NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Bos Dingin

Istri Rahasia Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Perjodohan
Popularitas:771
Nilai: 5
Nama Author: Ristika Rachma

Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.

Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Cahaya Merah dan Jejak yang Tak Bisa Hilang

Cahaya merah samar yang memancar dari puncak bukit itu seolah memanggil kami tanpa suara, menembus kabut malam dan jarak yang memisahkan kediaman kami dari tempat yang kini seharusnya sudah tak memiliki kekuatan apa pun. Di dalam ruangan itu, keheningan terasa begitu mencekam hingga suara detak jantung kami berdua seolah terdengar jelas di telinga. Liontin dan cincin yang menyatu di atas meja batu kecil itu perlahan berdenyut pelan, seirama dengan denyut cahaya merah di kejauhan, seolah ada ikatan tak kasat mata yang menghubungkan keduanya.

Erlan menggenggam tanganku erat, namun kali ini genggamannya bukan lagi untuk menenangkan, melainkan karena ia sadar bahwa ancaman yang kami kira telah tuntas justru baru saja menampakkan wajah aslinya. Ia melangkah mendekat ke arah meja itu, menatap lekat-lekat tulisan yang perlahan mulai memudar kembali seolah tak pernah ada. "Kita tidak bisa berpura-pura tidak melihatnya," ucapnya pelan namun tegas. "Apa pun yang sedang bangkit kembali di sana, kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika kita berdiam diri, kita hanya memberi waktu baginya untuk tumbuh semakin kuat tanpa hambatan."

"Kau pikir itu apa?" tanyaku, suaraku bergetar meski aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang. "Apakah sisa kekuatan yang belum sepenuhnya hilang? Atau... ada sesuatu yang sejak awal tidak pernah ikut terangkut pergi saat ingatan kita diambil?"

Erlan menoleh menatapku, matanya menyiratkan keraguan yang mendalam namun juga tekad yang tak tergoyahkan. "Aku tidak tahu pasti. Tapi satu hal yang aku rasakan sejak cahaya itu muncul... ada sesuatu yang salah dengan apa yang kita yakini dulu. Kata-kata di meja itu tadi, bahwa hati kita justru menjadi pintu gerbang, itu bukan sekadar ancaman kosong. Itu peringatan. Dan peringatan itu berarti sesuatu yang sangat besar sedang menanti kita, sesuatu yang bahkan leluhur kita pun tak sempat tuliskan dalam catatan mana pun."

Malam itu kami tidak pergi ke mana-mana. Kami tetap berada di rumah, namun tidak ada yang benar-benar terlelap. Cahaya merah di puncak bukit itu perlahan meredup seiring terbitnya fajar, namun jejak yang ditinggalkannya tetap terasa, sebuah rasa berat yang menggantung di udara, seolah langit di atas bukit itu kini memiliki warna yang sedikit lebih gelap dari langit di tempat lain. Liontin dan cincin itu kembali menjadi benda biasa saat matahari terbit, namun tidak ada satu pun dari kami yang berani menyimpannya kembali ke dalam lemari tertutup. Sebaliknya, Erlan menyimpannya di dalam kotak kecil yang selalu ia bawa di saku dadanya, tepat di dekat jantungnya.

Pagi harinya, kami memutuskan untuk kembali ke puncak bukit. Kali ini tanpa memberi tahu siapa pun, termasuk Dimas. Bukan karena kami tidak mempercayainya, melainkan karena perasaan berat di hati kami semakin kuat, seolah-olah bahaya yang sedang kami hadapi kini terlalu dekat dengan kehidupan pribadi kami, terlalu terkait dengan siapa kami sebenarnya, sehingga melibatkan orang lain justru akan menempatkan mereka dalam risiko yang tak terduga.

Sesampainya di puncak bukit, kami mendapati rumah tua itu tampak sama seperti biasanya. Namun saat kami melangkah masuk ke ruangan tempat meja batu besar itu berdiri, napasku tertahan seketika. Permukaan meja batu itu kini terukir dengan pola yang sama persis dengan lencana yang muncul di atas kertas di ruang kerja Erlan, pola yang terdiri dari dua lingkaran saling bertautan dengan seberkas cahaya merah menyala tepat di titik pertemuannya.

Erlan mendekat perlahan, jari telunjuknya menyentuh ukiran itu dengan hati-hati. Saat ujung jarinya menyentuh bagian tengah yang berwarna merah samar, secercah cahaya itu perlahan berpindah ke ujung jarinya lalu merambat naik hingga ke pergelangan tangannya. Erlan meringis pelan, seolah merasakan rasa perih yang halus namun nyata. Cahaya itu perlahan berhenti bergerak tepat di atas nadi pergelangan tangannya, lalu membeku menjadi tanda kecil berwarna merah samar yang persis sama dengan pola di atas meja batu itu.

"Apa yang terjadi?" seruku cemas, segera meraih pergelangan tangannya dan memeriksa tanda itu dengan saksama. "Apakah kau terluka? Apakah ada yang terasa aneh?"

Erlan menggeleng pelan, namun alisnya berkerut memikirkan sesuatu yang baru saja menyadarkan dirinya. "Tidak ada rasa sakit yang berlebihan. Tapi... sejak tanda ini muncul, aku bisa merasakan sesuatu. Seolah-olah ada suara halus yang terus berbisik di telingaku, memberi tahu arah ke mana harus melangkah. Dan suara itu... membawaku kembali ke masa-masa yang tak bisa kuingat."

Ia berhenti sejenak, menatapku lekat-lekat dengan pandangan yang mulai tampak bingung namun perlahan mulai terang kembali. "Aku mulai mengerti sekarang. Waktu itu... saat ingatan kita diambil, sebenarnya tidak sepenuhnya hilang. Ingatan itu hanya berpindah, menyatu dengan kekuatan yang tersimpan di dalam hati kita. Dan sekarang, saat kekuatan itu mulai bangkit kembali... ingatan-ingatan itu pun perlahan kembali, namun bukan melalui pikiran, melainkan melalui perasaan dan tanda ini."

Saat Erlan menyentuh kembali permukaan meja batu itu dengan telapak tangannya yang bertanda merah, ukiran di atasnya perlahan bersinar kembali. Dan kali ini, bukan tulisan yang muncul, melainkan bayangan samar yang terbentuk dari cahaya itu sendiri, bayangan dua orang yang berdiri saling berhadapan, salah satunya memegang benda bercahaya terang, sementara yang lain berdiri di kejauhan dengan wajah yang tampak penuh kesedihan. Di antara keduanya, terbentur sesuatu yang menyerupai tirai kabut tebal yang perlahan roboh.

"Ini... ini bukan kejadian masa lalu kita," bisik Erlan dengan suara yang hampir tak terdengar. "Ini terjadi jauh sebelum kita lahir ke dunia. Ini adalah awal dari segala sesuatu. Saat dua kekuatan terpisah karena satu pilihan yang menyakitkan."

Bayangan itu perlahan memudar, digantikan oleh satu kalimat yang terukir jelas di atas meja batu itu kalimat yang kali ini tidak memudar kembali, melainkan terukir permanen di dalam batu:

"Pisahkanlah apa yang pernah disatukan secara paksa, atau biarkanlah bayangan yang terperangkap di antara dua waktu itu kembali menuntut apa yang menjadi haknya sepenuhnya."

Kami berdua terdiam mematung. Ternyata kemenangan kami dulu hanyalah penundaan sementara. Keseimbangan yang kami kira telah pulih ternyata hanya terjaga selama ikatan kekuatan itu tetap utuh. Dan sekarang, karena sesuatu yang entah apa penyebabnya, ikatan itu perlahan melemah. Jika ikatan itu sepenuhnya terputus, maka bukan hanya ingatan kami yang akan kembali utuh, melainkan juga sesuatu yang telah terperangkap di antara dua waktu itu sesuatu yang tampaknya jauh lebih tua, jauh lebih kuat, dan jauh lebih berbahaya daripada apa pun yang pernah kami hadapi sebelumnya.

Saat kami berjalan turun kembali dari puncak bukit itu, langit yang tadinya cerah perlahan tertutup awan kelabu. Tanda merah di pergelangan tangan Erlan perlahan memudar menjadi samar, namun ia tetap terasa hangat di bawah kulitnya, seolah menjadi pengingat abadi bahwa bahaya itu kini mengalir tepat di dalam nadi orang yang paling kucintai. Dan di dalam hatiku, satu pertanyaan terus berputar tanpa jawaban: Jika hati kami memang menjadi pintu gerbang kedatangannya, maka apa yang sebenarnya sedang mencari jalan untuk masuk kembali ke dunia kami? Dan apa yang akan dimintanya sebagai pengganti keseimbangan yang telah rusak ini?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!