.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam kabin terasa semakin sunyi. Celeste yang tadinya sibuk melirik-lirik ke luar jendela, mendadak merasakan hawa di sekitarnya berubah drastis ketika Caspian tiba-tiba bergeser duduk sedikit lebih dekat kepadanya.
Pria itu tidak bersuara, namun aroma cologne maskulin yang mahal dan tajam langsung memenuhi indra penciuman Celeste.
Celeste menoleh, mendapati sepasang iris mata kelam Caspian sedang menatapnya lekat-lekat dari jarak yang sangat dekat. Tatapan itu begitu intens, seolah ingin membedah isi kepala Celeste hingga ke bagian terdalam.
"Kenapa lo natep gue gitu banget?" tanya Celeste tanpa rasa gentar, menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi polos yang justru terlihat sangat menantang.
Caspian tidak langsung menjawab. Alih-alih berbicara, tangan besar dan hangat pria itu tiba-tiba terulur.
Jari-jemari panjang Caspian menyentuh pelan rahang Celeste, merapikan sehelai rambut yang menutupi pipi gadis itu.
Sentuhan itu begitu ringan, namun di saat yang sama, tekanan dari jari-jari kokoh itu membuat kulit Celeste merinding seketika. Rasanya seperti disentuh oleh predator puncak yang sedang mengukur mangsanya sebelum menerkam.
Napas Celeste tertahan sepersekian detik. Di dalam hatinya yang biasa terlatih menghadapi bahaya, instingnya berteriak bahwa jarak ini terlalu berbahaya.
(Anjir... jarak mukanya deket banget. Dan tangan-nya... ya Tuhan, rahang gue berasa dipegang sama tangan besi) batin Celeste tegang, namun wajahnya tetap mempertahankan ekspresi datarnya.
Caspian mendekatkan wajahnya sedikit lagi, hingga bisikan rendahnya mengalun tepat di telinga Celeste, mengirimkan sengatan listrik halus di sepanjang tulang belakang gadis itu.
"Ingat satu hal, Orielle atau siapapun namamu " bisik Caspian dingin, suaranya bagai desiran angin malam yang mematikan. "Kau boleh bertingkah sesuka hatimu di luar sana. Kau boleh menghancurkan mantan suamimu... tapi di bawah atap ku, dan di hadapanku, kau adalah milikku. Jangan coba-coba bermain-main denganku. Jangan dekat dengan bajingan manapun."
Bukannya merasa takut, sudut bibir Celeste justru terangkat membentuk sebuah seringai kecil yang menantang. Di balik wajah imut dan manisnya, jiwanya sebagai pembaca novel garis keras menolak untuk tunduk begitu saja.
Ia mengangkat dagunya lebih tinggi, menatap langsung ke dalam mata kelam Caspian tanpa berkedip.
"Tergantung..." balas Celeste berani, suaranya tenang namun penuh keyakinan. "Kalau pelayanan dan fasilitas di mansion lo sepadan sama ancaman lo... mungkin gue bakal anteng jadi istri teladan selama dua bulan. Tapi kalau ngebosenin..."
Celeste sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, sengaja memperkecil jarak di antara mereka, lalu berbisik dengan nada menggoda, "Jangan salahin gue kalau tiba-tiba gue bikin kekacauan di rumah lo, Suami."
Caspian terdiam. Untuk sesaat, manik mata kelam pria itu membelalak kecil, tidak menyangka gadis di hadapannya ini memiliki keberanian setingkat itu untuk balas memprovokasi dirinya.
Alih-alih marah, sebuah senyuman tipis yang sangat langka—senyuman penuh bahaya yang jarang sekali dilihat oleh siapa pun di dunia bawah—terukir di bibir Caspian.
Cengkeraman tangan di rahang Celeste perlahan terlepas, namun tangan itu kini turun merengkuh pinggang ramping Celeste, menarik tubuh gadis itu hingga menempel sempurna di sisi tubuhnya di jok belakang mobil.
"Kau benar-benar menantangku, ya..." desis Caspian rendah, matanya menggelap tajam.
Dan di saat itu, Celeste menyadari satu hal yang luput dari perhitungannya: dua bulan ini tidak akan pernah menjadi sekadar kontrak pernikahan yang membosankan. Ini adalah awal dari permainan berbahaya di mana mereka berdua sama-sama memegang pisau tajam. (Lumayanlah buat cari pengalaman) Celeste tersenyum miring memikirkan itu.
Caspian masih mempertahankan posisi duduknya yang rapat, dengan sebelah tangan kekarnya yang kokoh merengkuh pinggang Celeste. Pria itu menatap lurus ke depan melalui kaca mobil, sementara rahangnya mengeras samar sebelum ia menolehkan kepalanya perlahan ke arah sang istri baru.
Iris mata Caspian menyipit tajam, mengamati setiap detail ekspresi di wajah Celeste yang masih seperti tidak ada ditempat karena memikirkan pernikahan mereka.
"Satu hal lagi," ucap Caspian dengan suara beratnya yang rendah, terdengar begitu mutlak dan mengintimidasi. "Mulai detik ini, ubah caramu berbicara."
Celeste, yang tadinya bersiap melontarkan balasan sarkas dengan gaya santainya, sedikit mengerjap keningnya berkerut bingung. Ia menaikkan sebelah alis, menatap Caspian menuntut penjelasan.
"Maksud lo? Cara bicara yang gimana?"
Caspian mempererat rengkuhannya di pinggang Celeste sekian milimeter, membuat jarak di antara mereka semakin menipis hingga aroma pria itu memenuhi indra penciumannya.
"Jangan pernah menggunakan kata 'lo-gue' saat berbicara kepadaku. Itu tidak sopan dan aku tidak mengerti cara berbicara seperti itu" titah Caspian dingin, tatapannya menghujam lurus ke manik mata abu Celeste tanpa kompromi.
"Kau adalah nyonya di rumah ini. Pergunakan bahasa yang selayaknya digunakan oleh seorang istri kepada suaminya. Panggil aku dengan benar."
Celeste terdiam sejenak. Otaknya langsung memproses aturan baru yang mendadak diajukan oleh sang villain di depannya.
(Dih, ngatur banget nih om-om kulkas dua pintu) batin Celeste misu-misu kesal di dalam hatinya.
(Mentang-mentang udah jadi suami sah walau cuma kontrak, maunya dipanggil lembut? Ogah banget.)
Ia sengaja memiringkan kepalanya sedikit, menatap Caspian dengan sorot mata polos yang menyebalkan, lalu mendengus pelan dengan nada sengaja dibuat-buat.
"Wah, hebat sekali aturannya, Tuan Caspian," balas Celeste, sengaja menekankan kata 'Tuan' dengan nada mengejek. "Baru juga sah beberapa menit yang lalu, sekarang udah mau bikin diktator kecil-kecilan di rumah tangga kita yang fiktif ini? Kalau gue tetap nggak mau gimana?"
Tekanan di pinggang Celeste mengeras seketika. Caspian sama sekali tidak terlihat marah, namun sorot mata kelam pria itu memancarkan bahaya yang membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan bergidik ngeri.
Namun, Celeste bukanlah Orielle yang penakut. Tatapan membunuh seperti itu tidak cukup untuk membuatnya melangkah mundur.
"Kau bisa mencobanya, istriku," bisik Caspian tepat di depan bibir Celeste, suaranya terdengar begitu berbahaya namun sarat akan sesuatu
"Tapi aku pastikan, setiap kali kau melanggar aturan itu, hukuman yang kau terima tidak akan pernah sederhana."
Celeste menatap lurus ke dalam manik mata Caspian yang kelam, sama sekali tidak gentar dengan ancaman telak tersebut. Ia mengerjap beberapa kali, lalu mengulas senyuman tipis yang menyebalkan.
"Iya Om, gue ngerti" ucap Celeste santai, sengaja memanggil dengan sebutan itu untuk memancing emosi Caspian.
Mendengar itu keluar dari bibir istrinya, sudut bibir Caspian justru terangkat membentuk senyuman tipis. Pria itu tidak terlihat marah, melainkan merasa tertantang.
"Panggilan yang buruk," desis Caspian rendah.
Tangan besar Caspian yang tadinya merengkuh pinggang dengan cepat naik dan mencengkeram tengkuk Celeste.
Tanpa memberikan kesempatan bagi gadis itu untuk menghindar, Caspian langsung membungkam bibirnya dalam sebuah ciuman yang mendadak dan brutal.
Deg!
Mata Celeste membelalak kaget. Ciuman itu jauh dari kata lembut. Namun, di tengah keterkejutannya, sepersekian detik kemudian otak Celeste justru berkhianat.
(Anjir... enak ternyata ya ciuman) batin Celeste histeris di tengah ciuman brutal itu, merasakan sensasi hangat dan aroma maskulin yang mengaburkan akal sehatnya.
Tangan Caspian yang lain tidak tinggal diam, mengusap pinggang Celeste sambil memperdalam cuman tersebut, menuntut kepatuhan Celeste.
Setelah beberapa saat, Caspian melepaskan ciuman mereka sejenak. Caspian menatap bibir Celeste yang kini sedikit bengkak dan merah basah. Ibu jarinya mengusap lembut sudut bibir gadis itu.
"Ini hukumanmu nanti" bisik Caspian serak dan mengintimidasi.
Belum sempat Celeste menarik napas atau membalas ucapannya, Caspian kembali menerkam bibirnya. Ciuman kali ini jauh lebih lama, lebih liar, dan jauh lebih brutal.
Pria itu menggigit bibir bawah Celeste dengan sengaja, memaksa gadis itu meringis kecil dan membuka mulutnya.
Begitu ada celah, lidah Caspian langsung menyergap masuk, merangsek mengeksplorasi setiap inci bagian dalam mulut Celeste tanpa ampun.
Celeste terengah-engah, tangannya tanpa sadar meremas kemeja di dada Caspian karena kehilangan keseimbangan.
Caspian bahkan menghisap dan meninggalkan jejak tanda kemerahan yang jelas di leher dan sekitar rahang bawah Celeste.
Setelah benar-benar puas dan membuat Celeste lemas tak berdaya di pelukannya,
Caspian akhirnya melepaskan tautan bibir mereka. Ia menatap wajah Celeste yang memerah dengan napas memburu, lalu tersenyum miring penuh kemenangan.
"Dan itu" bisik Caspian tepat di depan bibir Celeste yang basah dan bengkak, "... ciuman pernikahan kita."
Tepat saat Caspian berniat mencondongkan kembali tubuhnya untuk melanjutkan ciuman mereka, mobil itu tiba-tiba meredam lajunya dan berhenti dengan mulus.
Ckiiit...
Xanderion di kursi pengemudi berdehem pelan, lalu bersuara tanpa menoleh ke belakang. "Tuan, Nona... kita sudah tiba di mansion."
Caspian mendengus pelan, rahangnya mengeras sesaat karena interupsi yang sangat tidak tepat waktu itu. Ia melirik tajam ke arah kaca sekat depan, sementara tangannya yang masih berada di pinggang Celeste perlahan mengendur.
Di sisi lain, Celeste langsung menarik napas dalam-dalam, berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin setelah nyaris kehabisan napas. Jantungnya masih berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena efek ciuman brutal barusan yang benar-benar di luar ekspektasinya.
Ia meraba lehernya yang terasa panas, sangat tahu bahwa ada kissmark merah tercetak jelas di sana.
(Sialan, nih Om jago banget ciuman ato gue yang oon) batin Celeste menggerutu kesal, meski sudut bibirnya sempat berkedut menahan senyum tipis karena merasa permainan kecil ini cukup seru.
Caspian merapikan jasnya yang sedikit kusut dengan gerakan tenang, lalu menoleh menatap Celeste yang sedang sibuk mengatur napas. Pria itu menyeringai tipis, seolah membaca isi kepala sang istri baru.
"Sayang sekali," bisik Caspian rendah tepat di dekat telinga Celeste, suaranya sarat akan janji terselubung. "Padahal aku masih ingin melanjutkan hukumanmu. Tapi tenang saja... waktu kita masih sangat panjang di dalam sana."
Sebelum Celeste sempat melontarkan balasan untuk menutupi rasa gugupnya, pintu mobil di sisi Caspian terbuka lebih dulu dari luar oleh pengawal yang berjaga.
Pria itu turun terlebih dahulu, lalu membukakan pintu untuk Celeste.
Begitu Celeste melangkah keluar dari mobil, matanya langsung disambut oleh kemegahan arsitektur mansion utama keluarga Devereux yang menjulang tinggi, dikelilingi taman luas bergaya klasik dan barisan penjaga berpakaian formal yang membungkuk hormat menyambut kedatangan mereka.
POV cassian : bukan rejeki yg melebar tp kepala ma telinga saya yg melebar ,, 😒😒😒😒😒😒
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
kasihan caspian di sekitar ny byk org2 di luar Nurul ,, termasuk sang istrii ,,
Kade di Kadek ,, 😂😂😂😂