Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELULUSAN DAN PERPISAHAN
Seminggu setelahnya, seperti estafet, sekarang saatnya menjadi giliran kelas X dan XI menghadapi ujian kenaikan kelas.
“Aku nggak paham kenapa angka sama huruf harus dicampur di Matematika,” keluh Naya di perpustakaan, sisi kiri kepalanya menempel di meja. “Kepalaku sakit tiap disuruh hafalin rumus…”
Nara duduk di sebelahnya. “Karena kalau cuma angka, hidup kebanyakan gampang, bentuknya cuma satu.”
Naya menatap datar. “Itu nggak membantu sama sekali, Kak Nara.” Lalu ia menghela napas panjang. “Kenapa sih aku nggak dikasih otak cemerlang kayak Kak Nara sama Kak Reksa?”
“Itu takdir. Tapi kalau kamu rajin, lama-lama kapasitas otakmu juga bisa kamu dorong. Buktinya kamu bisa masuk sekolah ini.”
“Masih nggak menghibur.” Naya mengerucutkan bibir. “Apa aku coba jalur sesat aja ya?”
“Maksudnya?” Nara mengangkat satu alis, radar bahaya langsung menyala.
“Aku bakar buku-buku ini, abunya masukin ke gelas minuman, terus aku minum. Siapa tahu pas ujian mendadak tercerahkan, isinya keluar semua. Gimana? Bagus kan?”
“Jangan aneh-aneh kayak Ekky.” Nara tertawa kecil. “Sini bukunya, aku ajarin. Sekalian gantian transfer ilmu, kamu kan kemarin bantu aku persiapan ujian Bahasa Indonesia.”
Kali ini posisi mereka berbalik. Dulu Naya yang menolong Nara menghadapi Bahasa Indonesia, karena Nara sadar kelemahan terbesarnya ada di urusan kata-kata puitis. Sekarang, Nara yang menjadi guru dadakan eksakta, menjelaskan rumus, membuatkan contoh soal, memperbaiki kesalahan, bahkan membuat rangkuman kecil agar Naya lebih mudah belajar.
“Kalau aku naik kelas,” kata Naya suatu sore, “Kak Nara harus traktir.”
“Kenapa aku?”
“Karena keberhasilanku adalah berkat bimbingan Kak Nara.”
“Kalau kamu nggak naik?”
“Berarti kualitas gurunya patut dipertanyakan.”
Nara menghela napas, lalu mengacak rambut Naya. “Ngawur.”
Naya tersenyum puas.
“Baik,” kata Nara, “akan kubuktikan gurumu ini sangat berkualitas. Kamu naik kelas tanpa kelas tambahan pas liburan.”
Di balik candaan itu, mereka sama-sama tahu, waktu kebersamaan di sekolah tinggal hitungan hari. Kelulusan Nara semakin dekat. Keberangkatannya ke Amerika Serikat juga. Mereka enggan membahasnya, seolah jika diam saja, tanggal itu bisa terlupakan datangnya.
Sampai akhirnya hari pengumuman kelulusan tiba.
Aula penuh siswa kelas XII dan orang tua. Panggung dihias bunga. Layar besar menampilkan nama sekolah dan tulisan “Graduation Ceremony”. Naya duduk di antara panitia kelas X dan XI, dari sana ia melihat Nara berdiri rapi bersama teman seangkatannya.
Saat namanya dipanggil, tepuk tangan menutup ruangan.
“Narain Shankara Naradipta.”
Naya bertepuk tangan paling keras. Seperti dugaan sejak awal, Nara menjadi pusat perhatian nomor satu di sekolahnya. Dulu, ia memandangnya dingin mendekati apatis. Sekarang, setelah hampir setahun mengenal Nara, rasa kagum yang sempat ia tahan muncul begitu saja, tanpa gengsi.
Nara naik panggung. Ia terlihat gagah dengan toga biru gelap, topi toga, samir di pundak, dan medali lambang sekolah sebagi simbol resmi kelulusan. Dokumen kelulusan diterimanya dilanjutkan menjabat tangan kepala sekolahnya. Lalu sang kepala sekolah berhenti sebentar untuk berbicara ke mikrofon.
“Kami juga ingin menyampaikan kebanggaan, karena salah satu lulusan terbaik tahun ini diterima di Stanford University, Amerika Serikat.”
Aula riuh lagi.
Nara menunduk kecil. Dari kursinya, Naya tersenyum, bangga, tentu. Tetapi di balik bangga itu ada titik kecil yang mengganggu.
Stanford.
Amerika Serikat.
Ribuan kilometer.
Perbedaan waktu.
Hari-hari tanpa bertemu seperti dulu…
Naya menyimpan semuanya rapat. Matanya berkaca-kaca. Hari ini bukan tentang dirinya, ini hari milik Nara. Ia tidak boleh menangis. Orang ini, dengan sinarnya yang terkadang terlalu terang, justru mendorong Naya untuk keluar dari bayangan dan percaya, hal sulit pun bisa digapai jika benar-benar mau berusaha.
Acara resmi kelulusan pun selesai. Halaman sekolah pun kini menjadi lautan foto. Pelukan di mana-mana. Guru mengucapkan selamat. Orang tua sibuk memotret anak-anaknya. Sedangkan Nara seperti biasanya, hanya didampingi oleh Pak Andi. Orang tuanya menitipkan Nara kepada beliau karena kesibukan. Saat ini Nara sedang ngobrol dengan teman-temannya hingga ia merasakan ada tarikan kecil di jubah wisudanya.
Naya berdiri membawa buket bunga matahari. Bukan tentang buketnya saja, namun tentang makna pemberiannya. Bunga matahari melambangkan kebahagiaan, energi positif, kesetiaan, harapan baru. Kuningnya terang, seperti ikut merayakan kelulusan, juga menunjukkan sayang Naya yang tulus untuk Nara.
“Selamat, Kak.”
Nara menerima buket itu. “Terima kasih.”
“Resmi jadi alumni.”
“Dan kamu resmi naik kelas?”
Naya mengangkat dagu. “Nilai belum keluar, tapi aku yakin naik kelas tanpa kelas tambahan.”
“Percaya diri sekali.”
“Belajar dari mahasiswa Stanford.”
Nara tertawa.
Naya mengangguk, suaranya pelan. “Aku bangga sama Kakak.”
Kali ini Nara tidak langsung menjawab. Ada banyak yang ingin ia ucapkan, ada terima kasih yang rasanya tidak akan ada habisnya, tapi yang keluar justru satu kalimat singkat.
“Aku juga bangga sama kamu.”
Mata Naya mengilap lagi. “Jangan bikin aku nangis di hari kelulusan Kak Nara.”
“Padahal aku belum ngomong apa-apa.”
“Justru itu…”
Nara menggenggam tangan Naya, pelan. Ia menariknya, memeluk dengan hati-hati. Naya membiarkan air matanya jatuh dalam diam. Di tengah ramai orang yang sibuk dengan dunianya masing-masing, dunia seolah mengecil jadi ruang sempit di antara mereka.
Tanpa mereka sadari, Pak Andi mengabadikan momen itu dan, tentu saja, melaporkannya pada orang tua Nara.
***
Beberapa hari kemudian, hasil ujian kenaikan kelas keluar. Naya naik ke kelas XI, peringkatnya lebih tinggi dari sebelumnya. Begitu hasil muncul, pesan pertamanya langsung meluncur ke Nara.
AKU NAIK KELAS!
Balasan Nara masuk beberapa detik kemudian.
Selamat jadi anak kelas XI. Traktirannya kapan?
Naya mengetik cepat.
Kok jadi aku yang traktir? Bukannya Kak Nara?
Nara membalas.
Karena gurunya berhasil.
CURANG!
Naya mengirim emotikon marah. Tapi senyumnya awet seharian.
***
Setelah itu, waktu seraya dipercepat datangnya. Bulan Juni begitu lekas selesai dan segera berganti Juli. Dokumen keberangkatan Nara selesai, visa di tangan, tiket pesawat sudah dibeli. Koper menumpuk di kamar. Dan akhirnya, hari itu tiba.
Bandara Internasional Soekarno-Hatta malam itu sangat ramai, kontras sekali dengan jam di mana kebanyakan orang seharusnya tidur di rumah. Pengumuman penerbangan menggema. Troli koper saling bersenggolan. Pelukan terjadi sebelum pintu keberangkatan menelan orang-orang yang pergi.
Naya berdiri beberapa meter dari pintu internasional bersama orang tua Nara, Pak Andi, juga Reksa. Hoodie toska menutup tubuhnya dan tas kecil menggantung di tangan. Di hadapannya, Nara berdiri dengan dua koper besar di samping.
Untuk pertama kali sejak mereka saling kenal, mereka tidak tahu harus mulai dari mana.
“Jadi…” kata Naya.
“Jadi…” Nara menimpali.
Naya tertawa kecil. “Ternyata kita sama-sama nggak pintar kalau bicara tentang perpisahan.”
Nara mengangguk. “Sepertinya begitu.”
Suasana kembali hening.
Lalu Naya merogoh tasnya dan mengeluarkan buku kecil bersampul biru toska tua.
“Apa lagi ini?”
“Bukanya nanti saja di pesawat.”
“Kamu hobi banget bikin aku penasaran.”
“Biar Kak Nara selalu punya alasan untuk ingat kepadaku.”
Nara menatap buku itu, lalu menatap Naya. “Aku nggak butuh alasan buat ingat kamu, Naya.”
Naya menunduk sebentar, kalimat itu hampir merobohkan pertahanannya.
“Kak Nara…”
Nara tahu, ini serius.
“Jangan takut kalau nanti semuanya berubah,” kata Naya, menatap lekat. Tangannya meremas ujung hoodie. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
Nara diam.
“Kakak bakalan punya hidup baru. Teman baru. Kampus baru. Negara baru. Jadwal Kakak juga mungkin lebih padat daripada waktu SMA.”
“Naya,” Nara mencoba menyela.
“Aku tahu,” Naya menyela balik dengan senyum tipis. “Aku nggak mau hubungan ini jadi beban yang bikin Kak Nara merasa bersalah karena ngejar mimpi dan janji Kak Nara ke orang tua Kak Nara.”
Nara menatapnya lama.
“Dan aku juga nggak mau kamu merasa harus nunggu aku,” kata Nara sambil mengusap air mata Naya dengan punggung tangannya.
Naya menggeleng. “Aku nggak lagi nunggu, Kak.”
“Terus?”
“Aku tetap jalan. Tapi ini bukan soal bersaing untuk menyusul Kak Nara.”
Nara mengernyit.
Naya menunjuk dirinya. “Aku sekarang sudah kelas XI. Aku punya sekolah, punya mimpi, dan punya hidup.”
Ia menunjuk Nara. “Kakak jalan di sana.”
Lalu kembali menunjuk dirinya sendiri. “Aku jalan di sini.”
Naya tersenyum lebih tenang. “Kita cuma kebetulan jalan dari dua tempat yang beda.”
Nara tidak langsung menjawab. Dalam kepalanya, potongan-potongan tentang Naya bermunculan. Gadis kelas X yang dulu polos, sempat salah paham soal dirinya, sering mengeluh tentang matematika, menyukai renang dengan gaya indahnya, dan selalu jujur jadi dirinya. Namun malam itu, Naya terdengar jauh lebih dewasa dari usianya.
“Naya.”
“Hmm?”
“Kita coba?”
Naya paham maksudnya. Long Distance Relationship, hubungan yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita orang, hubungan yang hidup dari video call, jadwal, dan kesabaran. Musuhnya adalah perbedaan waktu dan kesibukan.
Naya tersenyum kecil. “Iya. Ayo kita coba.”
Nara mengulurkan tangan, Naya menyambut. Tanpa banyak aba-aba, Naya menarik Nara dan memeluknya.
Nara sempat terkejut, lalu membalas.
Tidak terlalu erat. Tidak terlalu lama. Tapi cukup, cukup untuk jadi kenangan yang kelak diputar ulang saat jarak terasa kejam memisahkan.
“Selamat kuliah, mahasiswa Stanford,” bisik Naya.
“Selamat naik kelas, anak kelas XI.”
Naya tertawa kecil di bahunya. “Jangan lupain aku.”
“Mustahil.”
Pengumuman boarding terdengar, penerbangan menuju San Francisco dipanggil.
Nara pelan-pelan melepas pelukan. “Itu aku.”
Naya mengangguk.
Nara menarik koper, melangkah beberapa langkah, lalu berhenti dan menoleh.
Naya masih di tempat yang sama, mengangkat tangan.
Nara membalas.
Tidak ada tangisan heboh. Tidak ada janji muluk. Mereka tidak mengucap “selamanya” atau “nggak akan berubah.” Mereka paham, hidup pasti berubah. Mereka cuma berharap, perubahan itu tidak membuat mereka saling kehilangan.
Nara melewati pemeriksaan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Semakin jauh hingga sosoknya lenyap di kerumunan. Naya menarik napas panjang. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia benar-benar paham apa itu jarak.
Beberapa jam setelah pesawat mengudara, Nara membuka buku kecil dari Naya. Di halaman pertama ada tulisan tangan.
Untuk Kak Nara,
Entah kenapa aku selalu suka memanggil Kakak dengan panggilan itu. Bukan hanya karena Kakak seniorku, rasanya lebih dari itu. Walau banyak orang juga memanggil Kak Nara begitu, panggilan itu tetap spesial buatku.
Kakak dengan siluet indahnya bersama bola basket yang kutemui di halte SMP-ku.
Aku hanya mau bilang, kalau suatu hari Kak Nara capek, bukalah buku ini. Kalau suatu hari Stanford terasa berat, bukalah buku ini. Kalau suatu hari Amerika Serikat terasa jauh dari rumah, bukalah buku ini.
Aku mungkin nggak bisa duduk di sebelah Kak Nara, atau sesekali di hadapan Kak Nara seperti waktu kita di perpustakaan.
Tapi aku masih ada.
Di sisi dunia yang berbeda.
Sama-sama mengejar mimpi.
Jadi jangan berhenti berjalan apa pun yang terjadi di depan nantinya.
Nara tersenyum. Ia membalik halaman berikutnya, ada foto mereka di perpustakaan, foto setelah pertandingan basket, foto acara sekolah, foto kelulusan. Ada catatan kecil, candaan receh, hal-hal yang hanya mereka berdua mengerti.
Di halaman terakhir, satu kalimat menunggu.
Jarak bukan tempat kita berpisah.
Jarak cuma tempat kita belajar sabar, saling menguatkan, dan tetap saling menemukan.
Nara menutup buku itu. Ia menatap keluar jendela. Di luar begitu gelap, hanya ada garis cahaya samar di batas cakrawala.
Ia tidak tahu hidupnya akan seperti apa beberapa bulan ke depan. Ia tidak tahu seberat apa nanti menjadi mahasiswa Stanford. Ia juga tidak tahu seberapa sering ia dan Naya akan kesal karena perbedaan jadwal, atau seberapa sering perbedaan waktu mencuri kesempatan mereka untuk mengobrol seperti biasanya.
Namun tulisan Naya di buku itu menenangkan seolah matra ajaib, memberi kekuatan kecil yang rasanya cukup untuk membuatnya yakin bahwa ia akan sanggup melewati semuanya.
Pesawat membawa Nara semakin jauh ke Amerika Serikat. Naya berada ribuan kilometer di belakangnya.
Dan cerita mereka belum selesai, hanya berganti bab. Bab tentang dua orang yang dulu dapat bertemu setiap hari, di sekolah yang sama, dan pada waktu yang sama, sekarang harus belajar bertemu melalui ponsel. Tentang ucapan “selamat pagi” dan “selamat malam” yang datang saat salah satu bersiap tidur dan yang lain baru memulai hari. Tentang hal-hal penting yang kini hanya dapat dibagi melalui video call. Tentang rindu yang tidak selalu tuntas hanya dengan pertemuan.
Tentang Naya yang sebentar lagi menjalani hari sebagai siswi kelas XI, senior muda untuk para juniornya.
Tentang Nara yang memulai hidup sebagai mahasiswa Stanford.
Dan tentang satu pertanyaan yang jawabannya hanya dapat mereka temukan sendiri melalui perjalanan.
Apakah cinta yang tumbuh di satu sekolah sanggup bertahan saat dunia memisahkan mereka ribuan kilometer?
Pesawat terus melaju menembus malam.
Nara menyandarkan kepala. Ponselnya masih dalam mode pesawat. Namun sebelum berangkat, terdapat satu pesan terakhir dari Naya yang sempat tertahan di layar.
Sampai ketemu lagi, Kak Nara.
Ingat, sampai jumpa, bukan selamat tinggal.
Nara membacanya sekali lagi.
Lalu tersenyum. Bukan selamat tinggal. Cuma sampai bertemu lagi.
***